Jangan Bekerja Pada Orang Lain Lagi Dong!

Kira-kira ada berapa orang yang akan menimpuk saya karena judul di atas? :)

shutterstock_175050815

Freelancer Image via Shutterstock

Begini lho. Kita mengisi lapak yang bisa kita penuhi dengan kemampuan dan keahlian kita. Jika memang kesempatan itu adalah bekerja kantoran, menjadi manajer yang mengurus keuangan kantor misalnya, ya itulah tempat yang cocok untuk kita.  Tetapi bila ternyata lebih cocok bekerja sendiri, menjadi wirausahawan atau pekerja lepas, saat bekerja kantoran pasti merasa sumpek dan yang mengganjal di hati. Ngaku! :D

Lantas, jika ada keinginan untuk keluar dari zona nyaman (kepastian gaji setiap bulan merapat ke rekening dengan selamat) dan menikmati rasanya deg-degan saat tak ada proyek atau dagangan sedang sepi dan mengalami kantong kering, bagaimana sebaiknya bergerak?

Manusia diciptakan menjadi makhluk berakal. Gunakanlah. Saya meyakini tak ada manusia bodoh. Hanya ada kelompok pemalas yang mengatasnamakan takdir, lantas berkilah macam-macam. “Yah, sudah takdir deh, gue kerja di sini.” Tetapi setiap hari terbelenggu pikiran ingin bisnis salon mobil karena hobinya mendandani mobil orang lain. Bahkan sudah banyak yang suka dan puas dengan hasil kerjanya. Sementara orang yang dipuji tidak pede untuk keluar dari pekerjaannya. Saya sendiri gemas dengannya. Menurutmu, apa yang seharusnya dia lakukan? (Ini pertanyaan retorik ya?)

Saya bekerja di beberapa perusahaan demi memuaskan rasa penasaran bagaimana rasanya bekerja di kantor A, B, C, plus mengasah kemampuan. Iya, ini sebenarnya tidak penting. Karena saya tahu kemampuan saya sejauh apa untuk berperan sebagai seorang karyawan kantoran.  Tetapi saya sangat berterima kasih kepada semua mantan atasan karena telah memberi saya banyak ilmu keren.

Ternyata ilmu itu berguna untuk saya pakai di saat menjadi pengacara (pengangguran banyak acara) saat ini.  Saya, orang yang tidak suka kompetisi frontal (terang-terangan cari muka di depan bos, terjemahan bebasnya sih), lebih suka bersaing dari kejauhan. Saya tipe yang lebih sering memerhatikan orang-orang yang lebih kompeten tinimbang saya dan melihat celah kelemahannya di mana. Ternyata, selain faktor lebih ulet dan gesit, faktor keberuntungan juga menaungi mereka. Suatu saat, giliran saya. Semoga.

Nah, sekarang saya memiliki tantangan yang mungkin sama dengan beberapa freelancer lain. Mengatur waktu sendiri dan menyusun jadwal yang terkadang suka hancur berantakan karena saya mudah terdistraksi. Tantangan tersendiri, kan? Menyusun anggaran pengeluaran dan pemasukan? Duh, saya lemah sekali di bagian ini. Itu sebabnya bekerja kantoran memang lebih enak di sisi keuangan karena pemasukannya pasti, rencana pengeluarannya pun dipastikan bisa teratur juga. Bagaimana dengan freelancer yang serba tak pasti. Pemasukan ya tergantung dari proyek. Ini semua akibat saya nekat berhenti menjadi karyawan kantoran. Nyesel? Menurutmu? :D

Bagaimana denganmu? Share di kolom komentar ya.

4 Dosa Penyebab Menjadi “Pencuri” di Perusahaan

Ingatkah kita, bahwa hukum sebab akibat itu selalu ada. Apa yang kita tanam, itulah yang akan kita petik. Apa yang kita dapatkan sesuai dengan apa yang kita berikan. Jika kita menjadi “Pencuri” di saat kita menjadi pegawai, maka ketika menjadi pengusaha, kita akan mendapatkan pegawai dengan tabiat yang tak jauh beda. Nah, sebenarnya apa saja dosa yang menyebabkan kita mendapat sebutan “Pencuri”?

shutterstock_151764917
Credit Image via Shutterstock

  • Dosa Waktu. Saat jam kerja, malah mengerjakan pekerjaan pribadi kita. Mengerjakan tugas kampus bagi yang masih kuliah, mengerjakan pekerjaan sampingan bagi yang punya kerjaan sampingan.
  • Dosa Fasilitas. Ini nih, dosa yang tanpa sadar sering orang lakukan. Atau dengan sengaja menganggap remeh dosa ini. Terkadang kita mikirnya, “Ah, aku kan sudah bekerja keras, masa tak boleh pakai mobil kantor untuk bersenang –senang? Ah, nge-print makalah di kantor apa salahnya, itung-itung biar hemat.” Padahal fasilitas dan perlengkapan di atas sewajarnya digunakan hanya untuk keperluan kantor.
  • Dosa Pikiran. Bagi pekerja yang lebih banyak menggunakan pemikiran harus lebih berhati-hati. Kalau sedang bekerja jangan sampai seperti mayat hidup. Jasad kita ada, tapi pikiran kita melayang entah ke mana. Ujung-ujungnya fokus terpecah dan terganggu. Kalau sudah begitu, banyak kesalahan yang bisa berakibat fatal bagi perusahaan.
  • Dosa Sungguhan. Bukan berarti tiga dosa sebelumnya adalah dosa mainan. Dosa yang lebih besar risiko ketahuan atasan itu misalnya Anda mencuri uang atau mencuri barang perusahaan. Kemungkinan terburuknya adalah dipecat sekaligus masuk penjara.

Baiklah, hindari empat dosa tersebut, agar label “Pencuri “ tidak tertempel pada diri kita. Meskipun hanya kita sendiri yang tahu kalau kita melakukan dosa tersebut. Berikanlah yang terbaik, maka kita akan mendapat yang terbaik pula. Salam. IKD

Membunuh Waktu di Kala Senja

Rasanya saya tak akan bosan membahas tentang hal yang satu ini. Masa tua dan produktivitas. Membayangkan apa yang akan saya lakukan 20 atau 30 tahun yang akan datang (jika masih diberi kesempatan hidup dan tetap menyandang gelar freelancer.)

shutterstock_183228341

Freelancer Image via Shutterstock

Masih banyak di antara orang tua yang berusia lebih dari 60 tahun (atau mungkin beberapa di usia 50 tahun) yang menjadi bingung bagaimana caranya agar tetap bisa seaktif masa muda meski tidak segesit semula.

Selain turut mengasuh cucu (bila orangtuanya bekerja di kantor) dan mungkin mengisi teka teki silang, apa lagi yang bisa dilakukan para lanjut usia ini? Sepertinya banyak, ya?

Saya tergelitik melihat keseharian para lansia yang tinggal di panti werdha. Kebanyakan dari mereka hanya duduk diam, sesekali berbincang dengan sesamanya, atau mengaji. Bagi yang masih cukup awas matanya, ada yang menyulam atau menjahit. Atau, bagi mereka yang dulu aktif menggunakan komputer, mungkin bisa tetap aktif dengan ngeblog atau menjadi kontributor kolom artikel sebuah situs. Sayangnya, kebanyakan lansia di saat ini adalah mereka yang saat mudanya belum pernah atau jarang bersentuhan dengan komputer. Mungkin satu-satunya benda elektronik yang pernah akrab adalah telepon.

Lansia saat ini, katakanlah, berusia 60 tahun, sepuluh tahun lalu berusia 50 tahun dan bersiap pensiun. Di tahun 2004, masih banyak kantor yang belum menggunakan internet. Mengetik pun masih menggunakan mesik tik manual yang bunyinya berisik (tapi, hey, saya merindukan tak tik tuk bunyinya itu). Hal ini membuat jurang pemisah yang cukup lebar antara pensiunan sadar teknologi dengan yang gagap atau bahkan buta teknologi. Bagaimana caranya agar lansia di Indonesia akrab dengan teknologi internet di masa tuanya, sekadar untuk tetap produktif mengisi waktu?

Saat ini, sudah banyak tablet murah berbasis android yang mudah dioperasikan (meski layar sentuh menjadi permasalahan sendiri bagi lansia, dan bahkan saya. )

Misalkan saja seperti ini: Bagi para bapak yang berwisata kuliner saat muda, bisa membagikan pengalamannya dengan membagikan kembali foto kuliner lawas (ambil contoh tahun 1990) melalui blog atau media sosial dan berbagi kisahnya seputar masakan tersebut.

Atau ibu yang suka membuat sulaman dan selama ini hanya membagikan pengalamannya dengan teman atau saudara, bisa mencoba untuk membagikannya di blog. Pasti menyenangkan berkenalan dengan banyak orang meski belum pernah bertatap muka langsung.

Saya baru melihat sebuah foto dengan caption yang kece banget di SINI: Tentang seorang lansia bernama Lilian Weber yang berusia 99 tahun dan masih aktif menjahit satu baju anak kecil setiap hari. Beliau berencana membuat 150 baju lagi hingga genap 1000 buah yang bertepatan dengan hari lahirnya yang ke 100 pada bulan Mei tahun 2015 yang akan datang.  (Mari kita doakan agar Oma Lilian diberi kesempatan oleh Tuhan untuk menuntaskan targetnya.)

Lilian Weber. Photo credit from Facebook.
Lilian Weber. Photo credit from Facebook.

Adakah pengalaman lain yang pernah Bapak dan Ibu lakukan di masa muda dan ingin kembali diaktifkan di masa senja sekarang? Mari berbagi di kolom komentar.

Kamu yang melihat anggota keluarga yang sudah lanjut usia, coba dekati dan tanyakan ingin melakukan apa untuk mengisi waktu luang? Berselancar di dunia maya untuk mendapatkan info terbaru pastinya seru. Nantinya, mereka akan punya bahan obrolan dan kegiatan bersama teman seperjuangannya. Saya rasa itu menyenangkan.

Jangan Melamar Pekerjaan Ini!

Pada hari kerja yang diberikan, berapa jam yang kamu habiskan untuk membuka sebuah atau beberapa situs pekerjaan? Satu? Dua? Empat? Pada kesempatan pertama, jam-jam tersebut tidak tampak seperti masalah besar. Satu jam sehari tidak seberapa dibandingkan dengan waktu yang bisa kamu gunakan untuk menulis, mendesain, memrogram atau memasarkan sesuatu, kan? Mari kita berhitung.

shutterstock_101053537

Freelancer Image via Shutterstock

Misalkan kamu menyisihkan satu jam setiap hari kerja memilih dan memilah sekitar lebih dari 300 lowongan pekerjaan baru dari surel berisi info oDesk atau Elance . Itu bisa diterjemahkan menjadi 20 jam per bulan (20 hari kerja) dihabiskan untuk berburu pekerjaan saja. Maksudnya adalah sudah banyak waktu yang dihabiskan untuk tugas tidak langsung berhubungan dengan pekerjaanmu. Dan, seperti yang kamu tahu, waktu adalah sesuatu yang tidak bisa dibuang percuma jika kamu bekerja sebagai freelancer.

Untungnya, ada cara untukmu mengurangi jam berburu pekerjaan. Salah satunya adalah untuk mengidentifikasi pekerjaanmu mungkin akan lebih baik tidak menempatkan lamaran di tempat pertama. Jika kamu melihat salah satu kalimat berikut pada iklan, lebih baik untuk beralih ke iklan berikutnya.

“Penawar Terendah Mendapatkan Pekerjaannya.”

Terjemahannya adalah: Pemberi kerja ingin menyewa freelancer termurah, polos dan sederhana.

Sebagai seorang pekerja lepas, kamu pun menjadi seorang pebisnis. Kamu memahami kebutuhan untuk menjaga biaya agar tetap bisa berada di level minimum, terutama pada tahap awal usaha. Pada saat yang sama, kamu tahu bahwa hal itu sama saja bunuh diri jika tidak berinvestasi di sumber daya penting (misalnya rekan kerja terampil dan berpengalaman) untuk mendorong bisnis kamu ke arah yang kamu inginkan.

Jika klien potensial tampaknya lebih peduli untuk menyimpan beberapa dolar hari ini dengan mengorbankan nilai yang lebih besar dalam jangka panjang, kamu akan berada di posisi yang kurang aman – bukan hanya finansial – yang harus kamu hadapi untuk bekerja dengan klien seperti itu.

“Ini Adalah Pekerjaan Mudah.”

Terjemahannya begini: Jangan berharap bayaran tinggi karena dengan menutup mata pun bisa dikerjakan.

Kamu tahu bahwa menulis posting blog, merancang sebuah situs web, membuat program, atau merencanakan kampanye pemasaran jauh dari sebutan pekerjaan yang mudah. Kamu dimasukkan ke dalam sebuah proyek yang menyita banyak waktu, tenaga, dan uang untuk mendapati kenyataan bahwa akhirnya proyek-proyek itu terlepas dari tanganmu, jadi pasti kamu berhak mendapatkan tingkat yang sepadan untuk masalahmu?

“Tak Ada Penentuan Awal Kerja dan Pembayaran di Muka.”

Terjemahan bebasnya: Saya senang bekerja denganmu sekarang, tetapi saya punya beberapa syarat.

Ketika klien tidak ingin berbicara denganmu tentang awal kerja atau pembayaran di muka, biasanya bukan pertanda baik. Ini bisa berarti bahwa klien sebelumnya bekerja dengan freelancer yang ternyata berakhir buruk dan hal ini menyebabkan dia tidak bisa lagi dengan mudah percaya kepada kebanyakan freelancer.

Mungkin dia tidak memiliki uang untuk membayarmu saat ini, tetapi ia mungkin membayarmu di saat proyek selesai (atau bisa jadi tidak). Atau, mungkin dia menyewa lebih dari satu freelancer, dan masih memutuskan manakah dari kalian yang lebih pantas mendapatkan lebih.

Dalam hal apapun, apakah kamu benar-benar ingin bekerja dengan seseorang yang tidak mempercayaimu dalam hal-hal tertentu atau semua hal? Kepercayaan adalah salah satu yang harus dibangun dalam hubungan baik antara klien dan freelancer.

“Saya Tak Akan Membayar Lebih Tinggi Dari Nilai XX.”

Terjemahannya adalah: Tak ada negosiasi. Maaf.

Itu salah satu taktik atau memang kenyataan bahwa klien membatasi anggaran hanya sejumlah X. Hal ini pun menyiratkan bahwa kamu tidak dapat menegosiasikan lebih lebih tinggi dari yang disebutkan klien dalam keadaan apapun. Jika kamu merasa sanggup melakukannya, kamu dapat melamar pekerjaan seperti ini, asalkan kamu siap untuk menggunakan taktik negosiasi yang paling kuat. Good luck!

Ingat, negosiasi bukan tentang “satu meninggikan pihak lain”. Ini tentang mencapai kesepakatan yang saling menguntungkan.

“Berikan Saya Contoh Gratis.”

Terjemahan bebasnya: Asyik, Saya Mendapat Produk Gratis!

Sampel / contoh produk (biasanya selalu gratis, kan?) yang ditunjukkan kepada klien bahwa kamu tidak mengada-ada ketika berbicara bahwa kamu memang terbaik di bidang yang kamu kuasai. Jadi, jika seseorang memintamu untuk membuat contoh khusus pada awal perkenalan, bahkan setelah melihat potongan portofolio terbaikmu, taruhan bahwa orang yang kautemui itu hanya mencari pekerjaan gratis.

“Say4 M3man6 B36in1.”

Terjemahan adalah: Saya tidak terlalu profesional.

Ini adalah salah satu trik yang digunakan sebagai ukuran untuk klien. Beberapa iklan yang ditulis dengan baik akan membuat freelancer yang sebenarnya cocok justru menangis meraung-raung (misalnya “Saya ingin 6 artikel 1500-kata sehari dengan bayaran $ 1 / artikel”); iklan lain menunjukkan bahasa perintah yang kurang layak, tetapi jika kamu melirik sekilas bagian “kesaksian para pekerja” mereka, freelancer tampaknya puas dengan klien yang bersangkutan.

Namun, jika pemberi kerja tidak bersusah payah untuk menulis iklan yang mudah dibaca dan ditulis rinci, kamu mungkin akan bertanya-tanya apa lagi yang membuat mereka tidak ribet.

Kesimpulan

Mencari proyek pekerjaan adalah salah satu bagian yang paling sulit dari freelancing, sehingga buatlah usaha terbaik dalam pencarian pekerjaan tersebut. Cobalah untuk melamar pekerjaan yang cocok dengan keterampilan, pengalaman, dan nilai-nilai yang kauanut, sehingga di masa depan dapat lebih mengasah kemampuan yang ada, dan kamu bisa mendapatkan bagian yang layak dimasukkan ke dalam portofolio.

Tentu, tidak apa-apa untuk mengambil pekerjaan yang kurang ideal menurutmu ketika kamu membutuhkan mereka, lagian, mengapa membebani diri dengan stres tambahan karena banyak kekurangan? Jalani saja.

Sudahkah Freelancer Benar-benar Merdeka?

Free = Bebas. Seharusnya, memang seorang freelancer yang bekerja secara lepas / tidak terikat di suatu lembaga / perusahaan sudah sepenuhnya merdeka. Bagaimana dengan kalian, wahai para pekerja kreatif mandiri?

shutterstock_171929309

Freelancer Image via Shutterstock

Definisi bebas itu apa ya? bebas /be·bas/ /bébas/ a 1 lepas sama sekali (tidak terhalang, terganggu, dan sebagainya sehingga dapat bergerak, berbicara, berbuat, dan sebagainya dengan leluasa). Begitulah menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia). Kemudian, definisi merdeka adalah: merdeka /mer·de·ka/ /merdéka/ a 1 bebas (dari perhambaan, penjajahan, dan sebagainya); berdiri sendiri 2 tidak terkena atau lepas dari tuntutan 3 tidak terikat, tidak bergantung kepada orang atau pihak tertentu; leluasa. Masih menurut KBBI.

Bagaimana seorang freelancer terdefinisikan? Menurut Om Wiki seperti ini: freelancerfreelance worker, or freelance is a person who is self-employed and is not committed to a particular employer long-term. These workers are sometimes represented by a company or an agency that resells their labor and that of others to its clients with or without project management and labor contributed by its regular employees. Others are completely independent. Intinya, seseorang yang bekerja tanpa komitmen jangka panjang kepada seorang atasan dan kadang mewakili sebuah perusahaan. Selebihnya benar-benar mandiri.

Definisi Freelance

Dalam bentuk bahasa Inggrisnya, “freelance“, istilah ini pertama kali diperkenalkan oleh Sir Walter Scott (1771-1832) dari Britania Raya dalam novelnya “Ivanhoe” untuk menggambarkan seorang “tentara bayaran abad pertengahan” atau metafora untuk sebuah “tombak yang bebas” (“free-lance“) (menunjukkan bahwa tombak tidak disumpah untuk melayani majikan apapun, bukan bahwa tombak tersedia gratis).

Jadi, karena berdiri sendiri dan tidak tergantung siapa pun, maka seorang pekerja lepas pun memiliki bargaining position yang lebih leluasa dibanding pekerja kantoran.

Kebebasannya Adalah…

  • Waktu bekerja yang bisa disesuaikan dan diatur sendiri. Pagi, siang, sore, malam menjadi pilihan. Weekday atau weekend rasanya sama saja ya? Terkadang, orang lain bekerja, freelancer sedang berlibur. Atau sebaliknya.
  • Memilih klien yang sesuai dari segi proyek, budget, target, dan kemudahan akses untuk menunjang proyek. Apa lagi ya?
  • Bisa memilih asuransi yang sesuai kebutuhan tanpa harus seragam dengan pilihan bos atau perusahaan.
  • Bisa bereksperimen dengan proyek. Jika klien tidak suka, simpan prototipe yang sudah setengah jadi dan bisa dijadikan tambahan portofolio. Terkadang, eksperimen yang tidak disukai klien A malah dibutuhkan oleh klien B. Jadi, jangan membuang begitu saja hal yang sudah dikerjakan.

Ada tambahan lain?

Belum Merdeka Seutuhnya

Eh, gimana? Ya, karena freelancer harus mengatur sendiri keuangannya. Bukan seperti pekerja kantoran yang sudah dengan tenang akan menerima gaji setiap bulan, bagi para pekerja kreatif lepas kan harus terus memutar otaknya (terkadang sampai pusing) bila ingin survive setiap hari.

Tentunya semua sadar, setiap saat argo hidup terus berjalan. Makan, minum, bayar tagihan listrik, cicilan rumah, dan yang sudah berkeluarga tentu memikirkan biaya pendidikan anak.

Harus diingat juga untuk menyisihkan sebagian pendapatan pada pos tabungan dan pos darurat. Ini bukan hal yang mudah. Apalagi bila seorang freelancer tinggal jauh dari sanak keluarga atau teman dekatnya. Jika ada kecelakaan (knock on wood, jangan sampai kejadian!), para freelancer harus sudah siap dengan urusan administrasi rumah sakit dan obat-obatan. Menjadi single fighter di luar kota atau luar negeri membutuhkan keahlian bertahan ekstra ya?

Semua harus dipikir sendiri. Mencari proyek sendiri. Terlebih bagi para freelancer baru yang belum banyak pengalaman atau belum dikenal orang. That’s why yang namanya portofolio harus dipajang dengan baik di blog atau situs pribadi.

Nah, bagaimana denganmu? Sudah terbebas dari penjajahan atasanmu? :lol: Sudah lepas dari belenggu bermacet ria di jalan agar bisa masuk kantor tepat waktu? Atau sedang terjebak karena mendapatkan klien yang super bawel dan riwil?

shutterstock_123550399

Freelancer Image via Shutterstock

Tak ada yang sepenuhnya bebas dan merdeka bagi pekerja lepas. Tetapi setidaknya kamu bisa keluar dari zona nyaman yang secara tidak sadar sudah membuatmu terpenjara dan terlena. Karena bagi pekerja kreatif, asalkan tetap aktif berpikir dan bereksperimen, maka tak ada alasan untuk menyalahkan rutinitas yang menjemukan. Eh, benar, tidak? :)

Selamat menikmati kemerdekaanmu!

Pentingkah Magang Bagi Mahasiswa?

Bagi mahasiswa yang telah memasuki tahun ketiga atau ke empat (semester 5, 6, 7 dan 8), mereka akan melakukan kegiatan magang atau PPL (bagi mereka yang mengambil jurusan pendidikan). Sebagian dari mereka mungkin memiliki pertanyaan, “Mengapa harus ada magang sih?” Untuk menjawabnya, mari kita simak jawabannya.

shutterstock_180345857

Freelancer Image via Shutterstock

Magang atau pelatihan adalah proses melatih, kegiatan atau pekerjaan (KBBI edisi 2, Balai Pustaka, 1989). Noe, Hollenbeck, Gerhart & Wright (2003:251) mengemukakan, training is a planned effort to facilitate the learning of job-related knowledge, skills, and behavior by employee. Maksudnya adalah pelatihan merupakan suatu usaha yang terencana untuk memfasilitasi pembelajaran tentang pekerjaan yang berkaitan dengan pengetahuan, keahlian dan perilaku oleh para pegawai.

Apa itu magang? Apa ada Undang-Undang atau peraturan khusus yang mengatur mengenai magang?

Masalah magang telah diatur dalam Undang-Undang No. 13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan khususnya pasal 21 – 30. Dan lebih spesifiknya diatur dalam Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi no. Per.22/Men/IX/2009 tentang Penyelenggaraan Pemagangan di Dalam Negeri.

Dalam Peraturan Menteri tersebut, Pemagangan diartikan sebagai bagian dari sistem pelatihan kerja yang diselenggarakan secara terpadu antara pelatihan di lembaga pelatihan dengan bekerja secara langsung di bawah bimbingan dan pengawasan instruktur atau pekerja yang lebih berpengalaman dalam proses produksi barang dan/atau jasa di perusahaan, dalam rangka menguasai keterampilan atau keahlian tertentu.

Apa bedanya pelatihan kerja dengan magang?

Magang merupakan bagian dari pelatihan kerja, biasanya magang dilakukan oleh mahasiswa tingkat akhir atau siswa SMK kelas 3 (PKL) sebagai salah satu syarat utama untuk menyelesaikan proses pendidikan. Sedangkan pelatihan kerja biasanya diikuti oleh pekerja yang sudah menandatangani kontrak dengan perusahaan dalam rangka untuk mengembangkan kompetensi kerja dan produktifitas sang karyawan.

(sumber dari SINI)

Karena aku masih mahasiswa, berikut pengertian magang menurutku, yaitu suatu proses pengaplikasian materi yang didapat dalam proses belajar di kampus ke dalam dunia kerja yang nyata.
Aku memang belum melaksanakan magang, karena jadwal magangku baru ada ketika memasuki kuliah semester 8.

Pada awal bulan Mei 2014 lalu aku mendapati tugas praktik kampus yang mewajibkan aku bersama lima teman sekelompok menetap di Desa Guwo Kecamatan Kemusu Kabupaten Boyolali untuk praktik kerja lapangan di Puskesmas Kemusu II. Tugas utama kami di sana adalah melakukan investigasi penyakit potensi wabah. Karena kami seminggu berada di sana, selain tugas magang, kami pun ikut membantu pekerjaan petugas di sana.

Dari proses bekerja yang sempat kulihat di sana, kusimpulkan seperti ini:

  • Sopan santun dengan semua staf tenaga kerja di tempat magang.
  • Pro aktif menawarkan apa yang bisa dibantu, karena sepertinya kita tidak akan dimintai bantuan kalau kita tidak meminta bertanya.
  • Mengikuti segala peraturan yang ada di tempat kerja.
  • Jalin komunikasi yang baik dengan semua staf yang ada.
  • Kerjakan pekerjaan dengan sungguh-sungguh.
  • Ambil pengalaman sebanyak-banyaknya untuk modal ketika sudah benar-benar masuk dunia kerja.

Pada umumnya setiap kegiatan akan memiliki suatu manfaat. Tak terkecuali magang pun memiliki manfaat antara lain:

  • Mahasiswa dapat merasakan langsung interaksi di dunia kerja.
  • Untuk memperoleh pengalaman kerja.
  • Untuk memperoleh pengetahuan baru dari dunia kerja.
  • Berlatih mengaplikasikan teori yang di dapat selama kuliah ke dalam dunia kerja.

Berdasarkan beberapa contoh manfaat magang di atas, pertanyaan kenapa harus ada magang sih? Jawabnya ya harus karena selain beranfaat bagi pihak sekolah (kampus) dan pihak kantor (atau perusahaan) magang juga bermanfaat untuk mahasiswa yang melakukannya.

Bagiku pribadi magang sangatlah penting. Karena selain beberapa manfaat yang telah disebutkan di atas, kita juga bisa tahu seperti apa sebenarnya dunia kerja itu, sebelum nantinya kita kerja nyata setelah kelulusan.

Tempat Bekerja Idaman Freelancer

Berbicara tentang tempat bekerja yang baik, nyaman, dan bisa membuat para pekerja lepas bersemangat tentunya akan membuat banyak keinginan untuk mewujudkannya.

shutterstock_110334230

Freelancer Image via Shutterstock

Apakah rumah atau sudut kafe masih menjadi tempat mainstream bagi kebanyakan pekerja lepas untuk menuangkan ide-ide kreatif mereka? Mungkin. Ada juga yang memilih tempat lain seperti hutan, pantai, roof top gedung bertingkat, atau di mana lagi yang belum saya sebutkan? Shared office room atau virtual office masuk dalam hitungan?

Di mana pun pilihan para pekerja lepas, selama tempat itu memberi banyak hal yang dibutuhkan mereka, rasanya asyik-asyik saja.

Saya pernah mencoba untuk pindah kebiasaan dengan bekerja dari tempat baru. Ternyata energi tersedot cukup banyak hanya untuk beradaptasi. Membutuhkan waktu berhari-hari untuk bisa menyesuaikan diri. Banyak hal yang memengaruhi efektivitas bekerja di tempat yang sama sekali baru. Suhu udara, jenis polusi udara dan suara yang dihasilkan, kursi dan meja, plus sinyal internet (oh ya, kita hidup di zaman nyaris serba komputerisasi kan?).

Sampai detik saya menulis ini, berkali-kali gagal untuk bisa nyaman di satu tempat baru itu. Terjebak zona nyaman di tempat lama? Bisa jadi. Saya berpikir, dengan mencoba tempat baru, maka pikiran saya bisa menjadi lebih segar dan perasaan tidak sumpek lagi. Ternyata saya salah.

Ya, saya salah mencari tempat baru. Bagi saya, tidak mudah untuk mendapatkan tempat yang cocok untuk bekerja dengan maksimal. Sebenarnya saya ogah ikut apa kata orang lain dalam memilih tempat bekerja. Karena, ya tentu kalian tahu, beda selera dan gaya, beda hasil kerja yang dihasilkan. Jika ada yang menyarankan, “Coba kamu ke situ deh. Enak tempatnya buat cari inspirasi.” Iya menurut dia enak, bagi saya kan belum tentu sama.

Saya memerhatikan tempat favorit bekerja beberapa pekerja lepas. Ada yang suka dengan meja berantakan penuh dengan desain dan konsep (hingga printilan seperti gunting, setumpuk buku bacaan, dan aneka amplop tagihan kredit), tetapi ada yang nyaris tak menaruh apapun di mejanya kecuali buku catatan, alat tulis, kalkulator, dan segelas susu cokelat hangat. Ada yang senang bekerja di tengah ingar bingar musik yang keras, pun ada yang menemukan inspirasinya di taman yang sepi. Ada yang harus ditemani dan dibantu oleh beberapa rekan, di lain pihak ada yang suka menyendiri untuk semua proses kerjanya.

Bagaimana pun tidak idealnya suatu tempat bekerja di mata orang umum, tetapi para pekerja lepas menikmatinya. Apakah kamu memiliki satu tempat yang benar-benar memberikan kebebasan berekspresi? Silakan bagikan kepada semua pembaca Ruang Freelance, siapa tahu bisa menjadi ide. ;)

Don’t Follow Your Passion!

Ya, mungkin saya sudah gila. Bukankah sekarang orang-orang sudah menyadari bahwa bekerja di bidang yang tidak disukai justru akan menjadi ‘senjata makan tuan’? Lantas kenapa saya menyarankan Anda untuk tidak mengikuti passion Anda?

shutterstock_122483524

Freelancer Image via Shutterstock

Mike Rowe, yang mungkin lebih dikenal melalui perannya sebagai pembawa acara Dirty Jobs pada Discovery Channel, mengatakan bahwa “follow your passion” adalah nasihat terburuk yang diberikan kepada orang yang ingin membangun karir dan melakukan pekerjaan yang tidak akan membuat stres. Ia melihat ada banyak sekali orang bahagia di muka bumi ini (oke, setidaknya di Amerika Serikat) yang memiliki pekerjaan yang kemungkinan besar akan dilihat orang awam sebagai pekerjaan yang tidak berdasarkan passion. Contoh: penggembala sapi dan peternak babi.

Kok bisa? Rowe pun mempertanyakan hal yang sama. Pengalamannya melihat sendiri orang-orang dengan ‘pekerjaan kotor’ ini pun menggiringnya pada satu trik jitu. Rupanya, orang-orang yang kita pikir tidak bahagia dengan pekerjaannya ini memisahkan kepuasan karir dari pekerjaan itu sendiri.

Rowe memberikan contoh dari pengalamannya melihat si peternak babi bekerja. Orang ini bukan bahagia karena ia suka dengan babi (atau daging babi, mungkin) sejak kecil. Ia bahagia karena ia bisa hidup berkecukupan dari situ, bisa memiliki banyak kebebasan, serta bisa memberikan kontribusi positif ke lingkungan (makanan yang ia berikan ke babinya adalah makanan sisa yang diambil dari kasino terdekat). Menjadi peternak babi bukanlah passion-nya (mungkin tidak ada yang pernah bermimpi ingin jadi peternak babi—atau mungkin saya hanya belum pernah bertemu dengan orang yang passion-nya terhadap babi sebegitu besarnya hingga ingin jadi peternak babi), namun apa yang didapatkan dari menjadi peternak babi itu yang membuatnya mencintai pekerjaannya.

Tentu saja, hal-hal yang didapatkan si peternak babi bisa jadi bukan hal-hal yang Anda incar. Mungkin saja Anda lebih mementingkan networking luas, atau mungkin Anda ingin bisa jalan-jalan ke luar negeri gratis. Atau Anda mungkin ingin mendapat diskon terhadap produk-produk suatu merek yang Anda sukai. Walaupun Anda mengaku memiliki passion di bidang musik, fashion, iklan, tanaman, atau binatang, belum tentu Anda bisa merasa fulfilled dengan menggeluti pekerjaan di bidang-bidang tersebut.

Seperti ungkapan Cal Newport yang juga meyakini hal yang sama: “Don’t follow your passion, let it follow you in your quest to become useful to the world.”

Kekuatan Sebuah Perubahan (Bagian I)

Beberapa waktu lalu saya mendengar kalimat yang bagus, “Perubahan adalah kepastian, perubahan adalah keniscayaan”. Sebuah kalimat yang membuat saya tersadar bahwa secara global kita sedang dalam masa transisi ke arah munculnya sesuatu yang baru (kekuatan militer dan atau ekonomi, sistem finansial dan atau pemerintahan, atau sebuah kepercayaan baru).

shutterstock_161549912

Freelancer Image via Shutterstock

Tapi sudahlah, itu akan saya bahas lain kali saja.  Sekarang kita bicara “perubahan” dalam skala yang lebih kecil dan lebih dekat.

Kekuatan Perubahan Dalam Dunia Kerja

Kita sudah melihat dan mengalami banyak perubahan.  Perubahan moda transportasi dari sepeda menjadi kendaraan bermotor, perubahan dari televisi tabung hitam putih menjadi televisi LCD, perubahan pengetikan dari mesin tik menjadi komputer, perubahan ucapan selamat dari bentuk kartu menjadi deretan pesan singkat melalui layar ponsel atau komputer, dan masih banyak lagi.  Serta satu yang pasti, perubahan diri kita dari bayi menjadi manusia dewasa.  Di sinilah kita sekarang dan di sinilah kita akan diuji dengan gempuran perubahan.

Bagi para pekerja senior, “perubahan” itu berarti datangnya anak-anak muda dengan semangat baru dan visi yang tak terbayangkan sebelumnya.  Saya ingat sewaktu masih bekerja di sebuah televisi swasta (yang kebetulan sekarang sedang dalam masa perubahan), jujur saya sering takjub dengan ide-ide orang-orang muda ini, meski sejujurnya mereka masih lemah di teknis eksekusi karena kurangnya pengalaman.  Di sinilah peran para pekerja senior seharusnya, merangkul dan “melebur” bersama mereka, dan bukannya bertindak sebagai orang yang seolah tahu segalanya.

Kenapa begitu?  Dengan merangkul mereka, kita bisa mendapatkan ide-ide baru yang menurut istilah seorang teman “out of the box“.  Lagipula dengan menjadi – katakanlah – mentor bagi pekerja muda, posisi yang dijabat si pekerja senior tadi justru akan lebih aman karena si pekerja muda tadi akan menganggap si senior sebagai sosok panutan yang pantas menduduki jabatan tersebut.  Keadaan akan berbeda apabila si pekerja senior bersikap “killer” dan otoriter, si pekerja muda tadi malah akan berusaha membuktikan bahwa dirinya lebih baik dari si pekerja senior.  Ini malah akan mengancam jabatan si senior.

Bagaimana bila si senior kebetulan bukan seorang yang memiliki jabatan?  Tak berbeda, karena dengan merangkul pekerja muda, akan ada kemungkinan si senior bisa memperpanjang masa pengabdiannya di perusahaan. Bayangannya adalah karena bisa jadi si pekerja muda tersebut suatu saat kelak akan menduduki jabatan di perusahaan.

Tapi masa’ iya sih kita mau terus menerus menjadi pekerja?  Ini juga suatu momen perubahan.

(tulisan ini pernah dimuat di Kompasiana)

Ketika Seorang Penulis Malas Menulis

Yaksip! Kebayang bagaimana jadinya jika seseorang yang mengaku berprofesi sebagai penulis tetapi malasnya mengalahkan kura-kura berjalan?

Sering mendengar ratapan anak tiri :lol: eh, maksud saya, keluhan sebagian penulis yang intinya bilang, “Wah, kena writer’s block nih!” Kemudian menjauh dari meja dan berbaring di sofa… sampai ketiduran :DMood-nya lagi dicari dulu.” Hilang di supermarket? Coba dijemput dulu deh. :D

Bangun tidur, apa yang dilakukan seorang penulis? Rata-rata yang saya tahu dari beberapa teman sih… Bengong. Biasanya, bagi yang sudah punya jadwal melanjutkan draft tulisan, meneruskan halaman berikutnya. Tetapi untuk saya pribadi, di tengah ritual mengumpulkan nyawa di pagi hari, sering sekali mendapatkan ide untuk menulis tema lain. Apa tindakan saya? Sebelum membuka laptop, saya langsung membuka ponsel dan mencatat ide yang baru saja melintas pada notes atau aplikasi Evernote (dan banyak aplikasi menyimpan tulisan lain kan ya di Google Play?)

Tapiii… Jin perusak mood memang punya berjuta cara untuk membuat saya enggan meneruskan tulisan. Ditaburnya serbuk mengantuk di mata saya (dan sekarang pun saya sudah menguap lebih dari sepuluh kali). Atau membelokkan mata saya ke tab media sosial dan mulai stalking sampai pegal. Atau menghilangkan ingatan tentang lanjutan tulisan di pikiran saya dengan mengalihkannya ke topik lain yang remeh temeh. “Princess Cetar sekarang bikin gosip apa?” “Siapa pemain Arsenal yang baru?” “Cara memakai maskara yang benar itu gimana sih?” Absurd? Banget! Selalu ada yang membuat saya sejenak (atau bahkan berjam-jam) lupa dan malas menulis.

Atas Nama Riset

“Kurang liburan nih!” Salah satu sikap defensif seorang penulis yang duduk di hadapan gadget tetapi hanya menatap halaman MS Word tanpa berbuat apapun. “Butuh riset,” adalah sambungan dari ingin berlibur tadi. Kenyataannya, tidak semua tulisan membutuhkan riset dengan mendatangi tempat yang dimaksud secara nyata. Apalagi kalau tulisan itu memiliki tenggat waktu yang lumayan mepet. Dalam waktu seminggu, tulisan tentang daerah wisata Ladakh di India harus selesai sementara si penulis belum pernah ke sana.

“Tapi kan, gak mungkin hanya lewat rumahnya Om Google!” Terus saja berkilah. Ada beberapa tulisan yang saya baca dan saya bertanya kepada penulisnya, berapa lama waktu riset yang dibutuhkan? “Duduk manis di depan rumah Om Google sudah cukup. Waktu tidak memadai untuk langsung ke lokasi. Selebihnya, kepandaian meramu kata dan menggunakan diksi yang tepat. Tugas penulis kan itu?” jawab seorang teman sambil memberikan emoticon “:)” dalam chat kami.

Referensi Tulisan

Seorang penulis harus membuang kutukan ‘malas’ dan terus mencari banyak sumber tulisan hingga berbobot dan meyakinkan pembaca. Referensi tulisan harus dicari dari sumber yang bisa dipercaya keabsahan dan keasliannya. Terlalu banyak blog atau website dan bahkan portal berita yang menampilkan tulisan hoax alias odong-odong. Kalau tidak yakin dengan keaslian sumber referensi, sebaiknya tidak ditampilkan. Urusannya bisa berabe nanti. Kamu bisa dituduh mencemarkan nama baik. Ingat dong kasus Ahmad Dhani yang disebut sudah bersumpah akan memotong alat kelamin? Di zaman sekarang, ketika sebuah tulisan singkat di media sosial sudah bisa dijadikan sumber berita, keotentikannya diurus belakangan. Menjadi berita pertama yang muncul di internet adalah keharusan. Meski kemudian, saya merasa ini terlalu lebay. Seberapa penting cross check referensi sumber berita? Kamu bisa menilainya sendiri ;)

shutterstock_160376561

Freelancer Image via Shutterstock

Cek Asupan Gizi

Disadari atau tidak, segala yang masuk ke dalam tubuh memengaruhi kerja organ dan efeknya terasa di setiap kegiatan dan perilaku. Apa sih menu yang membuatmu mengantuk setelah makan? Apa minuman yang bisa membangkitkan semangat? Sayuran, buah, lauk, dan bahkan makanan sampah instan yang-nampak-enak-tetapi-merusak-karena-malas-memasak itu tak pernah bisa lepas dari apa yang kita sebut pekerjaan berkualitas.

Pernah mendengar tentang super food? Blueberry, teh, bayam, brokoli, yogurt, dan kacang kedelai adalah beberapa makanan yang dipercaya bisa membuat tubuh sehat tanpa harus mahal dan ribet. Dijamin, rasa malas untuk meneruskan tulisan akan lenyap ;)

Kamu punya trik khusus menghalau jurig (setan) malas? Silakan tuliskan di bagian komentar ya.