Hanya Seorang Wanita Biasa

shutterstock_115326697

Freelancer Image via Shutterstock

Ngobrol ringan yuk?

Di zaman sekarang, ketika jarak semakin terasa dekat karena meeting bisa dilakukan melalui Skype, waktu terasa sangat efisien karena bisa bekerja di tengah kemacetan luar bi(n)asa di jalan raya (bahkan di jalan tol?), dan  mudahnya bekerja dari mana saja asalkan terkoneksi internet, maka apa yang (hampir) tidak mungkin?

Itu juga yang akhirnya banyak dilirik oleh para wanita masa kini. Tuntutan untuk membantu memenuhi kas keuangan keluarga, tetap dekat dengan anak, tetapi juga ingin tetap bisa mengaktualisasikan diri sesuai passion dan cita-cita. Terdengar klasik dan basi? Nyatanya yang demikian masih dikejar oleh wanita modern.

Ada adat dan tradisi yang tetap menuntut wanita bisa membagi waktunya dengan baik. Wanita bekerja bukan lagi hal yang tabu, bahkan mendapat tempat terhormat seperti CEO, Presdir, Perdana Menteri, dan sebagainya.

Beberapa teman dan kenalan yang bekerja kantoran selalu curhat kalau ingin rasanya tetap bisa berdekatan dengan si kecil di rumah, tapi tetap bisa bekerja. Saya tanya, apakah sudah pernah mencoba mengambil pekerjaan paruh waktu? Sekadar mencoba satu proyek kecil misalnya. Beberapa tertarik  tetapi terbentur waktu. Saya menyarankan ambil yang tenggatnya tidak terlalu ketat.

Bagaimana dengan teman-teman yang benar-benar bekerja dari rumah? Membuka butik sendiri, merintis usaha katering, atau yang tak perlu modal banyak seperti penjual pulsa. Mereka juga, terkadang, masih tetap sulit berinteraksi dengan anaknya sendiri jika kondisinya mengharuskan keluar rumah untuk bertemu agen, klien, supplier, dan calon pelanggan yang dilakukan dari pagi hingga malam hari.

Tetapi mereka tetap ibu rumah tangga biasa dengan segala keterbatasan tenaga dan waktu. Maka dibutuhkan sebuah agenda manajemen untuk merapihkan segala pekerjaannya. Kapan menyiapkan sarapan untuk suami dan anak, kapan mengirim surel kepada klien, kapan menghadiri arisan ibu kompleks, kapan mengantar ibu untuk terapi rutinnya,  kapan ke salon, kapan membeli bahan untuk proyek, dan kapan harus tidur. Jujur, kalau saya jangan ditanya kapan mandi. :mrgreen:

Setangguh apapun seorang wanita, ada saatnya untuk mengambil waktunya sendiri, diam tanpa kehadiran siapa pun. Bahkan pasangan atau sahabat. Benar-benar sendiri. Meluapkan emosi agar seluruh tanggung jawab tidak terkena imbasnya.  Ke pantai, ke mall, ke salon, ke gunung, atau bahkan di kamar tidur saja. Kunci pintu, menarik napas dalam-dalam, meminum segelas air putih hangat, berdoa, menangis, membaca buku, menulis, atau menonton setumpuk DVD.

Nah, setelah merasa beban pikiran dan perasaan mulai ringan, maka akan bisa berpikir jernih, mengambil keputusan tanpa emosi, dan siap memulai segalanya dengan baik. Kembali cek jadwal tenggat proyek dari klien, menyiapkan makan malam keluarga, dan mulai mencari proyek baru.

Hidup ini terlalu menyenangkan untuk dipenuhi dengan keluhan apapun. Betul? Semua membutuhkan proses.  “He who fails to plan is planning to fail.” Begitu kan, kata opa Winston Churchill? Rencanakan segalanya dengan baik, bahkan untuk menyendiri. Alarm tubuh biasanya sudah memberitahu kita saat lelah dan suntuk mulai melanda. Segera jadwalkan untuk rehat sejenak. Jangan menunggu ketika otak sudah ngebul, marah-marah, akhirnya semua pekerjaan berantakan.

Jadi, para wanita pekerja full time atau freelance, bagaimana cara Anda mengatur waktu dan energi agar bisa tetap tampil prima?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *