Category Archives: Newbie

Semua hal-hal yang wajib diketahui oleh newbie freelancers.

Freelancer: Berani Bekerja Untuk Diri Sendiri

shutterstock_112021940

Credit Image via Shutterstock

Banyak di antara kita yang tidak yakin dengan kemampuan diri sendiri dan memilih untuk menjadi karyawan karena merasa bahwa dengan mengikuti aturan dan job desc yang sudah ada, artinya lebih dari cukup. Aman. Tidak perlu meraba apa yang harus dilakukan selanjutnya. Sedikit tantangan saja tanpa tambahan.

Melawan Kebiasaan

Freelancer adalah orang yang boleh dibilang nekat untuk tidak mengikuti jalan yang standar. Lulus kuliah langsung bekerja adalah pilihan yang sudah template dari waktu ke waktu.

Seiring perkembangan zaman, semakin banyak orang yang ingin lepas dari zona nyaman, keteraturan jam kerja, dan setumpuk aturan demi kebahagiaan menjalani hidup impiannya.

Menikmati pekerjaan yang menjadi hobi, ternyata lebih mengasyikkan dan justru memberi tantangan lebih. Pertanyaan kepada diri sendiri, “Mampukah saya bertahan dengan kehidupan nyaris tanpa aturan ini?” tentunya harus disuarakan dengan satu-satunya jawaban, “Ya, saya mampu!” Karena beranjak dari sanalah freelancer bisa menemukan keseimbangan hidupnya.

Choose At Your Own Risk

Untuk orang yang tidak begitu menyukai tantangan, menjadi freelancer adalah sebuah pilihan yang harus dijauhi sejauh-jauhnya. Tentu, harus disadari bahwa tak akan ada jaminan pemasukan yang pasti seperti halnya gaji bulanan. Tak ada asuransi bila kaki atau tangan patah. Tak ada tunjangan hari raya hingga amplop angpau untuk para keponakan membutuhkan strategi tersendiri.

 Freelancer memiliki risiko sendiri untuk menanggung semua beban kerja, waktu, tenaga, dan pikirannya sendiri. Tentunya jika memang semua masih bisa ditangani sendiri atau mulai meminta bala bantuan dari rekan seprofesi jika ternyata tak mungkin bisa dikerjakan sendiri.

Jangan Menjadi Pengemis

Freelancer memiliki bargaining position yang kuat lho, sebenarnya. Jangan hanya karena membutuhkan seperak atau dua perak lantas mengerjakan proyek yang sebenarnya rugi waktu dan tenaga bila dikerjakan plus tidak bagus untuk portofoliomu.

Ada dan selalu ada freelancer yang tidak memiliki tabungan karena setiap hasil jerih payahnya hanya cukup untuk hidup tiga bulan ke depan tanpa bisa menyisihkan sedikit ke rekening sendiri kecuali rekening cicilan motor, rumah, dan mobil. Saran nih, sebaiknya mencicil juga untuk hal yang bisa diinvestasikan seperti emas. Bukankah sekarang sudah ada program mencicil emas? It will be better, anyway ;)

Nah, bagaimana dengan kalian yang belum pernah mencicipi dunia freelancing? Tertarik atau mundur? Karena lapak ini tak seindah yang dibayangkan oleh banyak orang. :)

Bisakah Freelancer dan Pebisnis Pemula Menyediakan Home Service?

shutterstock_166234766

Credit Image via Shutterstock

Jawabannya tentu saja bisa! Mengapa tidak? Bukankah salah satu pelayanan yang akan membuat pelanggan mengingat para penyedia jasa adalah home service?

Melayani Kebutuhan Konsumen Secara Maksimal

Coba sebutkan apa saja yang bisa kamu lakukan dari rumah dan semua urusan bisa beres dalam beberapa jam saja? Bandingkan jika kamu harus keluar rumah untuk mengurus segala keperluan. Pijat ke rumah? Layanan butik seperti kebutuhan menjahit kebaya? Delivery order untuk aneka makanan siap saji kesukaanmu. Semua semudah menelepon jasa yang hendak kamu pilih. Zaman sekarang ada tambahan pilihan layanan mention Twitter, WhatsApp dan BBM.

Ketika teknologi pelayanan konsumen hanya bermodalkan telepon “hotline” dan membuat banyak jengkel daripada puasnya, apa yang bisa diharapkan? Menelepon ke nomer yang tercantum di flyer, brosur, atau kartu nama tetapi hanya kekecewaan yang didapat. Antrian telepon, ketika tersambung justru mengalami prosedur yang berbelit, dan entah apa lagi.

Kemudian zaman mulai semakin canggih dan lebih personal. Masyarakat bisa mengadu, komplain, memberi umpan balik, atau merekomendasikan sebuah produk dengan jempol melalui media sosial. Sebuah bank terbesar di Indonesia menggunakan Twitter untuk menanggapi berbagai tanya, keluhan, dan saran dari pengikutnya. Entah nasabah atau pun bukan. Semua menjadi lebih mudah.

Jadilah Berbeda dan Tawarkan Bantuan

Nah, freelancer dan pebisnis pemula pun bisa menggunakan media sosial untuk menampung aneka suara pelanggan atau pun calon pelanggan. Dengan tambahan info pada bio media sosial, orang bisa lebih mudah mencari tahu. “Pelayanan ke rumah dalam 24 jam. Semarang only.” mungkin bisa menjadi pertimbangan.

Terkadang saya masih melihat banyak pebisnis yang hanya menunjukkan katalog online atau situsnya. “Silakan ke www dot yyy dot zzz saja, Pak.” Percaya deh, di luar sana, konsumen lebih suka melihat produknya langsung tetapi banyak yang tak sempat ke toko / showroom / workshop / kios kita. Nah, kalau sudah begini, harus bagaimana?

Buatlah konsumen terkesan dengan jawaban tangkasmu. “Baiklah, Pak. Kapan Bapak ada waktu? Saya siap membawa contoh produk yang Bapak inginkan berserta pilihan model dan warnanya.” Bayangkan apa reaksi pelanggan bila kamu bisa benar-benar melayaninya dengan baik?

Testimoni dari klien / pelangganmu adalah iklan terbaik. Setuju? Merekalah yang menjadi salah satu ujung tombakmu dalam memperluas pasar bisnismu. “Saya kemarin membelinya dari si ABC. Worth it dengan harganya. After sales yang mereka lakukan juga oke. Coba deh!” Lelahmu terbayar sudah. :)

Salahkan Tubuh Bila Anda Suka Menunda-nunda

Jawabannya bukan karena malas. Bukan juga karena kita adalah “deadliner” (seperti yang biasa kita klaim sebagai justifikasi–omong-omong, alasan ini sudah super basi jadi lupakan saja lah).

shutterstock_122393329

Credit Image via Shutterstock

Bisa jadi, alasannya adalah karena manusia memiliki sistem tertentu yang tidak disadari sebelumnya (atau dianggap sebagai ‘hal lain’, seperti.. malas, misalnya).

Alex Honeysett, Communications and Promotions Director di Channel One News, menyadari bahwa ada saat-saat ia sedang dalam mood diam dan menikmati karya orang lain serta meresapinya sebisa mungkin, dan ada saat-saat ia sedang dalam mood menyelesaikan pekerjaan dan menciptakan suatu hal. Ia menyebutnya “curation mode” dan “creation mode“.

Saat Anda berada dalam curation mode, tubuh dan pikiran Anda lebih ingin berpikir dan bertanya dibandingkan melakukan dan menjawab. Anda lebih ingin membaca buku dibandingkan presentasi depan orang banyak, seperti yang Honeysett contohkan. Sedangkan dalam creation mode, Anda lebih ingin menyelesaikan atau mengerjakan sesuatu daripada duduk diam dan mendengarkan orang lain menceramahi Anda. Anda tidak perlu memaksa diri Anda bangun–Anda sudah bangun dengan sendirinya dan bekerja otomatis dengan semangat.

Bila benar begitu, what should we do with it? Honeysett mengatakan bahwa dengan menyadari adanya proses atau sistem ini dalam cara bekerja Anda, Anda justru bisa lebih menyesuaikan diri demi mencapai produktivitas terbaik Anda. Bila selama ini Anda selalu semangat mengetik setelah membaca 1-2 buku motivasi, maka itulah yang harus Anda lakukan sekarang saat Anda memiliki tugas yang sudah lama Anda abaikan. Atau mungkin Anda harus bersenang-senang selama 5-6 jam dahulu sebelum serius menyelesaikan projek maket–lakukanlah. Hal tersebut dikatakan terbukti lebih efektif dan lebih menyenangkan dibandingkan Anda memaksakan diri Anda duduk depan komputer sambil menunggu kalimat pertama untuk keluar (yang tidak kunjung datang).

Jadi, kebiasaan Anda menunda-nunda kemungkinan besar bukan karena malas atau karena Anda terlahir sebagai–ehm–deadliner. Bisa jadi memang seperti itulah tubuh Anda terprogram–curation mode dan creation mode.

8 Rahasia Sukses Pengusaha Muda

Banyak orang bercita-cita ingin menjadi pengusaha. Berwirausaha mandiri, memiliki harapan mulia dengan hendak membuka lapangan pekerjaan bagi para pengangguran. Tetapi, benarkah menjadi pengusaha itu mudah?

Berikut adalah delapan rahasia sukses menjadi pengusaha muda yang saya rangkum dari kesuksesan para pengusaha muda di negeri ini.

shutterstock_71611606

Credit Image via Shutterstock

  1. Tidak Tergesa-gesa. Sukses itu tidak instant. Kesalahan pertama para pengusaha muda adalah adanya keinginan yang menggebu-gebu bahwa sebuah usaha itu harus sukses secepat kilat. Sehingga mereka cenderung berpikir bahwa sebuah kesuksesan bisa diraih dengan instant. Pemikiran itu akhirnya mendorong mereka melakukan berbagai cara agar usaha mereka segera mendulang sukses. Dan disinilah hal-hal yang tidak alami (menghalalkan segala cara) mereka lakukan.
  2. Cintai Proses. Dalam setiap hal (tujuan) pasti melewati yang namanya proses. Di sinilah pengusaha muda yang baru menjadi tunas tidak berhasil tumbuh gara-gara tidak mau mencintai proses. Mereka selalu mengeluhkan proses yang harus dilalui. Merasa tertekan dengan tantangan-tantangan yang harus dilalui selama berproses. Sehingga ujung-ujungnya mereka berputus asa dan  menyerah. Ingat, segala sesuatu butuh proses, mie instan yang notabene instant saja masih perlu direbus untuk menikmatinya.
  3. Disiplin. Pemuda cenderung memiliki sifat yang tidak suka terhadap aturan, lebih senang menjalani hidup tanpa jadwal, dan seenaknya sendiri. Padahal disiplin merupakan hal yang sangat penting bagi pengusaha. Karena tanpa adanya disiplin yang baik, seseorang akan cenderung seenaknya dalam menjalankan usahanya. Jangan sampai baru untung sedikit saja  sudah mentolerir diri dengan bersantai-santai ria. Terlena di awal usaha akan menjadi jurang kehancuran untuk pertumbuhan usaha ke depannya.
  4. Bertahan di Lima Tahun Pertama. Menurut beberapa pengusaha sukses, “Sebuah kesuksesan dalam berbisnis akan dicapai apabila ia mampu melewati lima tahun pertama dalam bisnisnya.” Mengapa harus bertahan di lima tahun pertama?  Di awal berbisnis akan sangat banyak sekali batu rintangan yang akan dihadapi. Jatuh bangun, untung rugi, ditipu, dikhianati karyawan/rekan bisnis, akan menjadi bumbu penyedap di lima tahun pertama. Karena sejatinya di lima tahun pertama itu Anda sedang memelajari bisnis. Tahun-tahun ketika seorang pengusaha sedang mencari pola dari bisnisnya. Sehingga bila sudah berhasil menemukan pola itu, akan mudah bagi Anda untuk menemukan titik kesuksesan dalam bisnis yang dijalani.
  5. Miliki Mentor. Mentor adalah orang yang akan membimbing Anda dalam mencapai kesuksesan bisnis. Mentor juga bisa menjadi suplemen semangat di kala Anda merasa jatuh atau terpuruk. Dengan adanya mentor, kegagalan dalam berbisnis dapat diminimalisir. Setidaknya tidak harus melalui gagal puluhan kali yang disebabkan trial and error karena tidak adanya mentor.
  6. Update Informasi. Pengusaha harus senantiasa tahu setiap trend yang berkembang. Sehingga ia bisa menyusun strategi untuk memperkuat kedudukan usahanya. Perkembangan dan perubahan trend memiliki pengaruh yang sangat besar, terlebih pada usaha yang menghasilkan produk. Jangan sampai karena ketinggalan informasi, produk yang Anda buat sudah tidak  sesuai dengan trend yang ada. Akhirnya barang yang diproduksi atau jual sudah tidak dibutuhkan lagi oleh konsumen. Perbanyak wawasan, informasi, dan belajar, agar Anda tidak pernah ketinggalan informasi.
  7. Bangun Kedekatan Dengan Tuhan. Sebagai manusia tidaklah boleh lupa atau bahkan tidak mengenal Tuhannya. Setiap tindakan yang dilakukan itu semua adalah atas kehendak dan kuasa-Nya. Oleh karena itulah manusia harus senantiasa membangun hubungan baik dengan Tuhannya. Kedekatan pada Tuhan erat kaitannya dengan kemudahan dalam mencapai kesuksesan. Jika tiba-tiba saja mengalami kebangkrutan atau kegagalan, Anda akan memiliki kekuatan untuk bangkit lagi sebab yakin, bahwa ada Tuhan yang senantiasa menyertai Anda dan bisnis Anda. Tuhan tentu lebih tahu kapan anda pantas untuk mencapai kesuksesan.
  8. Perbanyak Relasi atau Jaringan. Semakin banyak relasi yang Anda bangun (semakin luas jaringan yang dibentuk) akan menjadi pembuka jalan rezeki dan kemungkinan-kemungkinan yang baru. Sudah ada jaminan dari Tuhan untuk orang yang memperbanyak silaturahim akan dipanjangkan umurnya dan dimudahkan rezekinya. Bisa jadi rezeki yang Anda terima berupa modal, rekan bisnis yang amanah, mendapatkan konsumen yang loyal, atau bentuk rezeki lainnya. Salam. IKD

Self Publishing: Cara Mudah Membukukan Ide

Saya, pertama kali mendengar istilah self-publishing pada tahun 2010, ketika sebuah penerbitan indie baru lahir di Jakarta. Menggunakan sistem cetak “Print On Demand” yang berarti siapa pun pemesan bukunya meski satu eksemplar tetap akan dilayani. Saya tidak tahu apakah tahun-tahun sebelumnya apakah ada penerbit indie yang menggunakan POD juga.

shutterstock_174214484

Credit Image via Shutterstock

Satu hal yang pasti, tahun-tahun selanjutnya, penerbit indie banyak yang bermunculan menawarkan “menerbitkan karyamu tanpa harus takut ditolak oleh penerbit”. Ini menarik, setidaknya dari sudut pandang saya yang berilmu cetek.

Kelebihan self publishing adalah setiap orang memiliki kesempatan untuk menjadi berani menulis dan menyuarakan ide mereka dan dituangkan dalam sebuah buku. Tentunya, lebih cepat terbit karena tak harus masuk dalam daftar tunggu di meja tim penerbit.

Kekurangannya adalah menjadi tim pemasaran bagi diri dan buku sendiri. Ada penerbit indie yang menawarkan jasa pemasaran meski belum tentu menjamin akan langsung laris manis. Jadi, si penulis tetap harus bergerilya memperkenalkan bayi baru mereka.

Bagi kamu yang suka mencoba hal baru, bisa masuk ke ranah penerbitan indie dengan cara pencetakan buku sesuai pesanan / POD. Butuhnya satu eksemplar, ya hanya satu yang dicetak. Membutuhkan seribu eksemplar, siap terima seribu buku baru cetak (fresh from oven).

Buku-buku yang diterbitkan secara indie bisa dipasarkan dengan bantuan percetakannya atau dipromokan melalui media sosial si penulis, yang saat ini lebih murah meriah tinimbang harus beriklan di media cetak seperti bertahun lampau.

Kamu memiliki kesempatan sama dengan mereka yang sudah memiliki bisnis dengan pelayanan self publishing dan print on demand. Beberapa orang kenalan saya, memberanikan diri demi idealisme. “Buku yang diterbitkan harus begini, begitu, dan begini.” Saya memerhatikan bagaimana mereka mempromosikan usahanya dan sekarang sudah mulai menuai hasil.

Jaringan pertemanan akan merambah ke sektor bisnis, itu memang sangat mungkin terjadi. Ketika membutuhkan modal untuk mendirikan sebuah usaha, gayung bersambut dengan tawaran kerja sama yang baik. Syukur jika visi dan misinya sama, maka akan lebih mudah. Berguru kepada orang yang lebih dulu membangun bisnis yang akan kita rintis, ada baiknya diserap setiap yang bermanfaat bagi calon bisnis kita. Kemudian, sesuaikan dengan kebutuhan dan keinginan kita, bagaimana sebaiknya bisnis kita dimulai.

Banyak penulis pemula atau orang-orang yang sangat ingin bisa menulis dan membukukan buah pikirannya. Tugasmu, menjadi jembatan mimpi mereka. Membuat survei sederhana mengenai kebutuhan si calon penulis dan tema apa yang disukai pasar pun bisa menjadi bahan rujukan.

Buatlah pelatihan menulis dan bekerja sama dengan penulis senior, misalnya. Carilah sponsor dan hal semacam ini bisa dijadikan modal untuk memberitahukan kepada khalayak bahwa kamu sedang memperkenalkan usaha barumu.

Kamu memiliki ide lain? Bagikan di kolom komentar, ya.

Mengapa SEO Penting Dalam Bisnis?

SEO bagaikan buzzword yang sering dicuap-cuap akhir-akhir ini. Bagi mereka yang tertarik dengan dunia marketing communication, advertising, blogging, bahkan public relation ‘tradisional’ sekalipun, saat ini ‘terpaksa’ membiasakan dirinya dengan jargon ini. Lantas apa sih SEO itu?

shutterstock_193745936

Credit Image via Shutterstock

SEO adalah singkatan dari “search engine optimization“. Seperti namanya, SEO pada dasarnya merupakan cara-cara yang dilakukan agar bisa memanfaatkan mesin pencari–seperti Google atau Bing–seefektif dan seoptimal mungkin. SEOMoz mengatakan bahwa mesin pencari memiliki fungsi indexing, tempat ia mendaftarkan file maupun laman apapun yang diunggah ke internet, menggunakan link-link yang beredar. Kedua, ia juga berfungsi answering, yakni memberikan jawaban atas keyword yang kita ketik di mesin pencarian. Jawaban yang diberikan tidak sembarangan, melainkan berdasarkan 2 aspek: relevance (seberapa ‘nyambung’-nya suatu laman dengan apa yang kita cari) dan importance (seberapa pentingnya laman tersebut). Nah, aspek yang kedua inilah di mana para praktisi SEO sering ‘bermain’.

Pengguna internet pada umumnya menginginkan lamannya menjadi populer, atau setidaknya, mudah ditemukan. Hal yang sering dijadikan patokan biasanya adalah ‘ranking’ di mesin pencari. Apakah laman tersebut berada di halaman pertama atau baru ada di halaman kelima? Bila ia ada di halaman pertama, apakah ia berdiri di urutan teratas? (hal ini merupakan mimpi setiap SEO marketer) Atau ia berada di urutan kedua, atau malah paling bawah?

Di sinilah SEO menjadi penting bagi brand, figur, dan bentuk usaha lainnya yang menggunakan Internet sebagai alat pemasaran utama. Saat suatu laman memiliki aspek relevance dan importance (atau popularity) yang kuat, maka laman tersebut akan dengan sangat mudah ditemukan oleh pengguna Internet yang sedang mencari hal terkait.

Di era semuanya saling terhubung ini, if you’re not on the web, you basically don’t exist. Bilapun Anda sudah berada di web, Anda masih harus berkompetisi dengan laman-laman lainnya yang ingin berebut perhatian audiences (yang bisa jadi merupakan calon klien Anda). Bila Anda berprofesi di bidang media, komunikasi, dan periklanan, hal ini tidak perlu lagi ditanya. Namun hal ini juga tidak kalah pentingnya (malah semakin penting) bagi siapapun atau merk apapun saat ini, karena sekali lagi, saat Anda tidak berada di web, Anda tidak ada (setidaknya di mata audiences Anda).

Lantas, bagaimana cara menjalankan SEO untuk mendongkrak popularitas brand atau bahkan… diri sendiri? Tunggu post selanjutnya , penulis akan menyebutkan sejumlah trik-trik SEO mendasar!

Agar Kreatifitas dan Sensitifitas Menulis Tetap Terjaga

Menulis adalah suatu kegiatan untuk menciptakan suatu catatan atau informasi pada suatu media dengan menggunakan aksara (Wikipedia). Sedangkan beberapa ahli mendefinisikan menulis sebagai berikut:

  1. Menurut Pranoto (2004: 9) menulis berarti menuangkan buah pikiran kedalam bentuk tulisan atau menceritakan sesutu kepada orang lain melalui tulisan.
  2. Menurut Eric Gould, Robert Diyanni, dan William Smith (1989: 18) menulis adalah perilaku kreatif, perilaku menulis kreatif karena membutuhkan pemahaman atau merasakan sesuatu: sebuah pengalaman, tulisan, peristiwa.
  3. Menurut Djuharie (2005: 120) menulis merupakan suatu keterampilan yang bisa dibina dan dilatih.

Dahulu kita menulis manual di atas kertas dengan pena atau pensil untuk berkirim surat dengan teman atau saudara yang jauh. Kini dengan membuka laptop atau komputer untuk mengetik isi surat, kemudian disambungkan dengan internet bisa langsung kita kirimkan. Teknologi itu bernama e-mail. Untuk kita yang hidup dan dewasa di abad ke-21 ini, tak bisa dipungkiri betapa pesatnya perkembangan yang terjadi.

shutterstock_173678780

Freelancer Image via Shutterstock

Dampak perkembangan yang terjadi kini membuat orang semakin mudah untuk belajar apapun dari internet. Tak terkecuali dalam bidang menulis. Kini semakin banyak orang dengan hobi menulis yang ingin menjadi freelance writer atau penulis lepas. Selain untuk menekuni hobi, mereka juga ingin mencoba mendapatkan penghasilan dari hobinya. Karena semakin banyak individu yang ingin menjadi freelance writer, maka kita perlu lebih kreatif dan sensitif dalam menyediakan tema artikel.

Berikut beberapa tips dariku agar kreatifitas dan sensitifitas dalam menulis tetap terjaga:

Ikuti Berita Terkini

Dengan mengikuti beberapa berita atau hal apa yang sedang tren, kita akan bisa menuliskan tema yang sama dengan memperbaiki kekurangan dari berita yang kita baca atau kita lihat. Sehingga tulisan akan tampak beda dan lebih menarik.

Lebih Sering Membaca

Bisa dalam bentuk buku segala genre, majalah, koran, tabloid, atau artikel-artikel. Karena petuah guru Bahasa Indonesiaku semasa SMA, bapak Sulaiman berkata “Setiap kita membaca, sedikit kepandaian si penulis akan terserap ke kita”. Dengan penambahan kepandaian kita ini, kita akan mampu membuat artikel baru yang lebih kreatif.

Bertemanlah dengan Semua Freelance Writer

Jadi anggapan yang mengatakan, “Semakin sedikit pesaing, semakin tinggi kesempatan menang,” tidak berlaku menurutku. Dengan jalinan pertemanan kita dengan freelance writer yang lain, setidaknya kita akan bisa saling berbagi banyak hal tentang bidang menulis ini. Jika kita tak berteman dengan mereka, bagimana mereka akan berbagi dengan kita? Jika mereka tak berbagi dengan kita, bagimana kita akan bisa memperbaiki tulisan kita?

Teratur menulis

Tak ada hal baik apapun yang terjadi secara instan. Sama untuk kreatif dan sensitif dalam menulis, kita perlu rutin menulis untuk melatihnya. Kalau aku minimal sehari satu artikel dengan panjang minimal satu halaman.

Jangan Lupa Hal Terakhir yang Terpenting: Refreshing

Jadi, kita jangan lupakan menyediakan waktu untuk bersantai. Bersantai itu sangat manjur untuk mengembalikan kesegaran badan dan pikiran, yang telah lelah melakukan tips-tips di atas.

Semoga tips di atas bermanfaat untuk orang-orang yang suka bekerja keras. Tiada hal baik yang datang kepada kita tanpa melakukan usaha. Orang berbakat memiliki kelebihan dalam kemampuan, tapi sebagian orang yang berbakat akan kalah oleh orang yang kerja keras. Semoga kita termasuk dalam kelompok orang berbakat yang suka kerja keras.

Keep writing, guys!

Cara Ampuh Selesaikan Pekerjaan (Bagi Procrastinator Akut)

Sebelum Anda menggerakkan mouse demi menutup jendela browser sambil berpikir, “Ah, palingan nggak berhasil”, saya beritahukan bahwa ini bukanlah trik produktivitas yang biasa Anda lihat atau bahkan coba (tanpa hasil jelas). Cara ini benar-benar ampuh kalau Anda benar-benar stick to it—setidaknya saya sudah mencobanya.

shutterstock_151695416

Freelancer Image via Shutterstock

Kerja Pada Pagi Hari (benar-benar pagi)

Pernah bekerja pukul empat atau pukul lima pagi? Jika belum, mungkin sekarang saatnya Anda mencoba.  Pada waktu ini, bisa saja orang lain di rumah masih tidur dan langit di luar masih gelap. Suasana pun masih sangat sunyi dan Anda baru saja bangun. Suasana ini justru tepat untuk melakukan pekerjaan Anda karena di waktu inilah otak Anda belum ‘tercemar’ oleh suasana bising di luar atau mungkin ajakan orang rumah untuk sarapan, sehingga Anda benar-benar bisa berkonsentrasi dan super fokus akan apa yang Anda kerjakan.

90-90-1 Rule

Merasa tidak pernah punya waktu untuk mengerjakan proyek pribadi yang selalu Anda ingin capai dan bisa membantu meraih impian terbesar Anda? Coba trik “90-90-1” , yaitu Anda menghabiskan 90 menit pertama pada jam kerja Anda selama 90 hari melakukan kegiatan yang akan memajukan Anda dalam satu proyek besar tersebut. Selama 90 menit tersebut, Anda harus mematikan segala distraksi, termasuk koneksi Internet, e-mail masuk, bahkan orang lain. Trik ini cukup ampuh bagi Anda yang selalu terhalang oleh hal-hal trivial seperti mencek e-mail atau membuka Facebook di sela-sela projek Anda.

1-Hour Time Slot

Saya termasuk orang yang selalu mencatat segala tugas dalam to-do list. Sayangnya hal ini tidak lantas membuat saya menjadi orang paling organized sedunia karena—ironisnya—saya sulit sekali mencentang semua hal dalam to-do list dalam 1 hari. Hal ini saya sadari karena saya selalu melihat tugas-tugas dalam to-do list dalam perspektif 1 hari, bukan 1 jam. Coba berikan semacam time slot bagi setiap tugas yang ada dalam list dan seketika Anda pun menjadi semangat untuk menyelesaikan 1 tugas dalam waktu 1 jam karena sekarang tugas-tugas itu sudah ‘dialokasikan’, berbeda dengan sebelumnya saat Anda selalu berpikir bahwa 1 tugas seakan memiliki waktu seharian (yang akhirnya malah tidak selesai).

Bisnis Cuci Setrika Masa Kini

Malas mencuci dan menyetrika? Serahkan pada jasa londri kiloan! Murah, harum, bersih, dan cepat. <— Tanpa copywriting seperti ini pun sebenarnya para pengguna jasa akan dengan suka cita mendatangi tempat yang dimaksud.

shutterstock_209262991

Credit Image via Shutterstock

Awalnya Hanya Untuk Menengah Ke Atas

Tahun 2014, bukan hal yang aneh melihat banyaknya tawaran jasa cuci setrika, terutama di kawasan kampus dan perkantoran. Katakanlah sampai awal tahun 2000, bisnis laundry masih terbatas untuk pangsa pasar menengah ke atas bahkan elit. Di pertengahan era 1980an, ada Laundrette yang berawal di Jakarta dan saya pikir itu adalah brand internasional. Ternyata saya salah.

Kemudian saya mengenal sebuah brand baru di Jakarta yaitu 5 à Sec. Kebalikan dari Laundrette, saya mengira 5 à Sec justru bisnis lokal. Padahal, 5 à Sec adalah sebuah brand tua (cabang pertamanya berdiri tahun 1968) untuk sebuah urusan mencuci dan menyetrika baju secara profesional. Tentu saja, secara awam pun masyarakat akan paham bahwa bisnis laundry kala itu hanya untuk kelas elit.

Seiring waktu, ada yang bergeser dari sebuah kata gaya hidup. Ketika manusia merasa sangat sibuk dengan pekerjaannya (sebagai dalih dari tangannya yang tak bisa lepas dari aneka gadget itu), menyerahkan urusan cuci jemur setrika ini kepada orang lain. Bagi yang memiliki pembantu rumah tangga tentu tidak terlalu pusing. Lantas bagaimana dengan para bujang atau keluarga komuter yang memiliki persoalan klasik : “Kapan mencuci bajunya? Kapan menyetrikanya?” Jika sempat, ya dilakukan sendiri. Setelah merasa banyak tugas lain yang tak bisa ditunda atau ditinggalkan, “Ya sudahlah, kasih ke londrian di depan kompleks aja, deh!” :)

Sasaran Masa Kini: Penghuni Kostan

Mahasiswa sekarang semakin dimanjakan dengan berjamurnya jasa londri kiloan yang harganya pun aman untuk mereka. Sekilo cucian bila sudah termasuk disetrika rapi dan wangi, cukup membayar Rp 4000,- hingga Rp 5.500,- dengan waktu standar tiga hari sudah selesai. Jika hanya dicuci, biasanya lebih murah seribu rupiah.  Tanggung ya, mending tahu beres rapi, toh? Hehehe…

Saya pernah membaca opini seorang pebisnis londri kiloan kurang lebih, “Selama manusia memakai tekstil, maka bisnis londri akan tetap bertahan.” Menarik. Apakah pasar londri sudah jenuh? Belum. Setidaknya saat ini.  Kekuatan dari sebuah bisnis londri adalah pelayanan. Mereka menjual jasa. “Ayo, siapa yang butuh dicuci dan setrika dalam waktu enam jam? Harga khusus!” Nah!

Eh, tunggu! Saya sudah menulis panjang tidak karuan tentang bisnis ini, belum memberi sudut pandang yang sempit kepada kalian. Tulisan ini hanya berfokus pada industri skala rumah tangga. Maksudku, sasaran bisnisnya untuk keluarga dan anak kost (mahasiswa dan pekerja kantoran). Kita tidak sedang bicara tentang skala hotel, villa, rumah sakit yang sudah diurus internal ya.

Memilih Target Pasar

Satu hal lagi, mencoba untuk membuat spesifik jasa pencucian ini (termasuk dry cleaning). Ada yang benar-benar hanya menerima pakaian. Beberapa jasa londri kiloan di dekat area kampus atau perkantoran, selain menerima pakaian, juga menerima karpet, helm, baju dengan perlakuan khusus (ada payet, bahan beludru dan sutra, dan lainnya), boneka, dan tas.

Pelanggan banyak macam dan maunya. “Baju ini tolong dicuci terpisah, sedikit deterjen, saya ambil enam jam lagi.” Atau, “Cuci aja deh, nggak perlu setrikanya. Bukan baju buat pergi kok.” Atau, “Pewanginya yang ini ya?” Sambil menunjuk pada salah satu pilihan pewangi di meja penerima cucian.

Sepanjang pengamatan saya, tempat jasa londri kiloan di beberapa tempat di Depok dan Bandung, selalu penuh dengan tumpukan pakaian yang sudah bersih dibungkus plastik bening, jejeran buntelan plastik berisi pakaian kotor, gulungan karpet, beberapa boneka, dan aneka bed cover atau selimut. Tidak pernah sepi. Kewalahan sih, iya.

Jadi, kalau kamu berpikir untuk menekuni usaha yang akan cukup memberimu kesibukan, coba membuka bisnis londri kiloan ini.

4 Dosa Penyebab Menjadi “Pencuri” di Perusahaan

Ingatkah kita, bahwa hukum sebab akibat itu selalu ada. Apa yang kita tanam, itulah yang akan kita petik. Apa yang kita dapatkan sesuai dengan apa yang kita berikan. Jika kita menjadi “Pencuri” di saat kita menjadi pegawai, maka ketika menjadi pengusaha, kita akan mendapatkan pegawai dengan tabiat yang tak jauh beda. Nah, sebenarnya apa saja dosa yang menyebabkan kita mendapat sebutan “Pencuri”?

shutterstock_151764917
Credit Image via Shutterstock

  • Dosa Waktu. Saat jam kerja, malah mengerjakan pekerjaan pribadi kita. Mengerjakan tugas kampus bagi yang masih kuliah, mengerjakan pekerjaan sampingan bagi yang punya kerjaan sampingan.
  • Dosa Fasilitas. Ini nih, dosa yang tanpa sadar sering orang lakukan. Atau dengan sengaja menganggap remeh dosa ini. Terkadang kita mikirnya, “Ah, aku kan sudah bekerja keras, masa tak boleh pakai mobil kantor untuk bersenang –senang? Ah, nge-print makalah di kantor apa salahnya, itung-itung biar hemat.” Padahal fasilitas dan perlengkapan di atas sewajarnya digunakan hanya untuk keperluan kantor.
  • Dosa Pikiran. Bagi pekerja yang lebih banyak menggunakan pemikiran harus lebih berhati-hati. Kalau sedang bekerja jangan sampai seperti mayat hidup. Jasad kita ada, tapi pikiran kita melayang entah ke mana. Ujung-ujungnya fokus terpecah dan terganggu. Kalau sudah begitu, banyak kesalahan yang bisa berakibat fatal bagi perusahaan.
  • Dosa Sungguhan. Bukan berarti tiga dosa sebelumnya adalah dosa mainan. Dosa yang lebih besar risiko ketahuan atasan itu misalnya Anda mencuri uang atau mencuri barang perusahaan. Kemungkinan terburuknya adalah dipecat sekaligus masuk penjara.

Baiklah, hindari empat dosa tersebut, agar label “Pencuri “ tidak tertempel pada diri kita. Meskipun hanya kita sendiri yang tahu kalau kita melakukan dosa tersebut. Berikanlah yang terbaik, maka kita akan mendapat yang terbaik pula. Salam. IKD