<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Ruang Freelance &#187; interview</title>
	<atom:link href="http://www.ruangfreelance.com/category/interview/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.ruangfreelance.com</link>
	<description>Bebas Bekerja Tanpa Batas</description>
	<lastBuildDate>Fri, 03 Sep 2010 04:40:25 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.1</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Inspirasi Dalam Mengatur Mood Bagian 2</title>
		<link>http://www.ruangfreelance.com/2010/07/12/inspirasi-dalam-mengatur-mood-bagian-2/</link>
		<comments>http://www.ruangfreelance.com/2010/07/12/inspirasi-dalam-mengatur-mood-bagian-2/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 13 Jul 2010 04:38:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>wikupedia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tips dan Trik]]></category>
		<category><![CDATA[interview]]></category>
		<category><![CDATA[mood]]></category>
		<category><![CDATA[produktifitas]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ruangfreelance.com/?p=2928</guid>
		<description><![CDATA[
Tulisan kali ini masih tentang mood, masih juga tentang sudut pandang  para freelancer tentang bagaimana mereka berhadapan dengan mood, dan bagaimana mereka mencari cara untuk mengembalikkan mood kalau lagi jalan-jalan entah kemana.

Pekerjaan freealance bisa dilakukan diberbagai tempat, bagi mereka yang tidak punya kantor sendiri, bisa ber-coding ria, membuat ilustrasi, mendesain web atau menulis konten diberbagai [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.flickr.com/photos/allisonkilla/2643400346/"><img src="http://www.ruangfreelance.com/wp-content/uploads/2010/07/mood.jpg" alt="Inspirasi Dalam Mengatur Mood" title="Inspirasi-Dalam-Mengatur-Mood" width="336" height="500" class="alignnone size-full wp-image-2933" /></a></p>
<p>Tulisan kali ini masih tentang <em>mood</em>, masih juga tentang sudut pandang  para <em>freelancer</em> tentang bagaimana mereka berhadapan dengan <em>mood</em>, dan bagaimana mereka mencari cara untuk mengembalikkan <em>mood</em> kalau lagi jalan-jalan entah kemana.<br />
<span id="more-2928"></span><br />
Pekerjaan <em>freealance </em>bisa dilakukan diberbagai tempat, bagi mereka yang tidak punya kantor sendiri, bisa ber-<em>coding</em> ria, membuat ilustrasi, mendesain <em>web</em> atau menulis konten diberbagai tempat, bisa di <em>cafe</em>, di perpustakaan, toko buku atau di tempat lain yang merupakan tempat favorit mereka.</p>
<p>Tempat-tempat yang bukan kantor seperti ini, bagi sebagain <em>freelancer </em>terkadang membuat pekerjaan menjadi lebih lancar atau minimal mengembalikkan <em>mood</em> yan hilang ketika bekerja di satu tempat saja.</p>
<p>Setidaknya itu salah satu hal yang dilakukan Yohan, seorang <em>freelancer </em>yang saya wawancarai lewat <em>email</em> tentang berbagai hal seputaran <em>mood</em>.</p>
<p>Yohan merupakan <em>founder </em><a href="http://www.thinkrooms.com">ThinkRooms</a>, studio <em>web development</em> yang mengerjakan berbagai pekerjaan lepas termasuk didalamnya pekerjaan seputar <em>web developer, web designer, internet solution network dan siystem integration</em>. Yohan juga menjadi kontributor di RuangFreelance.</p>
<p><a href="http://www.ruangfreelance.com/wp-content/uploads/2010/07/yohan.jpeg"><img src="http://www.ruangfreelance.com/wp-content/uploads/2010/07/yohan.jpeg" alt="yohan" title="yohan" width="200" height="325" class="alignnone size-full wp-image-2936" /></a></p>
<p>Ok, berikut wawancara dengan Yohan, semoga memberi inspirasi.</p>
<p><strong>RuangFreealnce  [RF]</strong>: Bagaimana caranya menghadapi <em>mood</em>?</p>
<p><strong>Yohan [Y]:</strong> Kadang <em>mood</em> bergantung dengan suasana hati dan sekitar. Kalau <em>mood-</em>nya <em>ga</em> ada  karena malas biasanya <em>gw</em> nyari tempat yang buat kerja. Misalnya di kafe.  Karena di kafe ga ada tempat tidur buat malas-malasan.</p>
<p>Dan satu-satunya yang  bisa dilakukan adalah kerja. Terkadang kalau <em>ga</em> ada <em>mood </em>tahapan paling  susah adalah memulai bekerja. Biasanya kalau <em>dah</em> mulai moodnya bisa ikut  datang.</p>
<p><strong>RF: </strong> Bagaimana  caranya mengembalikkan <em>mood</em>? Kalau bisa sebutin contoh  kongkrit, misalnya jalan-jalan atau main <em>game</em>.</p>
<p><strong>Y:</strong> Biasanya kalau <em>mood</em>-nya ga ada karena transisi  <em>project</em> atau <em>project</em> sebelumnya selesai dan saatnya memulai<em> project </em> baru maka menyempatnya diri untuk menghibur diri.</p>
<p>Misalnya <em>weekend </em>sama  sekali <em>ga</em> nyentuh kerjaan, atau liburan ke luar kota khususnya ke tempat  yang tenang misalnya ke pantai.  Lalu balik dari liburan berusaha  mengumpulkan <em>mood</em> untuk memulai pekerjaan baru.</p>
<p><strong>RF: </strong>Bisa  diceritakan berapa lama biasanya <em>mood</em> kerja bertahan?</p>
<p><strong>Y: </strong>Biasanya kalau memulai  <em>project </em>baru tuh bisa semangat dan bisa lama. Kadang 2 minggu bisa  kuat. Tapi kadang kalau lebih dari itu biasanya agak mulai jenuh. Kalau  udah gitu kadang harus diakali seperti cari tempat yang mendukung buat  kerja.</p>
<p><strong>RF: </strong>Terus kalau <em>mood</em> hilang, biasanya berapa lama  balik lagi? apa cara <em>ngembaliin</em> <em>mood</em> yang biasa dilakukan selalu berhasil  atau kadang-kadang <em>gak </em>juga? kalo <em>gak</em> berhasil, ada cara untuk tetap bisa  bekerja?</p>
<p><strong>Y: </strong>Hitungan <em> mood</em> atau nggak <em>tuh</em> perhari kalau bagi <em>gw</em>. Jadi kalau bangun pagi trus  <em>mood</em> bagus bisa sampai malam kerja terus. Tapi kalau dari pagi <em>ga </em>ada  <em>mood</em> agak susah juga buat <em>balikin</em>-nya. Kadang kalau hari itu <em>ga mood</em> biasanya <em>nyoba</em> nyari kesibukan lain atau <em>refreshing </em>dan berharap malam  bisa dapat <em>mood </em>buat kerja.</p>
<p><strong>RF:</strong> Apakah <em>mood</em> selalu berhubungan dengan produktifitas kerja?</p>
<p><strong>Y:</strong> Iya, kalau belum  dikejar <em>deadline </em>atau tidak diawasi. Karena pada saat belum dekat  <em>deadline</em> dan tidak ada yang mengawasi biasanya tidak ada pemacu lain  yang bisa memacu untuk bekerja. Tidak ada tekanan yang bisa bikin  <em>freelance</em> bekerja.</p>
<p><strong>RF: </strong>Biasa nggak kerja tetap produktif meskipun <em> gak</em> ada <em>mood</em>?</p>
<p><strong>Y: </strong>Kadang kondisinya kalau udah dekat <em>deadline</em> mau nggak mau dipaksakan produktif. Jadi tekanan atau dorongan kerjanya  adalah<em> deadline</em> tapi terkadang hasilnya <em>ga</em> sebagus kalau dorongannya  adalah <em>mood</em> kerja.</p>
<p>Kalau <em>deadline </em>terkadang kita <em>pake</em> solusi paling  cepat dengan pertimbangan kualitas kode lebih sedikit. Kalau <em>mood</em>,  kualitas lebih dipertimbangkan walaupun terkadang menyita waktu lebih  banyak.</p>
<p><strong>RF: </strong>Apakah menurut Yohan <em>mood </em>itu penting?  sepenting apakah?</p>
<p><strong>Y: </strong>Untuk <em>web developer</em> mood penting untuk  menghasilkan kode yang bagus atau berkualitas. Jadi bukan sekedar  menyelesaikan masalah.</p>
<p><strong> RF: </strong><em>Last word</em>, ada  saran atau tips untuk mereka yang bekerja sebagai <em>freelance</em> yang  berhubungan dengan <em>mood</em>.</p>
<p><strong>Y: </strong>Jangan paksakan diri bekerja 7 hari seminggu.  Usahakan <em>weekend </em>dimanfaatkan untuk <em>refreshing</em> karena pengalaman saya  bekerja <em>full </em>seminggu terkadang hasilnya sama dengan 5 hari seminggu.</p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;</p>
<p>Semoga dengan dua tulisan yang berkaitan dengan mengatur <em>mood</em> bisa menambah wawasan pada pembaca RuangFreelance dan membantu dalam mengelola <em>mood</em> dalam bekerja.</p>
<p>Punya ide atau usulan dalam mengatur <em>mood,</em> tentu saja, para pembaca RuangFreelance bisa berbagai dengan menuliskannya di kolom komentar.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ruangfreelance.com/2010/07/12/inspirasi-dalam-mengatur-mood-bagian-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Inspirasi Dalam Mengatur Mood Bagian 1</title>
		<link>http://www.ruangfreelance.com/2010/07/07/inspirasi-dalam-mengatur-mood-bagian-1/</link>
		<comments>http://www.ruangfreelance.com/2010/07/07/inspirasi-dalam-mengatur-mood-bagian-1/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 07 Jul 2010 09:26:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>wikupedia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tips dan Trik]]></category>
		<category><![CDATA[interview]]></category>
		<category><![CDATA[mood]]></category>
		<category><![CDATA[produktifitas]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ruangfreelance.com/?p=2924</guid>
		<description><![CDATA[
Tulisan kali ini  merupakan salah satu pemenuhan janji saya yang akan membuat tulisan  tentang mood serta beberapa inspirasi dari freelancer tentang bagaimana  mereka menghadapi mood, yang sering kali menjadi musuh terbesar bagi freelancer.
Mood, memang kadang menjadi anugrah, ketika ia  datang dan menjadi semacam vitamin yang bisa melancarkan pekerjaan,  tetapi mood [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.flickr.com/photos/allisonkilla/2643400346/"><img src="http://www.ruangfreelance.com/wp-content/uploads/2010/07/mood.jpg" alt="Inspirasi Dalam Mengatur Mood" title="Inspirasi-Dalam-Mengatur-Mood" width="336" height="500" class="alignnone size-full wp-image-2933" /></a></p>
<p>Tulisan kali ini  merupakan salah satu pemenuhan janji saya yang akan membuat tulisan  tentang <em>mood </em>serta beberapa inspirasi dari <em>freelancer</em> tentang bagaimana  mereka menghadapi <em>mood</em>, yang sering kali menjadi musuh terbesar bagi <em>freelancer</em>.<span id="more-2924"></span></p>
<p><em>Mood,</em> memang kadang menjadi anugrah, ketika ia  datang dan menjadi semacam vitamin yang bisa melancarkan pekerjaan,  tetapi <em>mood</em> juga kadang menjadi musuh bebuyutan, ketika ia tidak  kunjung datang dan mengakibatkan alur pekerjaan menjadi tidak tentu arah.</p>
<p>Nah, seri tulisan tentang mood  ini tidak akan membahas <em>mood</em> dan bagaimana cara menghadapi <em>mood</em> itu dari  sudut pandang saya sendiri, tetapi akan menampilkan wawancara kecil dengan beberapa <em>freelancer </em>tentang permasalahan dan penyelesaian  <em>mood </em>bagi mereka.</p>
<p>Ini  merupakan bagian pertama, saya mewawancarai <a href="http://richardfang.com">Richard Fang</a>, seorang  <em>freelancer</em> dan menjadi dedengkot dibalik <a href="http://jurusgrafis.com">Jurus Grafis</a>, sebuah<em> blog</em> yang  membahas dan memberikan tutorial tentang desain grafis. Jurus Grafis  memang terbilang <em>blog</em> baru tetapi perkembangannya sangat pesat, menjadi  salah satu sumber desain grafis lokal, dan menjadi panutan bagi  <em>freelancer </em>yang bergerak di dunia grafis.</p>
<p><img src="http://www.ruangfreelance.com/wp-content/uploads/2010/07/richardfang.jpg" alt="richard-fang" title="richardfang" width="200" height="200" class="alignnone size-full wp-image-2934" /></p>
<p>Berikut wawancara  singkat <em>via e-mail</em> tentang bagaimana Richard menghadapi <em>mood </em>dalam  berkarya, semoga memberi inspirasi.</p>
<p><strong>RuangFreelance [RF]</strong>: Bagaimana caranya menghadapi <em>mood</em>?</p>
<p><strong>Richard [R]</strong>: Kalau saya biasanya  bisa 2 cara:<br />
1. Paksa bekerja, karena terkadang bisa larut sendiri dan  jadi hilang <em>bad mood</em> nya.<br />
2. Nonton dvd atau main <em>game</em> dulu, kalau cara  gini biasanya malah jadi males ujung nya hehe tapi terkadang lumayan  efektif juga.</p>
<p><strong>RF: </strong>Bagaimana caranya mengembalikkan <em>mood</em>? Kalau bisa sebutin contoh  kongkrit, misalnya jalan-jalan atau main <em>game</em>.</p>
<p><strong>R</strong>: Sama seperti jawaban  di atas, saya lebih baik lanjut kerja, atau kalau memang lagi jelek  banget <em>mood</em>-nya, ya main <em>game </em>atau nonton dvd (cari hiburan yg murah).</p>
<p><strong>RF</strong>: Bisa diceritian  berapa lama biasanya <em>mood </em>kerja bertahan?</p>
<p><strong>R</strong>: Bisa sampe selesai  kerja, kecuali ada gangguan seperti sms, <em>messenger</em>, Twitter, dll, terlebih kalau lagi  deadline, wah itu bisa sampe selesai pagi-pagi</p>
<p><strong>RF</strong>: terus kalo <em>mood</em> hilang, biasanya berapa lama balik lagi? Apa cara<em> ngembaliin</em> <em>mood </em>yang  biasa dilakukan selalu berhasil atau kadang-kadang <em>gak </em>juga? Kalo <em>gak</em> berhasil,  ada cara untuk tetap bisa bekerja?</p>
<p><strong>R</strong>: Kalau dari waktu sih ga pernah di  hitung berapa lamanya, yang pasti ga pernah seharian ga <em>mood </em>kerja.  Mungkin karena faktor kerjaan yang kebetulan saya menikmatinya. Saya  juga biasa mempunyai target-target, seperti barang apa yang mau dibeli,  kebutuhan keluarga dll, itu salah satu faktor yang membuat saya bisa  tetap bekerja.</p>
<p><strong>RF</strong>: Apakah <em>mood</em> selalu berhubungan  dengan produktifitas kerja?</p>
<p><strong>R</strong>: Secara tidak langsung pasti berhubungan,  apalagi dibidang kreatif. Kalau <em>mood</em> jelek biasanya karyanya ga bagus.  Tapi ga selalu seperti itu kok, jangan sampai dikendalikan oleh <em>mood</em>.</p>
<p><strong>RF</strong>: Biasa nggak kerja  tetap produktif meskipun gak ada <em>mood</em>?</p>
<p><strong>R</strong>: Sekarang ini sudah mulai terbiasa  walupun <em>mood</em> kurang bagus tapi bisa tetep kerja.</p>
<p><strong>RF:</strong> Apakah menurut Richard <em>mood </em>itu penting? Sepenting apakah?</p>
<p><strong>R</strong>: Penting, tapi bukan  satu-satunya faktor penunjang produktifitas. <em>Mood </em>cuma sebagian kecil  saja faktor X yang mempengaruhi. Dan lagi <em>mood</em> itu bisa di manipulasi  tergantung pemikiran kita sewaktu menjalankan pekerjaan itu.</p>
<p><strong>RF</strong>: <em>Last word</em>, ada  saran atau tips untuk mereka yang bekerja sebagai <em>freelance</em> yang  berhubungan dengan <em>mood</em>?<strong></strong></p>
<p><strong>R</strong>: <em>Don&#8217;t Depend On It</em>! <img src='http://www.ruangfreelance.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;</p>
<p><em>Well</em>, semoga beberapa  pertanyaan sederhana diatas bisa memberi inspirasi tentang bagaimana  anda dalam menghadapi dan mensiasati <em>mood</em> dalam bekerja, tulisan berikutnya  masih seputar wawancara dengan dengan <em>freelancer </em>lain tentang berbagai hal  barbu <em>mood</em>. Siapa itu? Tunggu tulisan Inspirasi Dalam Mengatur Mood  Bagian 2.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ruangfreelance.com/2010/07/07/inspirasi-dalam-mengatur-mood-bagian-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>20</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>interview: bagaimana cara mengatur waktu Anda bekerja (sidejob dan mainjob)?</title>
		<link>http://www.ruangfreelance.com/2009/07/21/interview-bagaimana-cara-mengatur-waktu-anda-bekerja-sidejob-dan-mainjob/</link>
		<comments>http://www.ruangfreelance.com/2009/07/21/interview-bagaimana-cara-mengatur-waktu-anda-bekerja-sidejob-dan-mainjob/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 21 Jul 2009 10:05:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>anggi krisna</dc:creator>
				<category><![CDATA[interview]]></category>
		<category><![CDATA[produktifitas]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ruangfreelance.com/?p=1716</guid>
		<description><![CDATA[
Bagaimana cara mengatur waktu Anda bekerja, saat meng-handle main job dan side job di waktu yang bersamaan?
Zainal Amri
Lama bekerja main job: 6 tahun
Lama bekerja side job: 4 tahun
 http://gleamland.web.id
Mengatur waktu sebagai seorang freelancer bisa dibilang cukup susah, apalagi jika anda bekerja dari rumah seperti hal-nya saya. Kebetulan Main job juga saya kerjakan secara remote dari [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><div id="attachment_1717" class="wp-caption alignnone" style="width: 410px"><a href="http://www.flickr.com/photos/jabberwockyjack/131090681/"><img class="size-full wp-image-1717" title="time" src="http://www.ruangfreelance.com/wp-content/uploads/2009/07/time.jpg" alt="bagaimana mengatur waktu oleh Jack Hess" width="400" height="500" /></a><p class="wp-caption-text">bagaimana mengatur waktu oleh Jack Hess</p></div></h2>
<h2>Bagaimana cara mengatur waktu Anda bekerja, saat meng-handle main job dan side job di waktu yang bersamaan?</h2>
<p><strong>Zainal Amri</strong><br />
Lama bekerja main job: 6 tahun<br />
Lama bekerja side job: 4 tahun<br />
<a href="http://gleamland.web.id" target="_blank"> http://gleamland.web.id</a></p>
<p>Mengatur waktu sebagai seorang freelancer bisa dibilang cukup susah, apalagi jika anda bekerja dari rumah seperti hal-nya saya. Kebetulan Main job juga saya kerjakan secara remote dari rumah. Seperti hal-nya yang sudah saya tanyakan pada beberapa teman2, sebenarnya kuncinya hampir sama yaitu disiplin diri dan tanggung jawab.</p>
<p><span id="more-1716"></span></p>
<p>Berikut adalah hal-hal yang biasa saya lakukan dalam mengatur waktu pekerjaan:</p>
<h3>Tentukan mana yang harus menjadi prioritas.</h3>
<p>Kerjakan apa yang menjadi prioritas, kalau main job kita pasti tahu mana yang lebih penting jadi dahulukan baru anda menyelesaikan sidejob anda. Tapi kalo tidak ada prioritas task dari mainjob, biasanya saya dahulukan pekerjaan yang saya anggap mudah untuk diselesaikan.</p>
<h3>Selesaikan yang sedang anda kerjakan  sebelum anda memulai pekerjaan yang lainnya.</h3>
<p>Jangan sampai menumpuk pekerjaan, sepertinya terdengar sepele. Tapi bagaimana bila tiba-tiba ada pekerjaan yang memaksa anda untuk memajukan deadline atau tiba-tiba ada hal-hal penting lain yang mendadak harus anda kerjakan, bisa pusing kan.</p>
<p>Apalagi saya tipe orang yang kurang nyaman jika harus bersenang-senang sementara ada pekerjaan yang belum selesai, sepertinya ada yang mengganjal di hati dan kepikiran terus. Gak mau kan acara yang harusnya bisa bikin kamu senang malah jadi gak asik.</p>
<h3>Jangan segan-segan untuk menolak pekerjaan dari luar, jika Anda benar-benar sibuk (dikejar deadline) atau tidak suka.</h3>
<p>Bagi saya setiap pekerjaan memiliki tantangan tersendiri, jadi jangan melakukan pekerjaan dengan setengah hati jika anda menginginkan hasil yang terbaik. Dari hasil yang baik bisa menciptakan hubungan yang baik pula dari anda kepada klien. Karena dari situ anda bisa mendapat proyek-proyek berikutnya atau setidaknya sebuah rekomendasi yang bagus dari klien kepada rekan-rekannya yg kemungkinan bisa menjadi klien anda berikutnya.</p>
<p><strong>Pupung Budi Purnama</strong><br />
Lama bekerja main job: 6 tahun<br />
Lama bekerja side job: 4 tahun<br />
<a href="www.erastica.com" target="_blank"> www.erastica.com</a></p>
<p>Main Job dikerjakan pada jam kerja, sedangkan sidejob dikerjakan diluar jam kerja. Seorang teman pernah mengemukakan sebuah Quote kurang lebih seperti ini:</p>
<blockquote><p>early to bed early to rise,<br />
make people healty wealty n wise</p></blockquote>
<p>Kerjaan utama saya kerjakan di jam kerja, sedangkan sidejob biasa saya kerjakan pada dini hari. Saya sendiri, biasa tidur 4-5 jam sehari, Tidur jam 8/9 malam, dan bangun jam 1 atau jam 2 dini hari. Pada dini hari saya mulai mengerjakan pekerjaan-pekerjaan sampingan, sampai waktu kerja pekerjaan utama datang.</p>
<p>Tapi tidak menutup kemungkinan, bila pekerjaan utama telah beres, jam kerja dipergunakan untuk sampingan.</p>
<p><strong>Dwi Angga Januartama AKA JT with nick jtdoank</strong><br />
Lama bekerja main job: kurang lebih 10 thn (7 thnnya outing cetak dan 3 thn motion)<br />
Lama bekerja side job: 5 thn (4 thn lebih freelance lokal, bulan2 terakhir freelance online)<br />
<a href="http://jtdoank.multiply.com"> http://jtdoank.multiply.com</a></p>
<p>Enjoy, love and feel it, yang penting nikmatin aja, karena dengan kenikmatan bekerja itu dengan sendirinya waktu bisa menyesuaikan kita&#8230;yang pasti di kantor tuh 8 to 5&#8230;.sisanya terserah deh&#8230;dan karena saya freelance secara online dan kebanyakan klien dari USA, jadi waktunya bisa nyesuain.<br />
Jam tidur sekitar 12an, lumayan begadangan dapet duit. Siapa bilang begadang tidak ada gunanya asalkan makan minum teratur dan olahraga rutin sehingga kesehatan tidak  menurun.</p>
<p><strong>Deny Sri Supriyono</strong><br />
Lama bekerja main job: sejak 2003<br />
Lama bekerja side job: sejak 2006<br />
<a href="http://denysri.com"> http://denysri.com</a></p>
<p>Untuk main job, kebetulan ada jam kerja mulai 09.00 WIB sampai sekitar 17.00 WIB. Sedangkan untuk side job, dikerjakan malam harinya.</p>
<p>Nah, untuk side job yang mengharuskan bertemu client, sebisa mungkin diatur sesudah jam kerja atau di luar hari kerja.</p>
<p><strong>Moch. Zamroni</strong><br />
Lama bekerja main job: sejak September 2000<br />
Lama bekerja side job: sejak januari 2002<br />
<a href="http://zamdesign.web.id" target="_blank"> http://zamdesign.web.id</a> / <a href="http://zam.web.id">http://zam.web.id</a></p>
<h3>secara main job</h3>
<p>pekerjaan utama secara normal adalah jam 09.00 &#8211; 17.00 WIB Senin-Jumat. pagi membuat list prioritas pekerjaan mana yang musti di dahulukan karena pagi masih fresh biasanya menyelesaikan yang berat dulu, siang menyelesaikan pekerjaan yang lebih ringan misalnya revisi-revisi kecil sore buat report</p>
<h3>secara side job</h3>
<p>di awal saya buat kesepakatan dulu  bersama klien soal waktu pengerjaan, yang tentu saja menyesuaikan dengan waktu main job biasanya waktu side job adalah malam hari dan hari libur seperti sabtu dan minggu.</p>
<p>tetapi kadang ada beberapa proyek main job yang tidak cukup dikerjakan dalam waktu normal harus menambah waktu lembur malam hari dan hari libur (sabtu-minggu) di saat seperti itu saya tidak berani menerima proyek side job</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ruangfreelance.com/2009/07/21/interview-bagaimana-cara-mengatur-waktu-anda-bekerja-sidejob-dan-mainjob/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>11</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Wawancara dengan Harry J Husni (Digital Grafis)</title>
		<link>http://www.ruangfreelance.com/2008/12/24/wawancara-dengan-harry-j-husni-digital-grafis/</link>
		<comments>http://www.ruangfreelance.com/2008/12/24/wawancara-dengan-harry-j-husni-digital-grafis/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 24 Dec 2008 07:44:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Aria Rajasa</dc:creator>
				<category><![CDATA[interview]]></category>
		<category><![CDATA[harry]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ruangfreelance.com/?p=861</guid>
		<description><![CDATA[Setelah Satya Witoelar, kita lanjutkan wawancara kita dengan Pak Harry J Husni. Pemilik studio desain Digital Grafis ini sudah sangat senior dan memang kira-kira seangkatan dengan Satya. Ok, tidak perlu banyak basa-basi rasanya, mari kita langsung dengarkan pengalaman beliau.

1. Kalau boleh tahu, sejak kapan Anda mulai freelance?
Benar2 yakin dan mantap sejak 2004. Sudah cukup lama, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="wp-caption alignnone" style="width: 510px"><img alt="Taken from Harrys flickr" src="http://farm4.static.flickr.com/3273/2563642081_f0ff5abce7.jpg?v=0" title="Harry J Husni and Family" width="500" height="333" /><p class="wp-caption-text">Taken from Harry&#39;s flickr</p></div>
<p>Setelah <a href="http://www.ruangfreelance.com/2008/11/wawancara-dengan-satya-witoelar/">Satya Witoelar</a>, kita lanjutkan wawancara kita dengan Pak <strong>Harry J Husni</strong>. Pemilik studio desain <a href="http://digitalgrafis.com">Digital Grafis</a> ini sudah sangat senior dan memang kira-kira seangkatan dengan Satya. Ok, tidak perlu banyak basa-basi rasanya, mari kita langsung dengarkan pengalaman beliau.</p>
<p><span id="more-861"></span></p>
<h3>1. Kalau boleh tahu, sejak kapan Anda mulai freelance?</h3>
<p>Benar2 yakin dan mantap sejak 2004. Sudah cukup lama, sekitar 4 tahunan.</p>
<h3>2. Sudah berapa lama bekerja sebagai web designer?</h3>
<p>Sejak 2000. BTW (By The Way), terms <em>Web Designer</em> agak rancu menurut gue ya? Gue lebih suka menyebut diri gue <strong>Web Creative Director/Graphic Designer</strong> <img src='http://www.ruangfreelance.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<h3>3. Sebelum bekerja freelance, Anda bekerja dimana dan berapa lama?</h3>
<p>Awalnya di advertising agency Avicom Promomedia di Bandung, sekitar 1 tahun. Pindah ke Metamedia Interaktif, 3 tahun. Pernah dikontrak Nuage Interactive 6 bulan.</p>
<h3>4. Apakah Anda menikmatinya?</h3>
<p>Yep.. menurut gue itu proses belajar yang bagus.</p>
<h3>5. Apa yang menjadi pertimbangan Anda saat memutuskan untuk menjadi freelancer?</h3>
<p>Waktu itu &#8220;<em>dotcom crash</em>&#8221; tahun 2003-an kalo gak salah. Setelah perusahaan tempat gue kerja tutup, gue ada di persimpangan antara kerja kantoran lagi atau freelancing. Saat itu-lah gue sempat dikontrak oleh Nuage.  Gue ngerasa banyak belajar di sana. Kemudian setelah kontrak selesai dan dipikirkan lebih jauh, gue ngerasa sudah cukup punya modal penguasaan proses/flow design grafis dan web, akhirnya memutuskan untuk &#8216;flying solo&#8217; saja.</p>
<h3>4. Kalau boleh tahu, project website komersial apa yang pertama kali Anda buat?</h3>
<p>Lupa2 ingat.. antara Lee Cooper Indonesia atau London School of Public Relations (LSPR)</p>
<h3>5. Apakah mendapat tentangan dari keluarga atau orang-orang terdekat?</h3>
<p>Awalnya dari isteri. <img src='http://www.ruangfreelance.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' />  Biasalah, biasanya kan tiap bulan ada <em>income</em> pasti.. eh, sekarang nggak jelas masuknya kapan. Tapi lama2 setelah gue ajak terlibat, dia bisa memahami dan supportive banget. Malah akhirnya <em>resign</em> dari kantornya untuk ngebantuin gue. Kalo dari keluarga, alhamdulillah nggak ada yang protes.</p>
<h3>6. Apa yang membuat Anda tertarik menjadi freelance? Apakah ada seseorang yang menginspirasi Anda?</h3>
<p>Inspirasi sih kayanya nggak ada, ya pertimbangan2 plus-minus aja waktu itu. Gue dulu pernah nulis tentang <em>pros &#038; cons</em> antara <em>freelancing dan</em> kerja kantoran. Tapi <em>basically</em>, tertarik <em>freelancing</em> karena bisa bekerja lebih santai dengan bayaran yang relatif lebih besar. Walaupun tentu saja tetap ada konsekuensi-nya dan sisi negatifnya.</p>
<h3>7. Untuk menyelesaikan proyek dari klien, apakah Anda bekerja sendiri atau ada tim khusus?</h3>
<p>Untuk design dan konsep (<em>web</em> ataupun grafis) biasanya gue <em>handle</em> sendiri. Belum ketemu <em>partner designer</em> yang cocok. <img src='http://www.ruangfreelance.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' />  Untuk <em>project management</em> (dan <em>initial development</em>) gue beruntung saat ini punya <em>partner</em> yang sangat <em>capable</em> (Ardy Muswardi &#8211; <a href="http://trustmeiamnotageek.com">trustmeiamnotageek.com</a>). Untuk <em>advanced development </em>atau <em>programming/database</em> biasanya gue cari project-based remote programmer/team.</p>
<h3>8. Sekarang ini banyak sekali <em>web designer</em> di situs <em>freelance</em> yang saling menjatuhkan harga bid (penawaran), apakah Anda setuju dengan cara seperti itu?</h3>
<p>Setiap orang butuh makan ya? <img src='http://www.ruangfreelance.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' />  Kalau ada <em>designer</em> yang nge-bid rendah banget mungkin emang lagi butuh, nggak bisa disalahkan juga. Tapi harusnya designer punya standarisasi. Kalau yakin dengan kemampuan dan skill, harusnya bisa pasang harga. Positif untuk diri sendiri, positif juga untuk market-nya.</p>
<h3>9. Pernah tidak ketika proyek sudah selesai, tiba-tiba klien menghilang dan tidak mendapat bayaran? Bagaimana Anda menghadapinya?</h3>
<p>Kalau <em>project</em> selesai trus clientnya raib, alhamdulillah belom pernah. Kalo <em>project</em> udah setengah jalan, tiba2 <em>client</em>-nya <em>pending</em> lama banget sampe nggak jelas juntrungnya, ada beberapa. <img src='http://www.ruangfreelance.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' />  Menghadapinya ya coba dikejar tuh <em>client</em>, tapi nggak sampe pake ancem-ancem segala.. kalau ujung-ujungnya cuma buat capek badan dan pikiran, ya udah relakan saja.</p>
<h3>10. Ada tips untuk menghindari hal seperti di atas?</h3>
<p>Firasat (<em>hunch</em>) dan <em>Terms of Payment</em>. Kalau sudah sering ketemu orang akan bisa mengira2 mana calon <em>client</em> yang bener, mana yang (mungkin akan) ngaco. Lalu saat mengajukan Terms of Payment harus bisa menerapkan strategi sehingga apa yang kita <em>deliver</em> sesuai dengan bayaran dari mereka dan kalau bisa pada saat pembayaran 2nd atau 3rdpayment, <em>cost project</em>-nya sudah ketutup. Sehingga kalau tiba2 ada sesuatu di tengah, paling nggak apa yang udah kita <em>deliver</em> sepadan dengan yang telah dibayar.</p>
<h3>11. Bisa ceritakan sedikit suka dan dukanya menjadi <em>freelance</em>?</h3>
<p>Sukanya ya <em>fun</em> aja, bisa punya waktu relatif lebih bebas, bayaran yang relatif cukup gede, disamping ada semacam kepuasan tersendiri kalo bisa <em>deliver project </em>dengan <em>smooth</em>. Dukanya? Nggak ada tuh&#8230; <img src='http://www.ruangfreelance.com/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' />  Ya adalah.. gangguan dalam negeri dari anak2 kalo kerja di rumah, bayaran <em>client</em> yang telat, kadang susah me-<em>manage</em> <em>resources</em>, deadline numpuk, hal-hal seperti itu lah.</p>
<h3>12. Apakah Anda akan terus menjadi tetap menjadi <em>freelance</em> selamanya atau ada rencana lain untuk ke depannya?</h3>
<p>Cita2 sih bisa punya <em>agency/studio</em> sendiri. Istilah gue <em>hybrid-agency</em>. Small team, cukup personil inti aja. Remote working dengan memanfaatkan teknologi internet + multimedia secara maksimal.</p>
<h3>13. Bagaimana tanggapan Anda tentang perkembangan dunia web design saat ini, khususnya Dengan semakin bekennya istilah-istilah seperti Web 2.0, AJAX dan Valid XHTML &#038; CSS?</h3>
<p>Tentunya positif ya? Teknologi baru membuat range pilihan solusi yang tepat ke <em>users</em> (<em>client</em>) jadi lebih luas. Kalau dihubungkan dengan profesi kita, artinya juga solusi yang bisa kita tawarkan jadi lebih luas, <em>mean more business opportunities</em>. <img src='http://www.ruangfreelance.com/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' /> </p>
<h3>14. Di saat Anda buntu ide, apa yang biasanya Anda lakukan?</h3>
<p>Lupakan kerjaan sejenak&#8230; <img src='http://www.ruangfreelance.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' />  <em>Free your mind</em>, <em>hunting</em> foto, maen sama anak2, <em>hangout</em> ngobrol ngalor-ngidul sama teman. Kadang-kadang nonton film atau jalan-jalan dengan keluarga.</p>
<h3>15. Anda punya <em>web designer</em> favorit baik di dalam atau luar negeri?</h3>
<p>Humm.. bukan orang-nya, tapi gue ada beberapa favorit studio/agency. Diantaranya: <a href="http://northkingdom.com">North Kingdom</a>, <a href="http://stylorouge.co.uk">Stylorouge</a>, <a href="http://73dpi.ru">73dpi</a>, <a href="http://imaginaryforces.com">Imaginary Forces</a></p>
<h3>16. <em>Last but not least</em>, apakah ada tips, saran atau pesan khusus untuk <em>freelancer</em> Indonesia yang mungkin ingin mencoba keberuntungan di dunia freelance?</h3>
<p>Pertimbangkan baik2 sebelum &#8216;terbang solo&#8217;, pelajari plus dan minusnya. Bayak gaul, banyak baca, banyak browsing, ada dimana2 &#8211; offline maupun online. <img src='http://www.ruangfreelance.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>&#8211;<br />
Ok, sangat menarik bukan pengalamannya? Semoga Anda semua terinspirasi untuk melakukan hal yang hebat dan semoga pengalaman ini bisa berguna bagi kalian semua.</p>
<p><em>Share</em> pengalaman Anda di <a title="riak arus media 2008" href="http://www.ruangfreelance.com/2008/11/riak-hadiah-arusmedia-2008/" target="_blank">kontes kami yang berhadiah iPOD dan usb Flash 8GB</a> dan Update ruangfreelance dengan <a title="rss ruangfreelance" href="http://www.ruangfreelance.com/feed/" target="_blank">berlangganan RSS</a>, <a title="email feedburner" href="http://www.feedburner.com/fb/a/emailverifySubmit?feedId=2462631&amp;loc=en_US" target="_blank">email</a>, dan <a title="twitter ruang freelance" href="http://twitter.com/ruangfreelance" target="_blank">twitter</a</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ruangfreelance.com/2008/12/24/wawancara-dengan-harry-j-husni-digital-grafis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>15</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Wawancara dengan Satya Witoelar</title>
		<link>http://www.ruangfreelance.com/2008/11/28/wawancara-dengan-satya-witoelar/</link>
		<comments>http://www.ruangfreelance.com/2008/11/28/wawancara-dengan-satya-witoelar/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 28 Nov 2008 01:30:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Aria Rajasa</dc:creator>
				<category><![CDATA[interview]]></category>
		<category><![CDATA[satya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ruangfreelance.com/?p=697</guid>
		<description><![CDATA[Saya rasa semua orang yang mengaku web designer pasti mengenal atau pernah mendengar nama Satya Witoelar. Pria yang membawa bendera Tulakom ini sudah berpengalaman sebagai freelance web designer selama kurang lebih 8 tahun. Tentunya pengalaman bung Satya akan menjadi cerita yang sangat berguna bagi kita semua. Mari kita dengar langsung dari orangnya sendiri.

1. Kalau boleh [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_702" class="wp-caption alignnone" style="width: 385px"><a href="http://farm2.static.flickr.com/1202/1280629510_66749b5ab8.jpg?v=0"><img class="size-full wp-image-702" title="satya-dan-keluarga" src="http://www.ruangfreelance.com/wp-content/uploads/2008/11/satya-dan-keluarga.jpg" alt="Satya dan Keluarga - founder of Tulakom.com" width="375" height="500" /></a><p class="wp-caption-text">Satya dan Keluarga - founder of Tulakom.com</p></div>
<p>Saya rasa semua orang yang mengaku <em>web designer</em> pasti mengenal atau pernah mendengar nama <strong>Satya Witoelar</strong>. Pria yang membawa bendera <a href="http://tulakom.com">Tulakom</a> ini sudah berpengalaman sebagai <em>freelance web designer</em> selama kurang lebih <strong>8 tahun</strong>. Tentunya pengalaman bung Satya akan menjadi cerita yang sangat berguna bagi kita semua. Mari kita dengar langsung dari orangnya sendiri.</p>
<p><span id="more-697"></span></p>
<h3>1. Kalau boleh tahu, sejak kapan Anda mulai freelance dan sebelumnya bekerja dimana?</h3>
<p>Saya mulai freelance di masa akhir kuliah saya, sekitar tahun 1998. Saat itu masih sebagai pekerjaan samping karena kemudian saya bekerja full-time sebagai arsitek dan part-time di suatu portal berita bernama <a href="http://koridor.com">koridor.com</a>. Baru pada tahun 2000 saya mulai menggunakan nama Tulakom untuk jasa web design saya, melepaskan diri dari pekerjaan lain, dan menjadi full-time freelancer.</p>
<h3>2. Apakah Anda menikmati bekerja <em>freelance</em>?</h3>
<p>Sangat menikmati, karena saya sudah merasakan bekerja sebagai pegawai perusahaan, jadi tahu apa kelebihan dan kekurangannya.</p>
<h3>3. Apa yang menjadi pertimbangan Anda saat memutuskan untuk menjadi <em>freelance</em>?</h3>
<p>Selain yang sudah pasti seperti bisa bekerja di rumah, bisa membagi waktu sendiri, dan lain-lain, di jaman itu industrinya belum dewasa sehingga pilihan paling efektif justru bekerja perorangan. Efektif dalam arti bisa melayani berbagai ukuran proyek web, baik yang nilainya kecil dan prosesnya santai, maupun yang nilainya besar dengan proses yang lebih kompleks.</p>
<h3>4. Kalau boleh tahu, project website komersial apa yang pertama kali Anda buat?</h3>
<p>Sudah lupa, sampai harus buka catatan. Proyek komersil pertama sebagai sidejob adalah website untuk The Body Shop Indonesia. Setelah menjadi full-time freelancer, proyek-proyek pertama saya adalah untuk berbagai lembaga non-profit, antara lain Koalisi untuk Indonesia Sehat (<a href="http://koalisi.org">koalisi.org</a>).</p>
<h3>5. Apakah mendapat tentangan dari keluarga atau orang-orang terdekat?</h3>
<p>Tidak sama sekali. Mereka mengerti bekerja <em>freelance</em> adalah cara paling efektif untuk pekerjaan macam ini (pada) saat itu.</p>
<h3>6. Apa yang membuat Anda tertarik menjadi freelance? Apakah ada seseorang yang menginspirasi Anda?</h3>
<p>Dalam hal pilihan cara kerja, tidak atas inspirasi orang. Alasan paling utama tetap karena itu mungkin satu-satunya cara untuk saya bisa berkarya dalam industri web design dengan efektif. Bahwa clients sudah mengantri dan <strong>duitnya 5x dari pekerjaan kantor saya</strong>, kita anggap alasan tambahan saja <img src='http://www.ruangfreelance.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<h3>7. Untuk menyelesaikan proyek dari klien, apakah Anda bekerja sendiri atau ada tim khusus?</h3>
<p>Berhubung saya hanya interface designer, dan bukan programmer, tiap proyek saya membuat tim khusus dengan bantuan dari luar, antara lain salah satu pemilik<a href="http://arusmedia.com"> ArusMedia</a> <img src='http://www.ruangfreelance.com/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>(<em>disclosure</em>: <a href="http://tulakom.com">Tulakom</a> pernah menggunakan jasa <a href="http://rajasa.com">Rajasa</a> sebelum wawancara ini)</p>
<h3>8. Sekarang ini banyak sekali web designer di situs <em>freelance</em> yang saling menjatuhkan harga bid (penawaran), apakah Anda setuju dengan cara seperti itu?</h3>
<p>Pihak lain belum tentu setuju, tapi saya sih tidak keberatan, <em>malah</em> setuju dengan permainan harga. Mumpung industrinya masih sangat cair, bagus saja agar calon client mempunyai pilihan yang luas dan agar tiap web designer punya cara (masing-masing) untuk tetap berkarya. Selama <em>scope</em> jelas dan tidak ada penipuan, harga apapun boleh.</p>
<h3>9. Pernah tidak ketika proyek sudah selesai, tiba-tiba klien menghilang dan tidak mendapat bayaran? Bagaimana Anda menghadapinya?</h3>
<p>Setelah dipikir-pikir, pernah juga. Kebetulan itu client lama yang baik, dan proyek yang tidak dibayar nilainya kecil. Jadi biarin deh. Nanti kalau dia butuh bantuan lagi, tinggal saya tagih <img src='http://www.ruangfreelance.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<h3>10. Ada tips untuk menghindari hal seperti di atas?</h3>
<p>Saya masih tidak selalu berhasil menegakkan aturan saya sendiri, yaitu pembayaran harus lunas sebelum website launch. Mestinya itu efektif. Kalau dia masih tidak mau bayar dan rela tidak ada website, salah saya tidak bisa spot CFH* dari awal.</p>
<p>*CFH: Client From Hell</p>
<h3>11. Bisa ceritakan sedikit suka dan dukanya menjadi freelance?</h3>
<p>Apa ya yang bisa saya <em>share</em>? Sukanya bisa bertemu berbagai macam orang dengan ceritanya masing-masing, dan tetap bisa punya waktu banyak untuk keluarga. Dukanya saat hasil karya kita akhirnya kurang terpakai, entah karena keputusan <em>design</em> yang jelek atau alasan apapun. Kalau mau lebih pribadi dari itu harus gabung <a href="http://groups.yahoo.com/group/webpm/">WebPM</a> dulu <img src='http://www.ruangfreelance.com/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>(<em>disclosure</em>: Satya seorang <em>administrator</em> <a href="http://groups.yahoo.com/group/webpm/">WebPM</a>, milis untuk web project managers)</p>
<h3>12. Apakah Anda akan terus menjadi tetap menjadi freelance selamanya atau ada rencana lain untuk ke depannya?</h3>
<p>Rencana lain di luar web design ada, tapi sebagai web designer, untuk saya tidak ada cara selain freelance.</p>
<h3>13. Bagaimana tanggapan Anda tentang perkembangan dunia web design saat ini, khususnya dengan semakin <em>bekennya</em> istilah-istilah seperti <em>Web 2.0</em>, AJAX dan <em>Valid</em> XHTML &amp; CSS?</h3>
<p>Saya suka dengan CSS sejak 1998 dan mulai menggunakan <em>tableless layout</em> dalam proyek saya tahun 2005 (untuk Toyota dan Unilever). Saya sangat setuju dengan <em>Web Standards</em> dari segi <em>benefits</em> seperti mempercepat loading, mempermudah perubahan, dan lebih <em>compatible</em>. Tapi saya tidak ekstrim sampai harus 100% <em>valid</em> tiap kali. Asal benefits tadi tercapai sudah bagus. Masih banyak yang lebih perlu dijaga, misalnya misi dan arsitektur isi <em>website</em> itu sendiri.</p>
<p>Istilah-istilah baru selalu bagus untuk bikin semangat pelaku industri, baik dalam menggunakan maupun meledek yang menggunakan terlalu banyak. Saya yakin banyak yang seperti saya, senang mencoba teknologi dan tren terbaru, tapi saya hanya bicarakan antar pelaku saja, karena tidak mengejar jenis klien yang mudah dibuai dengan istilah-istilah baru. Semoga saya hanya melayani client yang <em>concern</em> utamanya adalah misi dan efektifitas <em>website</em> itu sendiri.</p>
<h3>14. Di saat Anda buntu ide, apa yang biasanya Anda lakukan?</h3>
<p>Jawaban saya kurang seru nih. Beberapa tahun terakhir tidak pernah cari inspirasi dari luar, karena metoda pembuatan <em>web</em> sudah makin teratur. Tidak lagi terlalu <em>think-out-of-the-box</em> seperti tahun-tahun awal. Cukup lihat CSS <em>galleries</em> dan ide akan muncul sebelum tidur. Dan akhirnya tidak jadi tidur <img src='http://www.ruangfreelance.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<h3>15. Anda punya web designer favorit baik di dalam atau luar negeri?</h3>
<p>Dulu punya pahlawan <em>usability</em>, kemudian punya pahlawan CSS. Sekarang tidak ada nama designer favorit yang bisa saya sebut, karena menurut saya sudah tidak ada web designer dengan karakter unik, yang masih <em>mainstream</em>. Satu persatu selalu ada karya yang sangat bagus dan bisa menangkap trend dengan baik, tapi tidak ada nama yang dengan konsisten menghasilkan ciri sendiri.</p>
<h3>16. Last but not least, apakah ada tips, saran atau pesan khusus untuk freelancer Indonesia yang mungkin ingin mencoba keberuntungan di dunia freelance?</h3>
<p>Jangan sendirian. Kalau baru mulai sekarang dan belum punya nama, lebih baik cari satu teman atau lebih, kalau bisa dengan bidang-bidang yang berbeda. Dengan begitu anda bisa saling mengisi, saling memberi semangat, belajar bersama, berkembang bersama. Sekalian bisa bersaing dengan <em>small firm</em> lain untuk proyek yang lebih besar.</p>
<p>Tidak punya teman? Cari aja di WebPM <img src='http://www.ruangfreelance.com/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>&#8211;<br />
Ok, bagaimana tanggapan Anda semua mengenai pengalaman Satya? Makin tertantang? Semoga Anda senang membacanya sesenang saya menwawancarai bung Satya. Siapa lagi ya yang kalian ingin dengar pengalamannya? Komentar saja dibawah dan akan kami coba wujudkan permintaan tersebut <img src='http://www.ruangfreelance.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' />  . Update selalu artikel RuangFreelance melalui <a title="RSS ruangfreelance" href="http://www.ruangfreelance.com/feed/" target="blank">RSS RuangFreelance</a> dan <a href="http://www.feedburner.com/fb/a/emailverifySubmit?feedId=2462631&amp;loc=en_US" target="blank">Email</a> untuk mendapatkan <em>interview</em> terbaru dari jagoan freelance Indonesia.</p>
<p>Maju terus <em>freelancer</em> Indonesia!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ruangfreelance.com/2008/11/28/wawancara-dengan-satya-witoelar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>29</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
<!-- WP Super Cache is installed but broken. The path to wp-cache-phase1.php in wp-content/advanced-cache.php must be fixed! -->