Jangan hire Freelancer Indonesia ?!

Jangan Hire Freelancer Indonesia - photo by reinvented

Jangan Hire Freelancer Indonesia - photo by reinvented

Melihat dari judul diatas sangatlah ironi, kenapa? karena kami dari ruang freelance mencoba memberikan peluang kepada Anda untuk berfreelance tapi saya menulis judul Jangan hire freelancer Indonesia?! hehehe πŸ˜€ ada yang merasa terganggu dengan judul diatas?

Kenapa saya mencoba membahas hal tersebut? karena dominannya teman-teman asal Indonesia hanya mempermainkan kepercayaan kliennya. Hasil akhirnya proyek tidak beres dan klien menganggap diri mereka tidak profesional yang nantinya akan berimbas kepada kita semua. berikut beberapa hal yang saya bahas lebih detail, karena saya sendiri pernah mengalami sewaktu saya meng-hire freelancer Indonesia.

Report Progres yang disepelekan

Seringkali report progres disepelekan oleh teman-teman freelancer Indonesia, padahal klien inginkan progres secara kontinu yaitu progres harian atau secara jam-an. Nyatanya para freelancer tidak berani report kalau pekerjaannya belum dianggap baik, berarti membutuhkan waktu sekitar 2-4 hari untuk memberikan report kepada kliennya. Sehingga klien dibiarkan menunggu lama tanpa alasan apapun yang membuahkan pikiran negatif. Saran saya report itu wajib setiap hari tanpa kecuali, lalu apa saja yang harus di reportkan? ada 4 hal :

  • Memberikan pertanyaan seputar proyek, sebanyak mungkin agar freelancer dan klien tidak terjadi miss komunikasi
  • Memberikan kritik dan saran seputar proyek, maka Anda akan dilihat kredibelitasnya
  • Memberitahukan masalah yang terjadi pada suatu proyek, dan meminta feedback dari klien
  • Memberikan hasil kerja hariannya, seberapa banyak? tergantung kecepatan Anda pastinya. apabila Anda hanya menyelesaikan sketsa logo hasil coretan tangan, atau hanya membuat header pada suatu situs, atau sub-sub tema pada suatu proyek penulisan itu sudah lebih dari cukup dari pada tidak sama sekali

Saya akan sangat yakin Anda akan dikatakan profesional oleh klien Anda.

Menggunakan Jurus Menghilang

Anda freelancer bukan tukang sulap, tapi kenapa selalu menghilang kalau dicari klien untuk meminta pertanggungjawaban Anda. Saran saya, Anda harus memberikan akses kepada calon klien untuk menunjukan Anda eksis, misal

  • Memberikan messenger id Anda, SKYPE, YM, MSN, GTLAK
  • Berikan email Anda apabila anda tidak online melalui messenger
  • Berikan akses calon klien Anda dengan menggunakan proyek managemen online, seperti activecolabs, basecamp, mantis dan banyak lagi. Pasti Anda akan dicap profesional
  • Berikan nomor telpon Anda apabila diperlukan

Jurus menghilang sudah tidak berlaku, yang ada sekarang hanya jurus always there dan saya yakin proyek lanjutan akan selalu ada untuk Anda

Terlalu idealis

Pernah saya temukan teman-teman dari perguruan tinggi ternama selalu membawa idealis mereka dalam bekerja, tapi untuk pekerjaan secara nyata (real world) tidak demikian. Dunia internet sekarang ini sangat berkembang sangat cepat dan ilmu-ilmu baru akan hadir tanpa kita sadari, maka dari itu idealis harus dilepas atau disesuaikan untuk mengambangkan ilmunya kepada ilmu baru. Sejauh apa saya mempelajarinya..? menurut saya sejauh www.google.com menggapai ilmu tersebut πŸ˜€

Mudah Menyerah

Mengeluh akan kesusahan proyek yang didapat bisa jadi bumerang kepada freelancer, maka ke profesionalan Anda akan dipertanyakan. Bagaimana seorang bayi dapat berdiri? berlatih dan berproses maka Anda akan lihai kemudian hari.

Apakah Anda mempunyai masalah dengan 4 permasalahan freelancer Indonesia diatas? ayo kapan lagi membawa nama Indonesia dikancah dunia Internasional, masa kita kalah dengan India? πŸ˜€

Share pengalaman Anda dan Update ruangfreelance dengan berlangganan RSS, email, dan twitter

Ruang Freelance

Ruang Freelance merupakan wadah para freelancer untuk saling berbagi pengalaman mengenai dunia freelance mereka. Kategori yang dibahas seputar freelance online, money management, paypal, social networking, make money dan banyak lagi. Tapi, kami akan berusaha untuk memberikan yang terbaik disetiap tulisan. Dan, kami juga bukan ahli Bahasa Indonesia, mohon maaf apabila tulisan kami tidak EYD (Ejaan Yang Disempurnakan).

Comments

  1. says

    biasanya newbie memang ingin terlihat mampu melakukan pekerjaan yg dberikan namun jika pada akhirnya tidak bisa memberikan hasil yang memuaskan, si newbie suka menghilang takut dimarahi atau disingkirkan. padahal sudah diberi kepercayaan.

    dan biasanya hal tersebut terjadi ketika pihak yg meng-hire si newbie memberikan ekspektasi yang berlebih ke si newbie yang belum mengerti sistem kerja si peng-hire.

    sebaiknya si newbie berani jujur jika kemampuannya belum sesuai ekspektasi peng-hire dan berusaha meyakinkan peng-hire akan kelebihan dirinya yg mampu membantu kebutuhan sang peng-hire

    dan sang peng-hire sebaiknya memberikan jobdesc dan batasan, beserta tenggat deadline yg jelas sbelum memberikan tugas, sehingga si newbie berjalan sesuai kesamaan ekspektasi dirinya dg sang peng-hire

  2. says

    pengalaman yang sama.. sampe saya hampir putus asa juga. sekarang ini saya akhirnya lagi nyari staff yg nurut dan berminat belajar aja, banyak mereka yang merasa udah berkemampuan (pas2an) jadi sow idealis dan ujung2nya kerjaan gak sesuai pesanan.. nyampah..

  3. says

    Judul yg cukup menggilitik :).

    1. Report
    Sepertinya klo masalah ini tergantung persetujuan client dan freelancernya. Klo saya pribadi dalam pengerjaan project ada yg namanya fase review dimana client bisa melihat step by step apa saja yg sudah diselesaikan, jadi bukan hanya final version-nya saja. Dan client pun sudah tau kapan saya akan preview. So, ga perlu lha report tiap hari.

    2. Jurus menghilang
    Ini juga sepertinya subjektif seakan2 client berharap setiap saat kita harus ‘oke bos’. Jurus ‘always there’ jg terlalu over. Karena kita punya kehidupan pribadi masing2 dan ada jam2 tertentu yg tidak membicarakan masalah pekerjaan (kecuali bener2 urgent). Jadi lebih baik beritahu client anda waktu2 anda untuk istirahat.

    3. Terlalu Idealis
    Ada apa dengan idealis ? apa yg salah dengan idealis? gpp lha tergantung persoalnya masing2 kok. Mungkin saja mereka idealis untuk menjaga quality. Tp saya blm cukup jelas idealis seperti apa yg anggi maksud.

    4. Mudah menyerah
    Persis yg dikatakan Rio, hal ini bisa terjadi dari sisi freelancer atau pun client. Dari sisi freelancer terjadi karena ia blm bisa mengukur sampai dimana kemampuannya. Dan dari sisi client tidak memberikan jobdesc dan batasan yg jelas.

    So. hire lah Freelancer Indonesia :).
    Tp perlu diingat, jangan asal hire :P.

  4. says

    Mm.. kalo menanggapi komentar Pak Rio, gw jadi mikir.. maybe kejadiannya begini saudara pemisra..

    Kebanyakan penduduk Indonesia adalah angkatan muda.. dan yang melek teknologi di Indonesia juga kebanyakan angkatan muda (entah yang udah melek, setengah melek atau melek beneran) so kemungkinan besar freelancer berasal dari angkatan2 muda ini.. Apabila angkatan muda ini masih terikat sama gaya hidup yang tidak bertanggung jawab dan materialistis (sesuai tampilan dan contoh dari media-media), ya yang banyak terekspos di blantika per-freelancer-an ya angkatan2 muda yang tidak bertanggung jawab itu..

    Freelance buat orang Indonesia masih baru. Bapak Ibu saya mungkin saja masih sulit mengeja kata “FRIILENS” apabila saya tulis “FREELANCE”. So.. Masih banyak ke awam-an mengenai freelance itu sendiri baik dr freelancer maupun klien.. Akibatnya proses kerja nggak jelas, kontrak nggak ada dsb dsb..

    bahkan freelancer yang masih “awam” sama pekerjaannya masih mengganggap freelance itu sebagai iseng2 berhadiah.. Duh.. Sifat inilah yang mengakibatkan seorang freelance tidak bertanggung jawab.. Take it serious or leave it, deary..

    Selain itu yang masih mengganggu saya adalah banyaknya orang yang bisa atau “berasa bisa” mengerjakan pekerjaan di bidang tertentu.. Entah dia dapat keahlian dr kursus or something.. Well butuh kejujuran diri apakah kita memang sanggup mengerjakan jobdesk itu dengan baik dan benar sesuai standar profesi yang kita jalani.. Otodidak itu hebat.. Tapi berasa bisa itu ngerugiin orang..

    Well Semua yang gw tulis dan yang ditulis sama temen-temen semua bakal gw jadiin “tamparan pribadi” sih buat gw sendiri heheheh.. Yaa semacam muhasabah lah.. “Am I like that?? Am I like that??

  5. says

    Yups, setuju mas Ben.

    Freelance bagi kebanyakan orang Indo adalah hal yang baru. Tidak semua orang tahu dan yang tahu pun masih belum percaya ( atau gak berani keluar dari zona nyaman πŸ˜€ )

    Satu pelajaran yang saya ambil dari kisah hidup saya di dunia freelance adalah ‘komitmen’.

  6. says

    Point 1 & 2, gue setuju dengan Erwin. Itu bergantung dengan bagaimana hubungan dan komunikasi dengan client. Kalau jelas kita bilang nahwa kita butuh 1-2 hari dan akan kasih preview di hari ke-3, gue pikir nggak perlu lah report tiap hari. πŸ™‚

    Satu hal lagi, kalau kita baru kerja sedikit sudah report, umumnya client justru akan cerewet karena mereka umumnya tidak bisa membayangkan sebuah visual berdasarkan sketsa saja misalnya. Apalagi kalo dapet client dengan tipe micro-managing, setiap detail dia berusaha manage dan kasih feedback ini itu. Ujung2nya justru progress jadi lambat.

    Mengenai online tiap hari, ya nggak harus juga lah. Gue kalo ngasih kerjaan juga nggak expect freelancernya online tiap hari. Yang penting ngerespons kalau di kontak (baik email atau lainnya).

    Mengenai gampang menyerah, gue pikir ini ada hubungannya dengan motivasi. Jadi freelancer itu harus punya tekad dan motivasi awal yang kuat, perhitungan plus-minus, dsb. Intinya adalah menjalani proses. Semuanya nggak tiba2 turun dari langit. πŸ™‚ Nah.. umumnya (mungkin) freelancer2 baru karena ngiler ngeliat para pendahulunya, ngerasa bisa maen by-pass langsung. Freshly graduated dan ngerasa bisa, langsung berpikir untuk skip beberapa tahapan proses. Kemungkinan berhasilnya ada, tapi kemungkinan gagal dan frustasinya juga besar.. πŸ™‚

  7. says

    tergantung kesepakatan juga sih, rasanya untuk client luar memang lebih ketat ya, so far saya bekerja dengan client lokal mereka tidak terlalu mengikat masalah report… tapi setuju lah, kalau udah maen ke luar2 harus bisa jaga integritas bangsa kita, jangan karena nila setitik rusak susu sebenggala…

  8. says

    wkwkwkekek/… iya nih. mulai detik ini saya harus lebih baik lagi.. dan menghindari 4 hal tsb diatas.. thx buat info nya πŸ˜€

  9. says

    Apakah saya termasuk didalamnya??? saya harap tidak.. kalaupun masih termasuk.. bimbing saya untuk menjadi lebih baik lagi

  10. joe says

    “Jangan layani klien dari Indonesia karena dominannya klien-klien asal Indonesia pembayarannya sering mundur dan mempermainkan kepercayaan freelancernya”

    Kalau dijelaskan secara panjang lebar mungkin artinya hampir sama dengan artikel diatas, cuma pembahasannya dari sudut pandang yang berbeda yaitu klien.

    1. Report Progres yang disepelekan
    Not always! banyak juga proyek yang bisa diselesaikan sampai berhasil tanpa harus mengirimkan report tiap jam atau tiap hari. Bagi seseorang yang baru terjun ke dunia freelancer bukanlah hal yang mudah untuk membuat report bersamaan dengan mengerjakan proyek.

    2. Menggunakan Jurus Menghilang
    Seorang freelancer pasti punya alasan hingga dia mengeluarkan “jurus” ini; apakah itu terbentur pada permasalahan teknikal atau mungkin permasalahan koneksi internet di Indonesia yang mahalnya naudzubillah tapi kecepatannya turun naik atau mungkin ketahuan bos-nya kalo dia lagi “nyambi”. Seorang “smart client”, tentunya harus bisa cepat tanggap menangkap sinyal ini dengan mengirimkan pertanyaan2 semacam whats wrong with you? may be we can talk about it again if you cannot do it? i have no problem if you cannot handle it, but i hope you can give other solutions for this requirement or etc. Anyway, freelancer juga tidak bisa berharap bahwa semua kliennya adalah orang “smart” atau bahkan dibayar 100% oleh klien jika pekerjaannya selesai, karena klien pun juga mempunyai kemampuan untuk “menghilang”.

    3. Terlalu idealis
    Irrelevant! idealisme semestinya tidak perlu dibahas disini karena ini adalah hak masing2 orang. Idealisme pada suatu bidang bisa jadi menunjukkan “expertise” dari seorang freelancer. Sebelum masuk ke tahap development process, tentunya ada proses interview dan dealing. Melalui proses interview inilah kedua belah pihak bisa mempunyai gambaran karakteristik dari masing2 pihak sehingga kecil kemungkinannya seorang “smart client” mempercayakan proyeknya yang berbasis ASP kepada freelancer yang kemampuannya adalah PHP programming (sebagai contohnya). Kalaupun klien berani mempercayakan proyek tsb ke freelancer yang bersangkutan dan freelancer tsb menyanggupinya dengan alasan dia bisa mendapatkan bantuan dari google; kecil kemungkinannya proyek ini bisa diselesaikan secara “on budget and on time”.

    4. Mudah menyerah
    Irrelevant! Seringkali saya menerima permintaan seseorang yang ingin belajar menjadi seorang freelancer, selama yang saya tahu, seorang freelancer baru masih takut2 dalam menerima/mengerjakan suatu proyek. Wah bisa gak ya saya ngerjainnya? duh, kok sepertinya sulit banget requirementnya? dsb. Itulah pertanyaan2 yang sering muncul dari freelancer baru begitu mereka membaca requirement dari sebuah proyek. Seorang junior freelancer saja bisa berpikir dan mengukur kemampuannya sebelum menyatakan bersedia mengerjakan proyek tsb apalagi yang senior. So, saya rasa tidak ada “kata menyerah” (dengan alasan skill) bagi seorang freelancer jika sudah menyatakan sanggup mengerjakan suatu proyek. Get real! kalo ndak mampu ngapain diambil?

    Keberhasilan atau kegagalan suatu proyek tidak bisa dilihat dari satu sudut pandang saja. Hubungan antara freelancer dan klien atau “seller and buyer” adalah hubungan simbiosis mutualisme; saling menguntungkan dan saling membutuhkan. Jika freelancer melakukan hal yang disebutkan di artikel diatas, tentunya klien juga harus introspeksi diri; ada apa dengan saya sehingga freelancer saya berbuat seperti demikian? dan begitu pula sebaliknya. Situasi yang kondusif harus diciptakan bersama2 agar mudah menemukan win-win solutions di kedua belah pihak. Permasalahan yang muncul dalam suatu proyek cukup kompleks dan beragam, butuh proses pembelajaran yang cukup panjang. Di satu sisi, tidak ada jaminan bahwa masing-masing pihak tidak akan pernah berbuat “nakal” baik secara disadari ataupun tidak — walaupun kontrak sudah dibuat (kecuali dihadapan notaris, yang dikemudian harinya jika terjadi permasalahan bisa dibawa ke meja hijau).

    Ruang freelance sebagai salah satu motivator untuk freelancer seharusnya tidak mempublikasikan pernyataan yang bertolak belakang atau sekedar menampilkan pernyataan dari satu sudut pandang saja agar tidak terjadi kesalahpahaman bagi seseorang yang ingin terjun ke dunia ini. Kalau kita bisanya cuma menakut-nakuti serta tidak bisa mempercayai atau memberdayakan orang2 kita sendiri, jangan harap deh pertumbuhan freelancer di indonesia semakin bertambah dan kapan bangsa ini bisa menjadi bangsa yang besar dan mandiri? kesulitan pasti ada, namun bukannya dibalik kesulitan ada kemudahan selama kita menganggap kesulitan tsb sebagai suatu tantangan dan bukan hambatan :d

    Ngomong2 soal India, emang ada jaminan kalau seorang klien memperkerjakan freelancer dari India dan freelancer tsb ada yang “gak nakal”? KOk ndak sekalian aja bikin artikel yang judulnya “jangan hire freelancer dari India”.

    Kemajuan IT di India bisa saja terjadi karena ada dukungan maksimal dari pemerintah baik dari sisi moral maupun material seperti infrastruktur yang berkwalitas dan murah yang akhirnya membuka potensi jenis2 usaha baru. Tentunya kesuksesan itu sendiri tidak lepas dari mental serta keberanian dari manusia2nya. Kalo soal skill, saya yakin banyak freelancer2 dari Indonesia yang lebih jago dari mereka.

  11. says

    @All: wow tanggapannya sangat positif

    @icreativelabs member(ben,dimas,zam,rio): mungkin gue sudah sering bilang ini yah, biar kalian makin ahli kalau sudah berfreelance nanti πŸ™‚

    @Bayu @wira @joe: india itu menurut gue sebuah inspirasi, kenapa? karena orang india itu sudah banyak bertengger di perusahaan IT berkelas diseluruh dunia, lihat saja google, adobe, yahoo dan masih banyak lagi. tidak hanya itu, posisi merekapun sangat strategis bukan hanya kuli.. didunia freelancepun mereka sangatlah eksis.. so? masa kita kalah sama india :D. du

    @H @Erwin @joe : hehehe senior-senior nih :D, kalau PRO pasti jawabannya menentang dan newbie akan tambah semangat untuk terus belajar πŸ˜€

    progress report
    untuk yang Pro sudah pasti bisa mengatur waktunya, karena awalnya pasti kita harus memberikan timeline yang akan tersematkan waktu report. jadi memang gak harus setiap hari bagi yang sudah konsisten dan komitmen. tapi bagi para newbie seringkali meremehkan hal ini.. report setiap hari, lalu 3 hari sekali, lalu menjadi 1 minggu sekali dan akhirnya menggunakan jurus menghilang πŸ˜€

    jurus menghilang
    setuju dengan H dan Erwin, always there yang gue maksud adalah siap membantu klien dengan responsive, bukan 24hours/day. gue juga gak kerja pas weekend dan gak make telpon untuk kerja dengan klien luar :D. Tapi ada baiknya sistem kepercayaan itu dibangun dengan cara memudahkan komunikasi antar kedua belah pihak ok :mrgreen:

    idealis
    Seringkali para freelancer memposisikan katak dalam tempurung, sehingga mereka menggunakan ilmu/cara lama dalam menyelesaikan suatu proyeknya. Padahal diinternet sana masih banyak ilmu yg harus mereka raih.

    @joe : RF tidak hanya memberikan hal-hal mimpi kepada semua freelancer, tapi harus juga menegur kalau mereka salah :D. Kami takut kalau mereka keluar dari rel yang ada dan jadinya bisa berimbas kepada nama Indonesia. kenapa jadi terkesan menakuti? menurut saya tidak, saya hanya memberikan cara saja :D. biasanya orang Indonesia pintar komentar doang so ayo bantu kami menulis di Ruangfreelance sebagai kontributor agar diri Anda bisa berkontribusi kepada freelancer Indonesia. Mau..Mau..Mau.. πŸ˜€

  12. says

    Judul yang provokatif? Yap! Trik untuk attract visitor + berkomentar? Maybe (dan sepertinya berhasil) πŸ˜‰ Menakut2i? Nope!

    Gue pikir penulis cuma menggunakan pendekatan retorika terbalik, yaitu mengangkat statement negatif dengan tujuan agar audience bisa lebih termotivasi mengungkapkan sisi yang berseberangan (sisi positif) untuk meng-counter pernyataan negatif tersebut. πŸ™‚

    Mungkin memang ada semacam ketidak-konsistenan penulis mengenai pernyataan dan komentarnya (kritik dikit nih ‘Nggi), misalkan: “Saran saya report itu wajib setiap hari tanpa kecuali” atau “..yang ada sekarang hanya jurus always there”.

    Overall gue bilang sih sebuah ‘wake up call’ yang bagus untuk freelancer! πŸ™‚

  13. says

    @ H : tadinya gue kira yg komentar bukan sekelas dirimu mas πŸ˜› ,soale cara gue itu memang diwajibkan kesemua teman2 di icreativelabs. kalau gak nanti gak ketauan kerjanya πŸ˜›

    bagaimana bay interactive, sepertinya teman2 banyak yg disana yah..

  14. joe says

    @anggi: However saya sangat support dengan eksistensi RF yang menurut saya bisa menjadi “kompor” untuk lahir nya freelancer2 baru, bahkan kalau perlu RF harus memiliki komunitas untuk ini atau bahkan situs freelance marketplace untuk mempermudah freelancer2 indonesia dalam mencari pekerjaan. Khusus untuk artikel ini, seperti yang saya bilang dalam komentar saya sebelumnya, hanya perlu sedikit “balance” dari sudut pandang klien juga agar freelancer2 yang khususnya newbie tidak pesimis atau mensalah artikan kandungan dari artikel ini.

    Untuk tawarannya, terima kasih banget Nggi! cuman sayang saya masih belum bisa ngatur waktu antara bekerja dengan menulis (blog saya saja udah gak terurus lama πŸ™ ). Tapi saya usahakan bisa memberikan “sumbangan” juga buat RF karena saya juga sangat concern dengan dunia freelancer dan bisnis online.

    Keep goin’ RF!

  15. says

    @Anggi: Oww.. semacam progress report gitu ya? Untuk internal sih ya emang applicable.

    Iya total ada 8 orang (5 designer + 3 Flash/Flex programmer) di Bay Interactive, semuanya dari Indonesia.

  16. says

    Mungkin bukan karena orang indonesia gak bertanggung jawab, tapi karena kesulitan bahasa. Secara masih banyak yang bhs inggris-nya pas-pasan termasuk saya. Tertarik untuk joint, tapi setelah masuk bingung cara mulai dan harus bagaimana-nya…ada gak job yang pake bahasa indonesia aja instruksinya?

  17. says

    Thanks buat tipsnya. Sepertinya memang freelancer yang masih baru sering terjebak poin2 di atas. Saya juga masih baru dan memang poin2 di atas ada benarnya, jadi artikel ini sekaligus merupakan tamparan buat saya. πŸ™‚

  18. kangmas says

    waduh…klo ngomongin diri sendiri jngn dipukul rata ke semua freelancer dong bro. Di Indonesia banyak freelancer top & bertanggung jawab tuh….

  19. doddy suhartono says

    Tips menarik bro,
    Permasalahan itu real dalam dunia freelance….FIUH!!!

    “ayo bangkit freelancer Indonesia…!!!”

  20. Henza Kana says

    Thanks bt tipsnya…gw sendiri sering diingetin sm bos jangan lp selalu kasih proggress report ke klien…memang kedengaran sepele tp hal ini membantu klien untuk tahu sudah sejauh mana proggres-nya…

    mungkin masih ada pemahaman bahwa kalau kita terlalu sering memgirimkan report dan ternyata klien kurang cocok bisa2 akan terjadi banyak revisi…

    Untuk masalah bahasa memang merupakan salah satu faktor penting tp gw percaya klo klien luar akan lebih senang klo mendapatkan report walaupun dengan tata bahasa yg amburadul dibandingkan ga ada report sama sekali…

  21. says

    buat rekan freelancer, kantorku lagi butuh freelancer buat ngerjain proyek aplikasi. detail proyek sudah didokumentasikan di www jakartaopenproject dot blogspot dot com

  22. says

    haturnuhun kang tipsna

    saya juga pernah dipercaya orang US untuk mengerjakan sedikit kerjaan, sebelum deal beliau sempat beropini meragukan pekerja online dari indonesia.

    Saya jadi ragu ketika dikatakan seperti itu tapi saya meyakinkan diri bahwa pekerjaannya pun tidak sulit, ya meski kesulitan memahami kosakata beliau karna english saya pas-pasan πŸ˜€

  23. says

    betul! jurus “always there” membuat saya dihujani pekerjaan oleh client yang sama. Sekarang bisa disebut regular client πŸ™‚

  24. says

    gw stuju ama pendapat ini. soalnya ane jg freelancer.. mungkin baru 1 project yg gw dapet dan gw kerjakan semaksimal mungkin. gw ngasih deadline 15 hari kerjaan itu kelar dan ternyata cuma dalam 9 hari pkerjaan gw udah kelar. sang bos pun puas dgn hasil kerja gw. sebaiknya jgn rusak citra bangsa indonesia di mata dunia. coz banyak orang indonesia yang mencemarkan nama indonesia di ebay maupun paypal. hal itu berdampak kepada smua orang indonesia yg mengais rejeki melalui ebay. begitu jg dgn freelancer. mungkin kerja gw bagus, tp karena 1 orang indo kerja ga beres, gw dan pekerja yg kerjanya bagus akan kena imbasnya.

  25. says

    yups, komunikasi ke client itu bener bener penting.. jangna sampai client kesulitan menghubungi kita, terus jangan lupa kasih report, sekecil apapun, karena benar seperti tulisan diatas. terkadang client berpikir negatif klo kita tidak memberika progress report..
    artikelnya berguna banget πŸ˜€

  26. says

    hahaha, saya suka itu “jangan kalah ama India” πŸ˜€
    he eh. hari gini masih ngilang2 gak jamaaaan ateuh πŸ˜‰

    idealisme apaan Nggi? *bloon*

    PS: i like Nggi, “in Google we trust” – bwahahahahah!

  27. says

    Report Progres yang disepelekan <== Benar ini yg perlu lebih diperhatikan.

    Kalau kerja IT "di tempat orang" report progres itu yg dinilai bukan hanya finishnya saja, seharusnya begitu juga dng freelancer. Maju terus freelancer Indonesia

  28. jocobain says

    terlalu gampang anda menyruh mereka melepaskan idialisme!!! justru dengan Idialisme yang dimiliki oleh sejarawan bangsa mampu menunjukkan jati diri Negara INDONESIA kpd DUnia

    Justru org2 yg seperti andalah yg merusak citra keprofesian negara kita.

    logica: Anda seorang yg memiliki keprofesian, pd saat proyek menghampiri anda dengan m udahnya anda melpaskan kode etik dr koprefesian anda hnya untk mendpatkan proyek tersebut….

    Apakah anda patut dsebut seorg Profesional?
    Apakah anda org yg memiliki citra diri?
    Apakah anda rela Profesonal anda di ganti dengan Rupiah?

  29. says

    Wah..seru juga tanggapan Jokobaim. Gini mas, yang dimaksud Anggi tentu bukan idealisme pada ranah kebangsaan, tetapi dalam konteks bisnis. Kan ada pepatah “pembeli itu raja” namun jangan pula mau dijadikan “keset” (bahasa jawa) oleh si bohir. Jadi tetaplah ada keseimbangan antara pembeli dan penjual yang pada akhirnya tercapai win win solution. Misalnya dalam desain: pemesan kwuekeh minta warna merah, padahal menurut desainer yg pas ya biru, lalu apatah salah bila desainer bijak memberi pilihan warna dalam keluarga merah juga namun masih ada nuansa biru: misalnya merah marun, merah keungu-unguan atau merah yg paling cocok (ada ribuan merah bukan?). Demikian juga bersikap, tak elok pula bila desainer bersifat kaku! kagak laku!

  30. says

    Iya mas betul… kalo saya ga mau di bayar bulanan atau ada tagihan tetap ke client. Karena beban tanggung jawab yang meresahkan, kadang bisa melewati dari job yg sudah ditetapkan.

    Pekerjaan selesai, bayar! dan saya slalu berusaha untuk membuat client tidak bergantung ke saya.

  31. says

    Client mempunyai analisa yang baik..
    portfolio sebagai rujukan..
    Kwalitas menunjukan Progress-Professionalisme

    Terkadang Client menekan deadline terlalu mepet..
    Project yang sering di berikan client bs menjadi acuan untuk client untuk menentukan timeline working progress.

    tidak tertutup kemungkinan mendapatkan freelancer yang kurang bermutu.
    Menurut saya kenapa freelancer memiliki qualitas yang kurang, dikarenakan:

    * Harga dicari cukup murah
    – murah biasanya identik dengan baru mulai menjajaki dunia freelance
    + Portfolio sebagai pertimbangan.
    * Tidak tepat waktu (sisi ini minus untuk freelancer)
    – bisa dari client :
    – memberikan project yang tidak sesuai dengan kondisi waktu yang
    seharusnya. Bs saja dikarenakan deadline berdasarkan customer
    ingin berangkat ke luar kota dlm waktu yg lama.
    + Client harus pintar mengelola bagian mana yang akan di tampilkan ke
    customer pada saat meeting.
    – bisa dari freelancer :
    – freelancer menerima orderan terlalu banyak (overload)
    + tunjukan professionalisme kalian!!! atur waktu perencanaan..
    + jika tidak bisa di kelarkan berbagilah project
    – kesulitan utama biasanya terletak membagi project (masukan berkurang)
    + batasi penerimaan project.
    + hire anak buah bila di inginkan. maka project masih terkontrol

    Tekadang alasan pribadi kurang di mengerti oleh client yg pada hakikatnya kita perlu untuk menunda selama waktu tertentu.

    Kesimpulan saya
    cerdas dalam mencari referensi sebaik baiknya.
    freelancer indonesia mempunyai kualitas yang sangat baik..
    Rupiah yang di keluarkan memang tidak kecil untuk mendapatkan Kwalitas.
    Cari bayaran kecil? cari saja Staff ataupun Mahasiswa…
    Masih kurang puas sm freelancer indonesia? Bayar saja freelancer negara luar.

  32. says

    Xixixixixi….emang bener sih hire freelance Indonesia. Sampai detik inipun masih ragu kalo outsource project ke freelance yang sama2 tinggal di bumi pertiwi πŸ™

  33. bayu says

    saya mau tanya kepada semua freelance terutama yang dah lama,… kalau kita dah kerja keras membuat sesuat yang diminta clien walaupun itu kadang atau sering di ubah-ubah yang sudah kita buat. trus ujung-ujung nya uang yang seharusnya kita dapatkan ditahan dikarenakan seblum selesai salah satu perkerjaan. Sedangkan untuk bisa makan dari uarng clien dan clien nya baru 1 orang itu bagaimana jika terjadi kepada freelance yang dah lama makan asam paitnya . beri saya solusi ????

    • patrick prasetyo Prasetyo says

      Solusinya, jangan hanya mengandalkan satu client untuk pemasukannya. Lebih baik cari client lain yang lebih bertanggung jawab, tidak plin-plan. Kalau bisa, hubungi client dengan menerapkan sistem keuangan per hasil kerja yang dipaparkan.

      Buat kesepakatan bahwa kesalahan yang dilakukan Client, mau tidak mau harus memberikan bayaran bila hasilnya selesai. Sehingga, bila terjadi kesalahan, freelance tetap dibayar.

      Harus pintar-pintar juga koordinir uang dari satu client itu.

  34. says

    Maju terus di Freelancer.com mau india kek, pakistan kek, yg penting maju teruuuus. MAsa ga ada yg nyangkut. Portfolo buat jualan punya masa takut…! GO FREELANCER Indonesia.!

  35. says

    Insight yang bagus. Boleh dianggap, poin2 yang dibeberkan di artikel di atas sebenernya adalah tanggung jawab seorang Freelancer (atau juga desainer, dll) terhadap kliennya. Artikel ini dan model2 lain apapun yang mirip seperti ini menurut gw diperlukan untuk menambah harmonisasi hubungan klien dengan freelancer (atau desainer).

    Yang menarik, dari sisi desainer (atau freelancer), tidak jarang pula ditemui klien yang sulit bahkan cenderung minim berkomunikasi karena yang diinginkan hanya hasil akhir aja. Gw ga tau, apakah kebetulan ini gw apes aja ketemu klien seperti ini atau kalian pun sering menemui hal yang sama? Jika sama, maka IMHO yuk kita bikin juga sesuatu yang makin menambah baik komunikasi antara freelancer dan klien. Hal yang agak unik bisa keliatan seperti di http://www.cliensfromheaven.com walaupun bentuknya ga mesti seperti ini.

    *Excited to see more article like this especially when dealing with clients.

  36. adhiepradana says

    Ah ngga juga, setiap minggu saya minimal dapet 3 tawaran proyek. yg ada malah saya tolak2in karena waktu saya ngga cukup. Mau kerja sama orang negara manapun intinya sama sih, PROFESIONAL. Semua poin yg dijelaskan penulis di atas, jangankan orang luar, orang kita aja liatnya empet bgt ama freelancer yg ga pro. Udah jgn pernah percaya orang luar ga butuh kita. Orang bule tuh butuh kita karena gaji kita murah, kualitas sama ama yg di luar sana. Asal kita kerjanya profesional, jujur, ikhlas, konsisten ga mungkin ada masalah. dan ini berlaku buat semua pekerjaan

Trackbacks

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *