Mitos Tentang Inspirasi dan Semangat (2)

Lanjutkan bacanya dari artikel sebelumnya “Mitos Tentang Inspirasi dan Semangat (1) ke sini yuk!

shutterstock_180899951

Freelancer Image via Shutterstock

Bekerjalah Meski Jika Kamu Sedang Tak Ingin

Bekerja hanya jika sedang terinspirasi hanyalah untuk seorang bintang musik rock. Lihat saja berapa banyak dari mereka yang berhenti bekerja ketika mereka merasa tak harus melakukannya. Pada akhirnya, toh kita semua ingin dibayar, kan? Kita ingin meluncurkan produk baru dan kita juga ingin sukses. Coba pikirkan ini: Maukah kamu tetap terinspirasi selama 24 jam sehari? Saya gak yakin. Kamu gak akan pernah bisa tidur. Selain itu, jika kita semua punya ide-ide cemerlang, bagaimana saat kita menghadapi sebuah ide buruk?

Kita Tak Dibayar Untuk Terinspirasi, Tetapi Untuk Menghasilkan

Ini adalah kenyataan yang menyedihkan dan hanya berlaku untuk pekerjaan klien, tetapi masih layak untuk disebut. Ketika dorongan berubah menjadi desakan, klien tak peduli apakah kamu terinspirasi atau bersemangat tentang sebuah idea tau proyek (mereka akan berkata bahwa mereka peduli), yang mereka pedulikan hanya hasil akhir. Kenyataannya, hal yang merisaukan mereka adalah membuat pengumuman untuk kantor tentang proyek itu. Ditunggu oleh para atasan, kan? Mereka ingin proyek yang sudah selesai lengkap dan beres pada tanggal yang disetujui. Tak bisa menghindar dari persetujuan ini, kan?

Semakin Keras Bekerja, Semakin Beruntung

Saya berani bertaruh bahwa pernyataan ini benar. (Eh tunggu, ini pernyataan atau motto? Entahlah.) Gak ada keraguan tentang hal ini: Semakin keras kamu bekerja, semakin kamu beruntung. Sekarang, jika ada poster inspirasi yang bagus, cobalah tempel di dinding. Dengan melihatnya setiap hari, sementara tetap menulis dan mendesain, kamu akan menemukan betapa semakin beruntungnya kamu setiap hari. Semuanya tampak mengalir dan terjadi karena kamu tetap mendorong dirimu mengerjakannya. Pernah gak sih menyadari bahwa orang-orang membantumu dengan caranya masing-masing. Terkadang saya menerima tambahan semangat bahkan dari orang yang benar-benar tidak saya kenal. Kalau itu bukan termasuk alasan untuk tetap terinspirasi lagi dan lagi, entah apa itu namanya.

Akhirnya hal ini yang akan mendorongmu saat kamu merasa down, plus membawa inspirasi dan keberuntungan lain tanpa kamu pernah memintanya. Bekerja keras dengan proyek dari klien yang memang kamu ingin kerjakan akan membantumu menyeberangi keputusasaan menuju harapan. Bangunlah sejam lebih awal jika kamu merasa harus dan yakinkan dirimu sendiri pada pekerjaan yang sangat penting itu.  Mostly, para pekerja seni atau desainer atau penulis, tidur lebih awal (pukul sepuluh malam?) bangun pada saat subuh membuat pikiran lebih cemerlang dan kreatif. Inspirasi adalah hal yang tidak tetap. Coba pindah sejenak ke proyek pribadimu yang terkadang dapat membantumu melihat proyek membosankan itu, ketika setiap jam nampak membuatmu ingin menyerah. Alihkan sedikit ketegangan pikiranmu. Tetapi ingat, semakin kamu bergerak, semakin kamu ingin memaksanya segera selesai, dan gotcha! Semakin beruntunglah kamu!

Munculkan, Sambungkan, dan Hilangkan

Cara terbaik untuk mengawalinya adalah dengan memulainya dan cara terbaik untuk mengakhirinya adalah menyelesaikannya, tanpa memerhatikan bagian keringnya antusias dan semangatmu. Jangan bingung untuk memunculkan ide dan menghilangkan cara untuk melanjutkan sebuah proyek yang seharusnya kamu buang sejak lama. Jelas banget gak semua proyek benar-benar memiliki arti buat karirmu. Tapi bagian untuk bertahan hidup sih, butuh kan? I’m talking about working on things that should and need to be finished.

Sebagai penutup, ada kutipan dari James Clear yang bisa direnungi. James sedang berbincang dengan seorang pelatih atletik yang sedang melatih para atlet Olimpiade dan dia bertanya, “Apa perbedaan antara atlet terbaik dengan orang lain? Apa sesungguhnya yang dilakukan orang sukses yang tidak dilakukan kebanyakan orang?”
“Pada satu titik,” jawab sang pelatih, “kesuksesan datang pada siapa pun yang dapat menangani kejenuhan berlatih setiap hari dan melakukan hal yang sama lagi dan lagi dan lagi.”
Keren.

Share pengalamanmu ya!

Mitos Tentang Inspirasi dan Semangat (1)

shutterstock_180424877

Freelancer Image via Shutterstock

Inspirasi dan semangat adalah makanan sehari-hari para freelancer. Tanpa keduanya, para freelancer itu akan hancur, kering ide, dan semakin tidak produktif. Tetapi yang menjadi pertanyaan untuk dirimu sendiri adalah: apa yang akan terjadi ketika semangat dan inspirasi itu lenyap? Apa yang akan kamu lakukan terhadap proyek yang sudah kamu kerjakan dalam empat bulan terakhir dan ternyata tak lagi menarik bagimu? Jika kamu sudah merasakan jungkir baliknya menyelesaikan sebuah proyek, maka kamu akan tahu bagaimana frustrasi dan sakit yang saya maksud. Betul kan? Kamu tahu semua hidup sudah berada di jalannya dan gairah bekerja yang kamu jalani akan dengan mudah menghilang. Kemudian ketika kamu mulai mencari desain yang lebin tinggi, nah itulah momen yang akan membuatmu tertawa konyol terhadap diri sendiri. Pernah?

Para Ahli dan Renungannya

Jika hal itu sesederhana bekerja saat memikirkan bahwa kamu ingin menjadi pekerja seni, tetapi nyatanya kamu tak perlu sampai harus bertanggung jawab dengan semua perenungan itu. Kamu adalah seorang desainer dan hidup berdasarkan semua kenyataan yang selalu tetap sama. Makanan membutuhkan uang untuk membelinya. Menyewa rumah tak bisa kosong melompong, pasti membutuhkan perabot minimal kasur dan meja. Betul? Intinya sih, kita tetap harus bekerja, entah tepat saat kita mendapatkan inspirasi atau tidak. Dalam dunia yang sempurna, kita hanya mengambil pekerjaan yang menyenangkan bagi kita, tetapi dalam kenyataanya kita tak selalu mampu dan pantas untuk kemewahan itu. Bahkan jika proyek dari awal nampak mengalir lancar, tak ada garansi bahwa selama delapan minggu selanjutnya kegembiraan penuh binar-binar itu akan tetap ada.

Seorang desainer bijak berkata, “Tak ada klien atau proyek hebat, yang ada hanya desainer hebat.” Apa maksudnya nih? Saya pikir hal ini maksudnya adalah kita harus tetap berjuan untuk membuat yang terbaik meski itu adalah sebuah proyek biasa. Ya, memang mudah bicara tentang hal ini, tetapi saya sadar bahwa hal ini ternyata benar seiring dengan perjalanan sebagai freelancer yang saya pilih. Kamu?

Target Pribadi Menjagamu Tetap Melangkah

Tahun ini saya memiliki beberapa target. Pertama adalah membeli dengan cara mencicil satu unit apartemen. Gaya ya? Beberapa pertimbangan membuat saya memikirkannya sejak dua tahun terakhir ini. Kedua adalah menerbitkan lagi minimal satu buku pribadi dan satu buku keroyokan (antologi bareng teman-teman). Sepertinya semua target itu hanya ada dalam dongeng dan saya mencoba untuk agak memutar dalam perjalanan menuju karir impian. Maksudnya sih, agar saya tetap termotivasi dan menemukan cara lain untuk tetap maju. Sok iye? :D

Berapa orang yang kamu kenal baru saja memulai menulis sebuah buku? Pasti banyak, kan? Beberapa masalah akan memudar dalam waktu singkat saat kamu menemukan hal baru: proyek lainmu. Ya sama dengan para penulis itu. Awal kegembiraan dan semangat perlahan menghilang dan kamu bergerak untuk membuat obyek baru lebih berkilau. Kamu pasti suka seperti itu. Saya dapat mengangkat tangan dan berkata, “Ya, saya berhasil menyelesaikannya.” Tentu tak hanya sekali atau dua kali, tetapi beberapa kali. Ya, saya sudah tak bisa menghitung berapa proyek yang selesai dan juga beberapa buku yang sudah-dimulai-tapi-tak-pernah-dituntaskan. Don’t even ask me why.

Angkat tangan yang pernah mencoba menulis buku, blog, atau buku harian saat sudah dewasa? Anyone? Untuk siapa pun yang cukup berani menangkat tanganmu – berapa banyak yang menyelesaikan bukunya, atau melanjutkan nge-blog atau menulis buku harian? Sepertinya banyak tangan yang menghilang :D
Sulit ya? Semua berjalan sesuai iramanya dan tentu saja memperlambat inspirasimu tak menolong sama sekali. Masalahnya adalah inspirasi dan semangat saja tak cukup membawa kita ke garis finish.

Dari Inspirasi Ke Kebutuhan

Seseorang pernah curhat bahwa urusan mendesain dan dan meluncurkannya pada khalayak relatif mudah. Dari mulai konsep hingga peluncuran sekitar enam minggu dan mungkin sedikit agak lama. Dia tak pernah punya waktu untuk benar-benar melupakan tujuan akhirnya: meluncurkan desain aplikasi itu. Sekarang, sekian lama setelah dia merasa lahan inspirasinya tertutup, perang sesungguhnya dimulai. Dia harus menjaga disiplin untuk tetap memaksanya bergerak. Harus tetap berpromosi dan meningkatkan pelayanan. Dia juga membutuhkan paksaan untuk tetap menulis blog. Itu pasti sulit. Inspirasi dan semangat telah berpindah tempat dan berubah menjadi sesuatu yang lain, yang benar-benar berbeda. Inspirasi telah bermetamorfosis menjadi kebutuhan. Dia merasa harus membuatnya bekerja dan berguna.

Turn Up, Regardless

Jadi, kalau semangatmu terjun bebas, harus gimana? Mengapa harus memaksa mempertahankan semangatnya? Gak usah peduli dengan proyek yang sedang berjalan? No, I don’t think so. Pertahankanlah karena toh kita gak kehilangan tujuan awalnya. Target sudah jelas, sudah ditulis dan dirincikan, plus sekaligus dicetak (bahkan mungkin berserakan di meja kerja). Jadi, setiap hari, lanjutkan untuk mengerjakan sisa progres dari proyekmu, dan bayangkan apa yang akan dan bisa terjadi. Semangat itulah yang membawa kita menuju target yang sudah tergantikan dengan keinginan untuk meraih akhir tujuan. Nyatanya, saya sendiri tak mau menunggu dengan hanya duduk manis dan bagaimana pun juga saya harus bangkit dan bekerja.

Kita lanjutkan ke bagian kedua ya!

Bersiap Bila Bencana Datang

Sebagai freelancer, ngomongin bencana juga perlu dong. Mengapa?

shutterstock_181550474

Freelancer Image via Shutterstock

Bayangkan ketika kamu bangun pagi, menyalakan komputer / laptop dan menyadari bahwa hard drive mati. Atau mungkin kamu baru kembali dari liburan dan melihat kenyataan kantormu baru saja kebanjiran. It could be happen to anyone. Right?

Bayangan skenario ini akan sulit dan pastinya dihindari oleh semua orang. Tetapi, bagi seorang freelancer, bakalan terasa lebih dahsyat efeknya. Itulah mengapa kamu harus menyiapkan yang terburuk. Selalu miliki rencana cadangan bin darurat adalah prioritas dalam bisnis apapun. Ketika bisnismu mulai bergerak melalui internet, itulah saat kamu mulai memasang tonggak mata pencaharianmu secara lebih global.

Berikut adalah tip untuk membantumu menghindari bencana yang kemungkinan besar bisa terjadi:

Simpan Datamu Secara Otomatis dan Manual

Maksudnya adalah penyimpanan data secara online dan offline. Ribet? Pasti. Hal ini mungkin tampak jelas, tetapi itu mengherankan ketika mengetahui berapa banyak orang masih tidak menyimpan pekerjaan mereka secara teratur. Dari banyaknya kebutuhan file-file tersebut dan banyak pilihan tempat menyimpan data hasil pekerjaan yang ada, sama sekali tak ada alasan untuk menunda perlindungan datanya. Windows 7 memiliki ruang penyimpanan yang terintergrasi dengan OS. Gunakan untuk menjadwalkan penyimpanan cadangan ke external hard drive atau USB flash drive setiap hari setelah selesai bekerja.

Kamu juga bisa mempertimbangkan menyimpan cadangan data secara online. Dengan demikian, kamu punya pelindung lapisan kedua jika hardware gagal atau rusak. Bisa coba pakai Mozy, Carbonite, Dropbox, atau yang langsung terintagrasi dengan Gmail kamu, ya pakai saja Google Drive. Hal ini juga memudahkanmu untuk mengecek semua file melalui perangkat mobile kan?

Apa yang Harus Diselamatkan?

Tentu saja kamu akan menyimpan file inti dari web/blog kamu. Tetapi jangan lupa untuk menyimpan beberapa file penting berikut ini:

List of FTP Sites
Yang satu ini akan menyelamatkanmu dari sakit kepala berkepanjangan. Klienmu mungkin saja memiliki caranya sendiri untuk langsung membuat ruang penyimpanan untuk programnya, atau coba kamu intip ke folder dalam komputermu. Cara lain, pastikan untuk tetap menjaga daftarnya akurat. Hal yang sama berlaku untuk semua file yang lain.

Grafik

Yang satu ini tak hanya penting untuk menyimpan file grafik yang langsung digunakan pada situsmu, tetapi juga berguna untuk menyimpan file PSD yang berlapis itu, juga file Fireworks dan lainnya. Terkadang kamu membutuhkannya di masa mendatang.

Photoshop Filters, Brushes, Actions, Custom Shapes

Semua ini adalah sumber yang membantumu berekspresi saat bekerja, kan? Menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk mencoba mencari satu file yang tercecer itu rasanya gak banget ya? Segera siapkan file cadangannya!

Fonts

Pernah membuka file dalam Photoshop dan menemukan font asli yang sudah kamu gunakan ternyata hilang? Pastikan kamu mempunyai arsip dari semua font yang kamu butuhkan.

Kontrak dan Proposal

Duh, kalau dua file ini hilang rasanya mau melempar laptop ke kawah Tangkuban Parahu ya? Eh, jangan! Sayang! *elus-elus laptop* Ayo, segera simpan copy cadangannya!

E-mail

Ketika banyak orang sudah menggunakan jasa Gmail untuk menyimpan semua pesan secara online, beberapa lainnya masih menggunakan surel klien dengan akun POP yang ‘kuno’ itu. Jika kamu termasuk yang masih menggunakannya, simpan selalu data cadangan surelnya, ya.

Arsip Keuangan dan Aneka Tagihan

Gunakan aplikasi yang paling cocok untukmu. Mungkin bisa mencoba QuickBooks untuk menyimpan datanya, karena otomatis menyimpan salinan ketika kamu menutup programnya. Apapun sistem yang kamu pakai untuk menyimpan data keuanganmu, ini juga termasuk yang penting. Kamu pasti gak akan mau mencari dan meraba-raba berapa banyak utang klien padamu, kan?

Apps & Utilities

Sejak kita sering membeli perangkat lunak secara online, biasanya tidak punya hard copy yang tersimpan pada disket. Simpan arsip penting dari semua perangkat lunak dan nomer serinya. Jika kamu memiliki data penting dalam disket tersebut, simpanlah dalam brankas yang tahan api dan tahan air.

KESIMPULAN

Gampang banget kalau ngomong, “Iya, nanti aja disimpannya.” Mengambil pengalaman berharga dari teman yang baru kehilangan banyak data penting dalam satu waktu, ternyata kejadian juga padaku. Membuang waktu sangat banyak hanya untuk membongkar semua folder, email, tempat sampah (junk/spam folder), dan itu sangat melelahkan. Pastikan semua file penting dan berhargamu sudah disimpan dan disalin dengan baik.
Jadi, ketika ada kerusakan pada hardware kamu atau bencana tak terduga seperti kebakaran / kebanjiran, kamu tidak terlalu stress karena sudah mengamankan semua hasil kerjamu.

Ada yang punya saran atau pengalaman?

Menemukan Klien Sejiwa

Sama seperti mencari pasangan hidup, mencari klien yang cocok dengan kita pun susah-susah gampang tetapi seru dan penuh tantangan.

shutterstock_175678253

Freelancer Image via Shutterstock

Akui saja, menemukan klien adalah hal yang menarik. Menemukan klien yang TEPAT jauh lebih nyata menariknya. Dan, menemukan klien yang tepat dan memiliki uang, ingin bekerja denganmu plus dia adalah orang yang hebat, adalah impian setiap freelance designer.

Ketika klien potensial datang melihat hasil kerjamu, hal pertama yang mereka lihat adalah merekmu, dengan kata lain, DIRIMU. Portofoliomu dapat menjadi tak berarti, tetapi ketika kamu menampilkan sisi dirimu dengan tepat, kamu dapat “menjual diri” sekaligus. Yah, gak diobral juga sih, bro.  :D

Ini rahasia penjualan. Klien tidak mengupahmu karena omong kosongmu. Mereka membayarmu karena kemampuanmu meyakinkan mereka dan dapat diajak bekerja sama dengan baik. Gak ada yang mau bekerja dengan kemampuan terbatas atau di bawahnya.

Kita semua berbeda dan kita akan berterima kasih untuk itu. Kamu dan saya mungkin punya beberapa kesamaan, seperti misalnya, bahwa kita adalah desainer. Kita adalah freelancer atau setidaknya memiliki minat di dunia freelance. Tapi terkadang bukan berarti benar-benar dibutuhkan saat kita bertemu (yah, bukan berarti gak dibutuhkan juga. Kusut ya?)

Ada contoh menarik. A strong-minded can be a by-word for stubborn. Bisa menjadi berkah atau bencana tergantung dengan siapa kamu bekerja. Klien yang baik ingin kamu benar-benar mengetahui apa yang kamu kerjakan. Mereka mau kamu punya pendapat yang kuat tentang pekerjaanmu. Mereka juga butuh rasa nyaman mempercayakan keputusan di tanganmu. Di sisi lain, klien minim pengalaman dapat menjadi tantangan tersendiri. Mereka ingin mengambil alih kontrol. Mereka mau membuat keputusan meski tanpa pengalaman. Kepribadian klien semacam ini dapat langsung memengaruhi hasil akhir proyek dan hubungan di masa depan.

Sadari tipe seperti apakah kamu dan yang terpenting adalah keinginan untuk mengadaptasi karaktermu ke dalam bentuk apapun yang kamu inginkan dirimu terlibat di dalamnya. Bingung? Jangan. Just be yourself.

Akan selalu ada klien (nyaris) sempurna yang tidak peduli bagaimana pun kepribadianmu ketika bekerja. Kemudian, lagi, akan selalu ada klien yang perhatian terhadap proyek kalian dan bergaya santai. Mungkin perlu waktu untuk menemukan klien semacam ini, tetapi kamu akan belajar sangat banyak. Carilah klien seperti ini, yang akan membuat misi proyekmu hanya akan bisa bekerja dengan tipe orang idaman semua orang itu. Kamu akan lebih bahagia untuk itu.

Lumayan jumpalitan rasanya ketika bertemu dengan orang baru. Tetapi ketika hal itu menjadi hubungan antar mitra kerja, saya merasa lebih nyaman, terutama ketika tahu bahwa ada semacam perasaan yang mengatakan, “Hey, kami akan menjadi partner in crime!” Wow, I can even be jovial! Ketika hubungan mitra kerja terbentu, kamu harus melakukan segalanya untuk memupuk hubungan tersebut. Mengapa?

Beberapa alasan:

  • Kesempatan tinggi untuk mendapat proyek baru
  • Kemungkinan tertinggi untuk direferensikan
  • It’s easier to market to happy clients than it is to capture new ones
  • Alasan terpenting yang paling mungkin adalah ungkapan kepuasan yang tak terduga.

Cocokkan Kepribadianmu Untuk Klien Hebat Itu

Cara termudah memulai mencari klien (nyaris) sempurna adalah mencocokkan portofoliomu dengan kepribadian. Jangan takut untuk menjadi diri sendiri yang bersinar melalui portofoliomu. Pede aja, lagi!

Jika kamu orang yang lucu, periang, and always-look-on-the-bright-side (ya kali), maka biarkan hal itu terlihat dalam setiap desain pada portofoliomu. Kau akan menunjukkan dan memikat klien yang suka tipikalmu itu. Tetapi jika, pada sisi lain, kamu lebih serius dan melihat segalanya dengan sikap skeptis, biarkan juga terlihat melalui portofoliomu. Hal ini juga bisa menjadi poin positifmu.

Kamu tahu mengapa kamu harus melakukan hal ini? Karena biar bagaimana pun, klienmu akan melihatnya. Cobalah dan jujurlah dari awal dan semuanya akan menjadi lebih mudah. Ingatlah apa yang pernah diucapkan Ibumu dulu, “Ada seseorang untuk semua orang.” Begitu pula dengan klien. Sekali kamu menyadari siapa pasangan yang cocok untukmu, tetaplah bersamanya selalu. Lakukan hal yang sama pada klien setipe di masa depan. Maksudku bukan tipe pekerjaan yang akan mereka berikan pada kita, tetapi tipe hubungan kerja yang kaupunya dengan mereka. It’s gold. Bekerjalah untuk mendapatkan pasangan klien dengan kepribadian yang cocok denganmu. Tetapi ingat, untuk melakukan semua ini, kamu harus melihat dirimu sendiri terlebih dahulu.
Hal ini tidak mudah. Tentu, hal ini juga bukan berarti mustahil.
Good luck!

Pentingnya Pengelolaan Emosi Bagi Freelancer

Seberapa penting sebuah luapan emosi memengaruhi lawan bicara kita? Coba cek bersama, secuek-cueknya seseorang, pasti terpengaruh ketika kita berbicara. Setidaknya, ‘sedikit terusik’ ingin mengetahui ada apa. Kepo lah gitu ya?

shutterstock_129125819

Freelancer Image by Shutterstock

Kita gembira, tentu orang lain akan ikutan -minimal- tersenyum. Tetapi ketika wajah kita seperti mendapat jutaan masalah (oke, ini lebay), pikiran orang lain pun akan bertanya-tanya. Stres karena apa nih? Pasangannya selingkuh? Baru saja kena PHK? Ditipu investor nakal? Invoice belum cair? Orangtua masuk IGD? Apa pun masalahnya, orang lain merasakan aura tak enak dan mencoba menghindari kita.

Memangnya freelancer bisa stres ya? Kan jam kerjanya bebas. Kan gak punya bos. Kan bisa milih pekerjaan. Kan kan kan… Sama dengan pekerja kantoran yang jam kerjanya teratur, bagi freelancer, ketidakteraturan jam kerja membuat senewen di beberapa waktu. Misalkan ketika melihat orang lain bisa tidur pada pukul satu dini hari, ada yang harus menyunting hasil desainnya karena dianggap tidak pas oleh klien. Sama ketika harus bilang, “Sebentar ya, lihat jadwal dulu” dan menemukan bahwa agenda sudah terisi sementara calon janji yang baru juga sama pentingnya.

Kelelahan karena mengejar tenggat waktu dari klien pasti penyebab stres pertama meski belum tentu yang utama. Penolakan konsep oleh klien itu yang kadang membuat jengkel. Imbasnya lelah fisik dan psikis. Tetapi, semua bisa diatur dengan baik kok.

Mengutip dari tip bermanfaat oleh Andrie Wongso, berikut ada lima langkah yang bisa dicoba oleh freelancer:

  • Pertama, yang harus dilakukan hari ini karena ada tenggat waktu atau memang sudah dijadwalkan sebelumnya.
  • Kedua, yang bisa dilakukan hari ini atau besok. Biasanya ini untuk hal-hal yang bisa dilakukan dalam selang beberapa hari, misalnya berbelanja atau mengunjungi teman.
  • Ketiga, yang bisa dilakukan dalam minggu ini.  Biasanya ini untuk hal-hal yang telah diatur mingguan atau memang kebetulan berkenaan di dalam minggu tersebut, misalnya kegiatan berolah raga di gym.
  • Keempat, yang bisa dilakukan dalam bulan ini. Biasanya ini untuk hal-hal yang telah diatur bulanan atau memang kebetulan berkenaan di dalam bulan tersebut, misalnya janji untuk berbincang-bincang.
  • Kelima, yang bisa dilakukan dalam tahun ini. Biasanya ini untuk hal-hal yang telah diatur setahun sebelumnya, misalnya check-up fisik tahunan.

Mudah? Iya, kalau niat. :lol: Ketika menerima proyek pun, coba cek jadwalmu.  Tenggat dari klien tanggal berapa, apakah ada jadwal lain dengan teman atau saudara di hari ini? Alihkan waktu hingga bisa maksimal dan tak menjadikan tenaga boros percuma.

Mengelola waktu yang dimiliki akan membantu kita mengatur emosi yang sering naik turun seperti lift di mall itu.  Jadi, semoga saja kita bisa bilang, “Stres? Ya kerja aja!” Karena setiap ada waktu luang, itu pun peluang mencari proyek baru atau membantu teman yang sedang kerepotan dengan pekerjaannya. Tak usah memikirkan berapa akan dapat persenan dari temanmu, kerjakan saja dengan hati riang dan lapang. Perjajian tetap dibuat misalnya per gambar atau per proyek. Stres akan menjauh.

Yuk ngopi! :)

Dear Newbie, Please Be Nice

shutterstock_133095065

Freelancer Image via Shutterstock

Ada yang menarik setiap berurusan dengan seseorang yang baru pertama kali terjun menjadi freelancer atau posisinya dibalik, kita yang menjadi si newbie. Kita lihat dari kedua sisinya ya. :)

Menghadapi Si Newbie

Pernah bertemu orang dengan kondisi seperti ini? Membahas tentang teknologi yang kian maju dengan semangat dan nampak meyakinkan, tapi attitude-nya tidak menunjukkan seorang profesional. Disadari ataupun tidak, dia suka merendahkan dengan asal ngomong. Biasanya sih, mereka ini tipe generasi instan yang tahunya semua sudah beres dan siap dinikmati. Lihat saja ke teras rumah Mbah Google, berapa banyak resource yang sangat memudahkan nyaris semua pekerjaan kita? Tanpa perlu banyak berpikir, semua sudah lengkap tersaji. Menjadi semakin tertantang untuk berkreasi atau justru semakin malas? Newbie penyuka tantangan tentu penasaran akan mencoba lebih baik. Sudah terbayang kebalikannya? Copy, paste with less editing, then talking like a master. *uhuk*

Seorang pekerja kreatif bidang apapun, jika hidup dengan keterbatasan biasanya lebih penasaran dan tak betah untuk segera mengulik dan bongkar pasang plus jago banget mencari celah sesempit apapun dan merasa yakin akan ada solusinya. Iya, ibarat terjebak di jalanan yang macet, pasti mata sudah berkilat celingukan mencari satu jalan tikus agar segera terbebas dari masalah. Keterbatasan itu banyak macamnya. Tak ada akses internet? Hidup di zaman ketika Mbah Google belum pindah ke dunia maya (mengalami masa sumber bacaan online terbatas dari Om Yahoo?) atau modal membeli bahannya sangat terbatas meski bisa mengakses internet? Ada keterbatasan lainnya? Orang tangguh semacam ini juga biasanya punya stok sabar yang banyak meski terkadang jenuh menyerang. Memiliki daya juang tinggi dan belum akan berhenti jika hati belum berkata puas. Dan biasanya attitude lebih baik. Tahu dong ya, karena proses itu mendewasakan. *tsaaaahh*

Di zaman sekarang, aneka software dan hardware semakin canggih dan mudah didapatkan. Koneksi internet lebih kencang (laskar pencari wifi gratisan, mana suaranya?), plus tutorial pun kian banyak. Seharusnyaaaaa… Semua fasilitas yang ada di depan mata ini bisa membuat kita semangat untuk menghasilkan karya terbaik, kan? Tetapi lihatlah beberapa newbie sekarang. Mereka berkarya? Ya! But take a look at this point: yang ada makin buruk result-nya. Tersinggung? Jangan. Buktikan kalau kamu bisa lebih baik lagi. ;)

Kita Adalah Si Newbie

Menjadi seorang freelancer, semakin tinggi jam terbang, akan semakin dikenal orang. Pasti. Itu pun secara alami akan membentuk personal branding kita, kan? Tapiiii… Banyak lho freelancer yang ahli di bidang desain grafis, ternyata lulusan Fakultas Ekonomi. Heu. Ada penulis berbakat jebolan Teknik Sipil. Ada juga lulusan Pertanian ternyata berprofesi sebagai interpreter. Ada yang aneh? Nggak ada. Itu passion yang kita cintai dan kita tekuni sebagai profesi serius. Makanya, banyak yang kaget ketika kita dikenal sebagai seorang web programmer ternyata lulusan FKM. Tetapi ada juga kan pekerja kreatif lulusan SMA / sederajat dan hasilnya lebih keren daripada si sarjana? Admit it, please ;) Soalnya banyak yang bilang malu kalau diajar bukan oleh sarjana apalagi melenceng dari jurusannya. Minimal harus bergelar. Ya sudahlah yaaa… Nggak apa-apa. Bukan rezeki.

Not to forget these points:

  • Jangan pernah berhenti belajar. Asah terus keterampilan. Cari referensi baru, berkenalan dengan orang-orang lain lagi di tempat baru.
  • Jadilah diri sendiri. Membual itu sesuatu yang akan membahayakan karirmu sendiri. Buat apa mengatakan kamu lulusan S2 luar negeri padahal hanya D3 kampus lokal? Percaya diri itu wajib. Dipandang sebelah mata? No problem. Mungkin orang lain belum mengenalmu. Inilah waktunya memperkenalkan diri. Sebar kartu nama atau PIN BBM atau nomer Whatsapp.
  • Tidak usah malu jika memang kemampuan masih terbatas. Tapi beranikan diri untuk berkata, “Saya siap belajar. Mohon bimbingannya.” *kemudian membungkuk ala benteng Takeshi*
  • Terakhir, jangan lupa terus memperbarui portfolio, yes! Setiap hasil belajarmu coba ditampilkan juga. Terkadang, ada klien yang justru lebih tertarik dengan sample dan menginginkan karya contoh atau bahkan yang menurutmu gagal, lho ;) Jangan dibuang!

Apa pengalamanmu sebagai newbie? Dicaci maki? Dicuekin?

Bagaimana kamu menghadapi seorang newbie  belagu? Hilang selera makan? :D

Kita akan merasakan dua posisi itu secara bergantian sebelum kerajaan api menyerang. *eh* Selamat menjadi guru dan murid di saat yang sama! Karena ketika berbagi ilmu, justru akan semakin terasa kita pun membutuhkan lebih banyak ilmu yang akhirnya membuat kegiatan mengajar dan diajar menjadi semacam zat addictive untuk diri sendiri. Percaya?

Freelancer dan Pasangan Sejatinya: Deadline

shutterstock_139225733

Freelancer Image via Shutterstock

Berbicara tentang freelancer tidak akan pernah terpisahkan dengan satu kata berikutnya: deadline. Garis mati? Iya, mati deh, kalau tidak diselesaikan tepat waktu. Karena, setiap melihat kalender atau jam, apa yang pertama diucapkan? “Mati deh gue!” :lol:

Setiap ditanya mengapa belum dikerjakan, alasannya karena waktu masih lama atau proyek sebelumnya masih dikerjakan atau sedang mencari inspirasi (basi) dan berbagai excuse lain.  Memang ada bakat sebagai seorang deadliner sejati ya? :)

Take a look at this for a moment. Sepanjang yang saya pahami (eh, boleh ya disanggah kalau memang ada tambahan atau koreksi), ada tiga macam tenggat waktu yang sering dihadapi para pekerja (bebas) lepas ini.

“Besok Pagi. Pukul Tujuh. E-mail CC Ke Mr. X”

Oh, crap! Mendapat surel pada pukul sebelas malam ketika laptop sudah siap untuk dimatikan dan kita hanya punya dua ekspresi: tertawa miris atau melempar bolpoin dengan jengkel. (Eh, lempar BB Z10 juga nggak apa-apa sih kalau nilai proyeknya gede. Hihihi…) Lari ke dapur untuk membuat kopi atau ke kulkas dan mengambil sebotol minuman penambah energi? Bebas! Oh, saya selalu mendadak mulas jika hal ini terjadi. Tapi abaikan segala lebay itu, mulai kerjakan atau invoice tak akan pernah menggemukkan rekening Anda!

“Anda Punya Waktu Tiga Minggu Untuk Menyiapkan Bahan dan Presentasi”

Beres! Mempunyai banyak waktu untuk mencari referensi. Banyak waktu. Ulangi? Nope! Waktumu tak banyak, dude! Jika 21 hari itu Anda anggap masih lama, bersiap tersadar ketika sudah memasuki hari ke delapan belas dan semua bahan yang dibutuhkan belum tersedia. “Tenang, An.” Ini sering sekali saya dengar. Iya, sila. Asal jangan meminta saya untuk menemanimu begadang. Nanti diomelin Bang Haji.

“Revisi Kedua Dengan Catatan Tambahan”

*Glek* Rasanya baru mengirimkan semua file dengan perbaikan, belum dua jam berlalu sudah meminta revisi kembali? Apa sih yang kurang? Bukankah mereka yang sudah menyetujui perbaikan pertama? Setelahnya dikembalikan dengan highlight dan catatan yang bikin dongkol? Ok, nikmati sajalah. Terkadang, klien melakukan hal ini untuk menantang Anda mengeluarkan karya terbaik lho. Apalagi, jika klien itu sangat mengenal Anda, tentunya tak akan puas bila tugas yang diselesaikan hanya bisa dinilai dengan angka 65.

Sudah pernah merasakan ketiga situasi tersebut? Saya, ya. Untuk bagian kedua, sebanyak apapun waktu yang klien berikan, rasanya selalu terasa kurang. Ide-ide lain bermunculan dan memaksa untuk diikutsertakan. Cek kembali timeline tugas Anda. Bila sekiranya ide baru itu bisa dimasukkan pada tugas yang sedang dikerjakan, sila. Bila tidak, jadikan cadangan jika klien menginginkan pilihan lain.

Sering mendengar bahwa dalam keadaan terjepit, kita bisa menjadi lebih kreatif? Belum pernah? Buktikan hal itu suatu saat nanti. You’ll never believe in your own self can make a decision faster than you think. Itu namanya the power of kepepet. Berdamailah dengan tenggat waktu dan kerjakan. Memangnya punya pilihan lain? Ada. Tolak saja proyeknya.

Mungkin teman-teman ada tambahan lain? Silakan. :)

Godaan Online Shop Itu…

shutterstock_138815156

Freelancer Image via Shutterstock

Membuka internet pada jam berapa pun, godaan terbesar selain update status di media sosial adalah… Belanja! Promo bertebaran di situs mana pun yang kita buka. Mulai iklan baris, banner, hingga pop up. Belum ditambah dengan update dari teman-teman yang memang pelaku bisnis online shop. *lirik saldo rekening*

Ini pun godaan bagi freelancer yang biasanya bekerja online hampir seharian di depan komputer yang terhubung dengan internet. Buka sumber referensi mana pun, akan muncul berbagai tawaran menggoda iman. Mulai dari penawaran rumah murah, pulsa gratis kalau mengikuti sebuah lomba, alat memasak murah, diskon penerbangan terbatas, gadget terbaru, dan entah apa lagi. Akan ada perhatian kita yang sedikit tersita ke satu promo itu. Kalau saya, biasanya sih nggak akan dilihat detil iklannya. “Close Ad” adalah pilihan.

Saya nggak se-impulsif itu untuk belanja online, meski kadang geregetan untuk membeli. Kalau sudah mendesak dan saya juga malas keluar rumah, baiklah mari memilih dan siapkan token e-banking. Saya tetap lebih suka berjalan ke luar rumah untuk mencari barang yang saya butuhkan. Apalagi, dengan keluar rumah pun saya juga bekerja. Mencari ide, mencari peluang, dan mencari suasana baru. Freelancer yang malas mengangkat bokongnya dari kursi seperti saya memang sesekali harus memaksakan diri keluar dari zona nyaman. Yaiyalah, lama-lama kalau tidak bergerak, menjadi pemalas juga dong. :mrgreen:

Kembali ke online shopping, ada tip sederhana dari saya. Jauhkan dompet berisi kartu kredit dan debit dari jangkauan Anda. Melihat dan memilih kartu mana yang akan Anda gunakan itu akan menyita waktu yang seharusnya digunakan untuk menyelesaikan proyek. Betul?

Kedua, mungkin ini yang agak susah. Jangan membuka m-banking atau e-banking.  Tokennya dimasukkan tas dan taruh di atas lemari. Lebay, ya? :D Soalnya, saya punya beberapa teman yang sangat impulsif berbelanja online dan setelah klik konfirmasi pembayaran, dia menjerit di linimasa Twitter atau Path atau Facebook :lol:

Ketiga, yang paling mudah Anda lakukan. Gambar iklannya jangan Anda klik. :mrgreen:  Sedang buka sebuah situs, ada pop up dengan warna menyolok. Saya memilih tidak peduli, tetapi ada teman yang langsung menghubungi ketika saya memberitahu tentang promo terbaru itu. Dia sudah membelinya. :D

Baiklah, hati-hati dengan semua bentuk promo di internet ketika Anda baru saja mendapat invoice dari klien.  Jangan impulsif, tetap berjaga di kala kemarau proyek nantinya.

Siapa yang mau berbagi pengalaman, menghabiskan honor proyek dalam sekali belanja? ;)

Belajar di Depan Layar Komputer

shutterstock_77121955

Freelancer Image via Shutterstock

Masih ingat bagaimana di tahun-tahun ke belakang, belajar berkutat seputar buku, pensil, penggaris, penghapus, dan satu benda yang paling hobi saya habiskan: tipp-ex. :lol: Dulu, pertama kali saya menggunakan penghapus cair untuk pulpen itu ada dua botol yang dibawa ke sekolah. Satu botol cairan berwarna putih dan satu lagi bening yang berguna untuk mencairkan si putih yang mulai mengering. (tunggu, ini saya pakai bahasa mbulet nggak jelas, ya? :mrgreen: )

Ketika memasuki dunia kampus, tipp-ex itu masih ada dengan bentuk yang lebih canggih, seperti selotip, tapi penggunaannya pun jarang. Maklum, mulai berkenalan dengan MS Office.  Tombol “delete” dengan mudah ditekan tanpa harus merasa menjadi jorok karena tulisan ditimpa tipp-ex tebal. Benar, kan? Iya aja biar cepat. :D

Apa bedanya belajar menggunakan kertas dan menggunakan program komputer? Bagaimana keuntungan dan kerugiannya? Anda sendiri yang menilai. Lebih nyaman yang mana. Dari dulu, saya lebih suka mengumpulkan ide tulisan di sebuah notes yang saya bawa ke mana pun pergi. Ternyata teman saya komikus dan arsitek juga ada yang masih suka menggambar dengan kertas dan pensil. Meski hasil akhir dipercantik melalui program komputer, “Membuat sketsa dengan pensil itu rasanya seksi, An,” kata seorang teman sampai kehabisan kata dan memilih ‘seksi’ sebagai ungkapan rasanya. :D

“Belajar berjam-jam di depan layar komputer itu melelahkan, An,” sang arsitek memberi alasan.  Pun ternyata sampai sekarang, bekerja di depan layar yang sama lebih dari 12 jam sehari, antara memudahkan dan merepotkan. Iya sih, saya juga merasakan hal yang sama. Tetapi entah mengapa, seperti ada “magnet” yang menuntut agar saya tetap berada di depan komputer. Menulis semua draft di notepad atau MS Word dan membuat banyak folder. Alasan naifnya adalah, lebih mudah meng-copy paste dan menyuntingnya. Kalau ditulis di buku / kertas, menyalin ulang ke komputer rasanya malas maksimal. No? :)

Belum lagi alasan tambahan, sumber materi untuk belajar ilmu baru lebih mudah ditelusuri lewat halaman rumahnya Mbah Google, ya? Alih-alih jalan ke toko buku malas membayangkan macetnya, mending cari referensi serupa tinggal klik sambil duduk di teras. Begitu? Saya banget. Hihihihi…

Tapi ternyata, secanggih-canggihnya kemudahan belajar di internet, saya masih termasuk tipe yang suka mencium aroma kertas saat belajar dan bekerja. Ketika belajar tentang EYD atau diksi di internet begitu melelahkan dan membuat saya menggerutu, membuka kamus yang tebalnya sepuluh senti ternyata malah membuat betah.

Salah satu bagian dari e-learning yang saya suka adalah webinar.  Kelas dunia maya yang bagi saya sangat seru karena berkumpul dalam satu ‘ruangan’ dengan peserta dari berbagai lokasi.  Menyenangkan karena diskusi berjalan seru.  Hanya dengan modal koneksi internet yang stabil, belajar bisa dilakukan sambil ngopi, toh?

Baiklah, apapun tipe belajar Anda, pastikan ilmunya bermanfaat untuk menambah daftar portofolio CV kelak. Okay? ;)

Hanya Seorang Wanita Biasa

shutterstock_115326697

Freelancer Image via Shutterstock

Ngobrol ringan yuk?

Di zaman sekarang, ketika jarak semakin terasa dekat karena meeting bisa dilakukan melalui Skype, waktu terasa sangat efisien karena bisa bekerja di tengah kemacetan luar bi(n)asa di jalan raya (bahkan di jalan tol?), dan  mudahnya bekerja dari mana saja asalkan terkoneksi internet, maka apa yang (hampir) tidak mungkin?

Itu juga yang akhirnya banyak dilirik oleh para wanita masa kini. Tuntutan untuk membantu memenuhi kas keuangan keluarga, tetap dekat dengan anak, tetapi juga ingin tetap bisa mengaktualisasikan diri sesuai passion dan cita-cita. Terdengar klasik dan basi? Nyatanya yang demikian masih dikejar oleh wanita modern.

Ada adat dan tradisi yang tetap menuntut wanita bisa membagi waktunya dengan baik. Wanita bekerja bukan lagi hal yang tabu, bahkan mendapat tempat terhormat seperti CEO, Presdir, Perdana Menteri, dan sebagainya.

Beberapa teman dan kenalan yang bekerja kantoran selalu curhat kalau ingin rasanya tetap bisa berdekatan dengan si kecil di rumah, tapi tetap bisa bekerja. Saya tanya, apakah sudah pernah mencoba mengambil pekerjaan paruh waktu? Sekadar mencoba satu proyek kecil misalnya. Beberapa tertarik  tetapi terbentur waktu. Saya menyarankan ambil yang tenggatnya tidak terlalu ketat.

Bagaimana dengan teman-teman yang benar-benar bekerja dari rumah? Membuka butik sendiri, merintis usaha katering, atau yang tak perlu modal banyak seperti penjual pulsa. Mereka juga, terkadang, masih tetap sulit berinteraksi dengan anaknya sendiri jika kondisinya mengharuskan keluar rumah untuk bertemu agen, klien, supplier, dan calon pelanggan yang dilakukan dari pagi hingga malam hari.

Tetapi mereka tetap ibu rumah tangga biasa dengan segala keterbatasan tenaga dan waktu. Maka dibutuhkan sebuah agenda manajemen untuk merapihkan segala pekerjaannya. Kapan menyiapkan sarapan untuk suami dan anak, kapan mengirim surel kepada klien, kapan menghadiri arisan ibu kompleks, kapan mengantar ibu untuk terapi rutinnya,  kapan ke salon, kapan membeli bahan untuk proyek, dan kapan harus tidur. Jujur, kalau saya jangan ditanya kapan mandi. :mrgreen:

Setangguh apapun seorang wanita, ada saatnya untuk mengambil waktunya sendiri, diam tanpa kehadiran siapa pun. Bahkan pasangan atau sahabat. Benar-benar sendiri. Meluapkan emosi agar seluruh tanggung jawab tidak terkena imbasnya.  Ke pantai, ke mall, ke salon, ke gunung, atau bahkan di kamar tidur saja. Kunci pintu, menarik napas dalam-dalam, meminum segelas air putih hangat, berdoa, menangis, membaca buku, menulis, atau menonton setumpuk DVD.

Nah, setelah merasa beban pikiran dan perasaan mulai ringan, maka akan bisa berpikir jernih, mengambil keputusan tanpa emosi, dan siap memulai segalanya dengan baik. Kembali cek jadwal tenggat proyek dari klien, menyiapkan makan malam keluarga, dan mulai mencari proyek baru.

Hidup ini terlalu menyenangkan untuk dipenuhi dengan keluhan apapun. Betul? Semua membutuhkan proses.  ”He who fails to plan is planning to fail.” Begitu kan, kata opa Winston Churchill? Rencanakan segalanya dengan baik, bahkan untuk menyendiri. Alarm tubuh biasanya sudah memberitahu kita saat lelah dan suntuk mulai melanda. Segera jadwalkan untuk rehat sejenak. Jangan menunggu ketika otak sudah ngebul, marah-marah, akhirnya semua pekerjaan berantakan.

Jadi, para wanita pekerja full time atau freelance, bagaimana cara Anda mengatur waktu dan energi agar bisa tetap tampil prima?