Jurus Jitu Menarik Loyalitas Konsumen

Keluhan pertama: “Mencari konsumen baru susahnya minta ampun!” Keluhan kedua: “Konsumen lama jarang yang datang kembali! Padahal produknya sudah bagus.” Sounds familiar? Mungkin itu permasalahan yang sering kita hadapi.

shutterstock_134232134

Credit Image via Shutterstock

Membuat konsumen mencintai produk atau jasa yang kita tawarkan memang gampang-gampang susah. Tapi kalau kita sudah mendapatkannya, ternyata tidak sulit untuk menarik konsumen lainnya agar ikut menjadi jajaran para konsumen loyal. Wow… mantap. Lalu bagaimana agar konsumen yang sudah membeli barang atau menggunakan jasa kita mau datang kembali? Yuk, mari simak beberapa tips berikut ini :

  • Berikan Pelayanan Terbaik. Pembeli adalah raja, itu adalah ungkapan yang sudah dikenal oleh banyak orang. Sikap ramah dan bersahabat akan membuat konsumen merasa nyaman berinteraksi dengan kita. Sehingga akan membuat konsumen merasa dihargai dan dihormati. Bahkan, bisa jadi mereka menganggap kita(penjual) sebagai seorang sahabat. Berikan kesan yang baik agar membekas di hati konsumen.
  • Dengarkan Keluhan Konsumen. Kita harus mau mendengarkan setiap keluhan dari konsumen tentang produk kita. Kalau memang terjadi masalah dengan produk kita, janganlah mencari alasan untuk menutupinya. Tapi segera minta maaf dan cari solusi atas permasalahan tersebut. Jangan malah mematikan HP, pura-pura sibuk, ataupun menghindar tak jelas. Kalau memang benar sibuk, gunakanlah jasa Customer Service untuk menjawab setiap keluhan konsumen. Dengan begitu kepercayaan konsumen pada kita tidak akan memudar. Pastikan bahwa kepercayaan konsumen itu menjadi salah satu tujuan anda.
  • Berikan Hadiah atau Potongan Harga. Cobalah tawarkan bonus atau diskon pada pembelian kesekian, missal pembelian ke-10 akan mendapatkan diskon 10%. Atau berikan hadiah, karena hadiah kecil akan sangat berarti bagi konsumen.
  • Perhatian. Ternyata, banyak dari konsumen yang merasa senang ketika kita perhatian kepada mereka. Perhatian bisa kita tunjukkan dengan memberikan ucapan selamat ulang tahun kepada mereka atau anggota keluarganya. Anda bisa meminta sedikit biodata pelanggan atau biodata keluarganya. Beberapa perusahaan besar juga melakukan cara ini dan mereka berhasil mempertahankan hati konsumen.

Silahkan praktikkan empat hal di atas. Semoga konsumen-konsumen yang loyal segera menghampiri Anda. Kalau anda punya pengalaman lain seputar menjaga loyalitas konsumen, boleh dibagikan di kolom komentar. Terimakasih. Salam. IKD

Lupakan Semua Tip, Mulailah Menulis Blog!

Apakah kamu masih terus mencari tip keren untuk menjadi seorang blogger? Yakin?  Ingat bagaimana Chef Gusteau dalam film Ratatouille mengatakan: “Siapa pun bisa memasak, tapi hanya tanpa rasa takut bisa menjadikannya koki hebat”? Kamu dapat dengan mudah menulis ulang kata-kata inspirasimnya sebagai, “Setiap orang bisa menulis posting blog, tetapi hanya blogger tanpa rasa takut yang bisa menjadi besar.”

shutterstock_164020316

Freelancer Image via Shutterstock

Lihatlah, ide atau topik yang baik, ejaan dan tata bahasa yang layak, dan penguasaan yang kuat dari bentuk esai cukup untuk membuat posting blog yang baik. Tetapi jika kamu ingin menulis posting blog yang penting, atau yang bisa membuat orang langsung terkesima dan berujar, “Wow! Saya akan berbagi ini di Facebook!” bukan “Meh, tidak ada yang istimewa”, kamu harus mencoba lebih jauh lagi.

Berikut adalah bagaimana kamu dapat melakukannya.

Gaet Mereka Pada Kalimat Pertama

Ya benar, ini adalah bagian tersulit dari menulis blog. Hal ini disebabkan karena kalimat pertama harus mampu menarik minat pembaca, dan pada saat yang sama, membuat pembaca bertanya-tanya apa isi seluruh posting terbarumu.

Cobalah dengan hal di bawah ini:

  • Pertanyaan Provokasi. — “Apakah kamu tahu apa persamaan menulis blog dengan sandwich?”
  • Quote. — Ernest Hemingway pernah berkata, “There is nothing to writing. All you do is sit down at a typewriter and bleed.
  • Statistik — Menurut data dari Komunitas Blogger Pesisir, 99% penulis pernah mengalami writer’s block.
  • Cerita — “Kamu tahu bagaimana seorang Alexander Graham Bell menyalakan lampu dalam pikiranku?”

Catatan: Komunitas Blogger Pesisir sebenarnya tidak ada. Ini hanya contoh.

Buatlah Agar Setiap Kalimat Tak Sia-sia

Karena rentang perhatian pengguna internet semakin menyusut dari hari ke hari, kamu harus bekerja lebih keras untuk menahan perhatian pembacamu dari awal sampai akhir posting. Untuk melakukan itu, setiap kata, frase, kalimat, dan bahkan tanda baca harus menjadi penekanan yang bisa membuat pembacamu nyaman dan betah membacanya.

Sebuah trik yang mungkin berguna adalah membaca konsep tulisanmu dengan keras. Jika rasanya seperti menjelaskan hal-hal yang tercantum terlalu lambat, atau kamu malah jatuh tertidur saat mendengar suara sendiri (hastagah!), kamu mungkin perlu menyunting bagian yang terasa asing. Konsepmu mungkin bisa terasa “tidak lengkap”, dalam hal ini, kamu dapat memasukkan informasi tambahan yaitu menjelaskan pikiranmu atau memperkuat argumen.

Jangan Boros dengan Kalimatmu!

Di sini ada panduan sederhana untuk membantu memutuskan apakah kamu harus mengurangi sebuah kalimat yang sangat panjang atau tidak.

Apakah matamu berkaca-kaca karena penat saat membaca kalimat? Apakah kamu membaca kalimatnya dengan suara tinggi dan kehilangan napas pada akhirnya? Apakah kamu melihat terlalu banyak kata sifat, kata keterangan, dan kata-kata lain yang ternyata tidak menambahkan arti apapun untuk sebuah kalimat?

Jika salah satu terjadi, pendekkanlah! Jika tidak, sepertinya kalimat panjang itu mungkin baik-baik saja.

Gunakan Kata yang Tepat dan Sederhana

Kamu mungkin ingin menggunakan beberapa diksi / pilihan kata yang terlihat keren atau membuatmu nampak cerdas. Masalahnya adalah, pembaca benci kalau kamu membombardir mereka dengan jargon muluk-muluk. Tidak hanya kata-kata ini memperburuk pengalaman membaca, tetapi juga membuat posting blog terlihat kaku dan terasa tak terjangkau.

Alih-alih berusaha terdengar “pintar”, cobalah terdengar masuk akal. Gunakan kata-kata yang terbaik untuk menyampaikan ide dan dapat dipahami oleh orang awam. Misalnya, “untuk memaksimalkan manfaat sumber daya” dapat disederhanakan menjadi “untuk menggunakan sumber daya”.

Mainkan Analogi

Blogging seperti berkencan. Ini tidak cukup bagimu untuk membuat kesan mendalam pada kencan pertama. Kamu juga harus menunjukkan, lagi dan lagi pada kencan berikutnya, bahwa kamu adalah orang yang layak untuk waktu, cinta, dan komitmen seseorang.

Gunakan Sedikit Referensi Populer

Referensi populer bisa menambah rasa pada posting blogmu. Hal ini mampu memberikan kesan untuk pembaca bahwa tulisanmu seakan berhubungan dengan kehidupan mereka dan karena itu menjadikan saat membaca blogmu lebih menyenangkan.

Sekaligus memastikan, sadarilah bahwa pembacamu akan menggunakan referensi ini. Kamu mungkin berpikir bahwa “The Beatles” adalah band rock terbesar sepanjang masa, tetapi menulis referensi tentang Fab Four saat menulis untuk penggemar “One Direction” mungkin bukan ide yang baik.

Jadikan Posting Blogmu Unik (Meski Idenya Terlalu Umum)

Mari akui satu hal: menulis di blog dengan 100% ide orisinil sebenarnya mudah. Coba deh, kamu lacak topik yang ingin kamu bahas melalui mesin pencari kesayanganmu itu, kemungkinan seseorang sudah menuliskannya. Benar? Kemudian kamu bete. Jangan! Lantas harus bagaimana?

Temukan sudut pandang yang baru dari topik itu!

Jika seseorang sudah menulis tentang “Mengapa Harus Mencoba Lahan Freelancing”, ini saatnya kamu menulis sisi jeleknya seperti, “Untuk Apa Bersusah Payah Menjadi Freelancer?” atau menambahkan ide lain yang belum diungkapkan oleh penulis sebelumnya mengenai freelancing.

Akhiri dengan Kesimpulan yang Berpengaruh

Jadi, kamu sudah selesai dengan pengenalan dan isi materi. Sekarang, saatnya untuk menulis kesimpulan, yang sama sulit untuk menulis seperti (jika tidak lebih sulit daripada) pendahuluan. Cara termudah keluar dari dilema adalah meringkas semua poin pada kesimpulan. Lagi pula, hal itu memang membosankan.

Sebaliknya, kamu dapat mengakhiri dengan pertanyaan untuk mengajak para pembaca berpikir atau seruan untuk bertindak, atau menyatakan kembali poin utamamu dan membujuk pembaca peduli (atau setuju sekalian) terhadap pemikiranmu.

Penutup

Semua yang ditulis di atas bukan ketentuan baku yang harus diikuti. Bebas, bila tak ingin menggunakannya. Bisa disesuaikan dengan kebutuhanmu. Terpenting bagimu adalah tetap konsisten menulis hal yang menarik, informatif, dan mempunyai ciri khas agar pembacamu kembali mengunjungi blog. Ciptakan keinginan bagi para pembaca untuk berkata, “Saatnya blogwalking nih!”

Siasat Tenggat Waktu dan Prioritas

Sebagai freelancer, menyiasati waktu yang diberikan klien dan mengatur prioritas seperti berurusan dengan taktik perang.

shutterstock_99147038

Freelancer Image via Shutterstock

Tenggat waktu dapat menjadi onak duri bagi banyak freelancer. Saya pribadi merasa bahwa tenggat waktu membuat saya lebih peduli dengan hasil, bukan proses pekerjaan itu sendiri. Selain itu, banyak freelancer harus menghadapi masalah kualitas pekerjaan, hanya karena mereka harus tetap berpegangan pada tenggat waktu.

Sayangnya, segala sesuatu dalam hidup dilengkapi dengan tanggal kadaluarsa, dan apakah kamu suka atau tidak, tenggat waktu akan terus menghantui jika kamu tidak selalu mengeceknya.

Yang paling banyak terlewat adalah fakta bahwa tenggat waktu telah membentuk freelancing sebagai salah satu industri yang paling berkembang dari abad ke-21. Juga, fakta bahwa sejak tenggat waktu membuat freelancer menjadi lebih bertanggung jawab, itu juga membuat profesinya lebih terlihat profesional, sama dengan pekerjaan industri.

Jika freelancer dapat bertindak cerdas dan menunjukkan tujuan yang lebih fokus, mereka dapat menangani masalah tenggat waktu menjadi lebih efektif.

Katakan Sesuatu Saat Menyetujui Tenggat Waktu

Klien sangat dominan saat memilih freelancer untuk proyek-proyek mereka. Jika kamu sebagai seorang freelancer merasa tidak nyaman dengan tenggat waktu yang diberikan, maka klien mungkin memilih orang lain. Ironisnya, di situlah freelancer biasanya melakukan kesalahan yang paling umum.

Karena mereka membutuhkan pekerjaan, mereka biasanya setuju bahwa semua tenggat proyek yang diberikan, bahkan ketika mereka tidak bisa berkomitmen.

Freelancer tidak boleh menerima pekerjaan apapun lagi, jika mereka tahu bahwa mereka akan berjuang untuk menyelesaikan proyek itu tepat waktu. Mereka harus selalu memberikan yang terbaik dan menekankan kualitas. Mereka harus dapat memberikan jaminan kualitas kerja, sebelum menyetujui tenggat waktu.

Ajukan Pertanyaan yang Tepat dan Tindaklanjuti

Kita biasanya terbawa oleh kegembiraan ketika berhasil mencapai kesepakatan kerja. Namun saat mulai menjalani tahap berikutnya, kita cenderung lupa mengecek seluk-beluk calon proyek. Di situlah semuanya berjalan serba salah. Berapa banyak dari kita benar-benar mengajukan pertanyaan yang tepat sebelum kita mencapai kesepakatan?

Bagi mereka yang telah menyetujui sebuah proyek sebelum melanjutkan tahap yang menyebutkan tentang rincian pekerjaan, mereka mungkin terperangkap dalam perasaan kaget (yang penting jangan sampai lebay sih) ketika serah terima pekerjaan. Klien mungkin akan mengharapkan sesuatu yang sama sekali berbeda dan lihatlah bagaimana para freelancer itu bereaksi dengan banyak hal negatif, kritik dan mungkin bahkan sepenuhnya menolak pekerjaan yang sudah selesai itu. Bersiaplah ketika klien menuntut perbaikan besar-besaran.

Komunikasikan
Hal ini terjadi karena ada kurangnya komunikasi. Kamu bisa limpahkan tanggung jawab kepada klien hal apa saja yang tidak atau belum disebutkan sesuai persis apa yang dia inginkan. Namun dalam kenyataannya, tanggung jawab freelancer untuk bertanya tentang segala sesuatu yang diperlukan agar bisa memahami proyek sebelum menyelesaikan kesepakatan dan batas waktu. Jika kamu tidak melakukannya, freelancer lain yang akan melakukannya.

Freelancer juga harus menyimpan catatan rekaman proses kerja dengan klien selama proyek, terutama, jika proyek itu adalah salah satu yang besar yang pernah kamu tangani. Jika terjadi kesalahan selama wacana sebelumnya, masih membantumu untuk tetap siap lancar bekerja hingga batas waktu.

Geser Prioritas Menurut Tenggat Waktu

Freelancer biasanya memiliki lebih dari satu proyek dalam jadwal mereka. Cara terbaik, mungkin, adalah untuk menyelesaikan tugas dengan tenggat waktu paling awal, barulah melanjutkan ke tugas berikutnya. Ini akan memungkinkanmu untuk tidak membiarkan tenggat waktu membebani pikiran. Dijalani saja. Kalau dipikirkan, akan terasa lebih berat. Hal ini penting untuk menanamkan kualitas dalam pekerjaanmu.Saya pribadi, biasanya cek tingkat kesulitan dan tenggatnya. Pokoknya, jangan sampai mengganggu fokusmu.

Tenggat Waktu Seharusnya Memudahkanmu
Freelancer biasanya menyebut batas waktu sebagai ‘jalan buntu’ saat harus menyerahkan proyek-proyek mereka dan terlambat menyadari bahwa waktunay memang sudah habis. Ini tandanya freelancer salah mengatur prioritas. Freelancer harus melakukan hal ini: pertimbangkan tenggat waktu sebagai alat untuk membantu mereka dalam menyelesaikan proyek-proyek dan bukan sebagai tanggal yang menjadi penentu dirimu digantung oleh klien. Kebayang kan?

Sikap ini pada akhirnya akan membantumu untuk mempersiapkan diri dengan cukup baik dan selesai sebelum tenggat waktu menghadang.

Gagal Selesaikan Tepat Waktu

Kamu mungkin telah memberikan yang terbaik untuk proyek si klien, tetapi masih kurang komitmen untuk selesai tepat pada waktunya. Mungkin kamu tertahan oleh urusan rumah tangga yang darurat, acara komunitas yang menjadikanmu salah satu orang yang harus terlibat dan terpaksa meninggalkan sejenak proyekmu, jatuh sakit atau bahkan terjadi kecelakaan.

Jika demikian alasannya, kamu membutuhkan waktu tambahan. Jelaskan pada klien dan jangan cari alasan lain yang lebih murahan.

Mengajukan Tambahan Waktu
Alasan yang sejujurnya pasti akan dipertimbangkan dan benar-benar dihargai, dan kebanyakan klien akan bersedia untuk memperpanjang batas waktu atau melakukan penyesuaian di pihak mereka untuk mengalokasikan untuk penundaan pada pekerjaan akhirmu. Bersikaplah langsung dan tidak berbelit dengan mereka dan jelaskan berapa lama periode perpanjangan sesuai kebutuhanmu dan siap untuk membiarkan klien pergi jika mereka tidak setuju dengan perpanjangan.
Jangan khawatir, mereka akan datang kembali dan bekerja denganmu karena kamu telah membuktikan diri bisa bertanggung jawab. Hanya saja, jangan terlalu menunda, ya.

Gunakan Bantuan
Sudah bukan zamannya lagi ketika dinding bilik dipenuhi dengan post-it notes dan coretan berwarna apa, untuk siapa, dan kapan. Ide di balik kehebohan ini sekarang sudah dipindahkan ke dalam aplikasi, alat, pengingat kalender dan sejenisnya, semua dalam perangkatmu. Beberapa aplikasi hadir dengan pilihan untuk membuat pengingat jadwal untuk sebulan ke depan, sementara yang lain membiarkanmu bekerja sesuai jadwal sehingga kamu tahu berapa banyak waktu yang tersisa untuk bekerja.

Any.do, Evernote, Wunderlist dan TeuxDeux hanya beberapa aplikasi yang dapat membantumu dengan penjadwalan kegiatan sehari-hari. Penggunaan terbaik dari aplikasi ini adalah membantu freelancer untuk tetap kreatif, dan fokus pada pekerjaan mereka. Pun, dapat bekerja tanpa rasa takut dan tanpa perlu khawatir kehilangan tenggat waktu mereka.

Kesimpulan

Intinya, adalah salah satu harus (antara klien dan freelancer, dan itu selalu tentang pihak freelancer) berjuang keras untuk tetap bisa menyelesaikan pekerjaan tepat waktu. Bagian dari pengalaman menjadi freelancer berpengalaman adalah mampu menangani prioritasnya setiap ada pekerjaan yang datang padanya.

Dari semua pengalaman yang kaumiliki adalah mampu menunjukkan kelasmu sebagai freelancer yang dapat dipromosikan, ada satu lagi, yaitu kemampuan untuk dapat mempertahankan klien agar puas dengan kualitas pekerjaanmu yang selalu diselesaikan tepat waktu.

Cara Ampuh Selesaikan Pekerjaan (Bagi Procrastinator Akut)

Sebelum Anda menggerakkan mouse demi menutup jendela browser sambil berpikir, “Ah, palingan nggak berhasil”, saya beritahukan bahwa ini bukanlah trik produktivitas yang biasa Anda lihat atau bahkan coba (tanpa hasil jelas). Cara ini benar-benar ampuh kalau Anda benar-benar stick to it—setidaknya saya sudah mencobanya.

shutterstock_151695416

Freelancer Image via Shutterstock

Kerja Pada Pagi Hari (benar-benar pagi)

Pernah bekerja pukul empat atau pukul lima pagi? Jika belum, mungkin sekarang saatnya Anda mencoba.  Pada waktu ini, bisa saja orang lain di rumah masih tidur dan langit di luar masih gelap. Suasana pun masih sangat sunyi dan Anda baru saja bangun. Suasana ini justru tepat untuk melakukan pekerjaan Anda karena di waktu inilah otak Anda belum ‘tercemar’ oleh suasana bising di luar atau mungkin ajakan orang rumah untuk sarapan, sehingga Anda benar-benar bisa berkonsentrasi dan super fokus akan apa yang Anda kerjakan.

90-90-1 Rule

Merasa tidak pernah punya waktu untuk mengerjakan proyek pribadi yang selalu Anda ingin capai dan bisa membantu meraih impian terbesar Anda? Coba trik “90-90-1” , yaitu Anda menghabiskan 90 menit pertama pada jam kerja Anda selama 90 hari melakukan kegiatan yang akan memajukan Anda dalam satu proyek besar tersebut. Selama 90 menit tersebut, Anda harus mematikan segala distraksi, termasuk koneksi Internet, e-mail masuk, bahkan orang lain. Trik ini cukup ampuh bagi Anda yang selalu terhalang oleh hal-hal trivial seperti mencek e-mail atau membuka Facebook di sela-sela projek Anda.

1-Hour Time Slot

Saya termasuk orang yang selalu mencatat segala tugas dalam to-do list. Sayangnya hal ini tidak lantas membuat saya menjadi orang paling organized sedunia karena—ironisnya—saya sulit sekali mencentang semua hal dalam to-do list dalam 1 hari. Hal ini saya sadari karena saya selalu melihat tugas-tugas dalam to-do list dalam perspektif 1 hari, bukan 1 jam. Coba berikan semacam time slot bagi setiap tugas yang ada dalam list dan seketika Anda pun menjadi semangat untuk menyelesaikan 1 tugas dalam waktu 1 jam karena sekarang tugas-tugas itu sudah ‘dialokasikan’, berbeda dengan sebelumnya saat Anda selalu berpikir bahwa 1 tugas seakan memiliki waktu seharian (yang akhirnya malah tidak selesai).

Bisnis Cuci Setrika Masa Kini

Malas mencuci dan menyetrika? Serahkan pada jasa londri kiloan! Murah, harum, bersih, dan cepat. <— Tanpa copywriting seperti ini pun sebenarnya para pengguna jasa akan dengan suka cita mendatangi tempat yang dimaksud.

shutterstock_209262991

Credit Image via Shutterstock

Awalnya Hanya Untuk Menengah Ke Atas

Tahun 2014, bukan hal yang aneh melihat banyaknya tawaran jasa cuci setrika, terutama di kawasan kampus dan perkantoran. Katakanlah sampai awal tahun 2000, bisnis laundry masih terbatas untuk pangsa pasar menengah ke atas bahkan elit. Di pertengahan era 1980an, ada Laundrette yang berawal di Jakarta dan saya pikir itu adalah brand internasional. Ternyata saya salah.

Kemudian saya mengenal sebuah brand baru di Jakarta yaitu 5 à Sec. Kebalikan dari Laundrette, saya mengira 5 à Sec justru bisnis lokal. Padahal, 5 à Sec adalah sebuah brand tua (cabang pertamanya berdiri tahun 1968) untuk sebuah urusan mencuci dan menyetrika baju secara profesional. Tentu saja, secara awam pun masyarakat akan paham bahwa bisnis laundry kala itu hanya untuk kelas elit.

Seiring waktu, ada yang bergeser dari sebuah kata gaya hidup. Ketika manusia merasa sangat sibuk dengan pekerjaannya (sebagai dalih dari tangannya yang tak bisa lepas dari aneka gadget itu), menyerahkan urusan cuci jemur setrika ini kepada orang lain. Bagi yang memiliki pembantu rumah tangga tentu tidak terlalu pusing. Lantas bagaimana dengan para bujang atau keluarga komuter yang memiliki persoalan klasik : “Kapan mencuci bajunya? Kapan menyetrikanya?” Jika sempat, ya dilakukan sendiri. Setelah merasa banyak tugas lain yang tak bisa ditunda atau ditinggalkan, “Ya sudahlah, kasih ke londrian di depan kompleks aja, deh!” :)

Sasaran Masa Kini: Penghuni Kostan

Mahasiswa sekarang semakin dimanjakan dengan berjamurnya jasa londri kiloan yang harganya pun aman untuk mereka. Sekilo cucian bila sudah termasuk disetrika rapi dan wangi, cukup membayar Rp 4000,- hingga Rp 5.500,- dengan waktu standar tiga hari sudah selesai. Jika hanya dicuci, biasanya lebih murah seribu rupiah.  Tanggung ya, mending tahu beres rapi, toh? Hehehe…

Saya pernah membaca opini seorang pebisnis londri kiloan kurang lebih, “Selama manusia memakai tekstil, maka bisnis londri akan tetap bertahan.” Menarik. Apakah pasar londri sudah jenuh? Belum. Setidaknya saat ini.  Kekuatan dari sebuah bisnis londri adalah pelayanan. Mereka menjual jasa. “Ayo, siapa yang butuh dicuci dan setrika dalam waktu enam jam? Harga khusus!” Nah!

Eh, tunggu! Saya sudah menulis panjang tidak karuan tentang bisnis ini, belum memberi sudut pandang yang sempit kepada kalian. Tulisan ini hanya berfokus pada industri skala rumah tangga. Maksudku, sasaran bisnisnya untuk keluarga dan anak kost (mahasiswa dan pekerja kantoran). Kita tidak sedang bicara tentang skala hotel, villa, rumah sakit yang sudah diurus internal ya.

Memilih Target Pasar

Satu hal lagi, mencoba untuk membuat spesifik jasa pencucian ini (termasuk dry cleaning). Ada yang benar-benar hanya menerima pakaian. Beberapa jasa londri kiloan di dekat area kampus atau perkantoran, selain menerima pakaian, juga menerima karpet, helm, baju dengan perlakuan khusus (ada payet, bahan beludru dan sutra, dan lainnya), boneka, dan tas.

Pelanggan banyak macam dan maunya. “Baju ini tolong dicuci terpisah, sedikit deterjen, saya ambil enam jam lagi.” Atau, “Cuci aja deh, nggak perlu setrikanya. Bukan baju buat pergi kok.” Atau, “Pewanginya yang ini ya?” Sambil menunjuk pada salah satu pilihan pewangi di meja penerima cucian.

Sepanjang pengamatan saya, tempat jasa londri kiloan di beberapa tempat di Depok dan Bandung, selalu penuh dengan tumpukan pakaian yang sudah bersih dibungkus plastik bening, jejeran buntelan plastik berisi pakaian kotor, gulungan karpet, beberapa boneka, dan aneka bed cover atau selimut. Tidak pernah sepi. Kewalahan sih, iya.

Jadi, kalau kamu berpikir untuk menekuni usaha yang akan cukup memberimu kesibukan, coba membuka bisnis londri kiloan ini.

Jangan Bekerja Pada Orang Lain Lagi Dong!

Kira-kira ada berapa orang yang akan menimpuk saya karena judul di atas? :)

shutterstock_175050815

Freelancer Image via Shutterstock

Begini lho. Kita mengisi lapak yang bisa kita penuhi dengan kemampuan dan keahlian kita. Jika memang kesempatan itu adalah bekerja kantoran, menjadi manajer yang mengurus keuangan kantor misalnya, ya itulah tempat yang cocok untuk kita.  Tetapi bila ternyata lebih cocok bekerja sendiri, menjadi wirausahawan atau pekerja lepas, saat bekerja kantoran pasti merasa sumpek dan yang mengganjal di hati. Ngaku! :D

Lantas, jika ada keinginan untuk keluar dari zona nyaman (kepastian gaji setiap bulan merapat ke rekening dengan selamat) dan menikmati rasanya deg-degan saat tak ada proyek atau dagangan sedang sepi dan mengalami kantong kering, bagaimana sebaiknya bergerak?

Manusia diciptakan menjadi makhluk berakal. Gunakanlah. Saya meyakini tak ada manusia bodoh. Hanya ada kelompok pemalas yang mengatasnamakan takdir, lantas berkilah macam-macam. “Yah, sudah takdir deh, gue kerja di sini.” Tetapi setiap hari terbelenggu pikiran ingin bisnis salon mobil karena hobinya mendandani mobil orang lain. Bahkan sudah banyak yang suka dan puas dengan hasil kerjanya. Sementara orang yang dipuji tidak pede untuk keluar dari pekerjaannya. Saya sendiri gemas dengannya. Menurutmu, apa yang seharusnya dia lakukan? (Ini pertanyaan retorik ya?)

Saya bekerja di beberapa perusahaan demi memuaskan rasa penasaran bagaimana rasanya bekerja di kantor A, B, C, plus mengasah kemampuan. Iya, ini sebenarnya tidak penting. Karena saya tahu kemampuan saya sejauh apa untuk berperan sebagai seorang karyawan kantoran.  Tetapi saya sangat berterima kasih kepada semua mantan atasan karena telah memberi saya banyak ilmu keren.

Ternyata ilmu itu berguna untuk saya pakai di saat menjadi pengacara (pengangguran banyak acara) saat ini.  Saya, orang yang tidak suka kompetisi frontal (terang-terangan cari muka di depan bos, terjemahan bebasnya sih), lebih suka bersaing dari kejauhan. Saya tipe yang lebih sering memerhatikan orang-orang yang lebih kompeten tinimbang saya dan melihat celah kelemahannya di mana. Ternyata, selain faktor lebih ulet dan gesit, faktor keberuntungan juga menaungi mereka. Suatu saat, giliran saya. Semoga.

Nah, sekarang saya memiliki tantangan yang mungkin sama dengan beberapa freelancer lain. Mengatur waktu sendiri dan menyusun jadwal yang terkadang suka hancur berantakan karena saya mudah terdistraksi. Tantangan tersendiri, kan? Menyusun anggaran pengeluaran dan pemasukan? Duh, saya lemah sekali di bagian ini. Itu sebabnya bekerja kantoran memang lebih enak di sisi keuangan karena pemasukannya pasti, rencana pengeluarannya pun dipastikan bisa teratur juga. Bagaimana dengan freelancer yang serba tak pasti. Pemasukan ya tergantung dari proyek. Ini semua akibat saya nekat berhenti menjadi karyawan kantoran. Nyesel? Menurutmu? :D

Bagaimana denganmu? Share di kolom komentar ya.

4 Dosa Penyebab Menjadi “Pencuri” di Perusahaan

Ingatkah kita, bahwa hukum sebab akibat itu selalu ada. Apa yang kita tanam, itulah yang akan kita petik. Apa yang kita dapatkan sesuai dengan apa yang kita berikan. Jika kita menjadi “Pencuri” di saat kita menjadi pegawai, maka ketika menjadi pengusaha, kita akan mendapatkan pegawai dengan tabiat yang tak jauh beda. Nah, sebenarnya apa saja dosa yang menyebabkan kita mendapat sebutan “Pencuri”?

shutterstock_151764917
Credit Image via Shutterstock

  • Dosa Waktu. Saat jam kerja, malah mengerjakan pekerjaan pribadi kita. Mengerjakan tugas kampus bagi yang masih kuliah, mengerjakan pekerjaan sampingan bagi yang punya kerjaan sampingan.
  • Dosa Fasilitas. Ini nih, dosa yang tanpa sadar sering orang lakukan. Atau dengan sengaja menganggap remeh dosa ini. Terkadang kita mikirnya, “Ah, aku kan sudah bekerja keras, masa tak boleh pakai mobil kantor untuk bersenang –senang? Ah, nge-print makalah di kantor apa salahnya, itung-itung biar hemat.” Padahal fasilitas dan perlengkapan di atas sewajarnya digunakan hanya untuk keperluan kantor.
  • Dosa Pikiran. Bagi pekerja yang lebih banyak menggunakan pemikiran harus lebih berhati-hati. Kalau sedang bekerja jangan sampai seperti mayat hidup. Jasad kita ada, tapi pikiran kita melayang entah ke mana. Ujung-ujungnya fokus terpecah dan terganggu. Kalau sudah begitu, banyak kesalahan yang bisa berakibat fatal bagi perusahaan.
  • Dosa Sungguhan. Bukan berarti tiga dosa sebelumnya adalah dosa mainan. Dosa yang lebih besar risiko ketahuan atasan itu misalnya Anda mencuri uang atau mencuri barang perusahaan. Kemungkinan terburuknya adalah dipecat sekaligus masuk penjara.

Baiklah, hindari empat dosa tersebut, agar label “Pencuri “ tidak tertempel pada diri kita. Meskipun hanya kita sendiri yang tahu kalau kita melakukan dosa tersebut. Berikanlah yang terbaik, maka kita akan mendapat yang terbaik pula. Salam. IKD

Membunuh Waktu di Kala Senja

Rasanya saya tak akan bosan membahas tentang hal yang satu ini. Masa tua dan produktivitas. Membayangkan apa yang akan saya lakukan 20 atau 30 tahun yang akan datang (jika masih diberi kesempatan hidup dan tetap menyandang gelar freelancer.)

shutterstock_183228341

Freelancer Image via Shutterstock

Masih banyak di antara orang tua yang berusia lebih dari 60 tahun (atau mungkin beberapa di usia 50 tahun) yang menjadi bingung bagaimana caranya agar tetap bisa seaktif masa muda meski tidak segesit semula.

Selain turut mengasuh cucu (bila orangtuanya bekerja di kantor) dan mungkin mengisi teka teki silang, apa lagi yang bisa dilakukan para lanjut usia ini? Sepertinya banyak, ya?

Saya tergelitik melihat keseharian para lansia yang tinggal di panti werdha. Kebanyakan dari mereka hanya duduk diam, sesekali berbincang dengan sesamanya, atau mengaji. Bagi yang masih cukup awas matanya, ada yang menyulam atau menjahit. Atau, bagi mereka yang dulu aktif menggunakan komputer, mungkin bisa tetap aktif dengan ngeblog atau menjadi kontributor kolom artikel sebuah situs. Sayangnya, kebanyakan lansia di saat ini adalah mereka yang saat mudanya belum pernah atau jarang bersentuhan dengan komputer. Mungkin satu-satunya benda elektronik yang pernah akrab adalah telepon.

Lansia saat ini, katakanlah, berusia 60 tahun, sepuluh tahun lalu berusia 50 tahun dan bersiap pensiun. Di tahun 2004, masih banyak kantor yang belum menggunakan internet. Mengetik pun masih menggunakan mesik tik manual yang bunyinya berisik (tapi, hey, saya merindukan tak tik tuk bunyinya itu). Hal ini membuat jurang pemisah yang cukup lebar antara pensiunan sadar teknologi dengan yang gagap atau bahkan buta teknologi. Bagaimana caranya agar lansia di Indonesia akrab dengan teknologi internet di masa tuanya, sekadar untuk tetap produktif mengisi waktu?

Saat ini, sudah banyak tablet murah berbasis android yang mudah dioperasikan (meski layar sentuh menjadi permasalahan sendiri bagi lansia, dan bahkan saya. )

Misalkan saja seperti ini: Bagi para bapak yang berwisata kuliner saat muda, bisa membagikan pengalamannya dengan membagikan kembali foto kuliner lawas (ambil contoh tahun 1990) melalui blog atau media sosial dan berbagi kisahnya seputar masakan tersebut.

Atau ibu yang suka membuat sulaman dan selama ini hanya membagikan pengalamannya dengan teman atau saudara, bisa mencoba untuk membagikannya di blog. Pasti menyenangkan berkenalan dengan banyak orang meski belum pernah bertatap muka langsung.

Saya baru melihat sebuah foto dengan caption yang kece banget di SINI: Tentang seorang lansia bernama Lilian Weber yang berusia 99 tahun dan masih aktif menjahit satu baju anak kecil setiap hari. Beliau berencana membuat 150 baju lagi hingga genap 1000 buah yang bertepatan dengan hari lahirnya yang ke 100 pada bulan Mei tahun 2015 yang akan datang.  (Mari kita doakan agar Oma Lilian diberi kesempatan oleh Tuhan untuk menuntaskan targetnya.)

Lilian Weber. Photo credit from Facebook.
Lilian Weber. Photo credit from Facebook.

Adakah pengalaman lain yang pernah Bapak dan Ibu lakukan di masa muda dan ingin kembali diaktifkan di masa senja sekarang? Mari berbagi di kolom komentar.

Kamu yang melihat anggota keluarga yang sudah lanjut usia, coba dekati dan tanyakan ingin melakukan apa untuk mengisi waktu luang? Berselancar di dunia maya untuk mendapatkan info terbaru pastinya seru. Nantinya, mereka akan punya bahan obrolan dan kegiatan bersama teman seperjuangannya. Saya rasa itu menyenangkan.

Jangan Melamar Pekerjaan Ini!

