Manajemen Strategi yang Membunuh

Sebuah Pembelajaran Kasus yang Efektif

 

Mengapa saya mengusung judul yang agak berbau kriminal? Saya bukan penulis  thriller. Ini lebih disebabkan strategi bisnis tampaknya masih membingungkan banyak orang.  Saya tidak tahu alasannya, padahal konsepnya cukup jelas.

Kalau Anda bisa menjawab pertanyaan: “bagaimana mencapai tujuan di pasar dominan?” Berarti Anda cukup paham dengan maksud dari manajemen strategi. Namun, bagian tersulitnya adalah bagaimana bisa sukses dalam persaingan di pasar global yang brutal itu. Baiklah, kita mulai dari definisi yang paling sederhana.

 

1. Definisi Manajemen Strategi

 Definisi Manajemen Strategi

Definisi Manajemen Strategi

Definisi manajemen strategi  bisa dipahami dari para pakarnya. Sengaja saya mengambil yang termudah untuk dipahami. Manajemen strategi merupakan salah satu skill yang paling penting dalam manajemen bisnis. Anda akan belajar bagaimana mengatur bisnis secara proaktif dengan fokus pada strategi jangka panjang, daripada bereaksi pada problem sehari-hari.

Manajemen strategi tersebut melibatkan dua proses: pertama, proses mengidentifikasi tujuan khusus perusahaan dan mendesain strategi untuk mencapai tujuan tersebut. Kedua merupakan proses implementasi dari strategi tersebut. Sangat mudah untuk mengatakan bahwa tujuan Anda adalah meningkatkan penjualan 50% dalam dua tahun, namun bagaimana Anda mencapai tujuan tersebut?

Apakah Anda akan menurunkan harga, mengakuisisi pesaing Anda, atau bagaimana? Misalnya Anda akan menurunkan harga, bagaimana Anda melakukannya dengan tetap bisa menjaga profit? Pertanyaan simpel inilah yang akan terjawab melalui strategi.

 

Baca juga:

2. Manajemen Strategi Vs Realitas

Manajemen Strategi Vs Realitas

Manajemen Strategi Vs Realitas

Selanjutnya bagaimana kenyataan di lapangan? Ini adalah sebuah realitas, ketika banyak manajer, eksekutif, dan pemilik bisnis yang tak pernah sampai pada pemahaman tentang strategi. Ini karena mereka tidak memiliki kunci tentang apa sebenarnya strategi itu. Banyak realitas terkait kondisi ini.

Para manajer terkadang melakukan presentasi tentang tujuan atau taktik sebagai sebuah strategi. Debat tak kunjung henti tentang strategi dan pelaksanaannya, padahal manajer perusahaan seharusnya menguasai keduanya. Selain itu, betapa banyak manajer yang mengerutkan alis saat mendengar kata ‘perencanaan strategis’. Mereka pikir itu hanya buang uang dan waktu saja.

Konsekuensinya, banyak strategi perusahaan yang diterapkan oleh manajer, malah  membunuh perusahaan secara perlahan, hingga akhirnya kolaps. Tinggal menunggu waktu menuju kebangkrutan. Sayonara!

 

3. Strategi yang Membunuh Perusahaan Sekaligus Membunuh Karir Anda

Strategi yang Membunuh Perusahaan Sekaligus Membunuh Karir Anda

Strategi yang Membunuh Perusahaan Sekaligus Membunuh Karir Anda

Inilah beberapa contoh dari sekian banyak kasus killer strategy. Dari kasus ini, Anda bisa belajar banyak tentang bagaimana sebenarnya peran manajemen strategi, tanpa saya menjadi terlalu teoritis.

  • Strategi ‘pasta’. Perusahaan membuang uang dan sumber daya bagi banyak ide untuk melihat mana yang berhasil. Seperti strategi diversifikasi Google saat ingin menyaingi Apple dengan telepon genggam, Facebook di media sosial, Microsoft di peramban web dan sistem operasi, serta Amazon di bisnis retail.
  • Jika kita memproduksi, pelanggan pasti datang. Para insinyur dan ahli teknologi terlalu cinta pada penemuan dan gawai mereka, namun tidak memiliki pemahaman tentang strategi pemasaran atau posisi persaingan. Mereka ini menjadi enterpreneur dan menjalankan perusahaan. Selanjutnya Anda bisa duga sendiri.
  • Strategi ‘harapan’. Harapan bahwa konsumen memutuskan untuk membeli produk berkualitas rendah, harapan Anda esok bangun dengan dunia aneh yang segala sesuatunya berubah. Serta segala harapan tak masuk akal lain yang Anda harapkan terjadi.
  • Strategi du Jour. Para eksekutif secara konsisten bereaksi berlebihan pada satu data atau sebuah pertemuan, lalu mengubah arah keseluruhan organisasi. Ini juga biasa terjadi pada perusahaan startup dan bisnis kecil yang pimpinannya belum berpengalaman.
  • Visi yang terlampau megah. Sejauh ini banyak CEO yang memikirkan strategi yang terlalu megah. Sebetulnya bukan megah, tepatnya: lebih berisiko. Perusahaan dengan visi besar cenderung diserang dari segala sisi oleh pesaing yang lebih fokus dan gesit.
  • Strategi ‘bertahan’. Ini salah satu strategi yang paling sering mengakibatkan kegagalan perusahaan. Terjadi bila CEO tetap bertahan dengan satu visi, sementara pimpinan yang cerdas dan obyektif telah menyerah jauh hari sebelumnya.

 

Nah,  jika saat ini Anda bekerja di perusahaan dengan salah satu manajemen strategi di atas, Anda sudah tahu apa yang harus dilakukan untuk masa depan karier Anda nantinya, bukan?

 

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *