ETIKA BER-ONLINE: SEBERAPA PENTINGKAH BAGI KITA ?

Ketika saya menulis artikel tentang etika beronline ini timbul di pikiran saya, kira-kira bagi anak-anak zaman sekarang penting gak sih bahas beginian? Ya kalo menurut saya sih penting-penting aja mengingat kadang kala kita suka menyepelekan etika beronline tersebut. Dan kenapa harus remaja? Karena menurut saya penting memperkenalkan etika beronline pada masa-masa itu.

ETIKA BER-ONLINE: SEBERAPA PENTINGKAH BAGI KITA ? - digitaltrends.com

ETIKA BER-ONLINE: SEBERAPA PENTINGKAH BAGI KITA ? – digitaltrends.com

Remaja sekarang dengan remaja jaman dulu sudah memiliki gaya hidup (lifestyle) yang beda khususnya dalam berteknologi. Apalagi sekarang akses internet sudah sangat mudah dan ada di mana-mana, di tambah lagi internet sudah bisa diakses lewat hape, smartphone, laptop atau Ipad. Kalau dulu, laptop adalah barang yang “lumayan” mewah, sekarang pada rame-rame beli laptop. Ini apalagi kalau bukan pengaruh kehadiran internet. Kalau dulu internet cuma identik dengan search engine, e-mail, chatting, dan game online, sekarang lagi booming Social Networking yang serasa udah jadi dunia sendiri di dunia maya.  Memang sih dulu Friendster sempat jadi tren, tapi sekarang Facebook seakan-akan menjadi killer application di internet. Selain itu Twitter juga menjadi social networking yang menjadi tren juga. Sampai-sampai nih, provider internet pun tidak mau kalah berlomba-lomba menawarkan paket internet cepat dan murah.

image by maxheidenfolder on flickr

Mari kita mulai dengan membahas Facebook, karena sebagian besar remaja pasti udah kenal sama aplikasi yang satu ini. Saya baru tahu dari sebuah berita, kalau ternyata Indonesia pengguna Facebook terbesar kedua di dunia. Wuih, mungkin karena Facebook itu cocok dengan kultur Indonesia yang suka berinteraksi satu sama lainnya. Facebook sebagai sebuah teknologi tentu ada dampak positif dan negatifnya tergantung siapa yang menggunakan. Banyak orang yang sukses membangun relasi kerja dengan FB, tapi banyak juga orang bermasalah gara-gara FB. Tak jarang kasus remaja bermunculan gara-gara FB. Yang dari penculikan lah, pencemaran nama baik lah, dikeluarkan dari sekolah gara-gara status yang jelek lah, dan masih banyak lagi.

Inilah pentingnya pemberian materi etika online pada pendidikan IT terutama di sekolah-sekolah atau paling tidak di komunitas-komunitas kemahasiswaan.  Jadi mata pelajaran/kuliah  IT gak melulu tentang dunia komputer, tapi perlu juga tentang beretika tentang penggunaan teknologi.  Memang benar sangat penting membuat pelajar melek IT untuk bisa menunjang prestasi belajarnya, tapi percuma saja jika mereka memanfaatkan IT untuk hal-hal yang melanggar norma kita. Contoh kecilnya saja, mengupload foto pribadi yang terlalu vulgar, update status Facebook dengan kata-kata kotor, atau caci maki yang tidak seharusnya diungkapkan di sana. Gak hanya di social networking sih, nulis sesuatu yang berbau adu domba SARA di dalam blog atau forum itu harusnya gak boleh. Oke, mungkin kita beranggapan kalo “itu kan di dunia maya” tapi justru dari sana bisa berakibat buruk di dunia nyata. Makanya saya sering bilang sama teman-teman saya, bahwa “Internet is a tool” jadi internet itu hanya merupakan sebuah alat, yang nantinya dapat pula berakibat pada dunia nyata. Artinya jadi segala perbuatan kita di internet, entah itu perbuatan baik ataupun buruk konsekuensinya adalah di dunia nyata kita alami.

Oke tadi kita sudah bahas pelajaran penting dari dunia online yang dapat berakibat pada dunia nyata. Nah, sekarang saya akan kasih sedikit tips etika beronline tersebut.

Chatting, berkirim email, social networking merupakan “pekerjaan” rutin sehari-hari kita. Yup, karena kini komunikasi dan sosialisasi dengan orang lain lebih banyak dilakukan via online seperti yang tadi telah disebutkan. Itu artinya, harus tetap memperhatikan etika saat menggunakan internet.

ETIKA BER-ONLINE: SEBERAPA PENTINGKAH BAGI KITA ? - liputan6.com

ETIKA BER-ONLINE: SEBERAPA PENTINGKAH BAGI KITA ? – liputan6.com

Karena pentingnya persoalan etika di internet tersebut, Joseph A DeVito (Seorang Profesor Komunikasi) sampai membuat rumusan rambu-rambu yg disebut Netiquette. Terinspirasi dari situ, maka saya menyusun poin-poin penting yang harus diperhatikan sebelum internetan:

  • Jangan gunakan huruf kapital dalam seluruh kalimat, seperti “PULANG SEKOLAH KETEMUAN atau PULANG BARENGAN SAMA DIA (E**O)? NAJIS.” Karena itu sama artinya dengan berteriak, dan orang lain bisa tersinggung. Hindari juga penggunaan font warna merah yang menggambarkan amarah.
  • Untuk email resmi, seperti mengirim tugas ke guru/dosen, gunakan bahasa yang lebih formal. Jangan lupa ucapkan salam di awal, terima kasih di akhir email dan sertakan nama kita.
  • Jika mengirim email, tulis subjeknya. Biar tidak terkesan asal dan untuk memudahkan Si Penerima menyortir pesan. Bayangkan saja jika kalau kita sering kirim-kiriman email tugas beberapa mata pelajaran/kuliah ke teman tanpa subjek. Pasti, dia akan kebingungan saat akan mencari tugas mata pelajaran/kuliah tertentu.
  • Sebelum bertanya ke situs tertentu, baca dulu menu FAQs (Frequently Asked Questions), supaya kita nggak mengulang pertanyaan yang sudah dijelaskan sebelumnya.
  • YANG SATU INI PENTING! Penggunaan social media bukan untuk menggosip panjang lebar dengan teman. Kalau seperti itu, mendingan di pesan pribadi (private message) saja.
  • Jangan kirim broadcast message yang segmented ke semua teman atau men-tag foto ke semua orang di friend list. Bisa bikin penerima yg tidak terkait dengan topik yang dibahas jadi kesal atau sebal.
  • Be nice with newbies. Kalau ada anggota baru dalam forum situs tertentu atau mailing list yang kamu ikuti, jangan mengintimidasi. Wajar kalau dia belum terlalu nyambung atau tahu aturan dalam grup. Justru, kamu yang bisa membantu dia.
  • INI JUGA PENTING! Hindari  “perang kata-kata” di internet dengan orang lain dan jangan pernah menggunakan kata-kata kasar.
  • Mem-forward pornografi atau konten yang menyerang orang lain, termasuk bersalah di mata hukum, lho!

Baca Juga :

Pembekalan etika berteknologi ini sebenarnya gak harus pada saat remaja sih. Sejak umur anak-anak juga bisa, cuma masa remaja itu kan masa pencarian jati diri sehingga perlu adanya bimbingan seperti hal tersebut. Bila di sekolah-sekolah, peran guru IT sangat diperlukan. Saya sih gak tahu kurikulum pendidikan IT di sekolah kayak gimana, kalau hal etika tidak ada maka pembimbing IT perlu menambahkan materi ini. Begitu juga di dunia kampus, yang mungkin di antara kita ada yang kuliah di jurusan IT maka peran dosen IT sangat diperlukan, begitupun juga komunitas-komunitas IT yang dapat memberikan ceramah-ceramahnya tentang etika beronline kepada mahasiswa-mahasiswi pada umumnya.

Save Our Generation and Bravo IT Indonesia.

2 Comments

  1. anax kolonx

    kebanyakan masyarakat kita belum paham dengan etika berinternet yg benar, mentang2 g ketemu langsung, bisa seenaknya saja, semoga dengan postingan ini bisa membuka masyarakat utk lebih baik berinternet.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *