Freelance Harus Connect!

Dalam bukunya yang terbaru ‘Connect’, Hermawan Kartajaya menyebutkan bahwa ada tiga tingkatan dari istilah Connect ada Mobile Connect, Experiential Connect dan Social Connect. Konsep konektivitas ini memang diperuntukkan bagi dunia pemasaran, namun saya akan coba untuk membawa konsep ini kedalam dunia freelancer.

connect

Mobile Connect merepresentasikan bahwa para pelaku freelance kini harus terkoneksi bukan hanya oleh perangkat mobile,  tetapi lebih dari itu, mengunakan berbagai mobile device serta berbagai aplikasi yang ada di dalamnya untuk terkoneksi dengan berbagai relasi, berbagi informasi, memberi informasi dan mendapatkan informasi. Dengan dunia yang datar seperti sekarang, batas geografis yang seolah tidak ada, maka freelancer bisa terkoneksi, tidak hanya dengan sumber informasi tetapi juga dengan klien maupun dengan relasi dan juga sesama freelancer.

Experiential Connect berkenaan dengan karya dari para freelance itu sendiri. Dalam pekerjaannya pelaku freelance pasti menghasilkan sebuah karya atau produk, entah itu berupa konten, desain web, program, template, themes atau pekerjaan lain. Experiential berarti memberikan apa yang terbaik pada klien dengan menciptakan pengalaman yang menakjubkan ketika klien tersebut melihat dan mendapatkan hasil kerja kita.

Sedangkan Social Connect secara sederhana digambarkan sebagai koneksi yang dilakukan para pelaku freelance dalam dunia offline, bisa dengan mengikuti seminar, workshop, diskusi, geek party atau kegiatan offline lain, dimana relasi yang terjadi adalah tatap muka. Termasuk bersosialita, ngobrol, berbagi ide, baik itu di lingkungan freelance, para developer, marketer, founder startup, atau relasi lain.

Sebagai tahapan awal, ketiga konsep Connect bisa dipraktekkan secara bertahap, namun sejatinya akan lebih baik jika yang ingin dicapai adalah kombinasi atas ketiga konsep Connect diatas. Dengan segala kemajuan teknologi yang ada, setiap pelaku freelance bisa menggabungkan ketiga tahapan ini menjadi satu kesatuan yang blend dan alami.

Misalnya, punya akun Twitter, dimana bisa mem-follow para praktisi yang punya studio tertentu, jika mereka membuka lowongan pekerjaan untuk para freelance bisa langsung di tweet, tidak lupa terkoneksi juga dengan klien, sehingga apa yang menjadi keluhan dari klien bisa langsung di tangani, dan terakhir dengan mengikuti berbagai event serta melakukan berbagai diskusi, seperti FOWAB misalnya, karena di event seperti ini biasanya berkumpul relasi dari hulu sampai hilir, mulai dari yang mencari pekerjaan sampai yang memberi pekerjaan akan berkumpul di satu tempat.

Menjadi terkoneksi adalah sebuah jalan untuk, tidak hanya mendapatkan sebuah pekerjaan tetapi juga untuk membangun long term relationship dengan klien, mereka yang suka dan puas dengan pekerjaan yang dihasilkan biasanya akan selalu kembali dan menggunakan jasa freelancer tersebut.

Maka, kini pertanyaannya adalah: Sudahkah anda terkoneksi dengan baik?

*Ide tulisan tentang konsep Connect didapatkan dari buku Hermawan Kartajaya, Connect, Gramedia, 2010.

Ruang Freelance

Ruang Freelance merupakan wadah para freelancer untuk saling berbagi pengalaman mengenai dunia freelance mereka. Kategori yang dibahas seputar freelance online, money management, paypal, social networking, make money dan banyak lagi. Tapi, kami akan berusaha untuk memberikan yang terbaik disetiap tulisan. Dan, kami juga bukan ahli Bahasa Indonesia, mohon maaf apabila tulisan kami tidak EYD (Ejaan Yang Disempurnakan).

Comments

    • says

      itu dia mas Panji, saya juga dulu gitu kok tapi pas kenal sama banyak orang malah gak bisa ngobrol sebentar, semacam tak kenal maka tak ngobrol 😀

  1. says

    Kalau ke seminar – seminar masih ok! tapi kalau kopi darat dan disitu tidak ada satupun orang yang dikenal, sulit rasanya untuk mengangkatkan kaki datang ke acara tersebut. hehe….

  2. says

    Jawaban dari pertanyaan di posting : belum 😛

    Sepertinya kebanyakan freelancer ( apalagi Online Freelancer ) adalah pada dasarnya mereka ini cukup introvert, lebih suka ‘bersembunyi’ dari balik layar monitor daripada ‘engaging’ secara offline. Termasuk saya 😛 ( atau hanya saya ? wkkk ), kebanyak modelnya adalah lone-wolf yg kurang nyaman dengan keramaian.. jadi tidak terbangun instinct untuk socially connect… ( bukan model ‘marketer’ )

    Cara saya coping model saya yg terlalu pemalu untuk ‘connect’ ( terutama offline ), adalah dengan menggunakan taktik friend’s friend. Lebih nyaman kan kalo dikenalin temen dari pada memperkenalkan diri sendiri ? 😉

    Nah caranya, sebagai modal connect lah dulu dengan para ‘connector’ , atau kenali ‘rock-star lokal’. Biasanya mereka nyaman dan enak orang nya. Nah kalo kopdar anggap aja kita mo ketemuan mereka, tar dari mekalah kita bakal bisa kenal orang2 lain :D.

    Contoh connector : Anggi, Zam, Rio, Dian , om Godot, dll ( org-2 yg suka ngisi di ruangfreelance rata2 connector, kecuali saya 😛 ).. liat cara mereka nulis, kontak via ym, twitter, atau fb.. tar ketauan kok kita bakal ‘klik’ ga sama mereka. Nah tar kalo udah saat nya kopdar, kan jadi ada alesan buat dateng. Dan ga perlu susah payang ngiderin kartunama, hang out aja ama mereka, berhubung mereka rock-star ya tar org2 lain yg bakal dateng wkkk

    • says

      taktiknya boleh juga nih di coba, tapi taktik friend’s friend juga sebetulnya Social Connect, minimal efek social-nya kan dapet dengan ‘nempel’ di para rock-star itu 😀

Trackbacks

  1. […] Misalnya saja,  About Page, Anda dapat mendeskripsikan hal apa saja yang bisa ditemukan dalam blog Anda tersebut. Lalu ada konten yang biasa disebut dengan social bookmarking, apa itu? Lebih jelasnya silahkan klik di sini. Promosikan ke semua media, jangan takut dibilang annoying! Namanya juga orang jualan.  Jangan lupa sertakan #(tags) yang tepat mengenai tulisan Anda agar dapat dicari orang lain. Tentunya konten-konten ini sangat berguna bagi seorang freelancer. Intinya seorang freelancer harus connect! […]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *