Hai Karyawan, Bersiaplah Dipecat!

Setiap karyawan pasti “dihantui” PHK. Tak peduli setinggi apapun jabatan Anda di kantor. Agar siap, ada beberapa hal yang harus diketahui.

shutterstock_98095022

Credit Image via Shutterstock

Ketika Harus Terjadi

Percayalah, semua karyawan, siapa pun Anda, harus siap dipecat secara tiba-tiba. Setinggi apa pun jabatan Anda di perusahaan, bisa saja mengalami pemutusan hubungan kerja. Bahkan untuk Anda yang di kantor tergolongan pekerja keras, berprestasi bagus, dengan career path naik terus.

Kok, bisa? Ya, tentu saja bisa. Bagaimana pun, perusahaan adalah sebuah lembaga bisnis. Begitu bisnisnya tak menguntungkan, sudah tentu ada jalan yang harus diambil sebagai penanggulangan. Dimulai dari efisiensi (listrik, internet, peralatan kerja, sampai pengurangan jumlah karyawan kontrak), hingga yang paling ekstrim: penutupan usaha.

Jika jalan terakhir diambil, maka ada sejumlah langkah harus diambil, terutama sehubungan dengan karyawan. Dan dalam sebuah proses penutupan usaha, soal yang berhubungan dengan karyawan adalah yang paling pelik. Tanya, deh, ke bagian HR di mana pun. Pasti pusing kalau sudah berurusan dengan pemutusan hubungan kerja.

Nah, karena “hantu” pemutusan hubungan kerja bisa mengikuti siapa saja, maka Anda perlu siap-siap. Tentang apa? Berikut ini beberapa hal penting yang harus diketahui sebelum “hantu” PHK tiba.

Pesangonnya, kok, Sedikit?

Well, yeah, memang enggak pernah menyenangkan kalau bicara soal pesangon. Tetapi membicarakan pesangon menjadi hal yang sangat lumrah ketika kita diberhentikan oleh perusahaan, dan setiap karyawan harus belajar dengan serius mengenai berapa jumlah pesangon yang berhak mereka terima saat dipecat.

Nggak usah merasa bahwa soal pesangon ini nggak ada hubungannya sama Anda, mentang-mentang pekerjaan Anda sedang bagus-bagusnya. SIAPA PUN Anda, asal masih berstatus karyawan, pemutusan kerja secara mendadak itu sangat mungkin terjadi. Iya, one month noticed itu termasuk sangat MENDADAK, lho, untuk sebuah perubahan nasib yang tiba-tiba. Nasib dari karyawan potensial-setia-berkarya serius-dan-berposisi tinggi, menjadi pengangguran, alias jobless, alias luntang-lantung. Cari-cari referensi seputar pesangon pada satu hari sebelum Anda dipanggil HR, sungguh tidak menguntungkan buat Anda.

Hukum PHK

Luangkanlah Anda baca-baca Undang-Undang No. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan. Googling saja. Banyak, kok. Di sana ada keterangan mengenai perbedaan mengenai pesangon karyawan yang resign dan PHK, seluk beluk pembubaran sebuah unit usaha, sampai hitung-hitungan jumlah pesangon.

Undang-undang sudah menetapkan pesangon minimal yang wajib diberikan perusahaan bagi karyawan yang di-PHK. Jangan percaya, kalau ada orang HR bilang, “Kami sudah ngasih angka yang bagus, lho, dibandingkan perusahaan lain.” Menurut saya (ini menurut saya, lho), jumlah pesangon itu memang sudah ditetapkan segitu. Kalau ada perusahaan yg kesannya ngasih lebih bagus, itu biasanya adalah uang kebijakan saja. Dan di masa krisis seperti sekarang, uang kebijakan ini biasanya minim, bahkan nol.

Lantas, mengapa pesangon si A lebih besar dari si B? Padahal si B kerja lebih lama dari A?

Hal ini balik ke rumus pesangon, yang mengalikan persentase tertentu dari gaji plus tunjangan. Semakin besar gaji kita, maka semakin besar pesangon yang kita dapat. Apa artinya itu? Artinya, agar pesangon kita besar, maka gaji kita harus besar. Artinya lagi, agar gaji kita bisa besar, maka kita harus kerja bagus, berprestasi dan lain-lain bla bla bla. Jadi jangan harap pesangon kita besar jika kerja kita selama ini pas-pasan. Setuju, kan?

Pensiun Mendadak, Lalu Mau Apa?

Puluhan tahun menjadi karyawan, menjadi pimpinan tinggi, pekerja keras selama bertahun-tahun, lantas hanya dalam hitungan bulan (bahkan ada yang tak lebih dari satu bulan), nasibnya berubah total menjadi pengangguran. Selama bertahun-tahun, Anda fokus bekerja mengorbankan tenaga, pikiran, dan waktu, demi pekerjaan, sehingga Anda tidak sempat memikirkan kehidupan cadangan lain di luar sana.

Karena nasib kita bisa berubah sewaktu-waktu, tidak akan sempat kalau kita baru mikirin jadi wirausahawan begitu selesai jadi karyawan. Perlu diingat, gaya hidup yang selama ini sudah mendarahdaging, akan sulit diturunkan. Ada biaya ponsel, internet, ART, antar jemput anak, sekolah anak, belanja dapur, yang selama ini sudah ada standarnya. Itu semua perlu biaya. Uang pesangon yang segunung pun suatu saat akan habis jika tidak pernah ditambah.

Merintis bisnis sungguh bukan hal mudah bagi kita yang bertahun-tahun menjadi karyawan. Karena tak terbiasa dengan kerja keras wirausahawan yang tak kenal waktu, banyak sekali para wirausahawan dadakan ini gagal berkali-kali. Alhasil, modal yang diambil dari uang pesangon pun tak butuh waktu lama untuk mendekati kata habis.

Jalan keluarnya adalah, selama Anda masih jadi karyawan, perdalam hobi Anda. Seriusi hobi-hobi yang potensial untuk dikembangkan menjadi usaha. Perluas jejaring dengan para pengusaha. Serap semangatnya, sedot ilmunya. Mulailah merintis usaha sembari bekerja kantoran. Namanya juga merintis, pasti usahanya ampun-ampunan. Pagi-sore kerja kantoran, malam-dini hari ngurus bisnis. Itu harus dikerjakan selama ingin punya cadangan jika suatu hal buruk terjadi dengan karier andalan.

Tabungan dan Investasi

Beneran, ini kedengarannya klise. Tapi coba Anda lirik kanan kiri para pensiunan atau para korban pemutusan hubungan kerja. Awalnya mereka akan hura-hura, senang karena dapat uang dadakan dalam jumlah besar. Langsung liburan sekeluarga, makan di restoran sana-sini, beli gadget ini-itu. “Ah, hitung-hitung menghadiahi diri sendiri dan keluarga, sudah kerja keras, kok, gak pernah menikmati.” Well, ya tentu saja boleh-boleh saja.

Tapi, mohon juga diingat. Berapa, sih, besar uang pesangon Anda? Rp 500juta? Rp 1M? Oke. Coba depositokan. Sekarang ini Rp 500juta jika didepositokan jangka waktu 1 tahun, dalam sebulan Anda akan mendapat Rp 2,5juta. Setelah potong pajak, jatuhnya sekitar Rp 1,75juta. Lumayan, ya? Tapi, jika Anda nggak punya penghasilan lain, maka cuma sejumlah itulah pendapatan Anda dalam sebulannya dengan deposito sebesar itu. Untuk makan pakai apa? Untuk ngopi? Untuk antar jemput anak? Untuk uang pangkal sekolah anak? Untuk biaya kesehatan? Nah lho!

Jalan keluarnya adalah: hidup hemat dan cerdas, mulai sekarang. Tabungan diperbanyak. Belajar investasi sesegera mungkin. Nggak perlulah yang terlalu ribet, jika merasa malas untuk mikir yang terlalu memusingkan. Deposito bisa dipilih, atau reksadana, tanah, properti, atau emas.

Move On!

Tampaknya sepele. Tapi percayalah, seorang korban pemutusan hubungan kerja yang saat berhentinya ada ganjalan, tidak mudah untuk move on. Rasa marah, dendam, emosi, akan bercokol cukup lama. Semakin orang itu di luarnya tampak ketawa-ketawa nggak peduli, sebenarnya jauh di dalam hatinya sakit luar biasa.

Marah itu wajar. Dan malahan harus marah! Diberhentikan mendadak, kok, gak marah, sih? Yang bener aja!

Tapi, ya tentu saja, marahnya jangan lama-lama. Senyampang kita terus memendam marah, kehidupan di luar sana terus berjalan. Ex bos akan segera lupa pernah punya karyawan berdedikasi tinggi bernama Bril (misalnyaaaa. Hehehe). Teman-teman ex sekantor yang dulu dekat dan berempati, dalam hitungan minggu akan sibuk dengan urusannya sendiri. Sementara kita? Masih maraaah aja. Setiap ketemu orang, bawaannya maunya curhaaat aja sambil esmosi. Hadeuuuh!

Daripada seperti itu, segeralah move on. Cukupi marahnya. Segera bertindak. Pikirkan what’s next. Mau bisnis? Bisnis apa. Mau investasi? Investasi apa. Mau jadi ibu rumah tangga? Jadi ibu rumah tangga yang bagaimana.

Memutuskan what’s next itu butuh ketenangan hati. Beneran, deh. Memutuskan akan berbisnis apa, misalnya, enggak bisa dilakukan saat hati masih esmosi jiwa. Kalau grasa-grusu, usaha yang kita kerjakan enggak fokus, dan enggak penuh perhitungan. Bisa-bisa, ya itu tadi… uang pesangon habis buat coba-coba bisnis nggak jelas.

Putus Hubungan dengan Masa Lalu

Keluar rumah! Cari teman-teman baru. Atau buka silaturahmi dengan teman-teman yang sudah lama nggak pernah kontak. Kalau perlu, putus hubungan di sosial media dengan teman-teman ex sekantor. Unfriend, unfollow, atau unshare teman-teman yang sekiranya bikin hati masih menggelegak. Paling nggak untuk sementara, sampai suasana hati netral mengikuti kabar mereka lagi.

Menurut saya, putus hubungan dengan teman-teman atau ex bos yang masih menyisakan rasa sakit di hati, itu penting. Mendingan izinkan hati Anda untuk dingin dulu. Kalau masih selalu dijejali informasi seputar orang-orang yang bikin hati menggelegak, kapan kita move on-nya, kan?

Kesimpulan

Nah, begitulah kira-kira hal seputar pemutusan hubungan kerja. Perlu diingat, pemutusan hubungan kerja di sini bukan melulu karena PHK, ya. Bisa saja karena si karyawan mengundurkan diri, lalu tiba-tiba menjadi pengangguran.

Tidak semua yang saya tulis di atas saya alami dan sudah saya terapkan. Tapi saya berharap, dengan tulisan ini, Anda yang masih jadi karyawan di mana pun kalian bekerja, menjadi karyawan yang siap jika sewaktu-waktu berstatus jobless. Entah karena kemauan sendiri, atau karena terpaksa.

Semangat!

Ruang Freelance

Ruang Freelance merupakan wadah para freelancer untuk saling berbagi pengalaman mengenai dunia freelance mereka. Kategori yang dibahas seputar freelance online, money management, paypal, social networking, make money dan banyak lagi. Tapi, kami akan berusaha untuk memberikan yang terbaik disetiap tulisan. Dan, kami juga bukan ahli Bahasa Indonesia, mohon maaf apabila tulisan kami tidak EYD (Ejaan Yang Disempurnakan).

Comments

  1. says

    Saya setuju Mba Bril. Suatu hari kita akan kehilangan pekerjaan dengan tiga alasan: 1. pensiun 2. bangkrut 3. dipecat. Sebelum itu terjadi alangkah baiknya jika kita mengembangkan hobi menjadi bisnis yang bisa diandalkan. Saya sedang merintis sekolah menulis Studio Kata Kreatif, kalau di bidang sosial saya ngajar di sekolah @terminalhujan, sekolah gratis bagi anak-anak putus sekolah. Salam kenal. 🙂

  2. says

    Hi Bobby, thank you for ur comment. Benar, menggali hobi jadi bisnis adalah satu cara tepat untuk bersiap menghadapi risiko terburuk jadi karyawan. 🙂

  3. toto says

    Kalau di kantor saya, cara mem-PHK karyawannya dengan dipindah ke cabang yang jauh di luar pulau. Otomatis karyawan menjadi tidak betah dan menundurkan diri. Sedangkan untuk karyawan berstatus kontrak, maka tidak akan pernah menjadi karyawan tetap dengan segala dalih dan alasan. Meski ini sebuah pelanggaran terhadap UU no 13/2003 tapi tetap saja dilakukan.
    Semua karyawan, termasuk saya, setiap hari hidup dalam kondisi harap-harap cemas. Berharap bisa tetap bekerja sekaligus selalu cemas bila hal terburuk terjadi. Bosan, lelah, jengah. Surat lamaran sudah disebar kebanyak persusahaan tapi sampai sekarang belum ada hasil yang menggembirakan. Mau buka usaha mandiri, masih bingung usaha apa. Padahal keinginan dan semangat untuk bikin usaha mandiri sangat besar……..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *