Tingkatan ‘Karier’ Bagi Freelancer

Tingkatan Karier bagi Freelancer - pics from Flickr

Keputusan menjadi seorang freelancer terkadang datang begitu tiba-tiba dan tanpa disadari, terkadang kejadiannya seperti ini: Anda sedang mengerjakan hobi Anda, kemudian hobi itu ternyata bisa menghasilkan pemasukan dan Anda menjadi rutin mengerjakannya dan menjadikannya sebagai pekerjaan paruh waktu.

Namun, ada pula sebagian freelancer yang mendapatkan ‘karier’ dunia freelance mereka dengan sebuah tahap tertentu serta langkah-langkah yang cukup panjang, seperti proses promosi jasa, mendapatkan klien awal, mendapatkan klien kelas ‘berat’, kemudian menjadi freelancer yang sustainable atau bahkan mendirikan studio dan mengumpulkan beberapa freelancer lain untuk bekerja bersama.

Beberapa hari yang lalu, saya membaca sebuah artikel atau opini dari majalah Concept, tulisan ini ditulis oleh Djoko Hartanto yang tak lain adalah pendiri Majalah Concept; tulisannya berkaitan dengan jati diri dari desainer grafis, pada artikel tersebut Djoko menjelaskan bahwa ada tiga segmen pasar yang sering kali dihadapi oleh para desainer grafis, yaitu awal karier, mid career, serta peak career.

Saya pikir artikel dari majalah tersebut ini bisa juga dikaitkan dengan dunia freelance selain desain grafis, berikut pendapat saya tentang tulisan di majalah tersebut, yang saya kaitkan dengan dunia freelance.

Awal

Meski bukan pekerjaan tetap atau terikat layaknya pekerjaan ‘kantoran’, pekerjaan freelance bisa juga dianggap sebagai karier, meski memang ini juga tergantung dari freelancer itu sendiri.  Pada awal karier beberapa hal yang sering dihadapi oleh para freelancer antara lain: kesulitan mendapatkan pekerjaan, kesulitan mengembangkan jaringan, belum fokus pada jasa yang akan ditawarkan.

Di antara itu semua, sebagaimana dituliskan Djoko pada opini majalah Concept, sebenarnya ada yang harus lebih diperhatikan dalam mengembangkan diri pada masa ini. Hal tersebut adalah visi.

Awal karier biasanya freelancer hanya bekerja sebagai ‘tukang’, dimana pekerjaan berasal dari klien dan freelancer tidak punya kuasa apapun atas karya atau jasa yang diberikannya, semua tergantung klien, disini freelancer hanya bekerja sebagai ‘tukang’ yang hasilnya sudah ditentukan dari awal oleh pihak lain, tanpa kemampuan untuk berkembang atau mengembangkan hasil karya akhir.

Tengah

Pada tahap ini freelancer telah bisa mengembangkan karya mereka dan telah lepas dari masa ‘pertukangan’, klien telah bisa diajak untuk bekerja sama dalam memutuskan atau mengembangkan hasil karya yang dilakukan freelancer.

Dengan pertumbuhan klien yang semakin bertambah maka pekerjaan yang harus diselesaikan pun semakin banyak, waktu semakin tersita dan tantangan yang ada adalah bagaimana caranya agar tetap menjadi kreatif dan menikmati perkerjaan yang dilakukan.

Masa ini juga bisa menjadi godaan karena zona nyaman telah ada dihadapan mata. Tetapi menjadi freelancer dengan bekerja sesuai pilihan, mengerjakan apa yang disukai saja dan menolak pekerjaan yang tidak disukai atau melangkah ke tahap selanjutnya dengan mengembangankan karier di dunia freelancer dengan mendirikan sebuah studio atau membuka peluang bisnis dengan pengalaman yang telah dihadapi.

Masa Keemasan

Tahap ini merupakan tahap dimana hasil karya freelancer telah diakui oleh para klien, pertumbuhan order atau pekerjaan telah stabil, dan freelancer memiliki klien langganan yang telah mempercayai hasil karyanya.

Pilihan yang bisa dilakukan pada tahap ini adalah, tetap menjadi seorang freelancer atau mengubah sistem one man show menjadi sebuah studio yang didalamnya bisa memiliki beberapa freelancer lain.

Ketika pilihan jatuh pada pengembangan karier dengan mendirikan studio atau perusahaan kreatif maka berbagai tanggung jawab seperti masalah manajerial dan hal-hal berbau administrasi otomatis akan mengikuti.

Freelancer yang telah memilih untuk menjalani pengembangan usaha akan bisa mengajak beberapa freelancer untuk masuk ke studio mereka, mendirikan sebuah perusahaan yang berkembang di ranah kreatif serta bisa mengembangkan jasa yang ditawarkan mereka. Misalnya jika dahulu hanya mengerjakan desain web, kini bisa juga menyediakan jasa web copy dengan mengajak freelancer lain untuk mengerjakan jenis pekerjaan ini.

Ketiga segmen pasar ini memang tidak baku, bisa juga tercipta segmen lain diluar tiga segmen diatas, seperti yang sering saya katakan, dunia freelancer merupakan dunia yang dinamis, dimana perkembangan yang ada di dalamnya bisa dimodifikasi sesuai dengan apa yang diinginkan oleh para freelancer itu sendiri.

Apakah Anda sedang berada pada salah satu tingkatan ‘karier’ diatas atau justru Anda mempunyai tingkatan Anda sendiri? Jangan sungkan untuk berbagi pengalaman Anda pada kolom komentar.

Tulisan diolah dari artikel di majalah Concept vol. 7 edisi 38 2010, bulan Okt-Nov.

12 Comments

  1. izzi

    klo kata Om Robert keosaki.. freelance itu bagian dari kuadran kiri (self employee), yang katanya masih “tidak aman”… peningkatan karier bagi seorang freelance itu menurut saya harus, sebab bagaimapun juga kita ga mungkin selamanya jadi “tukang”.. walaupun seperti yg dituliskan di atas ada proses dan pembelajaran yg harus dilewati.. *sorry sotoy 😀

    tapi akhirnya kembali kepada si freelance itu sendiri.. setiap orang punya ‘rencana’ masing2 … 😉

    • anax kolonx

      sy sekarang jg masih tukang, tukang tipu,…wkwkwk… :p (becanda) lama2 jenuh juga jadi tukang :(, sy sudah mempunyai beberap plan utk beranjak ke quadran kanan, sehingga sy bukan lagi “tukang”, tapi mempunyai banyak tukang yg bekerja pada saya… amin..doanya ya semua.. 🙂
      skss utk kita semua…

  2. Sofwan

    Menurut saya, memang seorang freelancer harus bergerak maju dan bergerak maju nya itu adalah menjadi seorang wirausaha, memiliki perusahaan formal dan memperluas jaringan bisnis nya.

    Bukan kah menjadi freelancer adalah wirausaha juga dan seiring dengan pertumbuhan bisnis, perlu orang lain untuk membantu nya dan perlu kendaraan. Kendaraan nya adalah Perusahaan formal agar dapat B2B dengan institusi bisnis.

    Semakin berkembang perusahaan , maka freelancer tsb yang saat ini menjadi owner, bisa lebih dominan ke manajemen nya dari pada ke teknis nya.

    Freelancer bertransformasi menjadi pengusaha ….

  3. Adam Rachmad

    Alhamdulillah saya nekad menjadi frelancer sudah hampir 2 tahun, hanya berbekal pengalaman dan keberanian.

    Saya slalu brusaha menjaga kepercayaan dan kualitas kerja saya.

  4. Bobby Prabawa

    Tingkatan tertinggi seorang freelancer adalah jika ia banjir order. Syarat utamanya ia harus rajin pamer karya di sosial media seperti Facebook, Twiter, atau posting di blog, sehingga calon klien dapat menilai kompetensi si freelancer. Jika sudah mapan buat agen freelancer, semacam perusahan penyedia jasa freelancer. Salam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *