Jangan Bekerja Pada Orang Lain Lagi Dong!

Kira-kira ada berapa orang yang akan menimpuk saya karena judul di atas? 🙂

shutterstock_175050815

Freelancer Image via Shutterstock

Begini lho. Kita mengisi lapak yang bisa kita penuhi dengan kemampuan dan keahlian kita. Jika memang kesempatan itu adalah bekerja kantoran, menjadi manajer yang mengurus keuangan kantor misalnya, ya itulah tempat yang cocok untuk kita.  Tetapi bila ternyata lebih cocok bekerja sendiri, menjadi wirausahawan atau pekerja lepas, saat bekerja kantoran pasti merasa sumpek dan yang mengganjal di hati. Ngaku! 😀

Lantas, jika ada keinginan untuk keluar dari zona nyaman (kepastian gaji setiap bulan merapat ke rekening dengan selamat) dan menikmati rasanya deg-degan saat tak ada proyek atau dagangan sedang sepi dan mengalami kantong kering, bagaimana sebaiknya bergerak?

Manusia diciptakan menjadi makhluk berakal. Gunakanlah. Saya meyakini tak ada manusia bodoh. Hanya ada kelompok pemalas yang mengatasnamakan takdir, lantas berkilah macam-macam. “Yah, sudah takdir deh, gue kerja di sini.” Tetapi setiap hari terbelenggu pikiran ingin bisnis salon mobil karena hobinya mendandani mobil orang lain. Bahkan sudah banyak yang suka dan puas dengan hasil kerjanya. Sementara orang yang dipuji tidak pede untuk keluar dari pekerjaannya. Saya sendiri gemas dengannya. Menurutmu, apa yang seharusnya dia lakukan? (Ini pertanyaan retorik ya?)

Saya bekerja di beberapa perusahaan demi memuaskan rasa penasaran bagaimana rasanya bekerja di kantor A, B, C, plus mengasah kemampuan. Iya, ini sebenarnya tidak penting. Karena saya tahu kemampuan saya sejauh apa untuk berperan sebagai seorang karyawan kantoran.  Tetapi saya sangat berterima kasih kepada semua mantan atasan karena telah memberi saya banyak ilmu keren.

Ternyata ilmu itu berguna untuk saya pakai di saat menjadi pengacara (pengangguran banyak acara) saat ini.  Saya, orang yang tidak suka kompetisi frontal (terang-terangan cari muka di depan bos, terjemahan bebasnya sih), lebih suka bersaing dari kejauhan. Saya tipe yang lebih sering memerhatikan orang-orang yang lebih kompeten tinimbang saya dan melihat celah kelemahannya di mana. Ternyata, selain faktor lebih ulet dan gesit, faktor keberuntungan juga menaungi mereka. Suatu saat, giliran saya. Semoga.

Nah, sekarang saya memiliki tantangan yang mungkin sama dengan beberapa freelancer lain. Mengatur waktu sendiri dan menyusun jadwal yang terkadang suka hancur berantakan karena saya mudah terdistraksi. Tantangan tersendiri, kan? Menyusun anggaran pengeluaran dan pemasukan? Duh, saya lemah sekali di bagian ini. Itu sebabnya bekerja kantoran memang lebih enak di sisi keuangan karena pemasukannya pasti, rencana pengeluarannya pun dipastikan bisa teratur juga. Bagaimana dengan freelancer yang serba tak pasti. Pemasukan ya tergantung dari proyek. Ini semua akibat saya nekat berhenti menjadi karyawan kantoran. Nyesel? Menurutmu? 😀

Bagaimana denganmu? Share di kolom komentar ya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *