Etika dalam Dunia Freelance

Etika dalam Dunia Freelance - image from Flickr

Pernah dengar pepatah “bad ethics equals bad business”? Apabila dikaitkan dengan dunia freelance, kira-kira masihkah pepatah tersebut berlaku?

Pertama-tama, mari kita tentukan definisi etika terlebih dahulu. Menurut Wikipedia, etika adalah ‘a branch of philosophy that addresses questions about morality—that is, concepts such as good and evil, right and wrong, virtue and vice, justice, etc.’. Sedangkan The Free Dictionary memberikan pengertian yang kurang-lebih sama dengan penekanan bahwa setiap profesi memiliki standar etikanya masing-masing;  ‘the rules or standards governing the conduct of a person or the members of a profession’.

Dalam dunia freelance, seorang freelancer bekerja untuk dirinya sendiri dalam batasan-batasan yang ditentukan oleh dirinya sendiri pula. Freelancer yang telah mapan mungkin telah memiliki ‘panduan’ tertentu untuk pekerjaannya, entah itu kriteria penerimaan proyek, standard operating procedure, dan lain-lain. Namun, tidak ada suatu standar tertulis yang menyeragamkan standar reaksi/perilaku setiap freelancer dalam bekerja.

Berikut ini adalah sejumlah kode etik profesi secara umum yang dapat diterapkan dalam dunia freelancer. Coba dicek satu-satu, sebagai warga negara yang baik, sudahkah kita bersikap demikian?

Kejujuran. Katakan sejujurnya tentang skill yang dikuasai serta portfolio proyek yang pernah ditangani. Jangan menambahkan pengalaman atau keterangan palsu, percayalah bahwa yang namanya kebohongan pasti suatu saat terkuak.

Integritas. Penuhi tugas-tugas sesuai dengan kontrak yang disepakati, jangan mangkir atau mengerjakan suatu proyek di bawah kualitas yang seharusnya.

Totalitas. Mengerjakan proyek harus didasari oleh perencanaan dan persiapan yang matang. Sebisa mungkin pahami tujuan yang ingin dicapai oleh klien sehingga proyek yang didelegasikan kepada kita dapat membantu klien meraih tujuan tersebut.

Respect. (1) Jagalah informasi dari klien yang sifatnya rahasia, (2) Jangan pernah mengumbar keburukan freelancer lain, toh tidak ada manfaatnya bagi karier kita selain mengesankan sikap yang kekanak-kanakan.

Memang belum ada penelitian tentang pentingnya etika dalam dunia freelance secara komprehensif. Tetapi, lagi-lagi seperti kata pepatah “pengalaman adalah guru terbaik”, tentunya jauh di lubuk hati yang terdalam kita sudah pernah merasakan bagaimana etika dapat memberikan first impression sekaligus hubungan jangka panjang yang baik dengan klien maupun rekan sesama freelancer.

Berhubung tulisan ini sarat dengan opini dan analisis, of course you are free to have and share yours as well. 🙂

Ruang Freelance

Ruang Freelance merupakan wadah para freelancer untuk saling berbagi pengalaman mengenai dunia freelance mereka. Kategori yang dibahas seputar freelance online, money management, paypal, social networking, make money dan banyak lagi. Tapi, kami akan berusaha untuk memberikan yang terbaik disetiap tulisan. Dan, kami juga bukan ahli Bahasa Indonesia, mohon maaf apabila tulisan kami tidak EYD (Ejaan Yang Disempurnakan).

Comments

  1. says

    completely agree, jadi karyawan or jadi freelance sama aja perlu work attitude yang baik, perlu integritas, totalitas dan kedisiplinan.

  2. says

    Pertamax….Setuju ama artikel di atas. intinya walaupun kita sebagai freelancer yang terkesan bebas tapi kita harus dan wajib menjunjung profesionalisme dan personality yang baik…

  3. says

    Etika tetep yang utama dalam semua hal. Apalagi kita bekerja pada seseorang. Dengan menggunakan etika, berarti kita menghormati klien kita, dan tentu saja berarti menghormati diri kita sendiri.

  4. says

    Ketika mengerjakan proyek terutama untuk client kita harus dilakukan secara total dan penuh tanggung jawab.
    Trims, ulasannya memberi arahan yang positif buat saya

Trackbacks

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *