Fesyen Anak, Bisnis Menguntungkan Sepanjang Masa

Mungkin ini salah satu penyebab jebolnya kantong orangtua. Pernak pernik untuk anak mereka, sudah dipersiapkan bahkan sebelum si anak lahir.

shutterstock_212233300

Freelancer Image via Shutterstock

Saya mengakui hal itu. Tetapi semua karena cinta, kan? Saya termasuk yang suka sengaja menyasarkan diri ke bagian perlengkapan bayi dan anak bila pergi ke pusat perbelanjaan, bahkan sejak saya masih remaja. Melihat aneka model, warna, ukuran, dan harga membuat saya betah untuk memerhatikan detilnya.

Kids’ Fashion, Now And Then

Selama manusia terus berketurunan, selama itu pula perlengkapan bayi dan anak tetap diminati dan harus dimiliki. Terlebih dengan kesadaran bahwa bayi dan anak bertumbuh dengan cepat. Bayi usia 5 bulan bisa saja memakai untuk ukuran 9 bulan. Anak usia 2 tahun sudah pas memakai baju ukuran 4 tahun. Ini contoh yang bahkan saya alami sendiri.

Menurut saya, sampai awal tahun 2000, toko baju tak banyak pilihan. Pergi ke butik (untuk kualitas terbaik), department store atau ke pasar tradisional. Pemesanan jahit baju anak biasanya terbatas untuk acara keluarga (hari raya dan pernikahan).

Sudah jamak pula di kalangan orangtua yang memilih merek tertentu karena kualitas atau modelnya yang menjadi favorit dan sekelompok lain yang tak mementingkan merek selama bajunya nyaman di tubuh si anak.

Dulu, warna dan model pakaian anak demikian sederhana dan lembut sesuai karakter mereka. Kini, ketika warna dan model demikian berani, bahkan cenderung berlebihan, faktor permintaan pasar atau produsen yang memaksakan seleranya?

Kualitas Atau Harga?

Zaman sekarang, pusat belanja seperti ITC atau town square banyak menjamur di setiap sudut kota besar. Pilihan semakin membuat pusing. Betul? Tidak juga, sebenarnya. Selalu ada rekomendasi atau testimoni dari orangtua lain yang memberikan kita kemudahan untuk menentukan sikap.

Faktor harga pun menentukan bagi kebanyakan orangtua untuk memilih. Bisa jadi, dari 3 tempat penjualan untuk merek, ukuran, model, dan warna yang sama, harganya bisa berbeda Rp 50.000,- sampai Rp 100.000,- (Berdasarkan hasil rumpi iseng kepada beberapa teman yang mempunyai online shop)

Bagaimana menyiasati kualitas pakaian dengan harga yang melekat bersamanya? Produsen dan pembeli sama pusingnya. Sama, terkadang saya juga. Tetapi berhubung saya sudah memiliki tempat favorit untuk membeli pakaian anak, jadi kepusingan itu dialihkan kepada hal lain. Tidak menutup kemungkinan untuk menemukan tempat belanja pakaian dan perlengkapan anak yang baru.

Bagi yang merasa memiliki bakat menjahit, selera bagus untuk pernak pernik anak, atau darah pemasaran yang oke banget, berkecimpung di dunia anak memang tak akan pernah sepi dari permintaan pasar. Dinamikanya menarik untuk diikuti.

Menjaga Anak Dari Hal Tak Pantas

Hanya saja, sangat disayangkan, banyak produsen baju yang sudah kelewat batas dalam menentukan desain baju atau pemilihan kata untuk disablon. Sudah banyak kasus yang saya temukan di media sosial, beberapa Facebooker mengunduh foto pakaian bayi, anak, dan remaja dengan gambar / tulisan yang sangat tidak pantas. Serta merta semua menyalahkan si orangtua dalam kelalaian pemilihan. Menurutku, kesalahan fatal pertama ada pada produsennya atau bagian kreatif industri clothing itu. Seharusnya bisa berhati-hati dalam pemilihan gambar dan teks. Kecuali memang ada unsur kesengajaan. Bagaimana menelusurinya? Bertanya pada penjual, dari mana dia mendapatkan barang itu. Pastinya dengan sistem konsinyasi. Tanya nama dan nomer telepon yang dihubungi. Lacak.

Tetap, keputusan akhir ada di tangan orangtua. Teliti sebelum membeli.

Dunia anak memang selalu menyenangkan untuk dieksplorasi.  Selama kita masih ada di dunia ini dan generasi baru bermunculan, fesyen yang berkaitan dengan anak akan selalu berkembang. Bagaimana menurutmu?

Ruang Freelance

Ruang Freelance merupakan wadah para freelancer untuk saling berbagi pengalaman mengenai dunia freelance mereka. Kategori yang dibahas seputar freelance online, money management, paypal, social networking, make money dan banyak lagi. Tapi, kami akan berusaha untuk memberikan yang terbaik disetiap tulisan. Dan, kami juga bukan ahli Bahasa Indonesia, mohon maaf apabila tulisan kami tidak EYD (Ejaan Yang Disempurnakan).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *