Belajar Freelance Writing dengan Seni Berperang Sun Tzu #1

Strategy Freelancer

Seni berperang milik Sun Tzu sudah banyak diadaptasi untuk diaplikasikan dalam berbagai bidang, mulai dari dunia perdagangan hingga kepemimpinan modern. Bahkan, seorang penulis Indonesia, Ninit Yunita, dalam salah sebuah novelnya pernah pula menyisipkan sejumlah strategi dari seni berperang Sun Tzu untuk mengatasi patah hati.

Kalau orang-orang perdagangan dan penulis novel bisa belajar sesuatu dari strategi perang yang dibuat ratusan tahun lampau, siapa tahu saya sebagai seorang newbie freelance writer juga bisa demikian, pikir saya ketika pertama kali menemukan buku The Art of War (dan mulai membacanya dengan sedikit keengganan). Entah karena sugesti atau bukan, saya memang menemukan beberapa strategi yang menurut saya menarik dan relevan, yang bisa diterapkan dalam freelance writing. Poin-poin tersebut akan dipaparkan dalam dua bagian artikel.

Untuk membuat penilaian mengenai hasil dari perang, kita harus membandingkan berbagai kondisi dari berbagai sisi antagonis.

Saya ibaratkan strategi di atas dengan ide menulis. Kita cenderung merasa setelah menulis satu karya dengan satu ide dari sudut pandang A, maka tidak mungkin akan ada B, C, dan seterusnya, sehingga kita harus menulis dengan mencari ide dan topik lain lagi. Padahal, hampir semua tulisan yang sudah pernah kita buat masih bisa kita modifikasi lagi, entah dengan mengganti dari sudut pandang A menjadi sudut pandang B; atau dengan menggabungkan sudut pandang A, B, dan C; atau dengan mengganti sikap pro kita menjadi sikap kontra; atau dengan menghubungkannya dengan topik lain, dan seterusnya. Dengan teknik ini, kita tidak akan terus-menerus kebingungan mencari ide dan topik untuk dijadikan bahan menulis.

Orang yang tidak bijaksana tidak dapat menggunakan mata-mata.

Orang yang tidak berperikemanusiaan dan murah hati tidak dapat menggunakan mata-mata. Dan orang yang tidak halus dan cerdik tidak dapat memperoleh kebenaran dari mereka. Memang sulit! Benar-benar sulit!”

Strategi perang tersebut mengisyaratkan perlunya riset, riset, dan riset. Tulisan yang baik dan mendalam pada umumnya memerlukan riset yang juga baik dan mendalam. Riset yang baik dan mendalam tidak dapat hanya bergantung pada satu sumber. Dan yang jelas, riset tidaklah mudah, tetapi bisa cukup mudah dengan niat kuat, rasa ingin tahu, dan ketekunan.

Diperlukan paling sedikit tiga bulan untuk membuat tabir pelindung

dan perisai kendaraan dan menyiapkan senjata dan peralatanyang diperlukan. Diperlukan waktu tiga bulan lagi untuk menimbun gundukan tanah di dekat dinding kota. Jenderal yang tidak sanggup mengendalikan ketidaksabarannya akan memerintahkan pasukannya untuk memanjat dinding kota seperti semut dengan hasil sepertiga pasukannya dibantai, sementara kota tersebut tidak berhasil direbut. […]”

Dikaitkan dengan menulis, menulis dengan terburu-buru agar bisa segera dikirim ke penerbit atau diserahkan pada klien tidaklah bijaksana. Tulisan yang baik memerlukan editan, modifikasi, dan proofreading di sana-sini. Bahkan, kebanyakan penulis hebat dan terkenal hampir selalu menyarankan agar suatu tulisan sebaiknya disisihkan dan disimpan dahulu selama beberapa saat, agar pada saat kita mengeditnya lagi, mata dan pikiran kita berada dalam sudut pandang yang lebih segar. Singkatnya, butuh waktu untuk menghasilkan tulisan yang baik. Hal yang sama juga berlaku bila dikaitkan dengan freelancing; meraih kesuksesan dalam freelancing tidak bisa dilakukan secara instan.

Sementara kita pernah mendengar ketergesa-gesaan yang bodoh dalam perang

Kita belum pernah melihat operasi cerdas yang dilakukan dalam jangka panjang. Dalam mengarahkan pasukan yang demikian banyak, kemenangan yang cepat merupakan tujuan utama.”

Meski tulisan yang baik membutuhkan waktu, bukan berarti harus ada terlalu banyak waktu yang dikorbankan. Waktu yang terbaik adalah waktu yang membuat kerja kita efektif dan efisien, terlebih bila kita sedang dikejar deadline. Begitu juga dengan freelancing secara umum; walaupun hasil yang kita inginkan belum tentu bisa diraih dengan cepat, tetapi paling tidak perencanaan yang kita buat harus dapat efektif dan efisien.

Dari keempat strategi perang di atas, yang manakah yang sudah Anda terapkan dalam freelancing/freelance writing? Jangan lupa, masih ada tiga strategi lain di bagian artikel selanjutnya.

Ruang Freelance

Ruang Freelance merupakan wadah para freelancer untuk saling berbagi pengalaman mengenai dunia freelance mereka. Kategori yang dibahas seputar freelance online, money management, paypal, social networking, make money dan banyak lagi. Tapi, kami akan berusaha untuk memberikan yang terbaik disetiap tulisan. Dan, kami juga bukan ahli Bahasa Indonesia, mohon maaf apabila tulisan kami tidak EYD (Ejaan Yang Disempurnakan).

Comments

  1. Dian Ara says

    Wah, mantap nih. Terutama poin terakhir.

    Ingin sekali bisa seproduktif Barbara Cartland, yang sepanjang hidupnya menerbitkan lebih dari 700 judul novel. Atau seperti Jennifer Mattern, freelance writer dari UK, yang sehari sanggup menulis 20 artikel unik dan berkualitas.

    YOSH!

Trackbacks

  1. […] Ritual jumat di blog ini adalah memberikan links yang menarik dari dunia IT dan sekitarnya, mari kita mulai dengan dunia freelance, RuangFreelance memberikan artikel menarik tentang memulai hidup baru sebagai seorang freelancer, dan untuk anda yang berprofesi penulis, jangan lewatkan artikel belajar freelance writing ala Sun Tzu. […]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *