Pekerja Lepas dan Bonus Hari Raya

shutterstock_155854067

Freelancer Image via shutterstock

Berhari raya, bagi sebagian besar pekerja lepas / freelancer adalah hari libur untuk berkumpul dengan seluruh keluarga besar dan teman masa sekolah dulu. Menjauh sejenak dari tumpukan gambar ilustrasi atau telepon dari klien di luar jam kerja (dalam hal ini sering disebut ‘midnight call‘ oleh beberapa teman saya). Melepas rindu, berbagi ceria, dan tentu saja bersiap dengan todongan angpau.

Jika menjelang hari raya (sesuai agama dan kepercayaan masing-masing), yang namanya uang tunjangan atau bonus sebisa mungkin ada di dompet dan rekening jauh sebelum tanggal merah datang menghampiri. Berapa nominalnya, tergantung besarnya gaji perbulan yang kemudian dapat menentukan jumlah tunjangan masuk ke rekening.

Oke, itu untuk pekerja kantoran, kan? Lantas bagaimana dengan pekerja lepas dan para pekerja serabutan? Tak dapat THR (tunjangan hari raya), bisakah merasakannya juga?

Bisa. Mungkin ini anekdot yang pernah saya terima dari beberapa rekan freelancer, bahwa THR bisa diminta kepada klien. Terlepas dari berapa nilai yang akan diberikan klien, tetapi tambahan di luar uang jasa yang diterima tentunya patut disyukuri. Apalagi kalau mendekati hari raya, pas mendapatkan proyek dari klien yang super irit dan pelit. Bingung nggak sih, bagaimana merayu klien agar kita bisa merasakan berhari raya layaknya pekerja katoran?

Ini mungkin terasa lebay, tetapi ternyata saya menangkap pertanyaan itu dalam bentuk kegelisahan beberapa teman freelancer. “Boleh dong, ya, kita merasakan lebaran juga?” atau, “Natal ini gue mau ngasih orang tua hadiah kejutan. Tapi sisa honor dari klien tipis banget.”

Sebenarnya, sebelum sampai pada opsi ‘merayu klien’, kita cek lagi pemasukan dan pengeluaran selama setahun terakhir. Apakah kita menyisihkan pos khusus THR selain misalnya pos cicilan, pengeluaran bulanan, kesehatan, dan sekolah anak?

Lah, pos THR? Iya dong. Memangnya selain diri kita sendiri, siapa yang mau memberi THR? Kita adalah bos bagi diri sendiri. Kita sebagai pekerja lepas, tentunya bisa mengatur pengeluaran  hampir sama dengan para pekerja kantoran, tetapi nyaris kesulitan mengatur pemasukan. Bagaimana? Ya, dengan cara membuat pos tambahan itu tadi: THR untuk diri sendiri.

Anggaplah setelah pembagian pos ini itu, ada sejumlah Rp 100.000,00 yang bisa disisakan setiap bulan. Lumayan banget kan, mendapat THR sebanyak Rp 1.200.000,00?

Memang hitungan ini tak berlaku standar untuk setiap pekerja lepas. Tetapi memisahkan satu pos khusus untuk kebutuhan saat menjelang hari raya tentulah lebih baik daripada gigit jari ketika ternyata terlupa harus menyiapkan angpao untuk para keponakan, misalnya.

Jangan berlebihan kepada klien. Anggap saja kita memang hanya dibayar sesuai beban proyek yang diberikan. Tak ada bonus. Apalagi berharap bingkisan hari raya.  Don’t expect too much 😉 Bekerjalah seperti biasa. Bahkan sebisa mungkin tingkatkan kinerja kita. Kita akan mendapatkan salah satu atau tiga keuntungan sekaligus dengan bekerja sesuai harapan klien, yaitu: mendapatkan bonus di akhir pekerjaan, atau proyek baru dari klien yang sama atau rekomendasi pada mitra yang lain.

Bayangkan, pundi tabungan akan bertambah kan? Nah, saatnya untuk memaksakan diri mengisi pos THR dengan bijak. Itu pun, jika kita memang masih menganggap pos THR penting misalnya untuk biaya transportasi mudik dan masak menu hari raya.

Tetapi bila kebutuhan hari raya cukup dipenuhi dari pos bonus, tak masalah juga. Semua dapat diatur sesuai kebutuhan dan tergantung kesepakatan dengan keluarga. Oh, kalau masih single, tentu tidak terlalu pusing ya? Kecuali memang berniat pusing mencari jalan keluar untuk menghindari pertanyaan keluarga besar ketika menikmati opor ayam, “Kapan menikah?” *eh* 😀

Jadi, bagaimana kamu mengatur pos pengeluaran untuk hari raya? Bagikan pengalamanmu di kolom komentar ya. 🙂

2 Comments

  1. Rafli

    Hi all,,
    Ini baru pertama kalinya saya posting komen di blog ini.
    kalo menurut saya sih,,janganlah membebani client diluar beban project itu sendiri.
    Kenapa?
    Karena hal ini bisa berdampak buruk pada penilaian personal client terhadap kita. Terlebih lagi kalau client tersebut baru menggunakan jasa kita,,come on guys,we obviously making our bad impression to them.
    Saya pribadi menggunakan passive income dari royalty sebagai pengganti THR. Saya anggap itu sebagai bonus termasuk bonus hari raya itu sendiri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *