Membunuh Waktu di Kala Senja

Rasanya saya tak akan bosan membahas tentang hal yang satu ini. Masa tua dan produktivitas. Membayangkan apa yang akan saya lakukan 20 atau 30 tahun yang akan datang (jika masih diberi kesempatan hidup dan tetap menyandang gelar freelancer.)

shutterstock_183228341

Freelancer Image via Shutterstock

Masih banyak di antara orang tua yang berusia lebih dari 60 tahun (atau mungkin beberapa di usia 50 tahun) yang menjadi bingung bagaimana caranya agar tetap bisa seaktif masa muda meski tidak segesit semula.

Selain turut mengasuh cucu (bila orangtuanya bekerja di kantor) dan mungkin mengisi teka teki silang, apa lagi yang bisa dilakukan para lanjut usia ini? Sepertinya banyak, ya?

Saya tergelitik melihat keseharian para lansia yang tinggal di panti werdha. Kebanyakan dari mereka hanya duduk diam, sesekali berbincang dengan sesamanya, atau mengaji. Bagi yang masih cukup awas matanya, ada yang menyulam atau menjahit. Atau, bagi mereka yang dulu aktif menggunakan komputer, mungkin bisa tetap aktif dengan ngeblog atau menjadi kontributor kolom artikel sebuah situs. Sayangnya, kebanyakan lansia di saat ini adalah mereka yang saat mudanya belum pernah atau jarang bersentuhan dengan komputer. Mungkin satu-satunya benda elektronik yang pernah akrab adalah telepon.

Lansia saat ini, katakanlah, berusia 60 tahun, sepuluh tahun lalu berusia 50 tahun dan bersiap pensiun. Di tahun 2004, masih banyak kantor yang belum menggunakan internet. Mengetik pun masih menggunakan mesik tik manual yang bunyinya berisik (tapi, hey, saya merindukan tak tik tuk bunyinya itu). Hal ini membuat jurang pemisah yang cukup lebar antara pensiunan sadar teknologi dengan yang gagap atau bahkan buta teknologi. Bagaimana caranya agar lansia di Indonesia akrab dengan teknologi internet di masa tuanya, sekadar untuk tetap produktif mengisi waktu?

Saat ini, sudah banyak tablet murah berbasis android yang mudah dioperasikan (meski layar sentuh menjadi permasalahan sendiri bagi lansia, dan bahkan saya. )

Misalkan saja seperti ini: Bagi para bapak yang berwisata kuliner saat muda, bisa membagikan pengalamannya dengan membagikan kembali foto kuliner lawas (ambil contoh tahun 1990) melalui blog atau media sosial dan berbagi kisahnya seputar masakan tersebut.

Atau ibu yang suka membuat sulaman dan selama ini hanya membagikan pengalamannya dengan teman atau saudara, bisa mencoba untuk membagikannya di blog. Pasti menyenangkan berkenalan dengan banyak orang meski belum pernah bertatap muka langsung.

Saya baru melihat sebuah foto dengan caption yang kece banget di SINI: Tentang seorang lansia bernama Lilian Weber yang berusia 99 tahun dan masih aktif menjahit satu baju anak kecil setiap hari. Beliau berencana membuat 150 baju lagi hingga genap 1000 buah yang bertepatan dengan hari lahirnya yang ke 100 pada bulan Mei tahun 2015 yang akan datang.  (Mari kita doakan agar Oma Lilian diberi kesempatan oleh Tuhan untuk menuntaskan targetnya.)

Lilian Weber. Photo credit from Facebook.

Lilian Weber. Photo credit from Facebook.

Adakah pengalaman lain yang pernah Bapak dan Ibu lakukan di masa muda dan ingin kembali diaktifkan di masa senja sekarang? Mari berbagi di kolom komentar.

Kamu yang melihat anggota keluarga yang sudah lanjut usia, coba dekati dan tanyakan ingin melakukan apa untuk mengisi waktu luang? Berselancar di dunia maya untuk mendapatkan info terbaru pastinya seru. Nantinya, mereka akan punya bahan obrolan dan kegiatan bersama teman seperjuangannya. Saya rasa itu menyenangkan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *