Pada pertemuan FreSh 3.0 yang lalu saya ditanya sama mas Donny B.U. dari Detik. Seorang penulis harus nulis berapa buku dulu untuk bisa menjadi penulis profesional alias hanya hidup dari menulis? Ini memang benar-benar pertanyaan yang agak sulit dijawab karena saya sendiri belum melakukannya hehe. Tapi kalau pertanyaannya bisakah seseorang hidup dari menulis saja? Maka jawabannya bisa! Tau Andrea Hirata dong? Royaltinya dari Laskar Pelangi sudah 2 milyar lebih kira-kira. Siapa yang nggak ngiler?
Ya… itu kan Andrea Hirata. Bagaimana dengan saya?? Saya bisa nggak?! Saya gitu loh! Buku pertama aja belum punya!
Tenang dulu… semua bisa diatur. Mari kita perhatikan langkah demi langkah berikut:
- Riset
Kita yakin banget kita bisa jadi penulis. Kalau melihat tulisan orang lain dalam hati kita suka bilang, “Gini doang mah gue juga bisa!”. Tapi tentu sebagai langkah awal, kita harus smart dalam memilih genre buku. Dari awal kita harus membuat buku yang laris di pasaran. Lihat trend pasar larinya kemana. Main-main ke toko buku atau toko buku online untuk melihat apa yang best seller dan apa saja buku yang direkomendasikan. Tapi kalau memang kita bisanya bkin buku How-To, jangan maksain buat bikin novel roman kali ya. - Agresif
Setelah riset pasar kita jadi tau kalau sekarang yang lagi heboh adalah buku dengan kategori tertentu. Pilih satu buku yang kelihatannya paling oke kualitasnya dalam hal cover, kerapihan editing, kertas oke, dan lihat alamat dan no. telepon penerbit di belakang bukunya.
Telepon ke penerbit tersebut untuk berbicara dengan salah satu editornya. Perkenalkan diri dan utarakan maksud kita untuk memasukkan naskah di penerbitannya. Tanyakan kira-kira mereka sedang membutuhkan naskah non-fiksi yang seperti apa (untuk fiksi biasanya kita harus selesai menuliskannya terlebih dahulu baru kita bisa submit naskah).
Jika mereka tidak bisa menjawab, gantian kita yang coba menawarkan naskah dengan tema tertentu, “Apakah Bapak berminat jika saya menulis tentang ….” Jika dia antusias, tawarkan untuk mengirimkan outline-nya via email sekaligus sampaikan kira-kira kita bisa menuliskannya dalam berapa lama. Biasanya penerbit bersedia menunggu antara 2 minggu hingga 1 bulan masa penulisan. - Target
Setelah buku pertama kita masuk ke penerbit, sekarang kita mulai hitung-hitungan. Bagaimana caranya agar kita bisa fokus menulis saja. Nah, karena pembayaran royalti buku keluar 6 bulan sekali, maka untuk mendapatkan uang setiap bulannya minimal untuk awal kita targetin untuk menulis 6 buku, 1 buku dalam 1 bulan. Proses ini harus berkelanjutan alias kita harus terus menulis karena buku-buku tersebut royaltinya bisa saja menurun dari waktu ke waktu. - Time Management
“Gila, 1 buku 1 bulan! Gue ada kerjaan lain, man!” Ya di atur aja waktunya. Misalnya 1 buku itu kita buat dalam 100 halaman A4, maka dalam sehari kita bikin kira-kira 4 halaman A4. Misal kita dedikasikan waktu setiap pagi, 2 jam aja untuk nulis. Maka kita bisa nulis 2 halaman per jam-nya. Masa nggak bisa? - Networking
Banyak-banyak bergaul di seputaran industri buku atau penulisan. Bisa via milis atau komunitas. Jumlah penerbit di Indonesia sekarang dah banyak banget (berapa ya hehehe), kalau mereka melihat potensi kita, mereka akan rebutan untuk meminta naskah dari kita. - Blogging, Microblogging & Social Networking
Intinya mirip dengan point ke-5 tapi ini nggak harus diseputaran industri buku tapi lebih umum lagi. Ceritakan sekarang lagi nulis apa, berapa buku yang kita punya, tulis hal-hal yang menarik dari proses penulisan ini, sehingga semakin banyak orang yang tahu kamu penulis, semakin terbuka peluang di sana sini. - Siap Mental
Menjadi penulis profesional artinya kita akan kerja kira-kira 8 jam sehari untuk menulis dan menulis. Siapkan mental untuk selalu fokus serta disiplin dalam menulis. Nggak ada istilah, “Lagi nggak mood.” Harus bisa menulis kapan saja dan dimana saja. Buka mata buka telinga untuk ide-ide baru, dan terus asah kemampuan menulis dengan… menulis! Dimana saja, termasuk di Ruang Freelance
Semoga berhasil!
AUTHOR
web
Ollie is the owner of Kutukutubuku.com, Heartyboutique.com, TukuSolution.com, and more online businesses. In her free time, she write novels and how-to books, took pictures for JakartaDailyPhoto.com, design clothes, becoming pro blogger, and making a lot of plans for her next step.
BEST ARTICLES
- Kaos Ruang Freelance, mau? 122 comment(s)
- 3 Cara Mengisi dana ke PayPal 78 comment(s)
- Situs Freelance Online Bagi Calon Freelancer 69 comment(s)
- 7 Tips Berkompetisi dan Mendapatkan Klien di 99designs 68 comment(s)
- 3 Cara Mudah Mendapatkan Klien Secara Reguler 66 comment(s)
- Ingin Jadi Freelancer Hebat? Jadilah Joker! 64 comment(s)
- Cara Asyik Belajar Bahasa Inggris 62 comment(s)
- Daftar 7-digit Kode Bank Indonesia 55 comment(s)
- Diskusi: iPhone atau Blackberry 55 comment(s)
- Diskusi: Siapa Bilang Sukses Harus Nunggu Tua? 53 comment(s)
RELATED ARTICLES
COMMENTS
-
menulis..menulis.. kadang aku masih males menulis…
-
yah, jangan tergesa2 saja dengan menawarkan pada penerbit, agar kualitas tulisan baik, di teliti dulu, hehe…
-
REPLY
vian / Jul 9 at 12:22am
knp ya biasanya bisa nulis kalo lagi in love..cpe deh.. gmna dunk?
-
Oke sekali Mbak Ollie. Meski saya sudah menerbitkan 2 novel saya ingin sekali menulis non Fiksi. Tapi selalu saja mentok saat melakukan pemetaan gagasan. Harus banyak belajar lagi nih ke Mba ollie. He he. Tulisannya sangat bermanfaat, Mbak.














