Bisakah Freelancer dan Pebisnis Pemula Menyediakan Home Service?

shutterstock_166234766

Credit Image via Shutterstock

Jawabannya tentu saja bisa! Mengapa tidak? Bukankah salah satu pelayanan yang akan membuat pelanggan mengingat para penyedia jasa adalah home service?

Melayani Kebutuhan Konsumen Secara Maksimal

Coba sebutkan apa saja yang bisa kamu lakukan dari rumah dan semua urusan bisa beres dalam beberapa jam saja? Bandingkan jika kamu harus keluar rumah untuk mengurus segala keperluan. Pijat ke rumah? Layanan butik seperti kebutuhan menjahit kebaya? Delivery order untuk aneka makanan siap saji kesukaanmu. Semua semudah menelepon jasa yang hendak kamu pilih. Zaman sekarang ada tambahan pilihan layanan mention Twitter, WhatsApp dan BBM.

Ketika teknologi pelayanan konsumen hanya bermodalkan telepon “hotline” dan membuat banyak jengkel daripada puasnya, apa yang bisa diharapkan? Menelepon ke nomer yang tercantum di flyer, brosur, atau kartu nama tetapi hanya kekecewaan yang didapat. Antrian telepon, ketika tersambung justru mengalami prosedur yang berbelit, dan entah apa lagi.

Kemudian zaman mulai semakin canggih dan lebih personal. Masyarakat bisa mengadu, komplain, memberi umpan balik, atau merekomendasikan sebuah produk dengan jempol melalui media sosial. Sebuah bank terbesar di Indonesia menggunakan Twitter untuk menanggapi berbagai tanya, keluhan, dan saran dari pengikutnya. Entah nasabah atau pun bukan. Semua menjadi lebih mudah.

Jadilah Berbeda dan Tawarkan Bantuan

Nah, freelancer dan pebisnis pemula pun bisa menggunakan media sosial untuk menampung aneka suara pelanggan atau pun calon pelanggan. Dengan tambahan info pada bio media sosial, orang bisa lebih mudah mencari tahu. “Pelayanan ke rumah dalam 24 jam. Semarang only.” mungkin bisa menjadi pertimbangan.

Terkadang saya masih melihat banyak pebisnis yang hanya menunjukkan katalog online atau situsnya. “Silakan ke www dot yyy dot zzz saja, Pak.” Percaya deh, di luar sana, konsumen lebih suka melihat produknya langsung tetapi banyak yang tak sempat ke toko / showroom / workshop / kios kita. Nah, kalau sudah begini, harus bagaimana?

Buatlah konsumen terkesan dengan jawaban tangkasmu. “Baiklah, Pak. Kapan Bapak ada waktu? Saya siap membawa contoh produk yang Bapak inginkan berserta pilihan model dan warnanya.” Bayangkan apa reaksi pelanggan bila kamu bisa benar-benar melayaninya dengan baik?

Testimoni dari klien / pelangganmu adalah iklan terbaik. Setuju? Merekalah yang menjadi salah satu ujung tombakmu dalam memperluas pasar bisnismu. “Saya kemarin membelinya dari si ABC. Worth it dengan harganya. After sales yang mereka lakukan juga oke. Coba deh!” Lelahmu terbayar sudah. :)

Perlukah Menambah Pegawai?

Sekecil apa pun bisnis yang Anda miliki, membutuhkan pegawai yang berdedikasi dan bisa membuat bisnis berkembang dengan lancar. Tetapi sebenarnya berapa banyak jumlah pegawai yang Anda butuhkan? mengapa rasanya pegawai yang Anda miliki sekarang terasa terus saja kurang? Mengapa rasanya pegawai yang ada sulit mencapai kompetensi kinerja sesuai harapan Anda?

shutterstock_51191041

Photo Credit via Shutterstock

Yang terjadi selama ini adalah Anda terus-menerus merasakan bahwa perusahaan memerlukan lebih banyak pegawai untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan administratif yang selama ini terbengkalai dan tidak kunjung terselesaikan. Tumpukan pekerjaan Anda rasakan berada di pundak Anda sebagai pimpinan atau bahkan sebagai pemilik perusahaan.

Sebelum Anda memutuskan untuk menambah jumlah pegawai, sebaiknya analisa terlebih dahulu, apa penyebab utama sehingga hal-hal tersebut terjadi. Ada beberapa hal yang mungkin terjadi, tetapi tanpa Anda sadari, satu-satunya solusi yang terpikirkan hanya dengan penambahan pegawai.

Perhatikan baik-baik, penambahan pegawai bukan merupakan satu-satunya solusi mengatasi masalah. Dengan menambah jumlah pegawai, berarti Anda menambah jumlah fixed cost perusahaan. Pemberian gaji, pemberian fasilitas kesehatan, tunjangan hari raya, bonus dan lain sebagainya merupakan sebagian dari biaya pengeluaran yang perlu diperhitungkan untuk mempekerjakan sejumlah pegawai baru. Sering terjadi pada perusahaan selama ini, jumlah supporting staff melebihi jumlah money maker staff, padahal sebenarnya suatu perusahaan akan berkembang lebih baik jika memiliki komposisi yang tepat dalam struktur organisasinya. Komposisi yang tepat disini adalah suatu perusahaan sebaiknya memiliki 60% money maker staff, 30% supporting staff, dan 10% policy maker.

Dapat dilihat bahwa sumber income perusahaan ditentukan dari berapa banyaknya money maker staff yang Anda miliki. Sebelum memutuskan untuk menambah pegawai, ada baiknya jika Anda menganalisa dahulu apa yang sebenarnya menjadi kebutuhan.

Tidak ada salahnya memutuskan untuk menambah pegawai, tetapi sebaiknya Anda terlebih dahulu mengecek mengapa bisnis memerlukan penambahan pegawai. Perasaan yang timbul karena merasa tak memiliki pegawai untuk menyelesaikan proyek sesuai tenggat waktu atau banyaknya pekerjaan yang terlewat dari pengawasan Anda.

Nah sekarang, bagaimana cara mengukur bahwa Anda memerlukan pegawai baru? Hal pertama yang wajib Anda pikirkan adalah, apakah bisnis Anda telah melakukan proses rekrutmen yang sesuai dengan visi, misi dan nilai bisnis anda? Sudahkan anda memiliki suatu guidelines atau arahan (Standard Operating Procedures) bagi seluruh pegawai dalam melaksanakan pekerjaannya? Apakah Anda telah memiliki job descriptions yang jelas bagi masing-masing posisi jabatan yang ada? Apakah Anda melaksanakan performance evaluation yang tepat yang sesuai dengan kebutuhan perusahaan? Bagaimana hasil akhir suatu performance evaluation dapat memengaruhi Anda untuk mengambil keputusan?

Semua pertanyaan-pertanyaan tersebut wajib Anda jawab terlebih dahulu sebelum mengambil keputusan untuk melakukan penambahan jumlah pegawai. Proses rekrutmen yang baik dan benar akan membantu anda menemukan orang yang sesuai dengan tujuan bisnis Anda.

“People are not your most important asset. The RIGHT people are.” (Jim Collins).

Catherine Lieba Ary
Konsultan Penyusunan SOP EasyHelps Jakarta

Guru Lukis: Freelancing dalam Hening

Siapa yang mempunyai hobi melukis? Atau minimal coret-coret di kertas ketika sedang suntuk atau kesal? Bosan mendengarkan presentasi, secara tidak sadar membuka agenda dan menggambar sesuatu. Pernahkah ketika sekolah dulu, saat pelajaran matematika berlangsung, untuk mengusir kantuk, justru menggambar kupu-kupu dari angka 3? :D

shutterstock_146679485

Freelancer Image via Shutterstock

Punya kanvas dan aneka peralatan melukis di rumah? Meski hanya sebagai hobi, kegiatan yang satu ini sangat ampuh untuk melampiaskan segala bentuk perasaan seseorang. Bagi kamu yang hobi melukis, memiliki berapa kuas? Berbagai ukuran pastinya. Tetapi ada juga orang yang lebih merasa puas jika langsung menggunakan jemari tangan mengaplikasikan setiap warna pada kanvas.

Kegiatan Sederhana, Sehat Efeknya

Sebagai sarana pelepasan emosi yang pas tanpa harus teriak (karena dilakukan dengan cara yang nyaris sunyi). Corat coret beberapa menit atau bahkan berjam-jam membuat kita merasakan emosi tersalurkan secara perlahan. Pikiran dan perasaan menjadi lebih tenang.
Sebagai penyeimbang jiwa raga, melukis membuat tenang dan tubuh menjadi santai. Setelah tegang oleh pekerjaan, rasa lelah akan terbayar dengan melukis.
Sebagai alternatif penyembuhan. Tahukah kamu, melukis dan menggambar ternyata dikategorikan sebagai art therapyatau sebuah terapi melalui karya seni.

Tak Sembarangan Menuang Warna

Meski bisa dilakukan secara otodidak atau memang ada bakat untuk urusan seni yang satu ini, untuk hal yang bersifat lebih artistik seperti komposisi pencampuran warna, ada teknik yang bisa dipelajari oleh orang yang memang ingin berlatih.

Melukis bukan hanya masalah mencampur warna merah dan biru menjadi ungu, tetapi juga bagaimana menempatkan warna ungu itu sehingga bisa menghasilkan sudut pandang yang indah dilihat.

Saldo Aman, Hati Tenang

Bisakah mendapat penghasilan dari melukis? Tentu saja! Tidak semua orang memiliki keahlian melukis di atas kaca, sebuah seni yang khas dari Cirebon Jawa Barat. Kamu bisa mendapatkan penghasilan tambahan dengan menjadi guru lukis.

Mahalkah? Mungkin kalau kamu belajarnya kepada orang sekaliber Affandi atau Salvador Dali, bisa merogoh kocek lebih dalam dengan hasil yang setara, bukan? Meski tak akan persis sama dengan hasil karya mereka, setidaknya ilmu ‘tingkat dewa’ itu kamu bisa pelajari dan menghasilkan karya khas dirimu sendiri.

Nah, sudah pede dengan ilmu dari para pelukis kenamaan pujaanmu? Sudah menguasai ilmu tentang melukis? Kamu bisa membuka kursus melukis. Kamu bisa menjadikan pekerjaan ini sebagai sampingan atau justru yang utama. Jiwa tenang karena hobimu tersalurkan dengan baik, maka rekening pun senang karena gemuk setiap kali dibutuhkan.

Pertanyaan sederhana: Siapa yang pertama kali melukis dengan aliran kubisme? ;)

Salahkan Tubuh Bila Anda Suka Menunda-nunda

Jawabannya bukan karena malas. Bukan juga karena kita adalah “deadliner” (seperti yang biasa kita klaim sebagai justifikasi–omong-omong, alasan ini sudah super basi jadi lupakan saja lah).

shutterstock_122393329

Credit Image via Shutterstock

Bisa jadi, alasannya adalah karena manusia memiliki sistem tertentu yang tidak disadari sebelumnya (atau dianggap sebagai ‘hal lain’, seperti.. malas, misalnya).

Alex Honeysett, Communications and Promotions Director di Channel One News, menyadari bahwa ada saat-saat ia sedang dalam mood diam dan menikmati karya orang lain serta meresapinya sebisa mungkin, dan ada saat-saat ia sedang dalam mood menyelesaikan pekerjaan dan menciptakan suatu hal. Ia menyebutnya “curation mode” dan “creation mode“.

Saat Anda berada dalam curation mode, tubuh dan pikiran Anda lebih ingin berpikir dan bertanya dibandingkan melakukan dan menjawab. Anda lebih ingin membaca buku dibandingkan presentasi depan orang banyak, seperti yang Honeysett contohkan. Sedangkan dalam creation mode, Anda lebih ingin menyelesaikan atau mengerjakan sesuatu daripada duduk diam dan mendengarkan orang lain menceramahi Anda. Anda tidak perlu memaksa diri Anda bangun–Anda sudah bangun dengan sendirinya dan bekerja otomatis dengan semangat.

Bila benar begitu, what should we do with it? Honeysett mengatakan bahwa dengan menyadari adanya proses atau sistem ini dalam cara bekerja Anda, Anda justru bisa lebih menyesuaikan diri demi mencapai produktivitas terbaik Anda. Bila selama ini Anda selalu semangat mengetik setelah membaca 1-2 buku motivasi, maka itulah yang harus Anda lakukan sekarang saat Anda memiliki tugas yang sudah lama Anda abaikan. Atau mungkin Anda harus bersenang-senang selama 5-6 jam dahulu sebelum serius menyelesaikan projek maket–lakukanlah. Hal tersebut dikatakan terbukti lebih efektif dan lebih menyenangkan dibandingkan Anda memaksakan diri Anda duduk depan komputer sambil menunggu kalimat pertama untuk keluar (yang tidak kunjung datang).

Jadi, kebiasaan Anda menunda-nunda kemungkinan besar bukan karena malas atau karena Anda terlahir sebagai–ehm–deadliner. Bisa jadi memang seperti itulah tubuh Anda terprogram–curation mode dan creation mode.

Hai Karyawan, Bersiaplah Dipecat!

Setiap karyawan pasti “dihantui” PHK. Tak peduli setinggi apapun jabatan Anda di kantor. Agar siap, ada beberapa hal yang harus diketahui.

shutterstock_98095022

Credit Image via Shutterstock

Ketika Harus Terjadi

Percayalah, semua karyawan, siapa pun Anda, harus siap dipecat secara tiba-tiba. Setinggi apa pun jabatan Anda di perusahaan, bisa saja mengalami pemutusan hubungan kerja. Bahkan untuk Anda yang di kantor tergolongan pekerja keras, berprestasi bagus, dengan career path naik terus.

Kok, bisa? Ya, tentu saja bisa. Bagaimana pun, perusahaan adalah sebuah lembaga bisnis. Begitu bisnisnya tak menguntungkan, sudah tentu ada jalan yang harus diambil sebagai penanggulangan. Dimulai dari efisiensi (listrik, internet, peralatan kerja, sampai pengurangan jumlah karyawan kontrak), hingga yang paling ekstrim: penutupan usaha.

Jika jalan terakhir diambil, maka ada sejumlah langkah harus diambil, terutama sehubungan dengan karyawan. Dan dalam sebuah proses penutupan usaha, soal yang berhubungan dengan karyawan adalah yang paling pelik. Tanya, deh, ke bagian HR di mana pun. Pasti pusing kalau sudah berurusan dengan pemutusan hubungan kerja.

Nah, karena “hantu” pemutusan hubungan kerja bisa mengikuti siapa saja, maka Anda perlu siap-siap. Tentang apa? Berikut ini beberapa hal penting yang harus diketahui sebelum “hantu” PHK tiba.

Pesangonnya, kok, Sedikit?

Well, yeah, memang enggak pernah menyenangkan kalau bicara soal pesangon. Tetapi membicarakan pesangon menjadi hal yang sangat lumrah ketika kita diberhentikan oleh perusahaan, dan setiap karyawan harus belajar dengan serius mengenai berapa jumlah pesangon yang berhak mereka terima saat dipecat.

Nggak usah merasa bahwa soal pesangon ini nggak ada hubungannya sama Anda, mentang-mentang pekerjaan Anda sedang bagus-bagusnya. SIAPA PUN Anda, asal masih berstatus karyawan, pemutusan kerja secara mendadak itu sangat mungkin terjadi. Iya, one month noticed itu termasuk sangat MENDADAK, lho, untuk sebuah perubahan nasib yang tiba-tiba. Nasib dari karyawan potensial-setia-berkarya serius-dan-berposisi tinggi, menjadi pengangguran, alias jobless, alias luntang-lantung. Cari-cari referensi seputar pesangon pada satu hari sebelum Anda dipanggil HR, sungguh tidak menguntungkan buat Anda.

Hukum PHK

Luangkanlah Anda baca-baca Undang-Undang No. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan. Googling saja. Banyak, kok. Di sana ada keterangan mengenai perbedaan mengenai pesangon karyawan yang resign dan PHK, seluk beluk pembubaran sebuah unit usaha, sampai hitung-hitungan jumlah pesangon.

Undang-undang sudah menetapkan pesangon minimal yang wajib diberikan perusahaan bagi karyawan yang di-PHK. Jangan percaya, kalau ada orang HR bilang, “Kami sudah ngasih angka yang bagus, lho, dibandingkan perusahaan lain.” Menurut saya (ini menurut saya, lho), jumlah pesangon itu memang sudah ditetapkan segitu. Kalau ada perusahaan yg kesannya ngasih lebih bagus, itu biasanya adalah uang kebijakan saja. Dan di masa krisis seperti sekarang, uang kebijakan ini biasanya minim, bahkan nol.

Lantas, mengapa pesangon si A lebih besar dari si B? Padahal si B kerja lebih lama dari A?

Hal ini balik ke rumus pesangon, yang mengalikan persentase tertentu dari gaji plus tunjangan. Semakin besar gaji kita, maka semakin besar pesangon yang kita dapat. Apa artinya itu? Artinya, agar pesangon kita besar, maka gaji kita harus besar. Artinya lagi, agar gaji kita bisa besar, maka kita harus kerja bagus, berprestasi dan lain-lain bla bla bla. Jadi jangan harap pesangon kita besar jika kerja kita selama ini pas-pasan. Setuju, kan?

Pensiun Mendadak, Lalu Mau Apa?

Puluhan tahun menjadi karyawan, menjadi pimpinan tinggi, pekerja keras selama bertahun-tahun, lantas hanya dalam hitungan bulan (bahkan ada yang tak lebih dari satu bulan), nasibnya berubah total menjadi pengangguran. Selama bertahun-tahun, Anda fokus bekerja mengorbankan tenaga, pikiran, dan waktu, demi pekerjaan, sehingga Anda tidak sempat memikirkan kehidupan cadangan lain di luar sana.

Karena nasib kita bisa berubah sewaktu-waktu, tidak akan sempat kalau kita baru mikirin jadi wirausahawan begitu selesai jadi karyawan. Perlu diingat, gaya hidup yang selama ini sudah mendarahdaging, akan sulit diturunkan. Ada biaya ponsel, internet, ART, antar jemput anak, sekolah anak, belanja dapur, yang selama ini sudah ada standarnya. Itu semua perlu biaya. Uang pesangon yang segunung pun suatu saat akan habis jika tidak pernah ditambah.

Merintis bisnis sungguh bukan hal mudah bagi kita yang bertahun-tahun menjadi karyawan. Karena tak terbiasa dengan kerja keras wirausahawan yang tak kenal waktu, banyak sekali para wirausahawan dadakan ini gagal berkali-kali. Alhasil, modal yang diambil dari uang pesangon pun tak butuh waktu lama untuk mendekati kata habis.

Jalan keluarnya adalah, selama Anda masih jadi karyawan, perdalam hobi Anda. Seriusi hobi-hobi yang potensial untuk dikembangkan menjadi usaha. Perluas jejaring dengan para pengusaha. Serap semangatnya, sedot ilmunya. Mulailah merintis usaha sembari bekerja kantoran. Namanya juga merintis, pasti usahanya ampun-ampunan. Pagi-sore kerja kantoran, malam-dini hari ngurus bisnis. Itu harus dikerjakan selama ingin punya cadangan jika suatu hal buruk terjadi dengan karier andalan.

Tabungan dan Investasi

Beneran, ini kedengarannya klise. Tapi coba Anda lirik kanan kiri para pensiunan atau para korban pemutusan hubungan kerja. Awalnya mereka akan hura-hura, senang karena dapat uang dadakan dalam jumlah besar. Langsung liburan sekeluarga, makan di restoran sana-sini, beli gadget ini-itu. “Ah, hitung-hitung menghadiahi diri sendiri dan keluarga, sudah kerja keras, kok, gak pernah menikmati.” Well, ya tentu saja boleh-boleh saja.

Tapi, mohon juga diingat. Berapa, sih, besar uang pesangon Anda? Rp 500juta? Rp 1M? Oke. Coba depositokan. Sekarang ini Rp 500juta jika didepositokan jangka waktu 1 tahun, dalam sebulan Anda akan mendapat Rp 2,5juta. Setelah potong pajak, jatuhnya sekitar Rp 1,75juta. Lumayan, ya? Tapi, jika Anda nggak punya penghasilan lain, maka cuma sejumlah itulah pendapatan Anda dalam sebulannya dengan deposito sebesar itu. Untuk makan pakai apa? Untuk ngopi? Untuk antar jemput anak? Untuk uang pangkal sekolah anak? Untuk biaya kesehatan? Nah lho!

Jalan keluarnya adalah: hidup hemat dan cerdas, mulai sekarang. Tabungan diperbanyak. Belajar investasi sesegera mungkin. Nggak perlulah yang terlalu ribet, jika merasa malas untuk mikir yang terlalu memusingkan. Deposito bisa dipilih, atau reksadana, tanah, properti, atau emas.

Move On!

Tampaknya sepele. Tapi percayalah, seorang korban pemutusan hubungan kerja yang saat berhentinya ada ganjalan, tidak mudah untuk move on. Rasa marah, dendam, emosi, akan bercokol cukup lama. Semakin orang itu di luarnya tampak ketawa-ketawa nggak peduli, sebenarnya jauh di dalam hatinya sakit luar biasa.

Marah itu wajar. Dan malahan harus marah! Diberhentikan mendadak, kok, gak marah, sih? Yang bener aja!

Tapi, ya tentu saja, marahnya jangan lama-lama. Senyampang kita terus memendam marah, kehidupan di luar sana terus berjalan. Ex bos akan segera lupa pernah punya karyawan berdedikasi tinggi bernama Bril (misalnyaaaa. Hehehe). Teman-teman ex sekantor yang dulu dekat dan berempati, dalam hitungan minggu akan sibuk dengan urusannya sendiri. Sementara kita? Masih maraaah aja. Setiap ketemu orang, bawaannya maunya curhaaat aja sambil esmosi. Hadeuuuh!

Daripada seperti itu, segeralah move on. Cukupi marahnya. Segera bertindak. Pikirkan what’s next. Mau bisnis? Bisnis apa. Mau investasi? Investasi apa. Mau jadi ibu rumah tangga? Jadi ibu rumah tangga yang bagaimana.

Memutuskan what’s next itu butuh ketenangan hati. Beneran, deh. Memutuskan akan berbisnis apa, misalnya, enggak bisa dilakukan saat hati masih esmosi jiwa. Kalau grasa-grusu, usaha yang kita kerjakan enggak fokus, dan enggak penuh perhitungan. Bisa-bisa, ya itu tadi… uang pesangon habis buat coba-coba bisnis nggak jelas.

Putus Hubungan dengan Masa Lalu

Keluar rumah! Cari teman-teman baru. Atau buka silaturahmi dengan teman-teman yang sudah lama nggak pernah kontak. Kalau perlu, putus hubungan di sosial media dengan teman-teman ex sekantor. Unfriend, unfollow, atau unshare teman-teman yang sekiranya bikin hati masih menggelegak. Paling nggak untuk sementara, sampai suasana hati netral mengikuti kabar mereka lagi.

Menurut saya, putus hubungan dengan teman-teman atau ex bos yang masih menyisakan rasa sakit di hati, itu penting. Mendingan izinkan hati Anda untuk dingin dulu. Kalau masih selalu dijejali informasi seputar orang-orang yang bikin hati menggelegak, kapan kita move on-nya, kan?

Kesimpulan

Nah, begitulah kira-kira hal seputar pemutusan hubungan kerja. Perlu diingat, pemutusan hubungan kerja di sini bukan melulu karena PHK, ya. Bisa saja karena si karyawan mengundurkan diri, lalu tiba-tiba menjadi pengangguran.

Tidak semua yang saya tulis di atas saya alami dan sudah saya terapkan. Tapi saya berharap, dengan tulisan ini, Anda yang masih jadi karyawan di mana pun kalian bekerja, menjadi karyawan yang siap jika sewaktu-waktu berstatus jobless. Entah karena kemauan sendiri, atau karena terpaksa.

Semangat!

Perlukah Jasa Seorang Arsitek Paruh Waktu?

Untuk membangun sebuah rumah, stasiun, pusat perbelanjaan, gedung perkantoran, atau bahkan gedung parlemen pemerintah, dibutuhkan perhitungan matang bagaimana bentuk dan anggarannya. Apalagi membangun rumah tangga… *eh salah fokus yah?* :D

shutterstock_127977977

Freelancer Image via Shutterstock

Sejak manusia bisa membuat sebuah tempat tinggal yang layak untuk dihuni, peradaban sudah sedemikian majunya. Tak lagi tinggal di dalam gua. Tentunya sudah pernah melihat atau minimal googling tentang rumah-rumah kuno atau tradisional yang ada di dunia ini. Manusia diberi akal untuk merancang dan membangun sesuai selera dan kebutuhan. Jika dahulu manusia hanya mementingkan sisi fungsi sebagai tempat berlindung dari cuaca dan hewan berbahaya, kini dalam perkembangannya ada unsur estetika, kenyamanan, dan tentu saja simbol status sosial yang melekat secara turun temurun.

Membantu Mengembangkan Imajinasi

Haruskah menggunakan jasa arsitek dalam membangun rumah? Seorang arsitek tentunya memiliki ilmu dan pengalaman dalam menentukan jenis material yang akan digunakan dan tahapan dalam membuat sebuah karya. Arsitek membantu mewujudkan hunian yang nyaman sesuai dengan anggaran.

Kita selalu banyak maunya. Ingin rumah dengan model begini dan begitu, tetapi ketika menemui arsitek, nyatanya tak selalu sesuai keinginan. Karena biasanya, khayalan kita ingin memiliki rumah dengan banyak ruang, tetapi arsitek mengatakan tidak efisien.

Menghemat Waktu dan Biaya

Arsitek akan selalu menanyakan anggaran yang tersedia, jumlah penghuni rumah, luas tanah yang akan dibangun, dan ruang apa saja yang dibutuhkan. Jika dalam impian, rumah idaman kita bernilai Rp 800.000.000,- ternyata boros di beberapa bagian: ruang keluarga terlalu besar, kamar tidur terlalu banyak, dan mungkin bentuk taman yang kurang cocok. Setelah berdiskusi dengan arsitek, ternyata kita bisa menghemat lebih dari seratus juta rupiah. Tentunya itu lebih melegakan. Semua kebutuhan terpenuhi tanpa harus membuang lebih banyak dana lagi.

Saya pernah menemukan sebuah rumah yang tampak tidak biasa (jika tak bisa disebut aneh). Saya iseng bertanya, “Kamu menggunakan arsitek mana, sih?” Dia menjawab bahwa dia sendiri yang menentukan semuanya. Dan ketika saya datang ke rumahnya, dia sudah merenovasinya lebih dari empat kali karena merasa tidak puas. Saya melihat ke langit-langit di beberapa ruangan dan sudut temboknya tidak tegak lurus. Justru nilai indahnya menjadi lenyap. Uang memang bukan masalah baginya. Tetapi membuang uang dan tenaga secara percuma juga tak bagus, kan?

Percaya Kepada Ahlinya

Mahalkah jasa arsitek? Tergantung dari mana kita menghitungnya. Jika melihat tabel yang dipublikasikan Ikatan Arsitek Indonesia, biasanya besar honor arsitek untuk membangun rumah tinggal berkisar antara 1,5-8,0% dari biaya bangunan. Ada juga yang menawarkan harga per m². Teman saya menggunakan keduanya dan menyerahkan kepada klien sepenuhnya ingin memilih cara pembayaran dengan metoda yang mana.

Jika kita langsung menggunakan tukang bangunan, kemungkinan memakai ilmu kira-kira seperti yang saya tulis di atas. Bayangkan tinggi tembok yang tidak sama (meski berbeda hanya 2-3 sentimeter, cukup berpengaruh, kan?). Apakah memang ingin disebut nyentrik? Entahlah.

Lantas, apakah arsitek adalah pihak yang sama dengan yang membangun rumah? Seorang arsitek biasanya hanya terlibat di bagian perencanaan dan bagian pelaksanaan pembangunan diserahkan kepada kontraktor. Jika ingin meminta arsitek ikut mengawasi pembangunannya, bisa didiskusikan dari awal pertemuan.

Bagaimana pengalamanmu berurusan dengan arsitek? Sila berbagi di kolom komentar ya :)

Sebelum Anda Resign dari Kantor!

Banyak motif atau alasan yang membuat seseorang memutuskan untuk resign atau keluar dari kantor. Ada yang beralasan karena ingin membuka usaha, ingin menjadi pekerja lepas, atau ingin menjadi ibu rumah tangga saja. Bahkan ada yang mungkin dengan konyolnya ingin merasakan menjadi pengangguran. Tuinggg. Apapun alasan Anda ingin resign dari kantor, saya yakin itu adalah demi kebaikan Anda. Nah, sebelum Anda mengambil keputusan besar untuk resign, apa yang harus dilakukan?

shutterstock_108382883

Credit Image via Shutterstock

Ketahui Alasan Anda ingin Resign

Sebelum benar-benar keluar dari perusahaan atau tempat Anda bekerja saat ini, pahami dengan pasti alasan terbesar yang mendorong anda untuk resign. Apakah penyebabnya berasal dari internal (dari dalam diri Anda sendiri), atau sebab eksternal yang menyangkut lingkungan kerja dan rekan kerja. Perhatikan dan cek ulang sekali lagi, karena siapa tahu penyebab Anda ingin resign ternyata permasalahan yang bisa Anda selesaikan dengan segera. Jika sudah benar-benar memahami alasan Anda untuk resign, ikutilah tahap berikutnya.

Tetapkan Tujuan yang Jelas Setelah Resign

Penyesalan selalu datang di akhir sebuah drama. Itulah sebabnya mengapa tak sedikit orang yang merasa menyesal setelah mengambil keputusan tertentu. Nah, sebelum Anda mengalami hal yang sama, maka pastikan bahwa tujuan hidup Anda setelah resign sudah jelas. Mungkin setelah resign nanti Anda ingin membuka usaha, menjadi pekerja lepas, atau apapun yang anda inginkan. Yang pasti, tetapkan tujuan yang jelas. Jangan malah bingung setelah resign ingin berbuat apa. Nah, setelah tujuan sudah jelas, apa yang harus Anda lakukan?

Pastikan Memiliki Tabungan Minimal untuk Hidup 6 Bulan Mendatang

“Setelah resign, saya ingin membuka usaha.” Ingat, usaha itu tidak bisa langsung bertumbuh. Apalagi kalau Anda belum punya pengalaman menjadi pengusaha.  Atau usaha yang Anda buka adalah jenis usaha rintisan. Pertumbuhannya tak serta merta berhasil seperti yang Anda bayangkan. Bisa jadi di bulan pertama atau mungkin di tahun pertama Anda akan mengalami kerugian.

“Ah, saya mau melamar kerja di tempat lain.” Melamar kerja itu gampang-gampang susah loh. Jika Anda tidak memiliki skill yang memadai dan jaringan pertemanan yang luas, kemungkinan akan bertambah menjadi lebih susah. Beruntung kalau sekali melamar langsung diterima, bagaimana jadinya bila membutuhkan waktu berbulan-bulan?

Nah, di sinilah pentingnya Anda memiliki tabungan minimal untuk enam bulan setelah resign. Tabungan itu sangat berguna untuk mengantisipasi segala kemungkinan yang terjadi, sehingga dipastikan Anda masih bisa bertahan pada masa pencarian pekerjaan baru atau masa peralihan profesi dalam pembangunan usaha Anda.

Setelah tiga tahapan di atas Anda lalui dan semakin yakin untuk resign, silakan lanjutkan rencana Anda. Selamat datang di dunia Anda yang baru. Salam. IKD

8 Rahasia Sukses Pengusaha Muda

Banyak orang bercita-cita ingin menjadi pengusaha. Berwirausaha mandiri, memiliki harapan mulia dengan hendak membuka lapangan pekerjaan bagi para pengangguran. Tetapi, benarkah menjadi pengusaha itu mudah?

Berikut adalah delapan rahasia sukses menjadi pengusaha muda yang saya rangkum dari kesuksesan para pengusaha muda di negeri ini.

shutterstock_71611606

Credit Image via Shutterstock

  1. Tidak Tergesa-gesa. Sukses itu tidak instant. Kesalahan pertama para pengusaha muda adalah adanya keinginan yang menggebu-gebu bahwa sebuah usaha itu harus sukses secepat kilat. Sehingga mereka cenderung berpikir bahwa sebuah kesuksesan bisa diraih dengan instant. Pemikiran itu akhirnya mendorong mereka melakukan berbagai cara agar usaha mereka segera mendulang sukses. Dan disinilah hal-hal yang tidak alami (menghalalkan segala cara) mereka lakukan.
  2. Cintai Proses. Dalam setiap hal (tujuan) pasti melewati yang namanya proses. Di sinilah pengusaha muda yang baru menjadi tunas tidak berhasil tumbuh gara-gara tidak mau mencintai proses. Mereka selalu mengeluhkan proses yang harus dilalui. Merasa tertekan dengan tantangan-tantangan yang harus dilalui selama berproses. Sehingga ujung-ujungnya mereka berputus asa dan  menyerah. Ingat, segala sesuatu butuh proses, mie instan yang notabene instant saja masih perlu direbus untuk menikmatinya.
  3. Disiplin. Pemuda cenderung memiliki sifat yang tidak suka terhadap aturan, lebih senang menjalani hidup tanpa jadwal, dan seenaknya sendiri. Padahal disiplin merupakan hal yang sangat penting bagi pengusaha. Karena tanpa adanya disiplin yang baik, seseorang akan cenderung seenaknya dalam menjalankan usahanya. Jangan sampai baru untung sedikit saja  sudah mentolerir diri dengan bersantai-santai ria. Terlena di awal usaha akan menjadi jurang kehancuran untuk pertumbuhan usaha ke depannya.
  4. Bertahan di Lima Tahun Pertama. Menurut beberapa pengusaha sukses, “Sebuah kesuksesan dalam berbisnis akan dicapai apabila ia mampu melewati lima tahun pertama dalam bisnisnya.” Mengapa harus bertahan di lima tahun pertama?  Di awal berbisnis akan sangat banyak sekali batu rintangan yang akan dihadapi. Jatuh bangun, untung rugi, ditipu, dikhianati karyawan/rekan bisnis, akan menjadi bumbu penyedap di lima tahun pertama. Karena sejatinya di lima tahun pertama itu Anda sedang memelajari bisnis. Tahun-tahun ketika seorang pengusaha sedang mencari pola dari bisnisnya. Sehingga bila sudah berhasil menemukan pola itu, akan mudah bagi Anda untuk menemukan titik kesuksesan dalam bisnis yang dijalani.
  5. Miliki Mentor. Mentor adalah orang yang akan membimbing Anda dalam mencapai kesuksesan bisnis. Mentor juga bisa menjadi suplemen semangat di kala Anda merasa jatuh atau terpuruk. Dengan adanya mentor, kegagalan dalam berbisnis dapat diminimalisir. Setidaknya tidak harus melalui gagal puluhan kali yang disebabkan trial and error karena tidak adanya mentor.
  6. Update Informasi. Pengusaha harus senantiasa tahu setiap trend yang berkembang. Sehingga ia bisa menyusun strategi untuk memperkuat kedudukan usahanya. Perkembangan dan perubahan trend memiliki pengaruh yang sangat besar, terlebih pada usaha yang menghasilkan produk. Jangan sampai karena ketinggalan informasi, produk yang Anda buat sudah tidak  sesuai dengan trend yang ada. Akhirnya barang yang diproduksi atau jual sudah tidak dibutuhkan lagi oleh konsumen. Perbanyak wawasan, informasi, dan belajar, agar Anda tidak pernah ketinggalan informasi.
  7. Bangun Kedekatan Dengan Tuhan. Sebagai manusia tidaklah boleh lupa atau bahkan tidak mengenal Tuhannya. Setiap tindakan yang dilakukan itu semua adalah atas kehendak dan kuasa-Nya. Oleh karena itulah manusia harus senantiasa membangun hubungan baik dengan Tuhannya. Kedekatan pada Tuhan erat kaitannya dengan kemudahan dalam mencapai kesuksesan. Jika tiba-tiba saja mengalami kebangkrutan atau kegagalan, Anda akan memiliki kekuatan untuk bangkit lagi sebab yakin, bahwa ada Tuhan yang senantiasa menyertai Anda dan bisnis Anda. Tuhan tentu lebih tahu kapan anda pantas untuk mencapai kesuksesan.
  8. Perbanyak Relasi atau Jaringan. Semakin banyak relasi yang Anda bangun (semakin luas jaringan yang dibentuk) akan menjadi pembuka jalan rezeki dan kemungkinan-kemungkinan yang baru. Sudah ada jaminan dari Tuhan untuk orang yang memperbanyak silaturahim akan dipanjangkan umurnya dan dimudahkan rezekinya. Bisa jadi rezeki yang Anda terima berupa modal, rekan bisnis yang amanah, mendapatkan konsumen yang loyal, atau bentuk rezeki lainnya. Salam. IKD

Buka Bisnis : Otak Kanan Dulu, Baru Otak Kiri

Sebagian besar partner bisnis saya dominan menggunakan otak kanan. Meskipun demikian mereka selalu belajar untuk menyeimbangkan antara fungsi otak kanan dengan otak kiri. Nah, di sini saya akan mengajak Anda sedikit tahu perbedaan antara otak kanan dengan kiri.

Ketika kita di sekolah atau kampus, biasanya melihat secara garis besar ada dua tipe teman-teman, yaitu yang sangat rapi berorganisasi dan teliti, sementara sekelompok lain sangat atraktif menelurkan ide-ide cemerlang yang siap diwujudkan.

shutterstock_150587642

Credit Image via Shutterstock

Fungsi Utama Otak

Otak kanan berfungsi dalam perkembangan Emotional Quotient (EQ). Misalnya sosialisasi, komunikasi, interaksi dengan manusia lain serta pengendalian emosi. Pada otak kanan ini pula terletak kemampuan intuitif, kemampuan merasakan, memadukan, dan ekspresi tubuh, seperti menyanyi, menari, melukis dan segala jenis kegiatan kreatif lainnya. Otak kiri berfungsi dalam hal-hal yang berhubungan dengan logika, rasio, kemampuan menulis dan membaca, serta merupakan pusat matematika. Beberapa pakar menyebutkan bahwa otak kiri merupakan pusat Intelligence Quotient (IQ).

Langkah Awal

Nah, setelah Anda tahu perbedaan antara otak kanan dengan otak kiri, mari lanjut penjelasan berikutnya. Jadi begini, otak kanan cenderung pada keberanian dan kreatifitas. Untuk membuka bisnis, seseorang harus punya keberanian yang besar. Berani mengambil risiko dan tantangan yang besar. Dan seringkali seseorang tidak jadi membuka bisnis gara-gara otak kiri terlalu mendominasinya. Hal ini disebabkan ia terlalu memerinci hal-hal dan kemungkinan yang belum tentu terjadi. Ujung-ujungnya belum membuka usaha sudah berpikir tentang kemungkinan bangkrut. Karena hitungan statistik dan untung ruginya membuat ia mengira bisnis yang akan dibukanya bisa langsung mengalami kebangkrutan. Padahal masih dalam tahap perhitungan dan fisik usahanya belum berjalan. Itulah pentingnya menggunakan otak kanan untuk memulai sebuah bisnis.

Setelah Anda berhasil membuka sebuah bisnis, tentunya Anda menginginkannya semakin bertumbuh dan berkembang kan? Sebuah bisnis akan berkembang dengan baik jika memiliki manajemen dan SOP yang baik. Nah, untuk mendapatkan manajemen yang baik, Anda akan sangat membutuhkan otak kiri. Otak yang berpikir lebih realistis, terstruktur dan sistematis.

Kesimpulan

Ingat, otak kanan terlebih dahulu, baru kemudian gunakan otak kiri. Bukalah usaha yang diidamkan setelah diperhitungkan rincian biaya yang harus dikeluarkan dalam enam bulan pertama, kemudian bertahap memikirkan cara mengembangkannya. Jangan sampai terbalik ya. Kalau otak kanan Anda lebih dominan, saran saya adalah mencari partner yang memiliki cara berpikir berbeda.Sehingga Anda akan memiliki keseimbangan. Begitu juga sebaliknya, kalau dominan otak kiri, cari partner yang yang kreatif dan spontan. Salam. IKD

Self Publishing: Cara Mudah Membukukan Ide

Saya, pertama kali mendengar istilah self-publishing pada tahun 2010, ketika sebuah penerbitan indie baru lahir di Jakarta. Menggunakan sistem cetak “Print On Demand” yang berarti siapa pun pemesan bukunya meski satu eksemplar tetap akan dilayani. Saya tidak tahu apakah tahun-tahun sebelumnya apakah ada penerbit indie yang menggunakan POD juga.

shutterstock_174214484

Credit Image via Shutterstock

Satu hal yang pasti, tahun-tahun selanjutnya, penerbit indie banyak yang bermunculan menawarkan “menerbitkan karyamu tanpa harus takut ditolak oleh penerbit”. Ini menarik, setidaknya dari sudut pandang saya yang berilmu cetek.

Kelebihan self publishing adalah setiap orang memiliki kesempatan untuk menjadi berani menulis dan menyuarakan ide mereka dan dituangkan dalam sebuah buku. Tentunya, lebih cepat terbit karena tak harus masuk dalam daftar tunggu di meja tim penerbit.

Kekurangannya adalah menjadi tim pemasaran bagi diri dan buku sendiri. Ada penerbit indie yang menawarkan jasa pemasaran meski belum tentu menjamin akan langsung laris manis. Jadi, si penulis tetap harus bergerilya memperkenalkan bayi baru mereka.

Bagi kamu yang suka mencoba hal baru, bisa masuk ke ranah penerbitan indie dengan cara pencetakan buku sesuai pesanan / POD. Butuhnya satu eksemplar, ya hanya satu yang dicetak. Membutuhkan seribu eksemplar, siap terima seribu buku baru cetak (fresh from oven).

Buku-buku yang diterbitkan secara indie bisa dipasarkan dengan bantuan percetakannya atau dipromokan melalui media sosial si penulis, yang saat ini lebih murah meriah tinimbang harus beriklan di media cetak seperti bertahun lampau.

Kamu memiliki kesempatan sama dengan mereka yang sudah memiliki bisnis dengan pelayanan self publishing dan print on demand. Beberapa orang kenalan saya, memberanikan diri demi idealisme. “Buku yang diterbitkan harus begini, begitu, dan begini.” Saya memerhatikan bagaimana mereka mempromosikan usahanya dan sekarang sudah mulai menuai hasil.

Jaringan pertemanan akan merambah ke sektor bisnis, itu memang sangat mungkin terjadi. Ketika membutuhkan modal untuk mendirikan sebuah usaha, gayung bersambut dengan tawaran kerja sama yang baik. Syukur jika visi dan misinya sama, maka akan lebih mudah. Berguru kepada orang yang lebih dulu membangun bisnis yang akan kita rintis, ada baiknya diserap setiap yang bermanfaat bagi calon bisnis kita. Kemudian, sesuaikan dengan kebutuhan dan keinginan kita, bagaimana sebaiknya bisnis kita dimulai.

Banyak penulis pemula atau orang-orang yang sangat ingin bisa menulis dan membukukan buah pikirannya. Tugasmu, menjadi jembatan mimpi mereka. Membuat survei sederhana mengenai kebutuhan si calon penulis dan tema apa yang disukai pasar pun bisa menjadi bahan rujukan.

Buatlah pelatihan menulis dan bekerja sama dengan penulis senior, misalnya. Carilah sponsor dan hal semacam ini bisa dijadikan modal untuk memberitahukan kepada khalayak bahwa kamu sedang memperkenalkan usaha barumu.

Kamu memiliki ide lain? Bagikan di kolom komentar, ya.