Pekerja Lepas dan Bonus Hari Raya

shutterstock_155854067

Freelancer Image via shutterstock

Berhari raya, bagi sebagian besar pekerja lepas / freelancer adalah hari libur untuk berkumpul dengan seluruh keluarga besar dan teman masa sekolah dulu. Menjauh sejenak dari tumpukan gambar ilustrasi atau telepon dari klien di luar jam kerja (dalam hal ini sering disebut ‘midnight call‘ oleh beberapa teman saya). Melepas rindu, berbagi ceria, dan tentu saja bersiap dengan todongan angpau.

Jika menjelang hari raya (sesuai agama dan kepercayaan masing-masing), yang namanya uang tunjangan atau bonus sebisa mungkin ada di dompet dan rekening jauh sebelum tanggal merah datang menghampiri. Berapa nominalnya, tergantung besarnya gaji perbulan yang kemudian dapat menentukan jumlah tunjangan masuk ke rekening.

Oke, itu untuk pekerja kantoran, kan? Lantas bagaimana dengan pekerja lepas dan para pekerja serabutan? Tak dapat THR (tunjangan hari raya), bisakah merasakannya juga?

Bisa. Mungkin ini anekdot yang pernah saya terima dari beberapa rekan freelancer, bahwa THR bisa diminta kepada klien. Terlepas dari berapa nilai yang akan diberikan klien, tetapi tambahan di luar uang jasa yang diterima tentunya patut disyukuri. Apalagi kalau mendekati hari raya, pas mendapatkan proyek dari klien yang super irit dan pelit. Bingung nggak sih, bagaimana merayu klien agar kita bisa merasakan berhari raya layaknya pekerja katoran?

Ini mungkin terasa lebay, tetapi ternyata saya menangkap pertanyaan itu dalam bentuk kegelisahan beberapa teman freelancer. “Boleh dong, ya, kita merasakan lebaran juga?” atau, “Natal ini gue mau ngasih orang tua hadiah kejutan. Tapi sisa honor dari klien tipis banget.”

Sebenarnya, sebelum sampai pada opsi ‘merayu klien’, kita cek lagi pemasukan dan pengeluaran selama setahun terakhir. Apakah kita menyisihkan pos khusus THR selain misalnya pos cicilan, pengeluaran bulanan, kesehatan, dan sekolah anak?

Lah, pos THR? Iya dong. Memangnya selain diri kita sendiri, siapa yang mau memberi THR? Kita adalah bos bagi diri sendiri. Kita sebagai pekerja lepas, tentunya bisa mengatur pengeluaran  hampir sama dengan para pekerja kantoran, tetapi nyaris kesulitan mengatur pemasukan. Bagaimana? Ya, dengan cara membuat pos tambahan itu tadi: THR untuk diri sendiri.

Anggaplah setelah pembagian pos ini itu, ada sejumlah Rp 100.000,00 yang bisa disisakan setiap bulan. Lumayan banget kan, mendapat THR sebanyak Rp 1.200.000,00?

Memang hitungan ini tak berlaku standar untuk setiap pekerja lepas. Tetapi memisahkan satu pos khusus untuk kebutuhan saat menjelang hari raya tentulah lebih baik daripada gigit jari ketika ternyata terlupa harus menyiapkan angpao untuk para keponakan, misalnya.

Jangan berlebihan kepada klien. Anggap saja kita memang hanya dibayar sesuai beban proyek yang diberikan. Tak ada bonus. Apalagi berharap bingkisan hari raya.  Don’t expect too much ;) Bekerjalah seperti biasa. Bahkan sebisa mungkin tingkatkan kinerja kita. Kita akan mendapatkan salah satu atau tiga keuntungan sekaligus dengan bekerja sesuai harapan klien, yaitu: mendapatkan bonus di akhir pekerjaan, atau proyek baru dari klien yang sama atau rekomendasi pada mitra yang lain.

Bayangkan, pundi tabungan akan bertambah kan? Nah, saatnya untuk memaksakan diri mengisi pos THR dengan bijak. Itu pun, jika kita memang masih menganggap pos THR penting misalnya untuk biaya transportasi mudik dan masak menu hari raya.

Tetapi bila kebutuhan hari raya cukup dipenuhi dari pos bonus, tak masalah juga. Semua dapat diatur sesuai kebutuhan dan tergantung kesepakatan dengan keluarga. Oh, kalau masih single, tentu tidak terlalu pusing ya? Kecuali memang berniat pusing mencari jalan keluar untuk menghindari pertanyaan keluarga besar ketika menikmati opor ayam, “Kapan menikah?” *eh* :D

Jadi, bagaimana kamu mengatur pos pengeluaran untuk hari raya? Bagikan pengalamanmu di kolom komentar ya. :)

Mempersempit Fokus Kerjamu

Memulai profesi sebagai web designer sering berarti mengambil proyek-proyek apa pun yang datang tanpa memilihnya terlebih dahulu. Karena, tentu saja, kita selalu perlu makan (dan sesekali berpesta bukanlah ide yang buruk).

shutterstock_193510469

Freelancer Image via shutterstock

Namun, seperti bisnis dan keahlianmu yang terus berubah lebih baik, kamu akan sampai di persimpangan. Apakah kamu terus mengambil sembarang proyek lama yang datang? Atau, apakah kamu justru mempersempit fokus dan mengambil proyek-proyek yang lebih khusus? Misalnya, mungkin kamu hanya ingin bekerja dengan situs yang diaktifkan menggunakan WordPress, atau hanya e-commerce atau bahkan proyek yang dikategorikan dalam kisaran harga tertentu.

Tentulah ada sisi baik dan menjanjikan untuk bekerja pada berbagai proyek, terutama di awal karirmu. Contohnya, kamu akan mendapatkan pengalaman berharga. Kamu juga cenderung untuk mengetahui jenis proyek yang kaucintai dan beberapa lainnya tidak begitu membuatmu tertarik. Ini adalah waktu yang tepat untuk memperluas wawasanmu.

Membuat Pilihan Menjadi Bawel

Terkadang, saya memang akan mengambil apa saja proyek yang ditawarkan kepada saya. Dalam beberapa kali, saya telah menemukan bahwa saya tiba pada suatu titik dalam karir ketika ingin menjadi sedikit lebih khusus dalam pekerjaan yang diminati. Seiring waktu saya telah menemukan bahwa ada hal-hal tertentu yang, untuk satu alasan atau lainnya, saya tidak ingin melakukan lagi.

Ada cerita dari salah seorang teman saya, bahwa dia memiliki tugas yang cukup membosankan yaitu “diperbarui setiap lima menit”. Kau tahu itu. Ini mengingatkan bahwa ada pesan dalam kotak masuk dari klien yang memintanya untuk hanya mengubah beberapa teks pada pekerjaannya, atau sesuatu yang remeh temeh lainnya. Saya suka membuat klien saya bahagia. Itulah salah satu landasan dari bisnis saya. Tapi ketika saya memiliki kotak masuk penuh dengan jenis permintaan, membuat saya merasa jauh dari pekerjaan yang lebih menyenangkan (dan menguntungkan).

Tidak berarti bahwa sesederhana itu saya memutus hubungan dengan klien hanya dari jenis pekerjaan seperti ini. Juga tidak berarti bahwa saya akan dikenakan biaya tinggi untuk itu. Sebaliknya, solusi saya adalah untuk tidak lagi mengambil klien pencari update untuk setiap pekerjaan yang sedang berjalan. Artinya, jika saya tidak merancang dan / atau membangun situs klien, saya tidak akan menawarkan layanan pemutakhiran. Hal ini memungkinkan saya untuk menjaga klien tetap bahagia, sementara pada saat yang sama saya membatasi jumlah jenis pekerjaan yang harus dilakukan.

Ada seorang freelancer juga menerapkan kebijakan yang sama dengan jenis perangkat lunak tertentu. Keahlian utamanya yang terakhir adalah berkutat dengan WordPress. Oleh karena itu, dia tidak akan mencoba mendesain di Joomla!, Drupal atau CMS acak yang diaktifkan oleh GoDaddy. Dia menyadari bahwa bekerja dengan perangkat lunak asing sama saja seperti mencoba menyesuaikan pasak persegi di sebuah lubang bundar. Ini sangat tidak efisien waktu untuk klien dan si freelancer. Pada akhirnya, tak satu pun dari mereka yang menang.

Kebebasan Impian

Hal ini sungguh terasa sangat membebaskan untuk menerapkan kebijakan ini dalam bisnis saya. Saya merasa memiliki lebih banyak waktu untuk melakukan yang saya suka, tanpa dibebani dengan aturan tak berujung yang saya tidak tahan. Hasilnya membuat saya semakin semangat karena benar-benar telah memungkinkan bisnis saya tumbuh.

Masih tetap ada waktu saat saya merasa terjebak melakukan hal yang tak saya suka. Tetapi ternyata saya bisa mengeluarkan sebagian. Jika tidak memungkinkan dilakukan segera, saya mencoba yang terbaik yang saya bisa. Setidaknya saya tahu hal itu tak akan mendominasi sebagian besar waktu saya seperti sebelumnya.

Salah satu dari sedikit saran untukmu berpikir untuk mempersempit fokus bisnismu adalah untuk tetap mempertahankan keluwesan. Pada akhirnya, kamu tidak boleh mendorong klien menjauh dengan menerapkan kebijakan tangan besi. Ini agak sulit, dan mungkin bahkan tidak mungkin, hanya memaksakan kehendakmu pada orang lain. Proses ini tidak akan terjadi semalam.

Sebaliknya, secara bertahap buatlah perubahan yang ingin dilihat dalam bisnismu. Menetapkan tujuan dengan menghabiskan tidak lebih dari (x) jam seminggu bekerja pada proyek-proyek yang tidak sesuai dalam layanan utamamu. Tentu, akan ada saat-saat hal ini memang tidak mungkin. Tetapi sedikit demi sedikit kamu bisa mendapatkan dirimu nyaman dalam keseimbangan.

Kamu mungkin hanya menemukan bahwa, dari waktu ke waktu, bisnismu akan pergi ke arah yang kaunginkan. Bagian yang terbaik adalah bahwa kamu akan menjadi orang yang mengendalikan semua urusan pekerjaan.

Apakah kamu menerapkan hal serupa seperti ini?

Membuat Promosi Proyek yang Sempurna

shutterstock_187871660

Freelancer Image via shutterstock

Freelancing menawarkanmu fleksibilitas maksimal untuk memilih proyek yang sesuai dengan kemampuan, minat, dan semangatmu. Tak diragukan lagi, inilah salah satu alasan berpetualang nyata untuk menjadi seorang freelancer. Bagaimana pun, dalam iklim ekonomi sekarang, kemampuan untuk memilih hanya proyek yang paling menarik minatmu haruslah membuatmu nyaman, dan kamu sebaiknya mengeluarkan usahamu saat mempresentasikan dirimu secara profesional kepada seluruh klien dan proyek yang akan datang padamu bisa menjamin bahwa kamu dapat mempertahankan arus pemasukan dan proyek tetap menghampirimu.

Oleh karena itu, saat mengajukan proposal dan menyajikan layananmu secara profesional kini menjadi lebih penting daripada sebelumnya. Kebutuhan untuk meyakinkan klien potensial tentang keterampilanmu dan keluar dari kompetisi (untuk memenangkan proyek) akan benar-benar penting agar bisa sukses sebagai freelancer, tapi apa sebenarnya aspek yang paling penting dari proyek-proyek yang menguntungkan ini? Menciptakan promosi proyek yang sempurna.

Perhatikan Kesan Pertama

Jika kamu sering mencari proyek secara online dan berlangganan info terbaru tentunya akan mendapatkan notifikasi tentang pekerjaan yang cocok dengan kemampuanmu, maka dengan segala kesempatan untuk mendapatkan perhatian calon klien tentu akan sangat penting bagi karirmu. Hal ini sangat penting karena banyak freelancer lain yang juga mengajukan proposal untuk proyek yang sama dan artinya klien akan kebanjiran penawaran. Jadi, trik untukmu adalah maju dan dapatkan perhatian klien mulai dari pandangan pertamanya.

Ada beberapa poin yang harus dimasukkan bersamaan dengan aplikasimu:

  • Terangkan bagaimana keahlian khususmu cocok dengan proyek yang ditawarkan klien. Contoh, jika proyek mensyaratkan kemampuan sebagai desainer grafis, maka lampirkan dalam daftar pengalamanmu dan sejarah pekerjaan sebelumnya.
  • Cantumkan perkiraan berapa perincian pengeluaran untuk proyek agar klien tahu bahwa kamu telah membayangkan bagaimana proyek itu akan berjalan.
  • Jika dibutuhkan, hubungi klien untuk info rinci yang lebih lengkap tentang proyek mereka. Hal ini akan memudahkanmu mendaftarkan aplikasi berkualitas dan juga akan memberi sinyal pada klien bahwa kamu sangat tertarik pada proyeknya.

Memanusiakan Klien

Hal yang paling jelas terbaca bagi klien bahwa kamu belum pernah mengajukan penawaran pribadi adalah ketika kamu menuliskan pada surat permohonan seperti, “Kepada yang terhormat Bapak/Ibu”. Janganlah bersikap kaku. Cobalah untuk membuatnya menjadi lebih khusus dan tulislah nama kontak dalam pesanmu. Juga, sejak awal kamu menunjukkan bawah kamu memiliki keinginan membantu klien dalam menyelesaikan proyek mereka.

Cara terbaik untuk menunjukkan dedikasimu terhadap hasil kerja dan kebutuhan klien adalah dengan selalu terbuka dalam berkomunikasi agar klien selalu merasa dilibatkan dalam info terbaru dengan pengerjaan tugasmu. Jika kamu berpikir ada bagian dari proyek yang tak mungkin dikerjakan, jelaskan kepada klien dan ajukan solusi alternatifnya melalui surat elektronik atau telepon.

Yakinkan Klien

Kadang-kadang, tak peduli bagaimana pendekatan profesionalmu dengan mereka, klien potensial lebih bisa diyakinkan dengan keahlianmu jika kamu menawarkan portofolio keterampilan dan pekerjaan sebelumnya. Namun pastikan bahwa portofolio kamu ditandai dengan aspek-aspek:

  • Membuat portofoliomu dengan banyak variasi yang meliputi berbagai proyek terdahulu. Contohnya, jika kamu seorang web designer, cantumkanlah beberapa situs yang pernah kamu kerjakan termasuk e-commerce, situs sosial, dan situs pribadimu.
  • Masukkan ekspresi kesaksian dari klien sebelumnya yang puas dengan hasil kerjamu. Ini akan menjadi faktor penentu untuk pekerjaanmu, agar klien dapat memercayai perkataan orang lain yang menjamin kemampuanmu.
  • Cantumkan sertifikat dan contoh lainnya dari semua keahlian terbaikmu. Hal ini akan membantu meyakinkan klien bahwa kemampuanmu memang cocok dengan syarat yang mereka ajukan.

Dari semuanya, kamu perlu meyakinkan klien bahwa kamu bersedia untuk menjadi mitra kolaboratif dan profesional untuk proyek mereka. Kamu perlu menampilkan kesediaanmu untuk membantu, menasihati dan yang paling penting memberikan kemajuan setiap langkah sepanjang proyek berjalan, dan bahwa kamu akan membawa semangat dan dedikasi untuk membuat proyek mereka sukses. Hal ini mungkin akan menyita banyak waktumu untuk pekerjaan itu maka tentu tidak akan membuang-buang waktu ketika menemukan dirimu melihat kepuasan klien karena telah menawarkan proyek mereka kepadamu.

Mengelola Jadwal Kerja Teratur Untuk Freelancer

Dibutuhkan banyak waktu dan dedikasi untuk membangun karir freelance. Jam-jam yang panjang, pekerjaan dapat membosankan, dan sering Anda perlu untuk mengerjakan banyak hal dalam satu waktu seperti orang gila. Tetapi membebaskan diri dari jadwal kerja yang teratur dapat terasa fantastis. Bahkan mungkin lebay di sisi lain.

shutterstock_101796829

Freelancer Image via Shutterstock

Dalam artikel ini saya ingin membahas teknik yang solid untuk mendapatkan beberapa terorganisir dalam tugas sehari-harimu. Manajemen waktu adalah penting jika kamu ingin berhasil sebagai seorang freelancer. Kamu perlu untuk tetap berpegangan pada tugas dan merasa nyaman bekerja dalam menghadapi tenggat waktu. Dengan banyak latihan kamu dapat mengatur jadwal yang besar untuk hari kerja padatmu.

Atur Batas Waktu

Kebanyakan dari kita merasa keren untuk menghabiskan sepanjang hari bekerja tanpa henti. Tapi seiring waktu ini sangat menguras pada mentalitasmu. Saya sering menjadi lelah sepanjang hari mencoba untuk menyelesaikan banyak proyek yang berbeda sekaligus. Karena fokus yang terbagi, salah satunya.

Karena ini penting bagimu menetapkan batas untuk diri sendiri. Memahami bahwa batas waktu akan memberimu lebih banyak alasan untuk tetap memerhatikan semua pekerjaanmu. Jika kamu bekerja fokus untuk satu jam, kemudian kamu dapat mengambil 20 menit istirahat setelah itu, tidak peduli berapa banyak pekerjaan yang bisa dilakukan. Tentunya beberapa jumlah pekerjaan akan selesai dalam satu jam terlepas dari apa yang kamu fokuskan. Jadwalkan saja berapa pekerjaan yang akan diselesaikan segera dan atur mana yang harus terlebih dahulu selesai.

Tipe skenario kerja dan beristirahat seperti itu dapat ditukar sesuai kondisi dan keadaanmu. Kamu bisa memecahnya menjadi setiap 30 menit bekerja ada rehat sejenak, atau lebih pendek dari itu. Saya tergantung sinyal dari tubuh. Jika sudah mulai terasa pegal, ya bangkit dari tempat duduk dan segera beristirahat. Sekitar setiap 50 menit bekerja, saya ambil jeda. Ini waktu yang cukup untuk menyelesaikan sebuah proyek yang agak besar dan kembali bekerja setelah rehat akan masih terasa motivasinya.

Merenung Setiap Hari

Pada awal dan akhir pekerjaanmu setiap hari, sisihkan waktu untuk merenungkan pekerjaan hari itu. Apa yang sudah diselesaikan dan apa saja yang belum, apa yang berhasil dan mengapa ada yang tidak, dan cobalah menuliskan apa saja yang mungkin mengganggu atau menghambat pekerjaanmu hari itu.

Pagi hari, biasanya saya menghabiskan waktu untuk mengecek surat elektronik, membalasnya, dan meneruskan beberapa surel penting. Kemudian mengecek tugas satu hari akan melakukan apa saja. Tentu saja, bila asa yang membingungkan, meminta bantuan Om Google adalah hal pertama yang saya ingat. Rasanya lebih nyaman bila semua panduan tugasnya sudah beres di pagi hari. Hal ini bisa membantu saya untuk bekerja dengan fokus selama seharian.

Meski demikian, biasanya di akhir hari, segalanya bisa tampak berbeda. Lihatlah apa yang kurang dan belum selesai. Segeralah mengaturnya untuk diselesaikan secepatnya. Tetapi, lihatlah sisi positifnya. Kamu sudah mengerjakannya sejauh yang kamu bisa. Hal ini bisa menjadi pemicu semangat untuk segera menyelesaikan sisanya.

Membuat Daftar Tugas

Memiliki to-do-list setiap hari mungkin pas bagi beberapa orang, tetapi sebagian lainnya tidak. Tetapi bagaimana kamu bisa memangkas daftar ini agar tidak menjadi semakin bingung? Terutama untuk kamu yang bekerja di bidang berbeda seperti desain, penulisan, dan pengkodean. Saya sarankan menguji beberapa metode yang berbeda untuk mencatat tugas-tugasmu. Untuk desainer, cobalah untuk memecah beberapa tujuan dari tugasmu dan cek setiap saat. Mungkin tugas seperti “homepage PSD design” atau lebih rinci seperti “finish sidebar icons in PSD”. Apapun format yang kaupilih, pastikan kamu tetap fokus menyelesaikan semuanya tepat waktu.

Trik lain yang bekerja dengan baik adalah kerjakan tugas-tugas kecil. Kemudian kamu bisa melewatinya saat mengecek daftar tugasmu dan akhirnya menyelesaikan tugas akan terasa istimewa. Daftar rinci juga meringankanmu agar tugas tak hanya “finishing coding web template”. Kamu dapat dengan jelas mendefinisikan penanda tujuan daripada sekadar ide tak jelas, yang memungkinkan lebih banyak ruang agar kreativitas dapat tumbuh.

Kamu juga harus mempertimbangkan jika kamu mungkin akan lebih puas jika menyimpan daftar tugas di komputer dibandingkan menuliskannya. Beberapa teknisi era baru benar-benar merasa lebih nyaman dengan pilihan mereka untuk melakukan penyimpanan secara digital. Saya memiliki daftar tugas yang disimpan dalam jaringan dan mudah mengaksesnya secara mobile. Ini berarti saya akan selalu memiliki akses ke daftar tugas di mana pun termasuk di telepon saya, yang memberikan lebih banyak fleksibilitas. Cari prosedur yang paling nyaman untukmu dan tertib dengan pilihan itu! Ini demi kelancaran tugasmu sendiri.

Manfaatkan Waktu Rehat

Kita semua perlu menemukan beberapa saat untuk mengambil istirahat di antara sesi kerja. Bahkan sekadar rehat untuk makan siang atau camilan praktis, beberapa menit singkat itu sangat penting.

Ambil kesempatan dari istirahatmu dan lepaskan semua pikiran tentang pekerjaan. Cobalah melakukan kegiatan rekreasi jika kamu belum memiliki merencanakan sesuatu seperti berbelanja, makan malam di restoran, berolahraga dan lainnya. Video game atau acara TV dapat menjadi hiburan yang baik jika kamu bekerja dari rumah. Atau kamu bisa menjelajah internet sedikit, menelepon teman atau kerabat sekadar bertanya kabar yang diperlukan atau membalas pesan singkat. Apa saja untuk menjauhkan pikiranmu dari pekerjaan proyek.

Sangat penting untuk memiliki sesi istirahat ringan setiap kali merasa mulai sumpek dan lelah. Hati-hati lonjakan emosi mendadak! Pekerjaan bisa menyenangkan, tetapi juga dapat menjadi ganjalan di dalam kreativitasmu. Maka hati-hati jangan sampai kelelahan. Dengan pikiran yang segar kamu akan merasa terpacu untuk menekan keyboard lagi.

Rencana Untuk Tenggat Realistis

Perasaan ketika sukses menyelesaikan sepotong besar pekerjaan adalah kemerdekaan yang melegakan (terutama untuk saya). Ini bagus, apalagi jika tahu keuanganmu akan aman di akhir bulan. Tapi ada batas untuk jumlah pekerjaanmu yang dapat diselesaikan secara realistis dalam setiap proyek tertentu.

Karena hal inilah, kamu harus memerhatikan jadwal kerja. Jangan terlalu menjanjikan klien pada hal-hal yang tidak yakin dapat kamu selesaikan. Selalu ada saat terjadi perubahan jadwal dan skenario mendadak yang membuatmu terjaga sepanjang malam menenggak kopi untuk menyelesaikan tugas-tugas tambahan. Dan uang tidak selalu menjadi jaminan!

Ingat bahwa menempatkan diri pada pola makan dan jadwal tidur yang tepat sama pentingnya dengan jadwal kerjamu. Setiap rutinitas sehari-hari akan kacau jika kamu tidak bisa mendapatkan cukup tidur di malam hari. Kamu akan mendapatkan stres yang membuat fokus dan menyelesaikan pekerjaan menjadi sangat sulit. Carilah waktu yang kaurasa paling produktif untuk bekerja.

Saya mencoba mengatur waktu dengan bangun pagi dan memulai pada tugas-tugas lebih panjang seperti menulis atau mengedit. Saat menjelang sore, saya akan beralih ke tugas lain dan mengecek surat elektronik, chatting dengan calon konsumen, dan lainnya. Tetapi saya pernah berbicara dengan freelancer yang tidak bisa mendapatkan banyak dilakukan sampai setelah matahari terbenam. Semua orang memiliki jadwal waktu yang sesuai bagi mereka sendiri – jadi temukan waktu terbaikmu untuk bekerja!

Kesimpulan

Sulit untuk memberikan masukan yang sangat spesifik untuk freelancer berkaitan dengan penjadwalan proyek mereka. Karena semua orang bekerja pada kecepatan yang berbeda, rutinitas sehari-hari yang beragam tentu akan berlainan dari orang ke orang. Tapi teknik keseluruhan dan konsep untuk mengelola waktumu dengan benar harus berlaku secara universal.

Apakah kamu bekerja dari rumah atau di ruang kantor, selalu perlu menemukan cara untuk tetap fokus pada tugas. Saya berharap ide ini dapat memberikan dorongan yang kuat ke depannya. Freelancing adalah pekerjaan yang sangat sulit namun juga menguntungkan dalam banyak cara yang unik. Jika kamu punya ide bagus atau saran untuk mengatur jadwal, silakan berbagi di bagian komentar.

Tak Selamanya Bayaran Rendah Itu Buruk

Berapa banyak dari kalian tahu cara yang tepat untuk menyiasati pantangan? Banyak orang tidak, itulah sebabnya mereka gagal untuk bekerja. Ada mentalitas tertentu yang kamu harus memiliki untuk agar melalui pantangan dengan sukses, dan itu ada hubungannya dengan apa yang kaupercaya tentang kelanggengan kondisimu saat ini. Ketika memulai sebuah proyek, baik untuk diri sendiri atau untuk klien, akan tiba saat ketika pekerjaan tak lagi terasa menyenangkan, dan kamu akan memaksakan diri bergantung pada tekad awalmu untuk menyelesaikan tugasmu.

Dari mana datangnya tekad? Nah, jika kamu seperti saya, itu berasal dari pandangan ke masa depan – kamu berhenti dan mempertimbangkan apa yang akan menunggu di ujung cakrawala sana. Entah itu ketenaran, kekayaan, atau uang berpesta yang cukup untuk dilalui pada akhir minggu, alasan pertama yang mendorongmu untuk memulai proyek, dan bahwa sesuatu yang sama itu akan menjadi motivasi ketika terjadi hal-hal membosankan atau tidak menyenangkan. Setelah semua, hal tidak menyenangkan itu menghilang, dan imbalan yang kaudapatkan jauh lebih penting daripada rasa sakit sesaat.

Ini adalah cara yang sama dengan pantangan diet. Banyak orang terjebak di tengah-tengah diet mengerikan, mulai membenci kehidupan mereka, pasangan mereka, anjing mereka, dan memutuskan bahwa itu terlalu banyak untuk ditangani, dan akhirnya berhenti.
Mereka lupa bahwa itu semua sementara.
Hari ini, saya akan berbicara tentang fenomena diet pada kondisi bekerja untuk upah rendah. Atau, mengapa pekerjaan murah tidak selalu buruk.

shutterstock_139225733

Freelancer Image via Shutterstock

Lebih Dari Sekadar Upah

Banyak orang, termasuk saya sendiri, terus menyarankan freelancer lain untuk tinggal jauh dari klien pendiam yang ingin kamu melakukan pekerjaan bernilai ribuan dollar hanya untuk dibayar ratusan (atau bahkan hanya puluhan). Profesional kreatif pada umumnya adalah beberapa penyedia jasa yang paling suka menipu di dunia, sebagian besar karena dari mentalitas salah persepsi bahwa klien tidak mengerti atau malah sok mengerti tentang pekerjaan kreatif yang mereka berikan. Saya sangat percaya bahwa semua freelancer harus bertanggungjawab tentang semua pekerjaan yang mereka kerjakan, tidak menipu klien, tapi untuk melegalkan proyek.

Namun, ada sisi baik bekerja dengan potongan harga (dan ya, kadang-kadang bahkan tanpa tarif sama sekali) yang dapat memberikan nilai yang jauh lebih tinggi untuk seorang freelancer dari gaji standar biasa. Mengapa? Ketika kamu bekerja untuk mendapat upah, kamu dibayar dengan upah itu, dan hanya itu. Biasanya tidak ada bentuk kompensasi lain yang tersedia, yang, bagi banyak freelancer lain tidak menjadi masalah. Kita tidak menjalankan proyek amal di sini, kalau mau jujur. Tapi jika kamu menengok kembali ke awal karirmu, ada hal-hal lain yang dapat kamu negosiasikan pada klien yang membayar rendah bahwa ada yang lebih baik daripada uang.

Apa yang lebih baik daripada uang? Referensi, salah satunya. Saya tahu freelancer suka mengejek klien yang menjanjikan mereka “rayuan” atau omong kosong lainnya. Tak ada yang akan peduli ketika melihat kartu bisnis yang dirancang dengan indah, brosur, website, atau presentasi dan berpikir, “Astaga, aku baru saja harus mencari tahu siapa freelancer itu!” (Mungkin kita berpikir begitu sebagai freelancer culun, tapi percaya deh, orang normal tidak peduli).

Jadi “rayuan” tidak penting sebagai alat tawar-menawar. Referensi, di sisi lain, layak didapatkan freelancer pada setiap tahap karir mereka. Ketika klien memperkenalkanmu dan pekerjaanmu untuk klien berpotensi lainnya – orang yang nyata dengan uang dan jaringan nyata – dapat membawamu ke puncak karir yang tak pernah kamu bayangkan sebelumnya.

Kamu pasti bisa dan harus bernegosiasi dengan sebanyak mungkin referensi ketika bekerja dengan klien berupah rendah. Memiliki mereka adalah cara terbaik untuk meningkatkan basis klienmu, dan juga agar lebih fokus pada karirmu, karena sebagian referensi itu akan penjadi klien potensialmu sama seperti yang sekarang. Seperti yang sudah saya tulis sebelumnya, ini adalah cara optimal untuk freelancer untuk bekerja dan mengumpulkan banyak pengetahuan berharga dari industri tertentu dan pasar yang sedang mereka layani.

Ambil Saja

Ketika bekerja untuk tingkat tarif yang lebih rendah, kamu sebenarnya menyediakan layanan dengan harga diskon. Sama seperti sebuah perusahaan penyedia layanan internet atau telepon mungkin menawarkan pelanggan masa percobaan gratis untuk menarik perhatian mereka agar membeli, kamu sebagai freelancer dapat memanfaatkan kesempatan penawaran gratis atau murah untuk meningkatkan penjualan jasamu kepada klien yang membayar lebih tinggi. Namun, lakukan trik ini dengan benar sehingga kamu tidak mendapatkan kekacauan setelahnya. Ini ada hubungannya dengan negosiasi kompensasi dari klien sehingga mereka selalu menilaimu serius sebagai seorang profesional dan tidak pernah mencoba untuk mendapatkan lebih dari apa yang mereka bayar.

Beberapa orang berpikir bahwa bekerja secara gratis atau sangat murah selalu sama dengan bekerja tanpa keahlian khusus. Hal ini pasti tidak terjadi, dan inilah alasannya: ketika kamu bekerja tanpa keahlian, kamu menyediakan layanan untuk klien dengan biaya yang standar. Ini buruk. Benar-benar buruk.
Freelancer yang melakukan hal ini tidak hanya menurunkan nilai pekerjaan mereka, tetapi juga pengerdilan pertumbuhan seluruh karir mereka. Ketika klien menyadari bahwa mereka bisa mendapatkan ribuan dolar dari nilai pekerjaanmu yang hanya bernilai ratusan, ada penilaian mental yang berkembang di kepala mereka tentang kamu, dan freelancer pada umumnya. Pada dasarnya, mereka mulai percaya bahwa pekerjaanmu hanya bernilai ratusan dollar saja, akhirnya kamu akan selamanya dicap sebagai freelancer bernilai rendah dan murah.

Ini bukan apa yang kamu inginkan. Ketika kamu bekerja untuk tarif rendah, pastikan klienmu tahu bahwa mereka mendapatkan “percobaan gratis” – versi pecahan dari proyek jasamu yang dibatasi dengan ketat dan mengharuskan mereka untuk bisa kamu banggakan dengan nilai lebih dari sekedar uang. Jika kamu menawarkan klien harga tertentu, dan klien tidak mampu untuk membayar, harga berikutnya kamu tawarkan harus disesuaikan dengan jumlah pekerjaan. Dengan kata lain, klienmu harus mendapatkan apa yang mereka bayar. Dan untuk pekerjaan bebas, sangat penting untuk membuat perbedaan yang sangat besar dalam arahan dan kesempatan jaringan lainnya. Jangan pernah bekerja secara gratis untuk klien yang tidak terhubung dengan baik atau tidak mampu menyediakanmu sejumlah daftar rujukan baru- sama sekali tidak ada nilainya untukmu dan hanya membuatmu akan berakhir di tumpukan pekerjaan bertarif rendah.

Kuncinya, seperti sedang melakukan diet atau mendorong dirimu untuk menyelesaikan sebuah proyek membosankan dan panjang, adalah memikirkan pekerjaan bebas atau bayaran rendah sebagai pemasukan sementara, daripada keadaan keuanganmu tak karuan. Jika kamu memberikan semua itu secara gratis atau sangat murah, atau kamu terus bekerja untuk tarif rendah lebih lama dari yang diperlukan saat membangun jaringan guna menambah klien, klienmu tidak akan menganggap kamu pantas untuk pekerjaan dengan bayaran lebih tinggi. Mengapa mereka harus begitu? Jika kamu terpatri di pikiran klien sebagai freelancer bernilai $ 200, mengapa juga mereka bisa secara otomatis memikirkanmu ketika mereka memiliki proyek $ 5.000 atau $ 10.000? Nggak akan mungkin terjadi.

Di sisi lain, jika kamu telah memberikan klien tepat dengan jumlah pekerjaan senilai tepat $200, dan mereka tahu kamu menguasai dan memahami proyek yang telah selesai itu, mereka mungkin akan mempertimbangkanmu untuk bekerja dengan bayaran lebih tinggi. Mengapa? Karena mereka tahu mereka saat ini tidak mendapatkan yang terbaik dari apa yang kautawarkan, dan nilaimu telah memberikan mereka sejauh ini (dengan asumsi kamu melakukan pekerjaan yang sangat baik) akan memberi mereka kepercayaan diri untuk mempercayaimu untuk proyek berlevel tinggi dan lebih rumit.

Menurutmu Bagaimana?

Bagaimana caramu mendekati pekerjaan yang membayarmu kurang dari tarif standar? Apakah ada teknik yang berguna untuk menjaga diri dan membantumu keluar dari setumpuk tawaran kerja bernilai rendah?

Menolak Bisnis Buruk: Kemewahan Sejati

Ada sebuah pengalaman yang layak untuk disimak.

Sebagai seseorang yang bekerja di kedua sisi baik freelancer dan klien, seorang freelancer memberikan banyak saran dari “orang dalam” kepada desainer saat berurusan dengan klien mereka. Salah satu masalah yang paling sering dia dengar adalah bahwa desainer akan senang untuk dapat menolak klien terburuk mereka – orang-orang yang terlambat membayar, tidak membayar sama sekali, atau yang rata-rata lebih banyak merepotkannya daripada bantuannya. Tapi masalahnya, desainer ini memberitahunya, adalah bahwa mereka memang hanya tidak bisa menerimanya. Tanpa alasan apapun.

Mereka harus membayar tagihan, mulut untuk memberi makan, dan sebagainya. Setiap kali mendengar keluhan ini, cobalah untuk melenyapkan sumber keresahan itu. Apa yang menyebabkan para desainer memiliki mentalitas ini? Mengapa mereka tidak melihat diri mampu memiliki apa yang disebut “mewah” ketika menolak klien yang buruk? Saya pikir mereka sedang melihat sesuatu dari ujung yang salah. Yang bisa mereka lihat adalah ‘saya harus membayar tagihan saya dan tidak mampu untuk menjadi pemilih,’ ketika seluruh proses hubungan klien benar-benar tentang begitu banyak lebih dari sekadar yang dipermasalahkan itu.

shutterstock_179882423

Freelancer Image via Shutterstock

Duduk Tegak

Ketika kamu memulai hal-hal yang salah, kamu pun akan menyelesaikannya dengan cara salah. Itu hanya fakta kehidupan, dan itu berlaku untuk hampir segalanya. Saya akan berbagi contoh dari kehidupan seseorang bahwa beberapa dari kamu mungkin juga akan berurusan dengan: cedera yang berhubungan dengan pekerjaan desain. Dia memiliki kursi teraneh di dunia, yang menimbulkan malapetaka besar pada punggung dan bahunya hingga akhirnya dia diganti oleh orang lain untuk penyelesaian proyek. Kebanyakan luka pada punggung, bahu, dan pergelangan tangan disebabkan oleh sikap tubuh yang buruk (dan kursi jelek itu).

Jika kamu duduk di depan komputer dan tulang punggung membungkuk dalam posisi aneh, atau tanganmu sedikit bengkok pada mouse, itu akan baik-baik saja untuk sementara. Kamu mungkin akan merasa sakit untuk satu jam pertama – bahkan mungkin dua. Tapi coba lakukan hal itu setiap hari selama satu tahun dan kamu baru akan menyadari harus menggunakan penjepit tulang dan ribuan dolar dalam tagihan terapi fisik. Bagaimana kamu menghindari jenis bencana seperti ini? Dengan duduk tegak dengan postur tubuh yang tepat dari awal. Saya tahu, saya tahu – saya terdengar seperti ibumu. Tapi dia benar. Satu ons pencegahan bernilai satu pon pengobatan dan semuanya. Dan jangan lupa makan sayuranmu!

Kamu harus mulai dalam posisi yang baik untuk berakhir dalam satu proyek utuh. Jika ingin langgeng, hubungan yang saling menguntungkan dengan klien berkualitas, kebenaran menyebalkannya adalah bahwa kamu mungkin harus membuat beberapa pengorbanan jangka pendek di awal. Kamu mungkin akan mendapat sedikit krisis finansial, atau menolak untuk bekerja dengan klien tertentu jika kamu melihat perilaku buruk klien mulai muncul. Ini bukan untuk menegakkan “kehormatan” yang ideal atau apa pun, tapi hanya karena setiap pekerjaan omong kosong yang kauambil menempatkanmu lebih jauh dari tujuan pekerjaanmu sebenarnya yang bisa dibanggakan. Ini mungkin tampak tidak bertanggung jawab untuk dilakukan, tetapi jika kamu memiliki pelayanan yang benar-benar berharga untuk ditawarkan kepada klien yang berharga, coba saja lakukan.

Tegaklah dan angkat kepalamu! Berhentilah melihat dirimu sebagai orang yang tidak “memenuhi syarat” untuk menolak bisnis yang buruk. Sebaliknya, mulai melihat itu sebagai sebuah keharusan. Bagaimana lagi caramu memberi ruang bagi klien luar biasa jika waktumu terbuang oleh orang-orang jelek? Bekerja untuk mengubah dirimu, bukan klien. Seorang klien yang buruk tidak akan pernah berubah menjadi salah satu yang baik. Tidak pernah. Mungkin kamu akan bosan mendengarnya. Tapi saya masih perlu mengatakannya, karena cukup banyak desainer di luar sana yang masih tidak mengerti. Itu salah satu poin utama karena suatu alasan; Saya pun sering melihatnya. Keluarlah dan hadapi klienmu.

Makan Seperti Bangsawan

Sederhananya adalah: Jangan mengemis proyek.  Bagaimana seorang desainer memutuskan berhenti berjuang mencari proyek untuk menolak klien yang banyak tuntutan? Banyak desainer yang tersinggung atas saran bahwa mereka jangan sungkan untuk menolak pekerjaan – “Kau tidak tahu aku memiliki keluarga untuk memberi makan dan / atau bir untuk membeli?” Saya paham. Saya tahu bagaimana rasanya berjuang menjadi seorang freelancer, harus mengambil pekerjaan apa pun yang bisa kamu dapatkan. Tapi saya juga tahu bagaimana rasanya untuk berpaling pekerjaan yang tidak sesuai dengan profesionalisme saya. Bagaimana saya pindah dari titik A ke titik B sebenarnya tidak rumit, juga bukan kebetulan atau hanya keberuntungan saya.

Kuncinya adalah untuk mengubah sikapmu. Saya mengakui bahwa saya tidak akan dapat memberikan jasa terbaik kepada klien yang tepat jika saya terus mengambil yang salah. Saya bisa melayanani kebutuhan klien dan itu bukan berarti saya yang mengatur klien. Kamu berutang mimpi kepada klien-klien, dan untuk diri sendiri. Jika kamu mendedikasikan diri untuk mencari dan membantu orang-orang yang “klik” denganmu, kamu akan bekerja dengan sedikit usaha dan semakin banyak uang mengalir ke rekeningmu. Dan sebagai bonus, stress dan frustrasimu akan jauh berkurang. Mungkin sedikit dari beberapa freelancer akan memiliki cerita mengerikan tentang klien buruk dan saya tidak akan terkejut. Been there done that :D

Beradaptasi dengan Kesempatan Baru

Manusia sangat mudah beradaptasi. Lihat saja betapa beragamnya kita, telah berevolusi untuk beradaptasi dengan hampir semua situasi – baik atau buruk. Jika kamu menyesuaikan diri dengan gaya hidup mengambil klien mana pun meski dengan cara mengorek proyek sisa, jangan memaksakan diri untuk berdalih: beradaptasi terhadap situasi yang buruk. Kamu mungkin berpikir bahwa memiliki kebijakan terbuka dengan klien yang buruk hanya “bagaimana baiknya” untuk freelancer, tapi sebenarnya tidak.

Sebagai seorang profesional kreatif berbakat, kamu perlu tahu bahwa kamu mampu berbuat lebih banyak daripada yang kamu pikirkan. Kendalikan pikiran dan tindakanmu sendiri untuk beradaptasi. Buatlah beberapa peluang baru dan jangan takut untuk membuang apa pun yang tidak bekerja dengan baik.

Apa yang Kamu Pikirkan?

Freelancer, sudahkah kamu menyingkirkan klien buruk dari daftarmu? Apa strategi yang cocok untukmu, dan yang paling penting, bagaimana hal itu bisa meningkatkan bisnismu?

Membuat Klien Tunduk Pada Harga Berbasis Nilai

Pada akhirnya, harga berbasis nilai akan membuat klien memohon padamu untuk bekerja sama dengan mereka.

shutterstock_66622741

Freelancer Image via Shutterstock

Jika kamu pernah pergi ke restoran sushi terbaik, taruhan yang ada di pikiranmu saat melihat menunya kemungkinan adalah, “Ini pasti lumayan mahal.” Itu benar – dipersiapkan dengan sangat baik, sushi yang disajikan dengan sentuhan seni tentulah tidak murah. Tetapi mengapa harus seperti itu?

Ketika kamu memilih pergi ke restoran sushi terbaik, kamu tidak hanya membayar bahan dasar menunya. Kamu membayar untuk seluruh nilai yang kamu terima. Kualitas makanannya, pengalaman saat kamu datang ke restoran, bahkan keahlian sang koki dalam persiapan dan penyajiannya adalah semua bagian yang kamu bayar.

Hampir mirip, meski kita telah diajarkan sebagai freelancer untuk berpikir cara menghargai diri kita per jam atau per proyek, kita harus memikirkan semua termasuk harga dari nilai pekerjaan.

Inilah kenyataan yang lebih akurat dari sistem penentuan harga untuk freelancer, karena sekali kamu mengambil interaksi dengan klien, memiliki pengalaman segudang, semua usaha, dan hasil pekerjaanmu (tidak termasuk kualitasnya), kamu tak lagi hanya berurusan dengan setiap menit dalam hidupmu. Kamu berurusan dengan pihak yang dapat menentukan bahwa jasa lebih berharga daripada waktu.

Harga Berbasis Waktu Tak Akan Bertahan Lama

Pada awal karir freelancing kamu, menetapkan harga jasamu sesuai dengan waktu tentu masuk akal. Di samping itu, lebih mudah menjaga jalur pengeluaran bisnismu dan pendapatannya hingga pada recehan terakhir, dan membantumu menghitung kebiasaan kerjamu, seperti berapa lama sebenarnya kamu menyelesaikan proyek. Penetapan harga berdasarkan waktu kerja juga menjagamu untuk tetap waspada jika tiba-tiba tagihan mulai menggunung.

Tetapi akan tiba saatnya semua tagihan itu akan terbayar otomatis secara tetap, dan kamu tak perlu khawatir lagi. Kamu menyadari bahwa kamu membutuhkan lebih lagi, jadi kamu dapat meningkatkan bisnismu di level selanjutnya.

Inilah saat kamu memperhatikan nilaimu dan bukan sekadar “apa yang dibutuhkan untuk membuatnya.”

Tentu, kamu dapat terus mengatakan kepada diri sendiri bahwa itu masuk akal untuk biaya per jam karena kamu masih mendapatkan apa yang kamu butuhkan untuk hidup, dan semua yang perlu kamu lakukan untuk mendapatkan lebih banyak adalah biaya lebih sehingga kamu memiliki tarif per jam lebih tinggi. Dan tentu saja kamu dapat terus mengatakan pada diri sendiri bahwa tidak apa-apa untuk memberikan penawaran didasarkan pada berapa lama kamu pikir proyek ini akan selesai.

Tetapi kamu hanya akan menunda krisis yang tak terelakkan.

Sayangnya, freelancer yang membuat kesalahan penetapan harga dari tarif per jam cenderung melanggarnya, karena merekalah yang sering merendahkan pekerjaan mereka sendiri. Mereka berpikir, “Jika saya ingin membuatnya seperti ini, saya harus bekerja sekian jam, jadi nilai proyek akan seperti ini.” Mereka memposisikan diri tidak lebih dari bagian-bagian terpisah yang membentuk layanan mereka, seperti bahan-bahan sushi kontra seluruh pengalaman restoran sushi.

Hal ini sering berarti mereka terjebak dengan mencoba untuk menyelesaikan suatu proyek dalam jangka waktu yang mereka tagih untuk menghindarinya menurunkan tarif per jam, atau harus berurusan dengan klien yang mencoba untuk mendorong mereka untuk memberikan layanan tambahan gratis. Atau, lebih buruknya, mereka harus berurusan dengan kenyataan bahwa klien harus membayar lebih banyak karena pekerjaan mereka memberikan banyak nilai.

Sebagai contoh, katakanlah tarif khusus kamu adalah $ 75 per jam, dan kamu berpikir proyek klien akan menghabiskan waktu 30 jam, sehingga kamu menyebut angka $ 2.250. Tapi bagaimana jika proyek benar-benar berakhir menjadi bernilai jauh lebih dari itu untuk klien kamu, katakanlah, $ 5.000? Kamu akan kehilangan lebih dari $ 2700, lebih dari dua kali lipat tagihanmu untuk klien ini.

Kamu nggak ingin berurusan dengan hal ini seumur hidup, kan?

Mulailah Memerhatikan Nilaimu
Cobalah mencari tahu apa yang harus dibiayai berdasarkan nilai yang akan kamu berikan kepada klienmu. Sadarilah nilai ini bisa terlihat berbeda untuk masing-masing; proyek 30 jam mungkin hanya bernilai $ 5000 untuk satu klien sementara yang lain akan dengan senang hati membayar lebih dari $ 25.000.

Inilah sebabnya mengapa harga pada nilai, bukan tarif per jam, sangat penting. Ini penentuan untuk “keluar dari penjara gratis” kamu.

Ada Nilai Untuk Nilai

“Tunggu sebentar,” kamu mungkin berkata. “Siapa yang akan membayar untuk beberapa nilai hipotetis yang saya klaim dan dapat menawarkan klien?”

Kamu akan terkejut betapa banyak orang bersedia membayar untuk nilai. Jika ada sesuatu yang sulit untuk memperoleh, membuat, atau menggandakan, itu dianggap berharga, hampir eksklusif, dan orang-orang menginginkannya. Itulah sebabnya mereka bersedia merogoh kantong lebih dalam untuk cincin pertunangan berlian, dan itu juga mengapa pecinta kuliner bersedia untuk membayar tunai untuk sebuah pengalaman menyantap sushi yang tak terlupakan.

Sama seperti orang akan membayar untuk nilai, begitu pun dengan klien.

Ini berarti kamu harus berhenti memikirkan jasamu sebanyak waktu yang kaupakai di dalamnya, dan bukannya memikirkan keseluruhan nilai yang mereka bawa kepada klienmu.

Jika kamu punya rekam jejak yang memberikan ide-ide berguna untuk klienmu yang mereka terapkan dan berdampak mendapatkan lebih dari yang diharapkan, kamu akan terkejut berapa banyak orang akan ingin mempekerjakanmu ketika kamu memposisikan diri sebagai satu-satunya freelancer yang membawa hasil dan nilai tanpa saingan. Setelah semuanya, kamu pada dasarnya memberikan mereka sebuah cincin berlian atau benar-benar sushi terbaik.

Kamu tidak akan ingin merendahkan biaya untuk semua sajian itu, seperti kamu tidak akan melakukannya terhadap layananmu sendiri.

Jangan Meremehkan Nilai Jasamu

Jika kamu masih khawatir tentang beralih ke harga berbasis nilai, hentikan itu. Kamu perlu membayar tagihan, tentu saja, tetapi juga harus memperlakukan diri kamu seperti seorang profesional jika kamu mengharapkan orang lain untuk melakukan hal yang sama. Setelah membayar semua tagihanmu dengan harga berdasarkan waktu, duduk dan menganalisis segala sesuatu yang telah kamu pelajari tentang dirimu, bisnismu, dan klienmu. Harga layananmu berdasarkan nilai yang kaubawa kepada mereka, dan mereka akan dengan senang hati merekomendasikanmu ke klien baru yang akan membayar biaya yang kauminta. Dengan kata lain, namamu akan mulai terjadi di sekitar sebagai freelancer ahli yang dicari.

Bagaimana pun, jangan menerima penawaran yang kamu tahu tidak sepadan dengan waktu dan stress yang akan kamu hadapi. Jika misalnya klien ingin kamu mendesain sebuah website seharga $20,000, tetapi mereka memiliki permintaan yang kamu pikir akan lebih dari nilai kontrak $20,000, negosiasikan bahwa yang kamu dapat tawarkan kepada mereka sesuai dengan harga yang disodorkan. Jika mereka tidak suka dan tetap merendahkan hargamu, tinggalkan saja. Akan ada klien lain yang dengan senang hati menerima penawaran yang sama.

Jika kamu memperlakukan dirimu sendiri sebagai professional dan menghargai pekerjaanmu, klien akan datang padamu, dan setidaknya ketakutan untuk pindah ke value-based pricing tak akan terjadi.

Membuat Transisi Menuju Harga Berbasis Nilai

Sama seperti seorang koki sushi harus terus berlatih membuat sushi berkualitas tinggi, dibutuhkan waktu dan pengalaman (dan terus kurangi keraguan dalam dirimu sendiri) sebelum mencari cara untuk lebih baik harga nilai jasa freelance kamu.

Tidak apa-apa, selama kamu membuat transisi dari harga berbasis waktu ke berbasis nilai, karena tetap berdiam dalam sistem berbasis waktu menjadi konyol jika kamu serius tentang pekerjaanmu. Setelah kamu membuat transisi, jangan biarkan orang lain membuat kamu merasa kurang dari harga yang kauminta. Kamu seorang profesional dengan bisnismu sendiri, setelah semuanya, dan yang berharga pada saat itu.

Kamu punya pengalaman bernego seperti ini?

Mitos Tentang Freelancer. Pernah Dengar?

Mitos berkembang karena kurangnya pengetahuan tentang sesuatu. Beberapa mitos diklaim berlebihan, ada yang menghasilkan kebenaran, dan sisanya hanya mitos belaka yang lebih suka dilebih-lebihkan. Di bawah ini adalah mitos yang melekat pada diri freelancer dan bagaimana mereka menikmatinya dalam kenyataan.

Sebelum membaca, mohon dicatat bahwa hal ini subyektif yang sering menjadi perbincangan di kalangan masyarakat tentang freelancer. Boleh setuju atau tidak dan silakan beri komentar ya.

Mitos #1: Freelancer Jarang Gaul

Nggak juga sih. Beberapa justru pergi bersosialisasi, eksis, dan bertemu sesama freelancer di kafe sekadar untuk rumpi di sela-sela bekerja. Seperti kebanyakan orang, freelancer juga suka menghabiskan malam untuk menonton televisi, menghadiri konser music, atau pergi ke restoran bersama pasangan.

Kenyataannya: Ya, kita tak bisa menyalahkan mereka yang nyaman bekerja dari dalam rumah. Seperti saya yang mengakui, terkadang menghitung hari dengan “berjamur” di rumah dan jarang bertemu tetangga.  :D

Mitos #2: Memilih Freelancing Karena Tak Mendapat Pekerjaan

Susah mendapat pekerjaan? Ada yang kontras dengan mitos ini. Ada yang sudah nyaman dengan pekerjaan freelancing mereka, menikmati bayaran di atas rata-rata, dan ternyata masih mendapat surat elektronik dari perusahaan yang pernah dikirimi CV, tetapi memilih tetap di rumah dan menghadapi segala kemungkinan tak terbatas dari freelancing. Beberapa orang meninggalkan pekerjaan tetapnya dan sukses menjadi freelancer (oh, saya belum termasuk jajaran mereka). Sebagian yang lain sebenarnya memilih freelancing karena tak menginginkan bos yang selalu mengomel di sekitar mereka atau karena mereka lebih suka bekerja sendiri.

Kenyataannya: Sayangnya memang ada orang-orang yang memasuki dunia freelancing karena pasar kerja terlalu penuh untuk menampung mereka atau keterampilan mereka tidak memenuhi standar perusahaan. Inilah hal yang terjadi pada siapa pun yang aktif mencari setiap kesempatan tetapi tak bisa atau tak mendapatkannya.

shutterstock_162293063

Freelancer Image via Shutterstock

Mitos #3: Freelance = Bukan Pekerjaan Berkualitas

Kebanyakan freelancer sebenarnya lebih profesional daripada orang yang bekerja di lingkungan kantor. Mereka lebih dewasa dan mampu menangani tugas yang menakutkan seorang diri, tanpa perlu bantuan dari tim atau perusahaan.

Kenyataannya: Jika penyedia jasa tidak menyiapkan pekerjaan berkualitas, pastinya dia tak akan puas dengan apa yang klien berikan padanya atau dia tak siap untuk pekerjaan itu. Sayangnya ini sebenarnya tergantung dari kemampuan penyedia jasa dan harapan klien.

Mitos #4: Freelancer Lebih Banyak Bersantai

Dan inilah mitos tentang freelancer yang disebutkan menghabiskan banyak waktu dengan tidak bekerja dan masih mendapatkan penghasilan. Beberapa di antaranya melakukan hal itu khususnya mereka yang membutuhkan inspirasi untuk bisa bekerja dengan baik.

Kenyataannya: Jika kamu mengenal seseorang yang melakukan banyak hal dengan santai dan hanya duduk manis ketika bekerja, coba cek lagi. Tentu saja, biasanya memang sedang tidak ada pekerjaan yang harus diselesaikan atau dia tipe yang bekerja dengan cepat.

Mitos #5: Waktu Kerja Freelancer Lebih Lama Dari Karyawan Kantor

Agak kontras dengan mitos sebelumnya, tapi bukankan mitos memang bertolak belakang dengan dirinya sendiri, kan? Mungkin terlihat sangat melelahkan tetapi benarkah freelancer bekerja lebih dari 16 jam sehari?

Kenyataannya: Ini hanya terjadi pada mereka yang tidak bagus dalam mengatur waktunya. Tenggat pekerjaan pada hari Jumat? Selesaikan pada hari Rabu. Catatan kecil: mereka mungkin saja menyelesaikan sejumlah pekerjaan yang dijadwalkan keesokan harinya. Bagus, kan?

Mitos #6: Freelancer Tak Pernah Menggosok Gigi Sebelum Bekerja

Tak semuanya. Hanya beberapa. Beberapa freelancer senang bekerja dengan perasaan segar dan santai. Mandi sebelum bekerja akan menambah fokus dan tiba-tiba bisa menumbuhkan ide-ide baru. Itu rahasia mandi dengan siraman ide. Pernah mengalaminya?

Kenyataannya: Tidak higenis! Tetapi kenyataannya adalah demikian. Ada seorang freelancer yang berbicara tentang keuntungan berada di rumah untuk bekerja. Dia menyebutkan bahwa menggosok gigi sebelum bicara pada bos melalui internet bukanlah sebuah keharusan. Dia sendiri mandi setiap tengah malam. Menurutmu?

Mitos #7: Freelancer Adalah Pekerja Rendah

Inilah yang sesungguhnya terjadi pada kebanyakan freelancer pemula ketika mereka tidak mengetahui berapa biaya jasa yang yang seharusnya mereka tagih kepada klien. Tetapi kenyataannya banyak freelancer ahli yang tak ditemukan meski ada di sekitarmu. Agar adil, untuk pemula harusnya tidak masalah untuk menghargai jasanya dengan murah sementara membangun nama baik.

Kenyataannya: Freelancer setuju dibayar rendah untuk dua alasan: 1. Tak ada tabungan dan 2. Dipecat.

Mitos #8: Sudut Pandang Klien: Risiko

Menyewa freelancer untuk proyek besar adalah risiko tingkat tinggi. Sebenarnya, kebanyakan freelancer ketika kejatuhan durian runtuh berupa proyek besar dengan bayaran keren, tidak akan melakukan apapun yang bisa membuatnya ditendang dari proyek.

Kenyataannya: Di mana ada asap, di sana pasti ada api. Sayangnya ada saja freelancer yang tak cukup dewasa untuk mengambil tanggungjawab. Untuk klien di luar sana, ingatlah bahwa kesalahan yang kecil tak merefleksikan keseluruhannya.

Jadi, nomer berapa yang menjadi bagian dirimu?

10 Ancaman Bahaya Bagi Kesehatan Freelancer

Bagi kebanyakan dari kita, freelancing adalah mimpi yang harus menjadi nyata. Kita bekerja dari rumah, mengatur waktu sendiri, dan menjadi bos bagi diri sendiri. Sisi lainnya mungkin nyaris tak banyak yang menarik. Apa yang tak kita sadari adalah bahwa freelancing melibatkan jam kerja lebih banyak daripada pekerjaan kantoran, karena tak ada bedanya hari kerja dan akhir pekan. Satu lagi, tak ada cuti yang dibayar. Benar kan?

shutterstock_113378437

Freelancer Image via Shutterstock

Hal ini tentu saja memengaruhi pekerjaan freelance yang akhirnya berakibat pada kesehatan dan kebiasaan bekerja kita. Nah, di bawah ini adalah bahaya kebiasaan dalam freelancing yang mungkin akan terasa bertahun kemudian, bukan saat ini.

Kecanduan Kopi

Jika saat bangun tidur di pagi hari, pikiranmu pertama kali dipenuhi oleh “keharusan untuk memulainya dengan segelas kopi”, berarti kamu termasuk kecanduan kopi. Kamu menyeduhnya sebelum menggosok gigi dan mungkin di gelas kedua, kamu baru merasa semuanya berfungsi normal. Kamu akan uring seharian bila tak mendapat asupan kafein. Kerjaan menjadi berantakan.

Solusi: Kalau kamu terbiasa meminum 2 gelas sebelum bekerja, cobalah mengubah ukuran gelasnya. Toh otakmu akan mengolah kenyataan bahwa kamu memiliki dua gelas dan tak begitu terpengaruh dengan isinya .

Seduh takaran yang lebih kecil setelah seharian. Sekali kamu tahu bahwa sudah banyak kopi hari ini, kamu akan lebih hati-hati terhadap asupannya.

Bekerja/Istirahat Terlalu Larut

Banyak freelancer menjadi burung hantu. Iya, maksudnya adalah karena freelancer merasa lebih produktif di malam hari. Kamu juga? Ada kesempatan yang bagus untuk mengubah kebiasaan jelek begadang ini dengan memajukan jam kerjanya.

Begadang demi mengejar tenggat sih, oke oke saja jika dikerjakan sesekali, tetapi akan menjadi sebuah masalah serius jika menjadi kebiasaan.

Solusi: Atur jadwal tenggat proyek sehari sebelum tanggal yang ditentukan. Jadi, ketika ada yang harus dilengkapi atau disempurnakan, kamu masih memiliki waktu sehari untuk membereskannya.

Merokok

Merokok buruk untuk kesehatanmu. Ini fakta umum, lho. Freelancer yang merokok akan menambah jumlahnya ketika bekerja, sadar ataupun tidak. Selama kamu sedang bekerja, kamu akan terus melihat ke bungkus rokokmu dan sebelum kamu menyadarinya, asbakmu penuh dan bungkusnya menjadi kosong, dan kamu tetap merasa sakaw rokok!

Merokok di luar batas akan mengakibatkan masalah kesehatan, baik dalam jangka pendek atau panjang. Saya tak mengatakan kamu harus berhenti, tapi untuk menguranginya selagi bisa.

Solusi: Jadikan ruang kerjamu bersih dan bebas dari asap rokok. Jauhkan asbakmu dan segera buang setiap bungkus yang sudah kosong. Jika kamu ingin merokok, keluarlah dari ruang kerjamu.

Jika kamu sedang fokus mengerjakan sesuatu, ini kesempatan untukmu menjauh dari rokok. Sebelum kamu menyadarinya, proyek tuntas dan kamu tahan tidak merokok untuk beberapa jam!

Carpal Tunnel Syndrome

CTS adalah ancaman yang sangat serius bagi semua freelancer dan kebanyakan dari kita sudah pernah mengalaminya. CTS disebabkan oleh gerakan berulang dan dapat memengaruhi jari, otot, dan tangan. Bayangkan ini: Kita berhadapan dengan komputer selama berjam-jam untuk mengetik. Kita menekan tombol backspace atau delete berulang kali dan jari-jari kita ada di posisi yang sama terus menerus sama seperti menggunakan mouse. Tapi kita tak pernah sadar itu, ya?

Di saat terburuknya, CTS membutuhkan operasi untuk memperbaikinya dan waktu sekitar 6 minggu untuk pemulihan. Dapat kaubayangkan tidak bekerja untuk waktu yang lama? Siapa yang akan membayar semua tagihan? Jika kita tak mencegahnya, kita menempatkan diri pada risiko terburuk.

Solusi: Latihlah tanganmu setiap jam. Lemaskan, regangkan jemarimu, dan putarlah pergelangan tanganmu. Cobalah genggam bola pijat yang lentur atau benda apa saja yang bisa membantu melemaskan tanganmu. Taruh di atas meja dan gunakan kapan saja ketika menenangkan pikiran atau beristirahat.

Mata Panas

Apa yang akan terjadi setelah melihat layar komputermu seharian? Kombinasi antara kurang tidur dan matamu yang mulai terasa pedas dan panas.

Solusi: Tutup matamu untuk beberapa menit dan istirahatkan. Lepas kacamatamu bila menggunakannya. Cuci wajahmu dengan air dingin dan gunakan kapas yang telah dibasahi untuk menyejukkan matamu. Tetapi saya pribadi memilih potongan mentimun agar mata kembali segar.

Perhatian yang Mudah Teralihkan

Ini mungkin yang paling mudah untuk disalahkan dari kemajuan internet. Karena kebutuhan pekerjaan, kita malah terjebak untuk terus berhubungan dengan internet 24/7. Lihat bagaimana kita terhubung dengan surat elektronik, RSS readers, Twitter, dan lainnya yang telah membuat kita diatur untuk mengurangi perhatian secara drastis. Kita tetap mudah teralihkan oleh satu atau beberapa hal. Jika tidak surat elektronik, mungkin Twitter. Jika bukan Twitter, mungkin blog kita atau justru keasyikan berkomentar di sana sini.

Sebelum menyadari semuanya telanjur jauh, hari kita sudah habis dan waktu tak lagi banyak untuk bekerja. Tenggat semakin dekat!

Solusi: Buatlah skala prioritas. Jika memang harus bekerja, tutup semua aplikasi dan sambungan internet. Tutup kotak surat elektronik, Twitter, situs, atau apapun yang membuatmu teralihkan.

Bagilah pekerjaanmu dalan beberapa kelompok dan beri dirimu sendiri istirahat ketika menyelesaikan satu kelompok. Periksalah suratmu, Twitter, Facebook, atau bacalah blog favoritmu. Akan terasa sulit pada awalnya, tetapi cobalah karena sebenarnya mudah. Hasilnya akan membuatmu merasa lebih ringan.

Nyeri Punggung dan Leher

Kita berada di meja hampir seharian. Duduk di cursing dan mata menyapu layar bukanlah hal yang nyaman dilakukan. Setelah beberapa jam, leher kita mulai menjadi kaku dan punggung mulai terasa nyeri. Kita berpindah posisi duduk dan mengganti kursi mencoba untuk mencari kenyamanan saat bekerja tetapi menyita waktu. Pernah menyadari hal itu? Ini hanya ketika kita akhirnya menyadari bahwa hari semakin larut atau malah sudah beranjak pagi.

Solusi: Regangkan leher dan punggungmu dengan jarak waktu beraturan. Bangunlah dari tempat dudukmu dan berjalan mengelilingi ruangan atau ke taman sebelum kembali duduk. Jika nyeri masih terasa dan semakin menyakitkanmu, cobalah taruh bantal di belakang punggungmu untuk menyanggah posisi dudukmu.

Postur Tubuh yang Buruk

Setelah membungkuk di depan komputermu berjam-jam, tubuhmu mulai terbentuk jadi jelek dan menjadi lebih terasa sakit.

Solusi: Agar terhindar seperti orang tua yang bungkuk, cobalah membeli kursi ergonomis. Memang harganya lumayan mahal tetapi akan membuatmu nyaman beberapa tahun ke depan, kan? Dan jika kamu mampu, cobalah membeli meja ergonomis juga.

Stres

Klise? Pekerjaan yang gila-gilaan, klien yang selalu menuntut, tenggat yang mencekik, dan malam-malam yang semakin larut akan menggiringmu menuju stres. Kamu mungkin bisa berkreasi di bawah tekanan, tetapi jika berkelanjutan, you’ll get burned out.

Beberapa bagian dari stres baik untuk kita. Kita harus mengambil freelancing dengan serius untuk mengeluarkan karya terbaik tetapi jika justru memberimu malam tanpa istirahat dan sakit kepala yang betah menganggumu, ada sesuatu yang harus diubah.

Solusi: Temukan apa yang paling membuatmu stres ketika bekerja. Apakah kamu senewen menghadapi klien tertentu? Proyek besar? Apapun itu, identifikasi sumber salahnya dan cari cara untuk mengurangi hal yang dapat memicu situasinya menjadi kacau.

Menjadi Gemuk

Cobalah cek tubuhmu sendiri. Pasti kamu termasuk yang memiliki bokong lumayan “tebal” karena kebanyakan duduk. Kecuali bagi mereka yang berolahraga agar tetap waspada, freelancer cenderung mendapatkan kelebihan berat badan.

Solusi: Cobalah berolahraga. Tak perlu yang berat, hanya sedikit peregangan dan berjalan di sekitar taman atau jogging pun sudah cukup agar tubuhmu senantias bugar.

Sebagai freelancer, saya pribadi sudah menghadapi hampir semuanya kecuali bagian merokok karena saya bukan perokok aktif. Well, sesekali menjadi perokok pasif di berbagai pertemuan. Saya masih harus waspada agar tak mendapatkan keluhan yang lain.

Apa ancaman bahaya untuk kesehatan yang pernah kamu hadapi sebagai freelancer?

Memahami Aspek Bisnis Freelancing (2)

Lanjutan artikel Memahami Aspek Bisnis Freelancing (1) yuk!

shutterstock_128890082

Freelancer Image via Shutterstock

Memuaskan Klien
Jadi, setelah kamu membangun pendataan klien yang kokoh, langkah selanjutnya yang tak kalah penting adalah tetap membuat mereka senang sehingga kamu pun akan diajak bekerja sama kembali.

Bisnis yang sukses mengetahui bagaimana cara memuaskan klien mereka. Kamu harus bisa menemukan kebutuhan dan harapan mereka secara efektif. Tentu saja, kamu dapat mengatakan hal itu mustahil kepada siapa saja. Tetapi dengan mendengarkan klienmu baik-baik, kamu akan mengetahui apa yang benar-benar klienmu inginkan. Berlakulah rendah hati dan jangan terlalu meninggikan harapan klienmu. Jujur dan terbuka sat berkomunikasi. Berikan mereka ide dan tantangan apa saja yang ada, serta jalan buntu seperti apa yang akan kamu cegah jika hal itu terjadi.

Berurusan dengan Perjanjian dan Pembayaran
Untuk membuat perjanjian resmi, kamu harus menyusun kontrak. Dokumen legal ini dibutuhkan untuk menggambarkan tolok ukur hubungan bisnismu, tenggat waktu, pembayaran, revisi, dan sebagainya. Hal ini untuk memastikan kamu telah menyiapkannya dengan baik. Kontrak sangat penting untuk menjabarkan proyek dan skalanya, sebaik kamu melindungi hak kedua belah pihak yaitu dirimu sebagai freelancer dan pihak klien.

Cantumkan semuanya secara rinci dalam perjanjian untuk melindungimu terutama selama waktu pembayaran. Tentunya harus dijelaskan tenggat waktu pembayaran dan sebutkan kapan kamu berharap pembayaran dan pelunasannya: sebelum bekerja, setelah proyek selesai, atau ketika proyek sedang berjalan. Kebanyakan desainer membutuhkan deposit sekitar 50% sebelum memulai pekerjaan.

Seiring bisnismu dengan klien berkembang, kamu dapat membuat proposal atau penawaran untuk proyek yang lebih besar. Hal ini dikenal sebagai RFP (Request for Proposal) atau RFQ (Request for Quotation).

Pernyataan Kondisi Keuangan
Banyak sekali syarat keuangan yang sebaiknya akrab di keseharian pebisnis. Salah satunya adalah laporan neraca keuangan, yang menjabarkan asset bisnis, saham, dan tanggung jawab.

Aset termasuk investasi yang masuk ke dalam dompet dan rekeningmu. Di dalamnya adalah uang tunai, gedung, perlengkapan, tanah, modal, peralatan, hak paten, hak cipta, dan lain sebagainya. Hal yang menjadi tanggung jawab adalah rekening untuk semua pembayaran, kredit dari bank, dan aneka pinjaman. Saham artinya investasi dalam bisnismu termasuk keuntungan kena pajak. Melalui neraca keuangan, kamu dapat menentukan seberapa sehat bisnis dan keuanganmu.

Sama pentingnya dengan mengetahui alur kas bisnismu, maka kamu akan mengetahui likuiditasnya. Dengan menjabarkan kondisi keuanganmu yang terbaru, kamu dapat menantang dirimu sendiri dan meningkatkan penjualan serta mendapat keuntungan lebih banyak. Atur tenggat waktu untuk tujuan bulanan, per catur wulan, atau tahunan. Kamu dapat seagresif mungkin melakukannya dan mengecek setiap hari untuk memberi dirimu motivasi.

Kedisiplinan Freelancer
Freelancer harus disiplin. Metoda yang digunakan harus professional dan proyek harus selesai tepat waktu. Jika kamu merencanakan pertemuan dengan klien, pastikan datang 15 menit lebih awal. Siapkan portofolio dan tampillah dengan menarik dan percaya diri.

Hal yang satu ini harus selalu disiapkan, yaitu asuransikan bisnismu. Kamu harus melindungi dirimu sendiri, menjaga dari hal darurat yang tak terduga. Asuransi pokok yang yang termasuk adalah: asuransi diri, kesehatan, bisnis, kerugian, dan kecelakaan.

Setiap desainer freelance harus memiliki strategi cadangan. Kamu harus memiliki external hard drives yang berkapasitas besar untuk menampung back up files, sebaik kamu menyimpannya di DropBox atau Cloud. Hal ini dilakukan untuk meyakinkan bahwa semua dokumenmu aman.

Menjadi desainer freelance bukan berarti kamu bisa bermalas-malasan. Hanya karena kamu bisa mengontrol waktu atau tak punya bos, bukan berarti kamu dapat bermalas-malasan. Kenyataannya, menjadi bos bagi diri sendiri dan mengatur bisnis sendiri lebih sulit tinimbang bekerja setiap hari. Kamu harus menjadi bos yang keras bagi dirimu sendiri, ikuti panduan kerja, dan serius dengan pekerjaanmu.

Nah, bagaimana denganmu?