Yakin Mau Jadi Fulltime Freelancer?

(fulltime freelance image via Shutterstock)

Serius nih.

Yakin mau jadi fulltime freelancer?

Pertanyaan ini mungkin muncul dari orang terdekat ketika kamu mengungkapkan keinginan untuk jadi fulltime freelancer.

Saya yakin mereka bukannya meremehkan kemampuan kamu, tapi sebenarnya mempertanyakan kemampuanmu untuk mendapatkan client secara kontinyu.

Karena terjun menjadi freelancer itu sebenarnya sama dengan membangun bisnis.

Apa yang dijual?

Kemampuan dan talenta yang kamu miliki.

Lantas, apa saja yang harus disiapkan sebelum terjun sebagai fulltime freelancer? Mari kita ulik lebih lanjut.

1. Peran ganda

Let’s say kamu bekerja di sebuah advertising agency sebagai graphic designer. Hasil kerjamu ngga diragukan lagi. Jarang dapat komentar negatif dari klien dan kamu adalah aset berharga bagi boss.

Mulai bosan dan tertekan dengan deadline? Gaji ngga naik-naik?

Ide menjadi freelancer yang bebas mengatur jam kerja sendiri, berikut bisa dapat bayaran lebih gede dari klien, mulai muncul di benak kamu.

Tapi tunggu dulu.

Selama ini di kantor kamu siapa yang nyari klien? Ada bagian marketing.

Siapa yang negosiasi masalah harga? Boss langsung.

Siapa yang mengelola keuangan berikut nagih invoice? Tentu bagian keuangan.

Oke.

Sekarang pertanyaannya, bisa ngga ketiga peran itu sekaligus kamu ambil alih sambil menyelesaikan project dari klien?

2. Mengelola keuangan

Ini bagian krusial di semua bisnis. Kalo keuangan salah urus, bubar deh bisnisnya. Ngga terkecuali sebagai freelancer yang cashflow bisnisnya cukup sederhana.

Tapi di sini kamu mesti belajar memisahkan antara rekening bisnis dan rekening pribadi.

Misalnya, kamu seorang fotografer freelance.

Bayaran dari client masukkan ke rekening bisnis. Ambil dana untuk operasional bisnismu dari rekening ini.

Termasuk untuk membayar ‘gaji’ kamu sebagai satu-satunya karyawan.

Silahkan masukkan gajimu ini ke rekening pribadi.

Dan jangan lupa, sebelum terjun sebagai fulltime freelancer, idealnya kamu siapkan Dana Darurat minimal 12 x kebutuhan bulanan. Dan jangan diutak-atik, karena ini untuk jaga-jaga ketika di bulan-bulan pertama kamu belum dapat klien.

3. Buat strategi marketing

Studio foto yang sudah established tentu ngga bingung mencari customer yang ingin menggunakan jasanya.

Bagaimana dengan kamu sebagai fotografer freelance?

Tentukan target market

Pilih jadi wedding photographer atau catalog photographer?

Ini akan memperjelas positioning kamu di mata calon klien.

Contohnya : Andi berencana menikah bulan Desember. Dia sedang mencari fotografer untuk foto prewedding. Dan dia bertanya pada temannya, Samuel, yang baru menikah bulan kemarin.

“Foto prewedding elu kemarin di studio mana?”

Karena Samuel pake jasa kamu dan puas dengan hasil fotonya, mostly dia akan kasih rekom.

“Ga di studio kok. Yang moto temen gua si Satria, dia jagoan bikin foto prewedding yang lain dari yang lain. Harganya ga semahal di studio pula.”

See?

Bikin portfolio website

… dan pajang semua hasil foto terbaikmu.

Beli domain+hosting ga semahal sewa studio kok. Tinggal install WordPress, beli WordPress theme di Tokokoo (ada pilihan themes untuk freelancer juga), upload foto-foto dan voila.. your website is all set.

Bisa juga membuat akun di Instagram atau Flickr.

Dan jangan lupa mencantumkan contact number atau email address.

Cari klien tetap

Klien tetap = pendapatan yang kontinyu.

Ecommerce sedang booming di Indonesia. Foto produk yang bagus adalah wajib, karena customer ngga bisa melihat produknya secara langsung. Di sini ada peluang untuk fotografer freelance.

Jika klien puas dengan hasil kerjamu, pasti dia akan terus menggunakan jasa kamu untuk membuat foto produk berikutnya.

4. Perluas network

Enaknya jadi freelancer adalah kamu bisa kerja di rumah. Tapi apa iya mau di rumah terus? Lama2 akan berasa lonely.

Jalan, ketemu teman, atau bergabung dengan komunitas freelancer akan membuat kamu merasa ga sendirian.

Dan biasanya justru dengan sering-sering bergaul maka kamu akan dapat project baru.

5. Asah terus kemampuan

Perusahaan yang bagus akan terus berinovasi dengan produk-produknya. Mereka ngga segan mengeluarkan biaya besar untuk meng-upgrade kemampuan karyawannya.

Freelancer juga harus begitu. Update terus pengetahuan dan tingkatkan kemampuanmu. Jadi freelancer ngga boleh malas.:)

Jadi, yakin mau jadi fulltime freelancer?

Ruang Freelance

Ruang Freelance merupakan wadah para freelancer untuk saling berbagi pengalaman mengenai dunia freelance mereka. Kategori yang dibahas seputar freelance online, money management, paypal, social networking, make money dan banyak lagi. Tapi, kami akan berusaha untuk memberikan yang terbaik disetiap tulisan. Dan, kami juga bukan ahli Bahasa Indonesia, mohon maaf apabila tulisan kami tidak EYD (Ejaan Yang Disempurnakan).

Comments

  1. Akhmad Sofwan says

    Yakin dong, jadi fulltime freelancer. Menurut saya, menjadi fulltime freelancer itu bagus sebagai batu loncatan membuat perusahaan formal, jadi, jika client makin banyak, jaringan makin luas dan ada sedikit banyak modal, perlu di pikirkan untuk membuat badan usaha formal berikut tempat yang representatif.

    Selain itu, kita bisa ambil
    pekerjaan lain yang tidak butuh waktu ketat, mengajar dan menulis
    misalkan. Sehingga bisa menambah pemasukan dan memperluas pertemanan juga …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *