Membatasi Jumlah Revisi

Foto diambil dari Flickr Djenan

Foto diambil dari Flickr Djenan

Untuk pekerja bebas rancang situs, web design freelancer, fase revisi yang seringkali berulang adalah salah satu tahapan yang harus selalu dilalui. Seringkali jika tidak dikerjakan dengan baik akan menjadi berlarut-larut dan cukup membuat frustrasi. Untuk mengurangi masa-masa frustasi tersebut, saya melakukan hal dibawah:

Batasi jumlah revisi

Hal ini wajib dilakukan dan harus ditulis di kontrak! Tulis secara jelas berapa banyak revisi kecil dan revisi besar yang bisa dilakukan pada setiap tahap dan jangan lupa untuk mendefinisikan secara jelas arti dari revisi kecil dan revisi besar. Cantumkan juga berapa besar Anda akan menagih tambahan biaya bila revisi tambahan diperlukan.

Definisikan elemen-elemen layout

Saya terbiasa untuk mendefinisikan elemen-elemen pada layout yang saya kirimkan saat desain awal agar saya dan klien mempunyai kesamaan istilah untuk menunjuk suatu bagian tertentu dari desain. Hal ini sangat membantu terutama jika anda menghadapi klien yang awam.

Tanpa penyamaan istilah, klien cenderung akan merevisi pekerjaan Anda dengan istilah-istilah aneh nan fantastis seperti “kotak di ujung kanan bawah” atau “gambar merah diatas itu tuu!”. Ingatlah bahwa tidak semua orang familiar dengan istilah mainmenu, breadcrumb/pathway, header, sidebar, widget, dan jargon lainnya.

Gunakan Anotasi

Untuk semakin mempermudah penamaan elemen-elemen tersebut, berikan ilustrasi visualnya. Salah satu caranya adalah dengan pemberian anotasi atau komentar pada setiap layout yang Anda kirimkan. Hal ini bisa dilakukan dengan menggunakan perangkat lunak pengolah grafis seperti Adobe Photoshop, Firework, Illustrator bahkan Microsoft Office.

Kirimkan desain dengan format umum

Saya sendiri terbiasa menggunakan format JPG atau PNG agar klien mudah membukanya. Jangan PERNAH kirimkan source-nya (format psd, layered png, ai, dan lainnya) karena selain berbahaya untuk ditiru dan digunakan ulang oleh klien, ukuran file tersebut pasti besar, dan belum tentu klien anda mempunyai aplikasi yang dibutuhkan untuk membukanya.

Get Sign Off!

Beberapa waktu yang lalu saya secara tidak sadar eh kebetulan mendarat di suatu situs yang bernama GetSignOff, situs ini merupakan aplikasi web yang fungsinya adalah untuk membantu mengatasi proses revisi Anda. Anda dapat mengunggah revisi desain, memberi komentar, menganotasikan revisi desain tersebut dan mediskusikannya dengan klien atau tim. Situs ini menawarkan paket gratis juga, tapi dengan fasilitas sangat terbatas. Nah! kalau Anda tertarik, silakan dicoba.

Kalau anda mempunyai tips-tips yang lain, jangan pelit untuk membaginya dengan kita ya 🙂

Share pengalaman Anda disini dan update artikel menarik ruangfreelance dengan berlangganan RSS, email, dan twitter

Ruang Freelance

Ruang Freelance merupakan wadah para freelancer untuk saling berbagi pengalaman mengenai dunia freelance mereka. Kategori yang dibahas seputar freelance online, money management, paypal, social networking, make money dan banyak lagi. Tapi, kami akan berusaha untuk memberikan yang terbaik disetiap tulisan. Dan, kami juga bukan ahli Bahasa Indonesia, mohon maaf apabila tulisan kami tidak EYD (Ejaan Yang Disempurnakan).

Comments

  1. says

    iya tuh dah nyoba get sign off nya, kemaren2 juga nyasar disana, kayana emang bagus buat proses revisi, tapi ya itu versi free nya cuma bisa add 1 klien + 1 project, sementara ini masi belum terlalu perlu pake itu, tapi kayana emang efektif, dicoba dulu, baru beli license-nya 😀

  2. says

    thanks infonya, semogabisa membantu nih/
    pernah juga ngalamin ada klien yang kasih revisnya bertubi-tubi, sampe nulis revisnya di subject email langsung, isi emailnya sendiri kosong.

  3. says

    @anggi, @taufiq : ayo pada cobain tar tulis sini 😛

    @antown : iya juga sih kalo dibayar per jam, semakin banyak revisi semakin banyak dolar, tapi believe me revisi berlarut2 bikin stress dan bisa berpengaruh pada kinerja kita.
    sampe skrg ada web-app yg gw tanganin UI-nya, dah lebih dari 2taon belum alpha release bahkan, dan gw merasakan beban mental yg besar tiap kali masuk ngerjain task list proyek itu ( gw dibayar perjam untuk proyek ini jadi bukan urusan finansial, lebih ke harga diri 😛 ). Tapi emg ini tim kacrut jg manajemennya, coder gonta-ganti, alesan revisi kagak jelas (kbanyakan subjectif) .. ups malah curhat 😛

    @agus, coba diajak ngobrol via messenger aja tuh kliennya, mungkin dia tidak biasa pake messenger, atau tidak tau bahwa kita bisa teleconf via msgr.

  4. says

    Huahahahaa…saya ketawa baca komentar Agus soal revisi klien yang ditulis lewat subjek e-mail…Mudah2an dia sudah kembali di jalan yang lurus ya, alias udah bisa pakai netiket ber-email.

    Oops, soal bahasan revisi, untuk menghindari revisi sebenarnya usahakan bekerja dengan hati-hati. ini di luar permintaan klien yang ajaib dan bawel,yah..Tapi biasanya kalau kita kerjakan lebih hati-hati sesuai brief awal yang matang, bisa kok dihindari revisi berkali-kali.

    Tapi ya itu, ‘senjata’ kita juga musti cukup kuat melindungi dari revisi berulang. Selain brief, minutes meeting yang solid dan jelas, kita juga harus bisa mempertahankan pendapat/hasil karya/desain kita dan meluruskan tujuan awal. soalnya kadang-kadang ada juga sih klien yang pada dasarnya suka berubah maunya.

    Biasanya klien yang hobi kasih revisi ada beberapa macam:
    1. Ngga tahu apa-apa, sehingga bingung sendiri
    2. Justru tahu, dan pengen nge-tes mungkin ngga diubah dikit
    3. Memang super teliti dan perfeksionis

    jadi pintar-pintarlah mengenal klien sebelum merevisi kerjaan. hihihi!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *