Rate per-Jam? Nope! :)

rate perjam Noway! :D - photo by Prozac74

rate perjam Noway! 😀 - photo by Prozac74

Humm.. pernyataan yang berani? Mungkin. 🙂 Saya menduga akan banyak yang tidak setuju (atau justru setuju?) dengan apa yang akan saya tulis berikut ini. Ok, mari kita bahas dan diskusikan bila dirasakan perlu.

Semenjak saya terjun ke dunia freelancer, belum pernah sekalipun saya memberikan harga ke klien berdasarkan rate per-jam. Kebetulan umumnya memang tidak pernah menanyakan rate per-jam, tapi pernah ada yang menanyakannya, dan saya bilang terus terang “tidak tahu” dan menjelaskan bahwa Saya biasanya (dan lebih memilih) memberikan harga fixed (per pekerjaan) berdasarkan requirements dan tingkat kesulitan.

Mengapa? Ummm… jujur saja sebelum2nya saya juga tidak tahu pasti alasannya. Saya cuma merasa tidak tepat saja bila sebuah pekerjaan desain dihargai berdasarkan hitungan rate per-jam.

Mungkin karena saya merasa tidak setuju bila dikatakan desainer adalah penyedia jasa (service), sama halnya seperti dokter, pengacara, psikiater, dan sebagainya. Dan karenanya ‘jasa’-nya tersebut bisa dihargai dengan hitungan per-jam. Nope… menurut saya tidak. Dokter, psikiater, pengacara hanya memberikan konsultasi dan saran. Apakah saran tersebut akan diikuti oleh klien-nya atau tidak, itu terserah. Yang pasti atas ‘jasa’ memberikan saran tersebut mereka dibayar. Desainer menurut saya tidak seperti itu. Selain memberikan konsultasi dan saran, ia juga memberikan hasil. Logo, layout brosur, tampilan website, graphical user’s interface, adalah hasil nyata yang bisa dilihat (walaupun tidak bisa disentuh). Artinya seorang desainer juga bisa dikatakan menghasilkan sebuah produk. Hasil desainnya itu lah produknya. Ini yang membedakannya.

“Oh solusinya website Bapak akan ada header-bar warna hijau, gradasi model aqua style gitu. Menunya menggunakan font Frutiger Condensed 12pt, disusun horizontal left-justified. Dibawahnya ada image 600×200 pixel, berganti2 menggunakan Javascript. Sebelah kanan ada login form sementara content text-nya ditempatkan dibawahnya, disusun dalam 3 kolom. OK Pak? Biayanya… (sambil melirik jam tangan).. ummm.. 1 juta karena tadi kita ngobrol kurang lebih satu jam”

Apakah Anda cuma memberikan nasehat seperti itu ketika ada klien yang meminta sebuah desain situs? 😉 Mungkin contoh itu terlalu ekstrim, tapi bila memang itu yang Anda lakukan sebagai seorang desainer, OK.. Anda bisa menghitung ‘jasa’ Anda berdasarkan rate per-jam. Bila pada kenyataannya tidak, maka sudah seharusnya Anda tidak men-charge berdasarkan rate per-jam.

Itu satu hal paling mendasar yang saya rasakan. Alasan lain pastinya ada, tapi seperti saya katakan, dulu saya tidak pernah bisa mendefinisikannya secara tepat. Ada tapi susah dijabarkan. 🙂

Sampai akhirnya saya membaca sebuah artikel yang ditulis oleh Chris Haddad beberapa waktu lalu. That’s it! Ini dia alasannya (ditambah beberapa alasan lainnya juga di situ), pikir saya waktu membaca tulisan berjudul “Why I Don’t Work Hourly and Neither Should You” itu sambil senyum-senyum sendirian.

Dikombinasikan dengan terjemahan dari tulisan tersebut, berikut ini saya coba berbagi beberapa alasannya:

Membingungkan Klien dan (akhirnya) Membingungkan Anda Sendiri

Bila Ada sebuah pekerjaan yang Anda estimasi bisa dikerjakan dalam waktu 10 jam, kapankah waktu 10 jam tersebut mulai dihitung dan diakhiri? Apakah dalam 1 hari? Artinya Anda mulai jam 9 pagi dan (harus) diselesaikan pada jam 7 malam di satu hari yang sama? Atau 1 jam sehari dalam waktu 10 hari? Atau 2 jam hari ini, 1 jam besok, 3 jam lusa, dst? Bagaimana jawaban Anda bila klien menanyakan hal ini? Membingungkan bukan?

Tidak Fair Terhadap Klien

Misalkan ada sebuah perusahaan start-up meminta Anda mendesainkan logo bagi mereka. Anda katakan bahwa rate anda adalah Rp.500rb/jam dan pekerjaannya bisa Anda kerjakan dalam waktu 2 jam. Artinya Anda akan menagih klien sebesar Rp.1 juta. Mereka setuju dan Anda-pun mengerjakannya. Dalam waktu 2 jam Anda menyelesaikannya dan ternyata klien puas. Anda pun dibayar Rp. 1 juta.

Minggu depannya, ada sebuah perusahaan multinasional meminta Anda mendesainkan sebuah logo buat produk baru mereka, dan Anda tahu bahwa perusahaan tersebut adalah perusahaan besar yang sangat terkenal (Microsoft, misalnya). Tingkat kesulitan pembuatan logo tersebut sama persis dengan pekerjaan Anda yang pertama tadi. Hmm.. sekarang apakah Anda akan mengatakan juga bahwa rate Anda adalah Rp. 500rb per-jam dan bisa menyelesaikannya dalam waktu 2 jam? Bila Anda fair, Anda akan mengatakan hal yang sama dan rela logo Anda ‘hanya’ dihargai Rp.1juta (Walaupun Anda tau bahwa Anda bisa men-charge Rp.10juta ke Microsoft dan itu bukan masalah bagi mereka). Bila Anda konsisten mengatakan rate Anda Rp. 500rb/jam tapi manambah waktu pengerjaannya menjadi 20 jam (agar bisa mencapai angka Rp.10juta yang Anda inginkan itu), artinya Anda tidak fair bukan? Atau sama juga bila Anda tetap mengatakan waktu pengerjaannya 2 jam tapi rate anda Rp.5juta/jam. Tidak fair juga dan mungkin klien akan menduga Anda mengada-ada mengatakan rate Rp.5juta/jam! 😉

Bisa Memancing Konflik dengan Klien

Dalam tulisannya, Chris Haddad memberikan ilustrasi yang sangat bagus. Dia mencontohkan, misalkan mobil Anda sangat kotor dan perlu dicuci. Anda berangkat dan menemukan 2 buah tempat layanan pencucian mobil. Pencucian mobil pertama menuliskan “Cuci mobil Anda sampai mengkilap – Rp.30.000”. Pencucian mobil ke-dua menuliskan “Cuci mobil Anda, hanya 1 jam – Rp.30.000”.

Bila Anda memilih pencucian mobil pertama, hanya akan ada satu hasil: mobil dicuci sampai mengkilap dan bersih, Anda membayar Rp.30.000. Anda pun puas dan senang.

Namun bila Anda memilih pencucian mobil ke-dua, akan ada 3 kemungkinan hasil:

  1. Mobil dicuci selama 1 jam. Mobil Anda mengkilap dan bersih. Anda membayar Rp.30.000. Anda puas dan senang.
  2. Mobil Anda dicuci selama 1 jam. Hasilnya ternyata tidak mengkilap dan kurang bersih, tapi Anda tetap harus membayar Rp.30.000. Bila mau mengkilap dan benar2 bersih, Anda harus menambah Rp.30.000 lagi untuk 1 jam berikutnya. Anda tidak puas. Anda tidak senang.
  3. Mobil Anda dicuci selama 1 jam. Mobil Anda mengkilap dan bersih. Anda membayar Rp.30.000, tapi Anda merasa bahwa sebenernya waktu yang diperlukan untuk mencuci mobil harusnya bisa kurang dari 1 jam. Anda tidak puas karena merasa di-charge lebih. Anda tidak senang.

Nah lo? Beresiko bukan? Dengan men-charge berdasarkan rate per-jam, bisa saja klien Anda menganggap dia telah di-charge lebih dari pekerjaan yang sebenernya bisa dikerjakan lebih cepat, bukan?

Bisa merugikan diri Sendiri

Kita tahu bahwa banyak faktor yang menentukan lancar tidaknya sebuah pekerjaan. Yang diatas kertas rasanya bisa diselesaikan dalam waktu 12 jam misalnya, pada kenyataannya bisa memakan waktu lebih. Bagaimana dengan kelebihan waktu tersebut? Apakah Anda akan men-charge-nya dengan tagihan susulan ke klien Anda? OK kalau memang mereka bisa menerima dan rela membayarnya. Nah kalau tidak, karena itu dianggap hidden-cost? Apakah Anda akan pasrah kelebihan waktu tersebut tidak dibayar dan menganggap itu resiko pekerjaan? Menurut saya, itu artinya sama dengan merugikan diri sendiri.

Itu 4 hal utama alasannya. Untuk tulisan lengkap Chris Haddad, anda bisa membacanya di sini.

Saya tahu bahwa dulu Saya pernah menulis tentang cara menghitung harga dengan menggunakan rumus sederhana. (Tulisan selengkapnya bisa dibaca di blog saya atau di berbagai link situs yang saya sendiri sudah tidak hapal karena dikutip dengan bebas) 🙂 Di situ, ada satu parameter yaitu “rate per-jam atau per-hari”. Yap betul… rate per-jam atau per-hari bisa dipakai tapi yang saya maksudkan di tulisan itu, hanya untuk keperluan internal saat kita menghitung harga. Bukan untuk disampaikan langsung ke klien. Hasil akhir dari rumus sederhana di tulisan itu tetap saja berupa harga fixed yang akan di-quote ke klien.

Saya juga berpikir bahwa bila penggunaannya tepat, rate per-jam bisa dipakai dengan efektif. Misalkan untuk mengantisipasi revisi pekerjaan atau Anda bekerja on-site di kantor klien. Untuk itu Anda mungkin bisa mengkombinasikan rate per-jam dengan harga fixed.

Tentu saja Anda bisa berpendapat lain. Semuanya kembali ke pilihan Anda, tapi paling tidak itu-lah alasan mengapa saya tidak pernah memakai rate per-jam. 🙂

Ruang Freelance

Ruang Freelance merupakan wadah para freelancer untuk saling berbagi pengalaman mengenai dunia freelance mereka. Kategori yang dibahas seputar freelance online, money management, paypal, social networking, make money dan banyak lagi. Tapi, kami akan berusaha untuk memberikan yang terbaik disetiap tulisan. Dan, kami juga bukan ahli Bahasa Indonesia, mohon maaf apabila tulisan kami tidak EYD (Ejaan Yang Disempurnakan).

Comments

  1. says

    Betul banget, tapi perlu dipertimbangkan juga bila kita dikontrak tetap oleh perusahaan, ya mau ga mau gaji bulanan ato per jam.

    But then again, dah ga freelance lagi dong ya kalo kayak gitu? 😛

  2. says

    Memakai hourly-rate memang menyenangkan awalnya, tetapi makin lama saya berkecimpung di dunia ini, makin sadar bahwa hourly rate “tidak terlalu” menguntungkan bagi saya dan client.

    Anyway, good article 🙂

  3. says

    Kalau untuk proyek memang tidak pernah charge by the hour, tapi untuk konsultasi, saya charge by the hour dan per kedatangan (kayak taksi, hehehe), karena belum tentu executor dari hasil pembicaraan itu adalah saya. Dengan begitu saya bisa dengan leluasa merecommend freelancer lain yang saya rasa cocok untuk mengerjakan proyek itu.

    Untuk yang konsultasi tidak dicharge adalah mereka yang telah membayar retainer fee, dan itupun ada maksimal perkedatangannya serta maksimal waktu pertemuan. Lebih dari itu ditagih kelebihannya.

  4. says

    em… sebenenya juga bingung kalo harus project di charge per hour (karena memang blum pernah) paling yang aku by hour itu estimates, tapi akhirnya yang diajukan ke klien juga fixed qoutes…
    bdw ngiri jadinya pengen bisa charge per hour kaya om chandra untuk konsultasi, he3x….
    belum berani ngasih rate untuk hanya sekedar konsultasi 🙂

  5. says

    Wah bahasan menarik sekali mas Harry… Kadang saya mengkombinasikan keduanya, tergantung juga, tapi sampai saat ini saya sendiri seringnya menggunakan rate perjam untuk klien luar, karena lebih menguntungkan bila projectnya jangka panjang…

  6. says

    Hallo, sy perlu bantuan nih. sy awam banget mengenai internet. sy punya toko online, http://www.tokoebook.com. sebuah situs penerbitan dan penjualan ebook. Saya ingin menambahkan halaman login untuk penulis yang menerbitkan ebooknya disini. Tujuannya agar setiap penulis bisa memantau statistik penjualan ebooknya di situs ini, sehingga transparan bg penulis. FYI sy pake Zencart. kira2 untuk membuat ini tarifnya berapa? Japri aja ke wahyudi@cei.com.sg. Thank’s

  7. says

    Setuju Har… dari dulu emang selalu nggak pernah ketemu sama hitungan jam. Gue selalu katakan ke klien untuk bikin harga berdasarkan project based daripada time based.

  8. says

    habis2 baca2 ini aku jadi punya kesimpulan.
    Dalam hal pekerjaan yang kamu berhadapan langsung dengan klien yg membutuhkan pekerjaan itu sendiri, memang rate per hour nggak cocok untuk dipakai, saya juga nggak makai rate perhour, tapi per project. Ini juga cocok untuk klien yang sekali saja atau tak begitu sering ada pekerjaan.

    Kalau klien bersifat tetap misalnya dia sebuah company atau sebuah agent yang punya klien sendiri sehingga pekerjaan menjadi rutin makai rate hour bisa berlaku.

    Saya sudah menjalani keduanya, dan situasi yang ada saat ini saya lebih nyaman dengan rate perhour karena saya tidak terlalu pusing untuk memikirkan bagaimana mendapatkan pekerjaan selanjutnya. Juga, dengan mengikatnya melalui kontrak, klien menjadi harus memberi pekerjaan rutin. Bila tanpa kontrak, mereka juga santai hinga beberapa minggu atau sebulan lebih tanpa ada pekerjaan lagi.

    Total yang saya dapatkan, melalui kontrak (dengan system rate per hour) saya dapat lebih banyak

  9. namriff says

    Ada yang tahu cara ngitung rate per hours untuk Alat berat nggak??? info donk bro metoda-metodanya

  10. says

    Saya memang merasa kurang nyaman men-charge berdasarkan jam-jaman untuk pekerjaan proyek dan sekarang ketemu alasan yang tepat 🙂 thanks buat artikelnya, tapi untuk konsultasi saya setuju dengan bung Chandra Marsono

  11. Mizan says

    Perhitungan hourly sejauh ini lebih masuk akal dan bisa dipertanggung jawabkan, dibandingkan didapat berdasarkan harga pasar atau luasan pekerjaan, dan semakin sering memakai hourly semakin akurat perhitungannya, kemudian sistem hourly selalu up date dengan inflasi dan menghargai pembuat Billing Rate yang sangat rajin setiap tahunnya menyesuaikan dengan perkembangan ekonomi…….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *