Mencari Pekerjaan yang Sempurna

Banyak orang yang mengatakan (dengan nada mengeluh) bahwa pekerjaan mereka, yang sebelumnya begitu membanggakan dan mereka cintai, telah berubah menjadi sesuatu yang menjemukan. Mereka berkata bahwa mereka selalu merasa lelah, frustrasi, dan sumpek. Tetapi mereka malu dan enggan untuk mengeluh (kepada atasan atau rekan kerja) karena berpikir sekarang ini mereka masih lebih beruntung masih mempunyai pekerjaan.

Sounds familiar with that?

Di saat yang sama, mereka pun masih memiliki keyakinan bahwa di luar sana masih ada sesuatu yang bisa mereka lakukan dengan bakat dan minat yang selama ini dibiarkan terpendam tak tergali.

shutterstock_108317768

Freelancer Image via Shutterstock

Mengingkari Kata Hati

Banyak yang masih tetap bertahan di pekerjaannya yang sudah akrab dengan kehidupannya bertahun-tahun. Meski terasa berat membuka mata di pagi buta demi menerobos kemacetan yang ironisnya sudah menjadi kebiasaan tak terelakkan, masih ada kalimat denial dari mereka. Bahkan, tanpa suara pun, saya bisa membaca lewat mata beberapa teman seperti ini, “Itu pekerjaanku. Satu-satunya mata pencaharianku. Memangnya aku bisa berharap apa lagi sekarang?” Intinya sih, baginya, kerja banting tulang yang menyiksa itu bisa dimaafkan, asalkan memang ada imbalannya. Tentu, dalam bentuk mata uang yang mengalir ke rekening setiap bulan secara rutin.

Keseimbangan Hidup

Unfortunately, dear, pekerjaan yang sempurna tanpa rasa bosan dan nyaris tanpa melakukan apapun tetapi tetap mendapat gaji itu gak ada. Setiap pekerjaan tentulah ada sisi baik dan buruknya. Coba kamu bayangkan para artis yang kelihatannya nampak bahagia setiap hari itu pun memiliki saat jenuh yang mungkin lebih menyakitkan daripada pekerja kantoran.

Seorang pekerja lepas pun tak bisa benar-benar lepas dari dari kejenuhan. Karena hal itu sudah menjadi fitrah dan kewajaran sebagai manusia. Tak ada pekerjaan yang terus menerus membahagiakan kita. Tetapi, dengan sejenak keluar dari rutinitas, tentu bisa mengembalikan gairah bekerja hingga tak ada lagi gerutu yang sia-sia.

Do Something!

Lakukan sesuatu! Alih-alih menyesali diri yang terjebak, pikirkan apa sebenarnya yang belum kautemukan dari dirimu. Tuhan mempunyai rencana untukmu untuk melakukan sesuatu yang istimewa di dunia ini. Cobalah cari. Buatlah sebuah perubahan. Jangan biarkan dirimu sendiri menyerah. Terbukalah terhadap semua kesempatan yang diberikan padamu, hingga akhirnya kamu bisa mendengar panggilan hidupmu yang sejati.

Jika hidup adalah tentang biaya yang kaukeluarkan dan harapan mendapatkan manfaat yang setimpal, perhitungkan tak hanya dari segi materi (gaji / honor).

Ingat kembali segala lelah, rasa sakit, kesal, bosan, dan terhimpit itu sudahkan sesuai dengan bayaran yang kauterima? Mengapa nilai rupiah/dolar yang masuk ke rekeningmu tak membuatmu tersenyum lebar? Adakah yang ingin kaulakukan tetapi rasa takut lebih besar dari keinginanmu?

Maafkan Diri Sendiri

Daripada menyesali apa yang sudah kaulewatkan selama bertahun-tahun dengan sia-sia, kumpulkan keberanian dan kekuatan dari diri sendiri. Mintalah dukungan dari keluarga dan orang-orang yang dekat denganmu.

Lupakan bahwa kamu pernah melepaskan kesempatan di masa lalu. Semakin lama berkutat di pikiran yang sama, semakin bertambah biaya yang terbuang: waktu dan tenagamu.

Kamu bisa menuliskan apa saja yang menjadi kelebihanmu dan jadikan itu modal untuk mengambil kesempatan bekerja untuk dirimu sendiri. Membahagiakan diri agar bisa berbuat lebih baik dari sebelumnya.

Nah, apakah yang akan kamu lakukan untuk menciptakan pekerjaan sempurna menurut versimu?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *