Manajemen Finansial untuk Freelancer

Tak sedikit freelancer yang mengalami masalah dalam bidang kuangan, baik dari yang pemula hingga mereka yang telah makan banyak asam garam di dunia freelancing. Itu disebabkan karena banyak dari kita tidak pernah mengalami proses disiplin keuangan sejak kecil, dan sebagian besar dari kita adalah desainer, programmer, illustrator, dan bukan akuntan keuangan.

Ketidakmampuan kita dalam mengatur keuangan juga membawa kita pada masalah pricing, dimana kita sering kali bingung berapa harga yang pantas untuk diajukan kepada klien. Tak luput juga adalah masalah modal usaha jika kita harus membayar dimuka sebuah pekerjaan seperti cetak misalnya, membeli foto, ataupun membeli/upgrade perangkat hardware maupun software guna mendukung spek pekerjaan.

Manajemen Finansial untuk Freelancer

Mindset kebanyakan freelancer masih tertumpu bahwa dia bekerja sendirian dan bukan pada dia bekerja untuk dirinya sendiri. Seorang freelancer harus cepat sadar bahwa saat dia memutuskan diri untuk bekerja menjadi seorang freelancer, dirinya telah berubah menjadi sebuah institusi penyedia jasa. Dirinya kini menjadi sebuah perusahaan, dan layaknya sebuah perusahaan, dia butuh kapital.

Ada dua sistem mengatur keuangan yang simple dan dapat diadopsi dengan mudah oleh freelancer, yang pertama adalah metode “bagi hasil” dan yang kedua adalah metode “gajian”.

Metode Bagi Hasil

Seringkali diadopsi oleh freelancer yang baru sadar akan pentingnya keuangan yang baik, metode ini memaksa kita untuk menyisihkan sebagian pendapatan kita untuk modal usaha kita. Sebagai contoh adalah pembagian sesuai persentase, yaitu 60-40, dimana dalam setiap pendapatan uang akan dibagi 60% kepada diri anda dan 40% kepada perusahaan. Rasio persentase yang ideal adalah 40-60, dimana 40% masuk ke kantong anda dan 60% masuk ke rekening usaha anda. Namun rasio ini dapat anda rubah sesuai dengan kebutuhan anda.

Manajemen Finansial untuk para Freelancer Indonesia

Metode Gajian

Metode ini lebih bersih dan sesuai dengan pembukuan keuangan pada umumnya, namun lebih kompleks jika anda pemula. Inti dari metode ini adalah memberi diri anda gaji yang sesuai pada tiap bulannya. Berbeda dengan metode bagi hasil dimana sebagian persentase masuk ke rekening usaha, pada metode ini 100% dari penghasilan masuk ke rekening usaha.

Tetapkan gaji anda perbulan, dan gajilah diri anda tiap bulannya. Ini bukan berarti disaat keuangan usaha anda menipis anda akan terus digaji, tapi gaji anda akan dibuat sebagai hutang perusahaan, dan dapat dibayarkan jika keuangan usaha cukup.

Keuangan usaha juga dibuat batas minimumnya, sebagai contoh adalah anda membatasi keuangan perusahaan pada level 15 juta rupiah minimum, artinya saat keuangan pada angka 15 juta atau kurang anda tidak akan mendapat gaji. Dari sini anda dapat belajar soal prioritas keuangan.

Manajemen Finansial untuk Freelancer Indonesia

Kedua metode ini memiliki tujuan yang sama, yaitu membagi keuangan antara diri anda sendiri sebagai pekerja dengan usaha freelancer anda. Tujuannya agar anda mendapat uang anda sendiri, dan usaha anda juga dapat berkembang dengan modalnya sendiri.

Jadi saat pekerjaan menuntut anda mengeluarkan uang dahulu, usaha anda yang keluar uang, bukan anda. Saat komputer anda rusak atau perlu upgrade, usaha anda yang akan keluar uang, bukan anda.

Keduanya bukan metoda yang gampang untuk dimulai, perlu sedikit disiplin. Jika sudah memiliki NPWP, anda dapat membuka rekening giro atas nama anda untuk usaha anda, sistem dimana anda harus menulis cek untuk mengeluarkan uang anda dijamin akan males untuk mengambil uang tersebut kecuali untuk urusan pekerjaan. Jika ingin menuju finansial yang sehat, silahkan mencoba.

7 Comments

  1. Chandra Marsono

    Glad it helps 🙂
    Bagi yang ingin tahu lebih dalam soal evolusi bisnis freelancing ke entepreneurship, silahkan mengikuti seminar kecil ruang freelance pada tanggal 21 Maret 2009 ini. Silahkan mendaftar, tempat terbatas.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *