Passion Addict Atau Ikut-ikutan Aja?

Setahun yang lalu atau lebih tepatnya saat saya membeli buku karya Rene Suhardono yang berjudul Your Jobs is Not Your Career , akhirnya saya memutuskan untuk hijrah dari hingar bingar kegalauan masa muda. Maksudnya? Hehe, nanti saya jabarkan. Sebelumnya saya ingin membahas dulu tentang buku Rene itu dan Passion anda sebagai seorang Freelance.

Bahkan menurut Rene sendiri dalam twitternya di ReneCC bahwa passion adalah hal yang cukup sulit dan lama untuk dieksplorasi dalam diri seseorang. Apalagi dalam dunia profesional yaitu dunia kerja. Bahkan dalam dunia bisnis saja, tentang passion sangat sulit dinilai. Pebisnis yang sukses belum tentu dinilai menjalani passionnya. Parameternya cukup banyak dan sulit jika tidak dilakukan dialog, wawancara, sampai diskusi panjang. Kembali ke pekerjaan sebagai freelancer, apakah anda melakukan ini karena passion anda?

Mari kita telisik lebih jauh. Passion berarti melakukan apa yang kita sukai. Sampai lupa waktu. Bahkan sampai rela melakukannya demi apapun. Passion berbeda dengan hobi. Mirip tapi tak sama. Jika menurut pengertian saya, passion sendiri adalah hobi yang telah naik kelas. Dari sekedar hambur-hambur uang hingga mampu menghasilkan uang dari hobbi itu sendiri. Dari sekedar pekerjaan yang teng go atau jam 8 pagi pulang tepat jam 5 sore tanpa mendapatkan apapun atau hasrat apapun untuk melakukannya diesok hari. Lebih jauh dari itu. Sebuah kerelaan diri bahwa kita siap untuk bekerja dengan posisi itu, bidang itu, gaji itu, karena kita “suka”. Karena kita “cinta” dengan pekerjaan itu sehingga passion tumbuh. Lalu dalam pekerjaan sebagai freelancer, apakah anda yakin sekarang ini sudah menurut passion anda atau hanya ikut-ikutan orang lain saja?

Be Wise Be Success

Passion seseorang berjalan sepanjang hidupnya. Ada kisah seseorang yang menemukan passionnya setelah 20 tahun bekerja. Ternyata dia tidak merasa nyaman ditempat yang diabdikannya untuk bekerja. Itu bukan passionnya. Lantas dia buang-buang waktu 20 tahun ini? Tidak demikian juga. Passion bersifat kompleks dan sulit dipahami jika sudah terbentur batas-batas realita. Anda memiliki passion sebagai desain grafis, bekerja di depan layar monitor berjam-jam, tapi anak dan istri butuh pembiayaan bulanan. Maka passion anda akan tergerus dengan beberapa kalimat seperti, “sudahlah, cari saja kerja yang lebih mapan.” atau “sudahlah, cari saja pekerjaan yang sudah ada tunjangannya, kesehatan dan hari tua terjamin”. Ini adalah hal sulit bukan? Tidak hanya dialami oleh mereka yang sudah berkeluarga. Tapi juga yang masih bujangan.

Bijak menghadapi passion itu perlu. Anda merasa bergairah membaca buku Rene? Saya pun juga. Bahkan hingga detik ini saya berusaha terus berada dalam track agar passion sedikit demi sedikit semakin dekat. Tapi ingat, sukses memang kadang tak sebatas apa yang kita mau. Itulah mengapa hukum Tuhan selalu lebih tidak dimengerti oleh kita yang tidak bijak menghadapi passion itu sendiri. Lalu apa menjadi sukses tidak bisa tidak tanpa passion? Tentu bisa.

Intinya Jangan Ikut-ikutan

Ya, itulah yang ingin saya sampaikan pada anda. Perenungan itu perlu untuk passion. Lalu lanjutkan dengan try and erorr. Lebih banyak mencoba dan gagal itu lebih baik. Anda akan paham dimana letak passion anda. Bahkan Rene mengatakan passion seseorang bisa lebih dari satu. Jika ada orang yang mencintai kuliner, dia bisa saja juga suka melukis, bahkan akunting. Jelas dinamisnya manusia inilah yang membuat kita harus bijak dan jujur pada diri sendiri agar tidak ikut-ikutan orang lain dalam mengikuti passion. Anda terjun ke dunia freelance itu sudah pasti pilihan yang berat. Soal biaya pastilah menjadi alasan utama anda dan juga saya untuk menggeluti dunia freelance ini. Tapi pasti ada alasan lain yang kita lupakan. Alasan yang mana saat kita mengerjakan dunia freelance ini merasa sangat senang. Seperti mendapatkan hadiah terindah sepanjang masa.

Bagaimana menilai kita sedang ikut-ikutan passion yang sedang trend? Mudah saja. Ketertarikan kita begitu besar terhadap suatu passion, namun cepat menyerah saat passion itu berjalan. Baik sudah menghasilkan rupiah ataupun belum. Bagi saya, menjadi seorang freelance dibidang fotografi adalah passion saya yang lain yang lebih jauh ke arah ikut-ikutan dibandingkan passion saya yang menjadi seorang pengamat psikologi dan penulis.

Coba buat daftar passion anda di sebuah kertas. Segera ya, buatlah daftar urutan passion. Sebelum membuat daftar passion, tulis secara acak passion itu tanpa mengurutkannya. Saya contohkan seperti ini,

Passion acak saya,

  • Kuliner
  • Fotografi
  • Desain Interior
  • Arsitek
  • Web Design
  • Character Graphic / Cartoon Maker
  • Writer / Book Writer
  • Blogging
  • Social Media Influencer
  • Racing / Motor / Bike / Car

Jika saya urutkan dengan jujur, maka urutan passion berantakan saya itu menjadi seperti ini,

  1. Writer / Book Writer
  2. Social Media Influencer
  3. Blogging
  4. Cartoon Maker
  5. Web Design
  6. Fotografi
  7. Desain Interior
  8. Kuliner
  9. Arsitek
  10. Racing

Setelah diurutkan bagaimana? Ya kerjakan. Upayakan dalam 1-2 tahun kedepan bagaimana anda dengan perkembangan passion anda tersebut. Masih menurut Rene, jika passion kita tepat benar dengan diri kita, tidak karena ikut orang lain, jujur memang itulah yang ingin kita lakukan, maka sukses bukanlah soal waktu lagi. Tapi soal kualitas. Saya contohkan lagi ya, passion saya soal menulis buku. Semenjak SMA saya malah passion sama blogging. Semasa SMA memang tidak paham dengan passion, lebih pada hobbi. Setelah diurutkan saat kuliah, saya sadar, hampir 6 tahun lebih di dunia blogging, tapi tak sedikitpun saya menghasilkan dari blogging itu sendiri (soal uang tentunya). Jika soal pertemanan, jaringan, tentu dari blogging sudah cukup banyak selama itu. Tapi hasilnya jika saya paksakan untuk lanjutkan hingga selesai kuliah, saya akan mengalami benturan dengan parameter kehidupan (seperti uang, jabatan, kebahagiaan ortu, jaminan kesehatan, dll).

Lalu mulai tahun 2011, saya mulai mengerjakan passion nomer 2 dan nomer 1. Nomer 2 ternyata juga lebih banyak menyita waktu. Tapi karena nomer 2 dan nomer 1 saya kerjakan bersama selama 2 tahun, saya paham untuk bisa mengajukan naskah tulisan dari pengalaman saya bersosial media tersebut. Akhirnya ada penerbit yang mau menerbitkan buku saya. Jadi anda pun juga harus terus memprioritaskan passion anda nomer 1 dan 2 menurut anda sendiri. Setelah passion nomer 1 dan 2 itu teraih, anda bisa mencoba passion lainnya. Tentu passion lainnya tidak akan semaksimal nomer 1 dan 2. Karena sangat jarang ditemui seorang berprofresi dengan beragam ilmu keahlian. Pasti salah satunya menonjol yang lain tidak.

Nah, cukup sekian ya diskusi, tips dan triknya mengenai passion. Ingat, addict terhadap passion boleh, yang tidak itu ikut-ikutan. Jangan sampai anda menghabiskan waktu bertahun-tahun lamanya di dunia freelance tapi tidak paham apa yang sebenarnya selama ini anda raih.

Ruang Freelance

Ruang Freelance merupakan wadah para freelancer untuk saling berbagi pengalaman mengenai dunia freelance mereka. Kategori yang dibahas seputar freelance online, money management, paypal, social networking, make money dan banyak lagi. Tapi, kami akan berusaha untuk memberikan yang terbaik disetiap tulisan. Dan, kami juga bukan ahli Bahasa Indonesia, mohon maaf apabila tulisan kami tidak EYD (Ejaan Yang Disempurnakan).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *