Motivasi: Customer Service ala Sopir Angkot

customer service ala supir angkot - photo by The Doctor & Missus

customer service ala supir angkot - photo by The Doctor & Missus

Pernah mengalami pengalaman pahit dengan para customer service ?
Pernah mendengarkan jawaban absurd dari customer service yang kadang bikin kita pengen ketawa ?
Pernah dengar pembelaan diri dari customer service yang ujung ujungnya menyalahkan kita ?
Ah pastinya kita semua pernah mengalaminya…

Tapi hari ini saya dapat ilham, hari ini adalah hari pertama saya naik angkot lagi sejak beberapa tahun yang lalu. Tidak terasa, bayangan mengenai panas, sumpek, dan brutalnya angkot sudah hilang. Angkot masih tetap seperti dahulu. Tapi dengan ilmu yang bertambah, kacamata saya melihat angkot juga berubah.

Dulu.. angkot selalu lemot, rusuh, nggak tau aturan, bau dan lain lain. Sekarang ? Inilah yang harus kita pelajari dari sebuah angkot.

Menjemput Kesempatan

Dalam suatu waktu, pasti pernah ada penumpang yang melambaikan tangan, seberapapun jaraknya, entah itu dekat atau sangat dekat, atau masih jauh. Sopir angkot selalu berusaha sekuat tenaga, segera maju menjemput setiap penumpang yang melambaikan tangannya, ingin menggunakan jasa nya. Bahkan, kadangkala, mereka harus mundur beberapa meter, untuk membantu calon penumpang naik ke dalam angkotnya.

Selayaknya kita, kita seharusnya menjemput banyak sekali kesempatan yang telah diberikan Tuhan pada kita. Apapun bentuknya, walaupun mungkin terlihat remeh karena kita harus mundur beberapa level, tapi selalu ada bayaran yang di dapat. Kesempatan jangan pernah dilewatkan, siapa tahu di suatu kesempatan yang membuat kita turun level sebentar, malah membawa kita ke level yang jauh lebih tinggi.

Marketing Tiada Henti

Pada setiap badan angkot, sudah pasti selalu ditulis bahwa mereka memiliki trayek A ke B. Setiap calon penumpang pasti bisa membaca tulisan jurusan itu. Tulisan itu sangat besar, tidak dapat kita lewatkan begitu saja. Tapi apa yang dilakukan sopir angkot ? Dia selalu meneriakkan kemana dia akan pergi. Lewat jalur mana. Dan mengajak calon penumpang lekas naik menggunakan jasa nya. Mau gendut atau kurus, kaya atau miskin, semua calon penumpang disambut dan diajak untuk menggunakan jasa nya.

Sudah seharusnya, kita sebagai mahluk kreatif juga memanfaatkan diri kita sendiri dan memarketingkannya ke banyak orang. Tunjukkan keunggulan keunggulan diri, promosikan diri untuk mendapatkan tugas yang sesuai dengan tujuan dan jurusan kita. Mau proyek besar atau kecil, apabila sesuai dengan kemampuan dan spesialisasi kita, maka jalankan. Ini penting untuk membina relasi, menambah pengetahuan, sampai menambah pundi pundi keuangan.

Rela Berkorban

Sopir angkot selalu menyusun kita berhimpit himpitan, sampai angkotnya terlihat penuh sesak oleh penumpang. Dari yang tadinya 4-6, bisa berubah jadi 5-7 dalam waktu singkat. Tidak jarang, bahkan sopir angkot nya ikut terhimpit oleh penumpang yang berjejal di samping sopir. Alhasil, angkot jadi penuh sesak, terasa berat, dan agak susah menaiki tanjakan, jalannya pun kadang tersendat sendat. Kontrol kopling dan gigi yang handal, mutlak diperlukan agar angkot tidak macet.

Dengan sedikit berkorban pada sebuah kesempatan, kita telah memberikan diri kita sendiri peluang untuk mendapatkan nilai tambah, baik secara ilmu pengetahuan, atau secara materiil. Tidak jarang hal kecil yang kita anggap sebagai pengorbanan, rela dibayar lebih oleh rekanan kita. Rekanan kita juga melihat nilai tambah itu, sehingga nantinya akan lebih sering merekomendasikan mu jika ada hal hal yang perlu diurus. Tentu saja rela berkorban bukan berarti rela bunuh diri. Tidak. Berkorban sedikit sesuai kapasitas sudah cukup untuk membuat kita mendapatkan ilmu dan uang lebih banyak. Tidak perlu sampai tewas.

Memberi Solusi

Kadang kadang, dengan sebuah alasan atau lebih, angkot tidak bisa meneruskan perjalanan dan harus berhenti atau memutar arah. Pada saat itu, semua pelanggannya akan di “oper” ke angkot terdekat yang akan membawa kita menuju ke tujuan.

Kadang kadang, ada masalah yang membuat kita tak bisa maju lagi. Istilahnya, mentok. Masalah ini sering terjadi manakala kita tidak menguasai bidang yang diinginkan pelanggan. Salah satu cara terbaik, adalah dengan memberikan atau mendelegasikan pekerjaan tadi kepada seseorang yang lebih punya ilmu dan lebih mumpuni di bidangnya, demi kepentingan dan kepuasan pelanggan. Serakah tidak akan membawamu ke tempat yang lebih baik.

Mendengarkan Pelanggan Dengan Baik

Saat kita sudah sampai tujuan, biasanya untuk berhenti kita harus mengetok atap angkot atau bilang “kiri Bang”. Tahu nggak, kalo bagian depan angkot itu berisik sekali karena banyak angin yang masuk dan suara mesin menderu keras ? Tapi pak sopir angkot hampir selalu bisa mendengarkan apa saja sinyal yang kita katakan. Seperti seorang kekasih yang sudah sehati sepenanggungan.

Mendengarkan orang lain dengan baik adalah salah satu skill yang harus di asah. Memahami apa permasalahannya, ingin dibawa kemana masalahnya, ingin seperti apa pemecahannya, harus sesuai dengan keinginan pelanggan. Pelanggan kadang memberikan input tidak baik atau tidak terdengar. Kadang kita nya sendiri yang juga sedang ngelamun. Tapi dengan skill mendengarkan orang lain yang terasah, semua sinyal dan masalah bisa kita pecahkan dengan baik sesuai dengan keinginan dari pelanggan. Semua pemecahan sudah ada pada inti masalahnya, tinggal mau atau tidak kita melihat inti masalahnya.

Selangkah Lebih Maju

Sering waktu mau berhenti naik angkot, sopir angkot berhenti setidaknya beberapa meter lebih jauh dari tempat tujuan kita. “Bentar mas, sekalian di depan” atau semacamnya. Bagaimana jika dia berhenti terlalu jauh dari tempat tujuan ? Kita marah marah.

Jika ingin memberikan impresi yang baik kepada relasi atau kawan atau partner pada sebuah proyek, lakukan hal yang sedikit lebih banyak dari seharusnya. Sedikit lebih banyak tidak akan apa apa dan akan menambah poin kualitas dari penilaian yang didapat. Maju terlalu banyak bisa dianggap ingin mencampuri urusan perusahaan.

Tidak Perhitungan dan Rendah Hati

Setelah melakukan semua kelebihan diatas, apakah pak sopir men-charge harga lebih mahal dari yang seharusnya dibayarkan ? Tidak. Dia hanya men-charge sesuai dengan besaran biaya pokok yang harus di keluarkan oleh kita, sesuai dengan arah dan jurusannya. Tidak lebih. Hanya kewajiban kita yang harus dibayarkan, sementara pak sopir telah memberikan lebih banyak dari pada hak yang kita butuhkan.

Lupakan semua effort yang telah dilakukan sebelumnya, hal hal kecil tambahan yang kita lakukan sebelumnya biarkanlah terbang terbawa angin. Lupakan. Tidak usah masukkan itu dalam nota untuk di reimburse. Apalagi malah menaikkan harga. Ada bayaran lebih besar dari pada sekedar reimburse uang. Ada persahabatan, ada kesetiaan, ada loyalitas, ada rekomendasi dan masih banyak lagi keunggulan disamping itu. Berikan lebih banyak dari yang bisa kita lakukan, tidak usah mencari kompensasi di baliknya. Kompensasi terbaik akan datang sendiri, pada saat nya nanti.

Dari sini, bisa khan melihat betapa sopir angkot itu sebenarnya manusia yang luar biasa ?
Pada dasarnya setiap orang berharap diperlakukan seperti itu. Diperlakukan istimewa oleh sesama nya. Jika kamu bisa melakukannya, tidak ada hal yang tidak mungkin bagimu. Kita harus bisa melakukannya, sebaik baiknya kita.

Sopir angkot tadi, yang telah menginspirasi saya pun, langsung saya berikan kompensasi sebesar besar nya yang ada di dompet saat itu tadi. Istilahnya, tips. Memperhatikan dia bekerja, serta mendapatkan ilmu dan manfaat yang dapat diterapkan dengan mudah adalah sesuatu yang mahal bukan ?

di post juga pada : http://www.gamexeon.com/forum/pengembangan-diri/52001-customer-service-ala-sopir-angkot.html

Ditulis oleh : anang unwinged

Share pengalaman Anda dan Update ruangfreelance dengan berlangganan RSS, email, dan twitter

8 Comments

  1. Rommi Ariesta

    Point tambahan:) Ngebut untuk mendapatkan penumpang.

    Tak jarang kita lihat sopir angkot saling salip untuk menghampiri calon penumpang yang terlihat di arah depan. Hidup ini harus berkompetisi untuk mendapatkan sesuatu. Perlu perjuangan.

    Menjemput Kesempatan: Memang kita kadang harus mundur beberapa langkah untuk mendapatkan momentum yang lebih besar. Untuk menendang bola yang lebih kuat, biasanya pemain mengambil ancang-ancang terlebih dahulu.

    Terkadang juga sopir angkot menyebalkan, uang kembalian tidak diberikan lagi. Suatu project jgn dimark-up, pelajaran moralnya. heheheh

  2. Agung Cahyadi

    Salam,

    tulisan ini sangat membuka pikiran saya, melihat sesuatu dari sudut pandang yang berbeda.

    Betul-betul pemikiran yang diluar pemikiran saya. Semoga tulisan ini bisa memberikan inspirasi keorang lain hingga bisa melihat sesuatu dari sudut pandang positif yang berbeda.

    Karena saya sangat terinspirasi.
    Trims.

  3. tia maria

    Kalau dilihat dari sudut customer satisfaction, belom pernah denger ada yang mengaku puas naik angkot dan pelayanan sang angkot.

  4. anggi krisna

    @tia maria: kenapa orang indonesia senangnya mengambil sisi negatif yah, jarang banget sisi postifnya diangkat. Semakin Anda positif thinking maka hidup Anda past lebhi bahagia 😀

  5. tri

    wah pasti orang bandung nih!..hehehe,..jadi inget jaman2 naek angkot dulu. Saya sendiri sangat menikmati naek angkot, tiap naek pengalamannya berbeda-beda, dan banyak pelajaran yang bisa di ambil kalo kita jeli..sukur dapet kenalan yg cakep..hehehe.

    salut ama topiknya!!

  6. Muflih Agus AHmadi

    Pencerahan yang hebat di sore ini.

    Satu lagi mungkin, utk poin Rela Berkorban. Mereka rela berkorban disumpahi oleh pengguna jalan yg lain hanya demi memanjakan penumpang yg ingin naik/turun.

    Bukan itu saja, berapa kali gara2 penumpang yg manja ini mereka ditilang, krn menurunkan atau menaikkan penumpang tidak ditempatnya. Padahal penumpangnya yang jelas salah. 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *