Klien Tak Akan Lagi Melihat CV

Membingungkan? Tidak. Kita coba membahasnya secara singkat dan ringan saja ya?

Semua orang sudah paham apa yang disebut CV alias Curriculum Vitae a.k.a Riwayat Hidup. Isinya? Dari yang mulai super standar seperti nama lengkap, tempat dan tanggal lahir, pendidikan terakhir, dan alamat tempat tinggal terbaru. Selebihnya adalah yang disebut nilai tambah sebuah CV, yaitu riwayat pekerjaan.

Dulu sekali (entah dulunya itu kapan deh), selembar (atau berlembar-lembar?) CV kita akan berpengaruh jika si pewawancara kerja melihat pendidikan terakhir yang tertera. “Oh, lulusan universitas anu, ya?” “Ternyata Anda pernah kuliah di luar negeri ya?” “Wah, hebat dong S2 di Jepang?” “Tesis Anda bagus, nih.” Iya, kalau semuanya bernilai oke di mata si pewawancara.

Klien Tak Akan Lagi Melihat CV - ruang freelance

Klien Tak Akan Lagi Melihat CV – Ruang Freelance / Shutterstock

Bagaimana kalau CV kita biasa-biasa saja? Lulusan universitas bergengsi tapi nilai IPK ‘hanya’ mentok’ di 2.50? Dulu itu, yang memiliki angka ajaib ini sudah 50% akan ditolak bekerja di kantor bonafid. Meski mungkin, kemampuan bekerjanya melebihi rata-rata. Beda dengan yang memiliki IPK 3.75 akan dilihat dengan mata berbinar. Peduli amat belum punya pengalama bekerja. Alasannya, nanti bisa dipoles. Setelah setahun bekerja, tak ada perkembangan berarti. Evaluasi deh.

Bergeser dalam lima tahun terakhir, sebuah kantor calon pemberi kerja tak lagi melihat kamu lulusan mana. Ada dua pertanyaan yang akan diajukan, yaitu pernah bekerja di mana dan pengalaman kerja sebagai apa? Kurang lebih seperti itu. Sebagai contoh, saya pernah berhadapan dengan calon klien seorang ekspatriat. Saya menyerahkan CV lengkap dan keren dong. *memang rada norak sih menyebutnya keren* 😀 Dia menerimanya dan meletakkan di sebelah laptopnya. Tak dibaca. Dilirik juga tidak. Saya speechless. Dia kemudian menatap saya dan bertanya, “Jadi, apa pengalaman kerja kamu?” Untungnya sudah siap dengan pertanyaan itu, jadi bisa saya jelaskan dengan tenang dan lancar. Baru setelah berbincang serius tapi santai sekitar lima belas menit, baru akhirnya dia membaca CV. *oh, saya berharap dia tidak basa-basi untuk menghargai lembar CV itu* Dia tersenyum dan berkata, “Pengalaman kerja kamu sudah cukup banyak ya?” Kemudian menutupnya kembali. Tak sampai dua menit. Oke, itu salah satu pengalaman mengejutkan.

Saya pikir mungkin hanya ekspatriat yang akan melakukan hal itu. Ternyata kantor lokal pun mulai menerapkan hal yang sama. Mulai banyaknya yang mengirimkan surat elektronik berisi tawaran kerja. Ketika saya bertanya, apa saja yang harus dibawa, kebanyakan dari mereka mengatakan, “Bawa diri saja cukup. Alat tulis jangan lupa.” Untuk berjaga-jaga, saya tetap membawa CV. Kejadian lagi, CV saya tak digubris. Wah! 🙂 Lagi-lagi mereka bertanya, “Jadi, kamu pernah menulis apa saja? Kerja di mana yang paling menyenangkan?”

CV saya akhirnya hanya menjadi lembaran tak berguna setelah dicetak. Sayang kertas kalau begini caranya. Meski saya sudah membuat dalam format PDF dan siap dikirim via surat elektronik, terkadang saya merasa harus membawa versi cetaknya. Oh, come on, An! Go green, please?  Ya, ya, ya baiklah 🙂

Akhirnya, beberapa kali tawaran kerja terakhir justru datang tanpa permintaan CV lagi. “An, ada tawaran ngeblog nih!” atau, “An, kamu bisa ngedit tulisan tentang apa saja?” Peduli amat saya lulusan mana atau terakhir kerja di mana. Rerata mereka hanya meminta, “Contoh tulisan ya lima ratus kata saja.” Life is easier than I expected 😉

Saya pikir, ini hanya berlaku untuk penulis lepas alias freelance writer. Ternyata teman saya yang menjadi web designer pun sama. “Gila, CV gue yang berisi nama lengkap dan riwayat sekolah udah kagak laku. Sekarang yang ditanya malah berapa dolar untuk satu proyek. Hahahaha…”

Kamu tahu apa kesamaan freelancer? Konsisten menunjukkan passion, bakat, dan minat kami di media online, dunia maya, atau internet. Apalah itu namanya. Menjual diri menjadi lebih mudah sekarang. *eh* Menebar jala jangan di empang. Cobalah ke lautan luas. Jika belum mengenal daerah lautan yang ingin diselami, bila mendapat ikan-ikan kecil, bersyukurlah. Pelajari setiap sudut lautan itu. Mengapa hanya mendapat ikan kecil? Bagaimana caranya mendapat ikan hiu? Well, mengincar ikan hiu artinya kamu harus siap dengan segala persyaratan. Biasanya, proyek bernilai besar yang disodorkan klien memiliki syarat super njelimet. Kalau kamu sudah menelan ludah di detik pertama membacanya, silakan mundur dulu dan tarik napas dalam-dalam. Sanggup? Tidak? Ragu? Nekat? Apa pun itu, akan menghadapi risikonya sendiri. Entah gagal setelah berjuang (dan menyisakan setumpuk pengalaman berharga) atau berhasil dan merasa seperti pecah bisul? 🙂

Ya, klien masa kini mencari pekerja lepas bukan dari berlembar-lembar CV. Mereka akan melihat bagaimana kamu bersosialisasi di dunia maya dan mengintip blog / situs pribadi yang kamu miliki. Mereka akan mengecek kredibilitasmu, mencari tahu testimoni dari pengguna jasamu di proyek terdahulu, dan segera menghubungimu untuk melakukan tawaran kerja. Blogmu adalah CV terbarumu. Portofolio yang lebih bisa menjelaskan siapa kamu. Miliki akun LinkedIn yang merupakan CV online dalam bentuk media sosial. Berinteraksilah di Twitter dengan para pakar di bidang yang kamu sukai. Belajar dari mereka. Tampilkan foto yang bermanfaat di Instagram sebagai bentuk portofolio mini. Bangun personal branding kamu dengan baik.

Siap?

Ruang Freelance

Ruang Freelance merupakan wadah para freelancer untuk saling berbagi pengalaman mengenai dunia freelance mereka. Kategori yang dibahas seputar freelance online, money management, paypal, social networking, make money dan banyak lagi. Tapi, kami akan berusaha untuk memberikan yang terbaik disetiap tulisan. Dan, kami juga bukan ahli Bahasa Indonesia, mohon maaf apabila tulisan kami tidak EYD (Ejaan Yang Disempurnakan).

Comments

  1. says

    Saya mau berbagi tentang surat lamaran unik, silahkan menyimak ya…
    Di salah satu perusahaan film terbesar di dunia, 20 th Century Fox, New York, ada seorang pria di bagian penjualan yang diterima bekerja karena surat lamarannya yang unik. Ketika kantor film ini memasang iklan lowongan di koran, pria ini mengirimkan surat lamaran yang isinya berbeda dari surat lamaran standart lainnya, inilah surat yang ia tuliskan :

    Saya adalah penjual perlengkapan rumah tangga. Anda bisa menilai kemampuan menjual saya bila Anda singgah ke toko tempat saya bekerja. Berpura-pura saja bahwa Anda berminat dengan barang yang saya jual. Bila Anda singgah, carilah pramuniaga yang berambut merah. Itulah saya. Anda mengenal saya tapi saya tidak mengenal Anda. Kemampuan menjual yang akan saya peragakan sudah menjadi cara kerja saya sehari-hari dan secara alamiah sudah ada dalam diri saya, bukan upaya ekstra agar Anda tertarik kemudian mempekerjakan saya.

    Di antara ratusan surat lamaran, pemuda inilah yang diterima. Nah hemat kata, buatlah surat lamaran unik, jangan standart. Selamat berjuang…

    Sumber :
    Vanny Chisma W, Cerita Sebuah Pensil (Kisah-Kisah Inspirasional Luar Biasa!), Diva Press, Jakarta, Januari 2011.

  2. says

    Super sekali.. Untung saya sudah ngeblog dari kelas 2 SMK.. Kerasa banget sekarang manfaatnya. Calon client pada datang sendiri.. yaa walopun cuma project ikan teri, tapi tiap 1-2 minggu sekali selalu ada 😀 heheh

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *