Mendongeng Bagi Para Freelancer

Mungkin rasanya aneh ya, ngapain juga freelancer  harus mendongeng? Memangnya apa hubungannya dengan pekerjaan mereka? Mendongeng adalah awal terbukanya jaringan bisnis. Percaya?

shutterstock_178554845

Freelancer Image via Shutterstock

Beberapa tahun lalu ada cerita, seseorang bekerja sebagai in-house copywriter dan desainer untuk sebuah firma pemasaran terkenal. Ketika ada peluang untuk melamar ke sana, dia mencobany ameski tak memiliki surat referensi dari mana pun, tetapi akhirnya bisa mendapatkan pekerjaan tersebut, mengalahkan banyak saingan yang lebih memenuhi syarat. Mengapa dia bisa terpilih? Bosnya menyukai ceritanya.

Pria tersebut tidak memiliki pengalaman bekerja dalam sebuah firma dan tak pernah terlalu terlibat secara teknis sampai tuntas dalam sebuah pekerjaan. Tetapi dalam surat lamarannya, dia mengatakan dapat berkomunikasi dengan lancar dan efektif kepada para pelanggannya, juga menempatkan rasa nyaman bagi mereka ketika berbicara. Kisah yang kita ceritakan pada calon atasan, tak peduli memiliki pengaruh atau tidak, telah membuat kita sukses membuat mereka berpikir. Cerita dan obrolan itu dapat membangun atau menghancurkan karirmu, jadi sangat penting untuk memilih dan mengembangkannya secara bijaksana.

Apakah Mendongeng Itu?

Kamu pasti berpikir, “Saya seorang desainer, mengapa perlu khawatir untuk bercerita?” Tetapi mendongeng lebih dari sekadar diam duduk dan menulis dongeng kepahlawanan atau percintaan. Kita menemukan dongeng dan kisah di setiap aspek kehidupan kita, seperti ketika kita melihat seorang pria menarik anjing di persimpangan jalan yang sibuk, atau ketika kita melihat demo mahasiswa yang membawa aneka spanduk dengan beragam tulisan. Semua hal itu adalah cerita yang menjadi penyebab manusia mengambil tindakan dan memengaruhi lingkungan sekitarnya. Itulah kisah yang sesungguhnya.

Saya berani bertaruh, dalam setiap film yang kamu tonton akan terlihat seperti ini: Ada seseorang yang bereaksi terhadap sesuatu yang terjadi di dekatnya, yang menyebabkan hal lain terjadi dan melibatkan orang itu. See? Cerita tak sebegitu rumitnya karena semua orang sudah mengetahui dasarnya. Kuncinya adalah menggabungkan potongan ceritanya secara efektif ketika kamu berkomunikasi dengan klien atau pembaca atau pendengarmu.

Bicarakan dengan Jelas Kepada Klienmu

Beberapa tahun lalu, penulis cerita Emma Coats menulis seri penting tentang “dasar cerita” dalam tweet, sebuah pedoman saat dia bekerja di Pixar untuk membuat narasi yang menggenggam seluruh cerita. Banyak dari nasihatnya adalah menyederhanakan dan fokus pada inti yang menguasai cerita secara luas. Contohnya adalah nomer #14:
“Mengapa kamu harus menceritakan kisah INI? Apa keyakinan yang membakar dirimu dan membuat ceritamu membutuhkannya? Itulah intinya.”

Apa hal inti yang ingin kaucoba sampaikan pada pendengarmu? Ketika kamu bertemu klien untuk berdiskusi, apa sih yang kamu harapkan dari mereka? Kamu tidak menjual sebuah situs atau kampanye merek pada mereka. Kamu menjual cerita, mimpi, atau ide. Klienmu bermimpi sesuatu yang lebih besar daripada situs atau merek. Mimpi mereka adalah tentang pelanggan setia yang mengatakan hal-hal dengan menyala-nyala tentang mereka. Mereka bermimpi mengubah dunia melalui pekerjaan mereka. Mereka bermimpi tentang semua itu dan sebagai desainer, tugasmulah untuk menemukannya.

Kata-kata Atau Gambar?

Sebagai desainer, gambar sangatlah penting dalam pekerjaan. Desainer selalu menggunakan banyak gambar untuk menceritakan aneka cerita sepanjang waktu – mulai dari seorang ibu yang tersenyum mendorong kereta belanja dalam sebuah iklan cetak hingga matahari yang tampak mencium hasil panen pada sebuah situs tentang pertanian. Lantas bagaimana dengan kata-kata? Kamu mungkin berpikir menulis adalah pekerjaan para penulis, dan ya memang, tetapi bukanlah akhir dari segalanya. Bekerja dengan mengetik artinya bekerja dengan mengatur kata-kata hingga bisa merebut perhatian pembaca. Seperti gambar, kata-kata dapat menceritakan sebuah kisah yang berbeda, tergantung dari sudut pandang siapa dan bagaimana cara melihatnya. Tipografi adalah salah satu media paling ekspresif untuk menjelaskan maksud kita. Desainer cetak tipe tradisional (bekerja sesuai template deh) sudah memiliki pegangan khusus untuk setiap ide tulisan mereka, tetapi untuk seorang web designer, bisa dan biasa mengabaikan arahan dan berkreasi sesuka hati.

Lantas bagaimana dengan kata-kata yang sebenarnya? Hanya karena kamu bukan penulis profesional bukan berarti kata-katamu tak berharga. Banyak desainer dan seniman yang telah melambung tinggi dan sukses luar biasa hanya karena mereka menulis atau membuat blog yang ternyata berharga bagi pembacanya. Ambil contoh, buku larisnya Austin Kleon yang berjudul Steal Like An Artist. Kleon menulis di blog tentang transkrip percakapan berilustrasi di Broome Community College New York. Tak lama, postingan itu menyebar, dan dalam beberapa tahun saja, versi cetaknya terjual gila-gilaan. Kleon memiliki kisah yang hendak diceritakan yang memengaruhi banyak orang – bukan karena dia dibayar untuk menceritakannya, tetapi karena itu adalah kenyataan sederhana yang ingin dibagikannya.

Kesimpulan

Hal terpenting yang dapat kamu lakukan sebagai seorang pekerja kreatif profesional menangkap imajinasi pendengarnya. Seorang pengkhayal memiliki narasi dan menceritakan apapun yang dia bisa. Ingat ya, tak ada seorang pun yang membeli keahlianmu – mereka membeli ide, pandangan, dan mimpi bagaimana mereka bisa meraih bisnis dan tujuan dengan bantuanmu. Mereka membeli kisah yang menceritakan mengapa, bukan apa, atau apa yang kaulakukan. Gunakan kepribadian, semangat, dan drama dari ceritamu untuk menginformasikan desainmu. Semakin spesifik ceritamu, semakin banyak yang memintamu sebagai desainer mereka.

Jadi, mari kembangkan imajinasi dengan mendongeng. Bukankah kreativitas semakin terasah karena kita terbiasa dengan khayalan? Bagaimana denganmu?

Tip Manajemen Waktu Untuk Si Super Sibuk

Guys, pernah nggak ngerasa 24 jam sehari itu nggak cukup? Kerjaan ini belum kelar, itu belum beres, belum lagi tugas-tugas lain yang mengantri minta dibereskan sementara deadline semakin dekat.  Fiuhh… Kepala rasanya mau pecah dan tak tahu mana yang harus diberesin duluan. Kalau bisa rasanya pingin merengek pada Tuhan supaya diberi tambahan waktu sehari menjadi 25 atau 26 jam, but it’s absolutely impossible khan? So, apa yang harus kita lakukan supaya tidak mengalami hal kayak gitu? Yup, melakukan manajemen waktu yang baik itulah jawabannya!

shutterstock_179698964

Freelance Image by Shutterstock

Berikut adalah beberapa cara yang bisa kamu lakukan supaya waktumu ter-manage dengan baik:

Buatlah Priority List

Buatlah priority list atau daftar tugas yang dibagi menjadi 4 kategori besar yaitu Penting-Mendesak, Penting-Tidak Mendesak, Tidak Penting-Mendesak, dan Tidak Penting-Tidak Mendesak. Jadi, kelompokkan tugas-tugasmu yang bejibun ke dalam empat kategori tersebut. Kerjakan prioritas pertama yaitu kelompok tugas penting-mendesak, kemudian dilanjutkan kelompok tidak penting-mendesak, lalu penting-tidak mendesak, dan terakhir yang tidak penting-tidak mendesak.

Menepati Schedule

Setelah membuat priority list buatlah deadline kapan tugas harus diselesaikan untuk masing-masing tugas yang kamu masukkan ke dalam priority list. Tepati deadline yang telah kamu buat, agar jadwal pekerjaan tidak bebenturan atau menumpuk di akhir tenggat waktu.

Stop Menunda

Jangan pernah menunda apapun yang bisa kamu kerjakan sekarang. Do it now! Karena menunda dapat menyebabkan tugasmu menumpuk di kemudian hari dan selanjutnya bisa membuatmu  pening tujuh keliling karena dihadapkan dengan deadline yang hampir bersamaan.

Letakkan Barang-barangmu Dengan Rapi

Apa hubungannya meletakkan barang dengan manajemen waktu? Mungkin terbesit pertanyaan demikian. Eits, ternyata meletakkan barang dengan rapi bisa membantumu agar tidak perlu kehilangan waktu sia-sia hanya untuk mencari barang-barang sepele yang dibutuhkan saat itu. Buatlah folder yang rapi sesuai dengan kategori pekerjaanmu. So, cukup membantu menghemat waktu bukan?

Mitos Tentang Inspirasi dan Semangat (2)

Lanjutkan bacanya dari artikel sebelumnya “Mitos Tentang Inspirasi dan Semangat (1) ke sini yuk!

shutterstock_180899951

Freelancer Image via Shutterstock

Bekerjalah Meski Jika Kamu Sedang Tak Ingin

Bekerja hanya jika sedang terinspirasi hanyalah untuk seorang bintang musik rock. Lihat saja berapa banyak dari mereka yang berhenti bekerja ketika mereka merasa tak harus melakukannya. Pada akhirnya, toh kita semua ingin dibayar, kan? Kita ingin meluncurkan produk baru dan kita juga ingin sukses. Coba pikirkan ini: Maukah kamu tetap terinspirasi selama 24 jam sehari? Saya gak yakin. Kamu gak akan pernah bisa tidur. Selain itu, jika kita semua punya ide-ide cemerlang, bagaimana saat kita menghadapi sebuah ide buruk?

Kita Tak Dibayar Untuk Terinspirasi, Tetapi Untuk Menghasilkan

Ini adalah kenyataan yang menyedihkan dan hanya berlaku untuk pekerjaan klien, tetapi masih layak untuk disebut. Ketika dorongan berubah menjadi desakan, klien tak peduli apakah kamu terinspirasi atau bersemangat tentang sebuah idea tau proyek (mereka akan berkata bahwa mereka peduli), yang mereka pedulikan hanya hasil akhir. Kenyataannya, hal yang merisaukan mereka adalah membuat pengumuman untuk kantor tentang proyek itu. Ditunggu oleh para atasan, kan? Mereka ingin proyek yang sudah selesai lengkap dan beres pada tanggal yang disetujui. Tak bisa menghindar dari persetujuan ini, kan?

Semakin Keras Bekerja, Semakin Beruntung

Saya berani bertaruh bahwa pernyataan ini benar. (Eh tunggu, ini pernyataan atau motto? Entahlah.) Gak ada keraguan tentang hal ini: Semakin keras kamu bekerja, semakin kamu beruntung. Sekarang, jika ada poster inspirasi yang bagus, cobalah tempel di dinding. Dengan melihatnya setiap hari, sementara tetap menulis dan mendesain, kamu akan menemukan betapa semakin beruntungnya kamu setiap hari. Semuanya tampak mengalir dan terjadi karena kamu tetap mendorong dirimu mengerjakannya. Pernah gak sih menyadari bahwa orang-orang membantumu dengan caranya masing-masing. Terkadang saya menerima tambahan semangat bahkan dari orang yang benar-benar tidak saya kenal. Kalau itu bukan termasuk alasan untuk tetap terinspirasi lagi dan lagi, entah apa itu namanya.

Akhirnya hal ini yang akan mendorongmu saat kamu merasa down, plus membawa inspirasi dan keberuntungan lain tanpa kamu pernah memintanya. Bekerja keras dengan proyek dari klien yang memang kamu ingin kerjakan akan membantumu menyeberangi keputusasaan menuju harapan. Bangunlah sejam lebih awal jika kamu merasa harus dan yakinkan dirimu sendiri pada pekerjaan yang sangat penting itu.  Mostly, para pekerja seni atau desainer atau penulis, tidur lebih awal (pukul sepuluh malam?) bangun pada saat subuh membuat pikiran lebih cemerlang dan kreatif. Inspirasi adalah hal yang tidak tetap. Coba pindah sejenak ke proyek pribadimu yang terkadang dapat membantumu melihat proyek membosankan itu, ketika setiap jam nampak membuatmu ingin menyerah. Alihkan sedikit ketegangan pikiranmu. Tetapi ingat, semakin kamu bergerak, semakin kamu ingin memaksanya segera selesai, dan gotcha! Semakin beruntunglah kamu!

Munculkan, Sambungkan, dan Hilangkan

Cara terbaik untuk mengawalinya adalah dengan memulainya dan cara terbaik untuk mengakhirinya adalah menyelesaikannya, tanpa memerhatikan bagian keringnya antusias dan semangatmu. Jangan bingung untuk memunculkan ide dan menghilangkan cara untuk melanjutkan sebuah proyek yang seharusnya kamu buang sejak lama. Jelas banget gak semua proyek benar-benar memiliki arti buat karirmu. Tapi bagian untuk bertahan hidup sih, butuh kan? I’m talking about working on things that should and need to be finished.

Sebagai penutup, ada kutipan dari James Clear yang bisa direnungi. James sedang berbincang dengan seorang pelatih atletik yang sedang melatih para atlet Olimpiade dan dia bertanya, “Apa perbedaan antara atlet terbaik dengan orang lain? Apa sesungguhnya yang dilakukan orang sukses yang tidak dilakukan kebanyakan orang?”
“Pada satu titik,” jawab sang pelatih, “kesuksesan datang pada siapa pun yang dapat menangani kejenuhan berlatih setiap hari dan melakukan hal yang sama lagi dan lagi dan lagi.”
Keren.

Share pengalamanmu ya!

Mitos Tentang Inspirasi dan Semangat (1)

shutterstock_180424877

Freelancer Image via Shutterstock

Inspirasi dan semangat adalah makanan sehari-hari para freelancer. Tanpa keduanya, para freelancer itu akan hancur, kering ide, dan semakin tidak produktif. Tetapi yang menjadi pertanyaan untuk dirimu sendiri adalah: apa yang akan terjadi ketika semangat dan inspirasi itu lenyap? Apa yang akan kamu lakukan terhadap proyek yang sudah kamu kerjakan dalam empat bulan terakhir dan ternyata tak lagi menarik bagimu? Jika kamu sudah merasakan jungkir baliknya menyelesaikan sebuah proyek, maka kamu akan tahu bagaimana frustrasi dan sakit yang saya maksud. Betul kan? Kamu tahu semua hidup sudah berada di jalannya dan gairah bekerja yang kamu jalani akan dengan mudah menghilang. Kemudian ketika kamu mulai mencari desain yang lebin tinggi, nah itulah momen yang akan membuatmu tertawa konyol terhadap diri sendiri. Pernah?

Para Ahli dan Renungannya

Jika hal itu sesederhana bekerja saat memikirkan bahwa kamu ingin menjadi pekerja seni, tetapi nyatanya kamu tak perlu sampai harus bertanggung jawab dengan semua perenungan itu. Kamu adalah seorang desainer dan hidup berdasarkan semua kenyataan yang selalu tetap sama. Makanan membutuhkan uang untuk membelinya. Menyewa rumah tak bisa kosong melompong, pasti membutuhkan perabot minimal kasur dan meja. Betul? Intinya sih, kita tetap harus bekerja, entah tepat saat kita mendapatkan inspirasi atau tidak. Dalam dunia yang sempurna, kita hanya mengambil pekerjaan yang menyenangkan bagi kita, tetapi dalam kenyataanya kita tak selalu mampu dan pantas untuk kemewahan itu. Bahkan jika proyek dari awal nampak mengalir lancar, tak ada garansi bahwa selama delapan minggu selanjutnya kegembiraan penuh binar-binar itu akan tetap ada.

Seorang desainer bijak berkata, “Tak ada klien atau proyek hebat, yang ada hanya desainer hebat.” Apa maksudnya nih? Saya pikir hal ini maksudnya adalah kita harus tetap berjuan untuk membuat yang terbaik meski itu adalah sebuah proyek biasa. Ya, memang mudah bicara tentang hal ini, tetapi saya sadar bahwa hal ini ternyata benar seiring dengan perjalanan sebagai freelancer yang saya pilih. Kamu?

Target Pribadi Menjagamu Tetap Melangkah

Tahun ini saya memiliki beberapa target. Pertama adalah membeli dengan cara mencicil satu unit apartemen. Gaya ya? Beberapa pertimbangan membuat saya memikirkannya sejak dua tahun terakhir ini. Kedua adalah menerbitkan lagi minimal satu buku pribadi dan satu buku keroyokan (antologi bareng teman-teman). Sepertinya semua target itu hanya ada dalam dongeng dan saya mencoba untuk agak memutar dalam perjalanan menuju karir impian. Maksudnya sih, agar saya tetap termotivasi dan menemukan cara lain untuk tetap maju. Sok iye? :D

Berapa orang yang kamu kenal baru saja memulai menulis sebuah buku? Pasti banyak, kan? Beberapa masalah akan memudar dalam waktu singkat saat kamu menemukan hal baru: proyek lainmu. Ya sama dengan para penulis itu. Awal kegembiraan dan semangat perlahan menghilang dan kamu bergerak untuk membuat obyek baru lebih berkilau. Kamu pasti suka seperti itu. Saya dapat mengangkat tangan dan berkata, “Ya, saya berhasil menyelesaikannya.” Tentu tak hanya sekali atau dua kali, tetapi beberapa kali. Ya, saya sudah tak bisa menghitung berapa proyek yang selesai dan juga beberapa buku yang sudah-dimulai-tapi-tak-pernah-dituntaskan. Don’t even ask me why.

Angkat tangan yang pernah mencoba menulis buku, blog, atau buku harian saat sudah dewasa? Anyone? Untuk siapa pun yang cukup berani menangkat tanganmu – berapa banyak yang menyelesaikan bukunya, atau melanjutkan nge-blog atau menulis buku harian? Sepertinya banyak tangan yang menghilang :D
Sulit ya? Semua berjalan sesuai iramanya dan tentu saja memperlambat inspirasimu tak menolong sama sekali. Masalahnya adalah inspirasi dan semangat saja tak cukup membawa kita ke garis finish.

Dari Inspirasi Ke Kebutuhan

Seseorang pernah curhat bahwa urusan mendesain dan dan meluncurkannya pada khalayak relatif mudah. Dari mulai konsep hingga peluncuran sekitar enam minggu dan mungkin sedikit agak lama. Dia tak pernah punya waktu untuk benar-benar melupakan tujuan akhirnya: meluncurkan desain aplikasi itu. Sekarang, sekian lama setelah dia merasa lahan inspirasinya tertutup, perang sesungguhnya dimulai. Dia harus menjaga disiplin untuk tetap memaksanya bergerak. Harus tetap berpromosi dan meningkatkan pelayanan. Dia juga membutuhkan paksaan untuk tetap menulis blog. Itu pasti sulit. Inspirasi dan semangat telah berpindah tempat dan berubah menjadi sesuatu yang lain, yang benar-benar berbeda. Inspirasi telah bermetamorfosis menjadi kebutuhan. Dia merasa harus membuatnya bekerja dan berguna.

Turn Up, Regardless

Jadi, kalau semangatmu terjun bebas, harus gimana? Mengapa harus memaksa mempertahankan semangatnya? Gak usah peduli dengan proyek yang sedang berjalan? No, I don’t think so. Pertahankanlah karena toh kita gak kehilangan tujuan awalnya. Target sudah jelas, sudah ditulis dan dirincikan, plus sekaligus dicetak (bahkan mungkin berserakan di meja kerja). Jadi, setiap hari, lanjutkan untuk mengerjakan sisa progres dari proyekmu, dan bayangkan apa yang akan dan bisa terjadi. Semangat itulah yang membawa kita menuju target yang sudah tergantikan dengan keinginan untuk meraih akhir tujuan. Nyatanya, saya sendiri tak mau menunggu dengan hanya duduk manis dan bagaimana pun juga saya harus bangkit dan bekerja.

Kita lanjutkan ke bagian kedua ya!

Bersiap Bila Bencana Datang

Sebagai freelancer, ngomongin bencana juga perlu dong. Mengapa?

shutterstock_181550474

Freelancer Image via Shutterstock

Bayangkan ketika kamu bangun pagi, menyalakan komputer / laptop dan menyadari bahwa hard drive mati. Atau mungkin kamu baru kembali dari liburan dan melihat kenyataan kantormu baru saja kebanjiran. It could be happen to anyone. Right?

Bayangan skenario ini akan sulit dan pastinya dihindari oleh semua orang. Tetapi, bagi seorang freelancer, bakalan terasa lebih dahsyat efeknya. Itulah mengapa kamu harus menyiapkan yang terburuk. Selalu miliki rencana cadangan bin darurat adalah prioritas dalam bisnis apapun. Ketika bisnismu mulai bergerak melalui internet, itulah saat kamu mulai memasang tonggak mata pencaharianmu secara lebih global.

Berikut adalah tip untuk membantumu menghindari bencana yang kemungkinan besar bisa terjadi:

Simpan Datamu Secara Otomatis dan Manual

Maksudnya adalah penyimpanan data secara online dan offline. Ribet? Pasti. Hal ini mungkin tampak jelas, tetapi itu mengherankan ketika mengetahui berapa banyak orang masih tidak menyimpan pekerjaan mereka secara teratur. Dari banyaknya kebutuhan file-file tersebut dan banyak pilihan tempat menyimpan data hasil pekerjaan yang ada, sama sekali tak ada alasan untuk menunda perlindungan datanya. Windows 7 memiliki ruang penyimpanan yang terintergrasi dengan OS. Gunakan untuk menjadwalkan penyimpanan cadangan ke external hard drive atau USB flash drive setiap hari setelah selesai bekerja.

Kamu juga bisa mempertimbangkan menyimpan cadangan data secara online. Dengan demikian, kamu punya pelindung lapisan kedua jika hardware gagal atau rusak. Bisa coba pakai Mozy, Carbonite, Dropbox, atau yang langsung terintagrasi dengan Gmail kamu, ya pakai saja Google Drive. Hal ini juga memudahkanmu untuk mengecek semua file melalui perangkat mobile kan?

Apa yang Harus Diselamatkan?

Tentu saja kamu akan menyimpan file inti dari web/blog kamu. Tetapi jangan lupa untuk menyimpan beberapa file penting berikut ini:

List of FTP Sites
Yang satu ini akan menyelamatkanmu dari sakit kepala berkepanjangan. Klienmu mungkin saja memiliki caranya sendiri untuk langsung membuat ruang penyimpanan untuk programnya, atau coba kamu intip ke folder dalam komputermu. Cara lain, pastikan untuk tetap menjaga daftarnya akurat. Hal yang sama berlaku untuk semua file yang lain.

Grafik

Yang satu ini tak hanya penting untuk menyimpan file grafik yang langsung digunakan pada situsmu, tetapi juga berguna untuk menyimpan file PSD yang berlapis itu, juga file Fireworks dan lainnya. Terkadang kamu membutuhkannya di masa mendatang.

Photoshop Filters, Brushes, Actions, Custom Shapes

Semua ini adalah sumber yang membantumu berekspresi saat bekerja, kan? Menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk mencoba mencari satu file yang tercecer itu rasanya gak banget ya? Segera siapkan file cadangannya!

Fonts

Pernah membuka file dalam Photoshop dan menemukan font asli yang sudah kamu gunakan ternyata hilang? Pastikan kamu mempunyai arsip dari semua font yang kamu butuhkan.

Kontrak dan Proposal

Duh, kalau dua file ini hilang rasanya mau melempar laptop ke kawah Tangkuban Parahu ya? Eh, jangan! Sayang! *elus-elus laptop* Ayo, segera simpan copy cadangannya!

E-mail

Ketika banyak orang sudah menggunakan jasa Gmail untuk menyimpan semua pesan secara online, beberapa lainnya masih menggunakan surel klien dengan akun POP yang ‘kuno’ itu. Jika kamu termasuk yang masih menggunakannya, simpan selalu data cadangan surelnya, ya.

Arsip Keuangan dan Aneka Tagihan

Gunakan aplikasi yang paling cocok untukmu. Mungkin bisa mencoba QuickBooks untuk menyimpan datanya, karena otomatis menyimpan salinan ketika kamu menutup programnya. Apapun sistem yang kamu pakai untuk menyimpan data keuanganmu, ini juga termasuk yang penting. Kamu pasti gak akan mau mencari dan meraba-raba berapa banyak utang klien padamu, kan?

Apps & Utilities

Sejak kita sering membeli perangkat lunak secara online, biasanya tidak punya hard copy yang tersimpan pada disket. Simpan arsip penting dari semua perangkat lunak dan nomer serinya. Jika kamu memiliki data penting dalam disket tersebut, simpanlah dalam brankas yang tahan api dan tahan air.

KESIMPULAN

Gampang banget kalau ngomong, “Iya, nanti aja disimpannya.” Mengambil pengalaman berharga dari teman yang baru kehilangan banyak data penting dalam satu waktu, ternyata kejadian juga padaku. Membuang waktu sangat banyak hanya untuk membongkar semua folder, email, tempat sampah (junk/spam folder), dan itu sangat melelahkan. Pastikan semua file penting dan berhargamu sudah disimpan dan disalin dengan baik.
Jadi, ketika ada kerusakan pada hardware kamu atau bencana tak terduga seperti kebakaran / kebanjiran, kamu tidak terlalu stress karena sudah mengamankan semua hasil kerjamu.

Ada yang punya saran atau pengalaman?

Menemukan Klien Sejiwa

Sama seperti mencari pasangan hidup, mencari klien yang cocok dengan kita pun susah-susah gampang tetapi seru dan penuh tantangan.

shutterstock_175678253

Freelancer Image via Shutterstock

Akui saja, menemukan klien adalah hal yang menarik. Menemukan klien yang TEPAT jauh lebih nyata menariknya. Dan, menemukan klien yang tepat dan memiliki uang, ingin bekerja denganmu plus dia adalah orang yang hebat, adalah impian setiap freelance designer.

Ketika klien potensial datang melihat hasil kerjamu, hal pertama yang mereka lihat adalah merekmu, dengan kata lain, DIRIMU. Portofoliomu dapat menjadi tak berarti, tetapi ketika kamu menampilkan sisi dirimu dengan tepat, kamu dapat “menjual diri” sekaligus. Yah, gak diobral juga sih, bro.  :D

Ini rahasia penjualan. Klien tidak mengupahmu karena omong kosongmu. Mereka membayarmu karena kemampuanmu meyakinkan mereka dan dapat diajak bekerja sama dengan baik. Gak ada yang mau bekerja dengan kemampuan terbatas atau di bawahnya.

Kita semua berbeda dan kita akan berterima kasih untuk itu. Kamu dan saya mungkin punya beberapa kesamaan, seperti misalnya, bahwa kita adalah desainer. Kita adalah freelancer atau setidaknya memiliki minat di dunia freelance. Tapi terkadang bukan berarti benar-benar dibutuhkan saat kita bertemu (yah, bukan berarti gak dibutuhkan juga. Kusut ya?)

Ada contoh menarik. A strong-minded can be a by-word for stubborn. Bisa menjadi berkah atau bencana tergantung dengan siapa kamu bekerja. Klien yang baik ingin kamu benar-benar mengetahui apa yang kamu kerjakan. Mereka mau kamu punya pendapat yang kuat tentang pekerjaanmu. Mereka juga butuh rasa nyaman mempercayakan keputusan di tanganmu. Di sisi lain, klien minim pengalaman dapat menjadi tantangan tersendiri. Mereka ingin mengambil alih kontrol. Mereka mau membuat keputusan meski tanpa pengalaman. Kepribadian klien semacam ini dapat langsung memengaruhi hasil akhir proyek dan hubungan di masa depan.

Sadari tipe seperti apakah kamu dan yang terpenting adalah keinginan untuk mengadaptasi karaktermu ke dalam bentuk apapun yang kamu inginkan dirimu terlibat di dalamnya. Bingung? Jangan. Just be yourself.

Akan selalu ada klien (nyaris) sempurna yang tidak peduli bagaimana pun kepribadianmu ketika bekerja. Kemudian, lagi, akan selalu ada klien yang perhatian terhadap proyek kalian dan bergaya santai. Mungkin perlu waktu untuk menemukan klien semacam ini, tetapi kamu akan belajar sangat banyak. Carilah klien seperti ini, yang akan membuat misi proyekmu hanya akan bisa bekerja dengan tipe orang idaman semua orang itu. Kamu akan lebih bahagia untuk itu.

Lumayan jumpalitan rasanya ketika bertemu dengan orang baru. Tetapi ketika hal itu menjadi hubungan antar mitra kerja, saya merasa lebih nyaman, terutama ketika tahu bahwa ada semacam perasaan yang mengatakan, “Hey, kami akan menjadi partner in crime!” Wow, I can even be jovial! Ketika hubungan mitra kerja terbentu, kamu harus melakukan segalanya untuk memupuk hubungan tersebut. Mengapa?

Beberapa alasan:

  • Kesempatan tinggi untuk mendapat proyek baru
  • Kemungkinan tertinggi untuk direferensikan
  • It’s easier to market to happy clients than it is to capture new ones
  • Alasan terpenting yang paling mungkin adalah ungkapan kepuasan yang tak terduga.

Cocokkan Kepribadianmu Untuk Klien Hebat Itu

Cara termudah memulai mencari klien (nyaris) sempurna adalah mencocokkan portofoliomu dengan kepribadian. Jangan takut untuk menjadi diri sendiri yang bersinar melalui portofoliomu. Pede aja, lagi!

Jika kamu orang yang lucu, periang, and always-look-on-the-bright-side (ya kali), maka biarkan hal itu terlihat dalam setiap desain pada portofoliomu. Kau akan menunjukkan dan memikat klien yang suka tipikalmu itu. Tetapi jika, pada sisi lain, kamu lebih serius dan melihat segalanya dengan sikap skeptis, biarkan juga terlihat melalui portofoliomu. Hal ini juga bisa menjadi poin positifmu.

Kamu tahu mengapa kamu harus melakukan hal ini? Karena biar bagaimana pun, klienmu akan melihatnya. Cobalah dan jujurlah dari awal dan semuanya akan menjadi lebih mudah. Ingatlah apa yang pernah diucapkan Ibumu dulu, “Ada seseorang untuk semua orang.” Begitu pula dengan klien. Sekali kamu menyadari siapa pasangan yang cocok untukmu, tetaplah bersamanya selalu. Lakukan hal yang sama pada klien setipe di masa depan. Maksudku bukan tipe pekerjaan yang akan mereka berikan pada kita, tetapi tipe hubungan kerja yang kaupunya dengan mereka. It’s gold. Bekerjalah untuk mendapatkan pasangan klien dengan kepribadian yang cocok denganmu. Tetapi ingat, untuk melakukan semua ini, kamu harus melihat dirimu sendiri terlebih dahulu.
Hal ini tidak mudah. Tentu, hal ini juga bukan berarti mustahil.
Good luck!

Pentingnya Pengelolaan Emosi Bagi Freelancer

Seberapa penting sebuah luapan emosi memengaruhi lawan bicara kita? Coba cek bersama, secuek-cueknya seseorang, pasti terpengaruh ketika kita berbicara. Setidaknya, ‘sedikit terusik’ ingin mengetahui ada apa. Kepo lah gitu ya?

shutterstock_129125819

Freelancer Image by Shutterstock

Kita gembira, tentu orang lain akan ikutan -minimal- tersenyum. Tetapi ketika wajah kita seperti mendapat jutaan masalah (oke, ini lebay), pikiran orang lain pun akan bertanya-tanya. Stres karena apa nih? Pasangannya selingkuh? Baru saja kena PHK? Ditipu investor nakal? Invoice belum cair? Orangtua masuk IGD? Apa pun masalahnya, orang lain merasakan aura tak enak dan mencoba menghindari kita.

Memangnya freelancer bisa stres ya? Kan jam kerjanya bebas. Kan gak punya bos. Kan bisa milih pekerjaan. Kan kan kan… Sama dengan pekerja kantoran yang jam kerjanya teratur, bagi freelancer, ketidakteraturan jam kerja membuat senewen di beberapa waktu. Misalkan ketika melihat orang lain bisa tidur pada pukul satu dini hari, ada yang harus menyunting hasil desainnya karena dianggap tidak pas oleh klien. Sama ketika harus bilang, “Sebentar ya, lihat jadwal dulu” dan menemukan bahwa agenda sudah terisi sementara calon janji yang baru juga sama pentingnya.

Kelelahan karena mengejar tenggat waktu dari klien pasti penyebab stres pertama meski belum tentu yang utama. Penolakan konsep oleh klien itu yang kadang membuat jengkel. Imbasnya lelah fisik dan psikis. Tetapi, semua bisa diatur dengan baik kok.

Mengutip dari tip bermanfaat oleh Andrie Wongso, berikut ada lima langkah yang bisa dicoba oleh freelancer:

  • Pertama, yang harus dilakukan hari ini karena ada tenggat waktu atau memang sudah dijadwalkan sebelumnya.
  • Kedua, yang bisa dilakukan hari ini atau besok. Biasanya ini untuk hal-hal yang bisa dilakukan dalam selang beberapa hari, misalnya berbelanja atau mengunjungi teman.
  • Ketiga, yang bisa dilakukan dalam minggu ini.  Biasanya ini untuk hal-hal yang telah diatur mingguan atau memang kebetulan berkenaan di dalam minggu tersebut, misalnya kegiatan berolah raga di gym.
  • Keempat, yang bisa dilakukan dalam bulan ini. Biasanya ini untuk hal-hal yang telah diatur bulanan atau memang kebetulan berkenaan di dalam bulan tersebut, misalnya janji untuk berbincang-bincang.
  • Kelima, yang bisa dilakukan dalam tahun ini. Biasanya ini untuk hal-hal yang telah diatur setahun sebelumnya, misalnya check-up fisik tahunan.

Mudah? Iya, kalau niat. :lol: Ketika menerima proyek pun, coba cek jadwalmu.  Tenggat dari klien tanggal berapa, apakah ada jadwal lain dengan teman atau saudara di hari ini? Alihkan waktu hingga bisa maksimal dan tak menjadikan tenaga boros percuma.

Mengelola waktu yang dimiliki akan membantu kita mengatur emosi yang sering naik turun seperti lift di mall itu.  Jadi, semoga saja kita bisa bilang, “Stres? Ya kerja aja!” Karena setiap ada waktu luang, itu pun peluang mencari proyek baru atau membantu teman yang sedang kerepotan dengan pekerjaannya. Tak usah memikirkan berapa akan dapat persenan dari temanmu, kerjakan saja dengan hati riang dan lapang. Perjajian tetap dibuat misalnya per gambar atau per proyek. Stres akan menjauh.

Yuk ngopi! :)

Dear Newbie, Please Be Nice

shutterstock_133095065

Freelancer Image via Shutterstock

Ada yang menarik setiap berurusan dengan seseorang yang baru pertama kali terjun menjadi freelancer atau posisinya dibalik, kita yang menjadi si newbie. Kita lihat dari kedua sisinya ya. :)

Menghadapi Si Newbie

Pernah bertemu orang dengan kondisi seperti ini? Membahas tentang teknologi yang kian maju dengan semangat dan nampak meyakinkan, tapi attitude-nya tidak menunjukkan seorang profesional. Disadari ataupun tidak, dia suka merendahkan dengan asal ngomong. Biasanya sih, mereka ini tipe generasi instan yang tahunya semua sudah beres dan siap dinikmati. Lihat saja ke teras rumah Mbah Google, berapa banyak resource yang sangat memudahkan nyaris semua pekerjaan kita? Tanpa perlu banyak berpikir, semua sudah lengkap tersaji. Menjadi semakin tertantang untuk berkreasi atau justru semakin malas? Newbie penyuka tantangan tentu penasaran akan mencoba lebih baik. Sudah terbayang kebalikannya? Copy, paste with less editing, then talking like a master. *uhuk*

Seorang pekerja kreatif bidang apapun, jika hidup dengan keterbatasan biasanya lebih penasaran dan tak betah untuk segera mengulik dan bongkar pasang plus jago banget mencari celah sesempit apapun dan merasa yakin akan ada solusinya. Iya, ibarat terjebak di jalanan yang macet, pasti mata sudah berkilat celingukan mencari satu jalan tikus agar segera terbebas dari masalah. Keterbatasan itu banyak macamnya. Tak ada akses internet? Hidup di zaman ketika Mbah Google belum pindah ke dunia maya (mengalami masa sumber bacaan online terbatas dari Om Yahoo?) atau modal membeli bahannya sangat terbatas meski bisa mengakses internet? Ada keterbatasan lainnya? Orang tangguh semacam ini juga biasanya punya stok sabar yang banyak meski terkadang jenuh menyerang. Memiliki daya juang tinggi dan belum akan berhenti jika hati belum berkata puas. Dan biasanya attitude lebih baik. Tahu dong ya, karena proses itu mendewasakan. *tsaaaahh*

Di zaman sekarang, aneka software dan hardware semakin canggih dan mudah didapatkan. Koneksi internet lebih kencang (laskar pencari wifi gratisan, mana suaranya?), plus tutorial pun kian banyak. Seharusnyaaaaa… Semua fasilitas yang ada di depan mata ini bisa membuat kita semangat untuk menghasilkan karya terbaik, kan? Tetapi lihatlah beberapa newbie sekarang. Mereka berkarya? Ya! But take a look at this point: yang ada makin buruk result-nya. Tersinggung? Jangan. Buktikan kalau kamu bisa lebih baik lagi. ;)

Kita Adalah Si Newbie

Menjadi seorang freelancer, semakin tinggi jam terbang, akan semakin dikenal orang. Pasti. Itu pun secara alami akan membentuk personal branding kita, kan? Tapiiii… Banyak lho freelancer yang ahli di bidang desain grafis, ternyata lulusan Fakultas Ekonomi. Heu. Ada penulis berbakat jebolan Teknik Sipil. Ada juga lulusan Pertanian ternyata berprofesi sebagai interpreter. Ada yang aneh? Nggak ada. Itu passion yang kita cintai dan kita tekuni sebagai profesi serius. Makanya, banyak yang kaget ketika kita dikenal sebagai seorang web programmer ternyata lulusan FKM. Tetapi ada juga kan pekerja kreatif lulusan SMA / sederajat dan hasilnya lebih keren daripada si sarjana? Admit it, please ;) Soalnya banyak yang bilang malu kalau diajar bukan oleh sarjana apalagi melenceng dari jurusannya. Minimal harus bergelar. Ya sudahlah yaaa… Nggak apa-apa. Bukan rezeki.

Not to forget these points:

  • Jangan pernah berhenti belajar. Asah terus keterampilan. Cari referensi baru, berkenalan dengan orang-orang lain lagi di tempat baru.
  • Jadilah diri sendiri. Membual itu sesuatu yang akan membahayakan karirmu sendiri. Buat apa mengatakan kamu lulusan S2 luar negeri padahal hanya D3 kampus lokal? Percaya diri itu wajib. Dipandang sebelah mata? No problem. Mungkin orang lain belum mengenalmu. Inilah waktunya memperkenalkan diri. Sebar kartu nama atau PIN BBM atau nomer Whatsapp.
  • Tidak usah malu jika memang kemampuan masih terbatas. Tapi beranikan diri untuk berkata, “Saya siap belajar. Mohon bimbingannya.” *kemudian membungkuk ala benteng Takeshi*
  • Terakhir, jangan lupa terus memperbarui portfolio, yes! Setiap hasil belajarmu coba ditampilkan juga. Terkadang, ada klien yang justru lebih tertarik dengan sample dan menginginkan karya contoh atau bahkan yang menurutmu gagal, lho ;) Jangan dibuang!

Apa pengalamanmu sebagai newbie? Dicaci maki? Dicuekin?

Bagaimana kamu menghadapi seorang newbie  belagu? Hilang selera makan? :D

Kita akan merasakan dua posisi itu secara bergantian sebelum kerajaan api menyerang. *eh* Selamat menjadi guru dan murid di saat yang sama! Karena ketika berbagi ilmu, justru akan semakin terasa kita pun membutuhkan lebih banyak ilmu yang akhirnya membuat kegiatan mengajar dan diajar menjadi semacam zat addictive untuk diri sendiri. Percaya?

Freelancer dan Pasangan Sejatinya: Deadline

shutterstock_139225733

Freelancer Image via Shutterstock

Berbicara tentang freelancer tidak akan pernah terpisahkan dengan satu kata berikutnya: deadline. Garis mati? Iya, mati deh, kalau tidak diselesaikan tepat waktu. Karena, setiap melihat kalender atau jam, apa yang pertama diucapkan? “Mati deh gue!” :lol:

Setiap ditanya mengapa belum dikerjakan, alasannya karena waktu masih lama atau proyek sebelumnya masih dikerjakan atau sedang mencari inspirasi (basi) dan berbagai excuse lain.  Memang ada bakat sebagai seorang deadliner sejati ya? :)

Take a look at this for a moment. Sepanjang yang saya pahami (eh, boleh ya disanggah kalau memang ada tambahan atau koreksi), ada tiga macam tenggat waktu yang sering dihadapi para pekerja (bebas) lepas ini.

“Besok Pagi. Pukul Tujuh. E-mail CC Ke Mr. X”

Oh, crap! Mendapat surel pada pukul sebelas malam ketika laptop sudah siap untuk dimatikan dan kita hanya punya dua ekspresi: tertawa miris atau melempar bolpoin dengan jengkel. (Eh, lempar BB Z10 juga nggak apa-apa sih kalau nilai proyeknya gede. Hihihi…) Lari ke dapur untuk membuat kopi atau ke kulkas dan mengambil sebotol minuman penambah energi? Bebas! Oh, saya selalu mendadak mulas jika hal ini terjadi. Tapi abaikan segala lebay itu, mulai kerjakan atau invoice tak akan pernah menggemukkan rekening Anda!

“Anda Punya Waktu Tiga Minggu Untuk Menyiapkan Bahan dan Presentasi”

Beres! Mempunyai banyak waktu untuk mencari referensi. Banyak waktu. Ulangi? Nope! Waktumu tak banyak, dude! Jika 21 hari itu Anda anggap masih lama, bersiap tersadar ketika sudah memasuki hari ke delapan belas dan semua bahan yang dibutuhkan belum tersedia. “Tenang, An.” Ini sering sekali saya dengar. Iya, sila. Asal jangan meminta saya untuk menemanimu begadang. Nanti diomelin Bang Haji.

“Revisi Kedua Dengan Catatan Tambahan”

*Glek* Rasanya baru mengirimkan semua file dengan perbaikan, belum dua jam berlalu sudah meminta revisi kembali? Apa sih yang kurang? Bukankah mereka yang sudah menyetujui perbaikan pertama? Setelahnya dikembalikan dengan highlight dan catatan yang bikin dongkol? Ok, nikmati sajalah. Terkadang, klien melakukan hal ini untuk menantang Anda mengeluarkan karya terbaik lho. Apalagi, jika klien itu sangat mengenal Anda, tentunya tak akan puas bila tugas yang diselesaikan hanya bisa dinilai dengan angka 65.

Sudah pernah merasakan ketiga situasi tersebut? Saya, ya. Untuk bagian kedua, sebanyak apapun waktu yang klien berikan, rasanya selalu terasa kurang. Ide-ide lain bermunculan dan memaksa untuk diikutsertakan. Cek kembali timeline tugas Anda. Bila sekiranya ide baru itu bisa dimasukkan pada tugas yang sedang dikerjakan, sila. Bila tidak, jadikan cadangan jika klien menginginkan pilihan lain.

Sering mendengar bahwa dalam keadaan terjepit, kita bisa menjadi lebih kreatif? Belum pernah? Buktikan hal itu suatu saat nanti. You’ll never believe in your own self can make a decision faster than you think. Itu namanya the power of kepepet. Berdamailah dengan tenggat waktu dan kerjakan. Memangnya punya pilihan lain? Ada. Tolak saja proyeknya.

Mungkin teman-teman ada tambahan lain? Silakan. :)

Godaan Online Shop Itu…

shutterstock_138815156

Freelancer Image via Shutterstock

Membuka internet pada jam berapa pun, godaan terbesar selain update status di media sosial adalah… Belanja! Promo bertebaran di situs mana pun yang kita buka. Mulai iklan baris, banner, hingga pop up. Belum ditambah dengan update dari teman-teman yang memang pelaku bisnis online shop. *lirik saldo rekening*

Ini pun godaan bagi freelancer yang biasanya bekerja online hampir seharian di depan komputer yang terhubung dengan internet. Buka sumber referensi mana pun, akan muncul berbagai tawaran menggoda iman. Mulai dari penawaran rumah murah, pulsa gratis kalau mengikuti sebuah lomba, alat memasak murah, diskon penerbangan terbatas, gadget terbaru, dan entah apa lagi. Akan ada perhatian kita yang sedikit tersita ke satu promo itu. Kalau saya, biasanya sih nggak akan dilihat detil iklannya. “Close Ad” adalah pilihan.

Saya nggak se-impulsif itu untuk belanja online, meski kadang geregetan untuk membeli. Kalau sudah mendesak dan saya juga malas keluar rumah, baiklah mari memilih dan siapkan token e-banking. Saya tetap lebih suka berjalan ke luar rumah untuk mencari barang yang saya butuhkan. Apalagi, dengan keluar rumah pun saya juga bekerja. Mencari ide, mencari peluang, dan mencari suasana baru. Freelancer yang malas mengangkat bokongnya dari kursi seperti saya memang sesekali harus memaksakan diri keluar dari zona nyaman. Yaiyalah, lama-lama kalau tidak bergerak, menjadi pemalas juga dong. :mrgreen:

Kembali ke online shopping, ada tip sederhana dari saya. Jauhkan dompet berisi kartu kredit dan debit dari jangkauan Anda. Melihat dan memilih kartu mana yang akan Anda gunakan itu akan menyita waktu yang seharusnya digunakan untuk menyelesaikan proyek. Betul?

Kedua, mungkin ini yang agak susah. Jangan membuka m-banking atau e-banking.  Tokennya dimasukkan tas dan taruh di atas lemari. Lebay, ya? :D Soalnya, saya punya beberapa teman yang sangat impulsif berbelanja online dan setelah klik konfirmasi pembayaran, dia menjerit di linimasa Twitter atau Path atau Facebook :lol:

Ketiga, yang paling mudah Anda lakukan. Gambar iklannya jangan Anda klik. :mrgreen:  Sedang buka sebuah situs, ada pop up dengan warna menyolok. Saya memilih tidak peduli, tetapi ada teman yang langsung menghubungi ketika saya memberitahu tentang promo terbaru itu. Dia sudah membelinya. :D

Baiklah, hati-hati dengan semua bentuk promo di internet ketika Anda baru saja mendapat invoice dari klien.  Jangan impulsif, tetap berjaga di kala kemarau proyek nantinya.

Siapa yang mau berbagi pengalaman, menghabiskan honor proyek dalam sekali belanja? ;)