Pada hari kerja yang diberikan, berapa jam yang kamu habiskan untuk membuka sebuah atau beberapa situs pekerjaan? Satu? Dua? Empat? Pada kesempatan pertama, jam-jam tersebut tidak tampak seperti masalah besar. Satu jam sehari tidak seberapa dibandingkan dengan waktu yang bisa kamu gunakan untuk menulis, mendesain, memrogram atau memasarkan sesuatu, kan? Mari kita berhitung.

shutterstock_101053537

Freelancer Image via Shutterstock

Misalkan kamu menyisihkan satu jam setiap hari kerja memilih dan memilah sekitar lebih dari 300 lowongan pekerjaan baru dari surel berisi info oDesk atau Elance . Itu bisa diterjemahkan menjadi 20 jam per bulan (20 hari kerja) dihabiskan untuk berburu pekerjaan saja. Maksudnya adalah sudah banyak waktu yang dihabiskan untuk tugas tidak langsung berhubungan dengan pekerjaanmu. Dan, seperti yang kamu tahu, waktu adalah sesuatu yang tidak bisa dibuang percuma jika kamu bekerja sebagai freelancer.

Untungnya, ada cara untukmu mengurangi jam berburu pekerjaan. Salah satunya adalah untuk mengidentifikasi pekerjaanmu mungkin akan lebih baik tidak menempatkan lamaran di tempat pertama. Jika kamu melihat salah satu kalimat berikut pada iklan, lebih baik untuk beralih ke iklan berikutnya.

“Penawar Terendah Mendapatkan Pekerjaannya.”

Terjemahannya adalah: Pemberi kerja ingin menyewa freelancer termurah, polos dan sederhana.

Sebagai seorang pekerja lepas, kamu pun menjadi seorang pebisnis. Kamu memahami kebutuhan untuk menjaga biaya agar tetap bisa berada di level minimum, terutama pada tahap awal usaha. Pada saat yang sama, kamu tahu bahwa hal itu sama saja bunuh diri jika tidak berinvestasi di sumber daya penting (misalnya rekan kerja terampil dan berpengalaman) untuk mendorong bisnis kamu ke arah yang kamu inginkan.

Jika klien potensial tampaknya lebih peduli untuk menyimpan beberapa dolar hari ini dengan mengorbankan nilai yang lebih besar dalam jangka panjang, kamu akan berada di posisi yang kurang aman – bukan hanya finansial – yang harus kamu hadapi untuk bekerja dengan klien seperti itu.

“Ini Adalah Pekerjaan Mudah.”

Terjemahannya begini: Jangan berharap bayaran tinggi karena dengan menutup mata pun bisa dikerjakan.

Kamu tahu bahwa menulis posting blog, merancang sebuah situs web, membuat program, atau merencanakan kampanye pemasaran jauh dari sebutan pekerjaan yang mudah. Kamu dimasukkan ke dalam sebuah proyek yang menyita banyak waktu, tenaga, dan uang untuk mendapati kenyataan bahwa akhirnya proyek-proyek itu terlepas dari tanganmu, jadi pasti kamu berhak mendapatkan tingkat yang sepadan untuk masalahmu?

“Tak Ada Penentuan Awal Kerja dan Pembayaran di Muka.”

Terjemahan bebasnya: Saya senang bekerja denganmu sekarang, tetapi saya punya beberapa syarat.

Ketika klien tidak ingin berbicara denganmu tentang awal kerja atau pembayaran di muka, biasanya bukan pertanda baik. Ini bisa berarti bahwa klien sebelumnya bekerja dengan freelancer yang ternyata berakhir buruk dan hal ini menyebabkan dia tidak bisa lagi dengan mudah percaya kepada kebanyakan freelancer.

Mungkin dia tidak memiliki uang untuk membayarmu saat ini, tetapi ia mungkin membayarmu di saat proyek selesai (atau bisa jadi tidak). Atau, mungkin dia menyewa lebih dari satu freelancer, dan masih memutuskan manakah dari kalian yang lebih pantas mendapatkan lebih.

Dalam hal apapun, apakah kamu benar-benar ingin bekerja dengan seseorang yang tidak mempercayaimu dalam hal-hal tertentu atau semua hal? Kepercayaan adalah salah satu yang harus dibangun dalam hubungan baik antara klien dan freelancer.

“Saya Tak Akan Membayar Lebih Tinggi Dari Nilai XX.”

Terjemahannya adalah: Tak ada negosiasi. Maaf.

Itu salah satu taktik atau memang kenyataan bahwa klien membatasi anggaran hanya sejumlah X. Hal ini pun menyiratkan bahwa kamu tidak dapat menegosiasikan lebih lebih tinggi dari yang disebutkan klien dalam keadaan apapun. Jika kamu merasa sanggup melakukannya, kamu dapat melamar pekerjaan seperti ini, asalkan kamu siap untuk menggunakan taktik negosiasi yang paling kuat. Good luck!

Ingat, negosiasi bukan tentang “satu meninggikan pihak lain”. Ini tentang mencapai kesepakatan yang saling menguntungkan.

“Berikan Saya Contoh Gratis.”

Terjemahan bebasnya: Asyik, Saya Mendapat Produk Gratis!

Sampel / contoh produk (biasanya selalu gratis, kan?) yang ditunjukkan kepada klien bahwa kamu tidak mengada-ada ketika berbicara bahwa kamu memang terbaik di bidang yang kamu kuasai. Jadi, jika seseorang memintamu untuk membuat contoh khusus pada awal perkenalan, bahkan setelah melihat potongan portofolio terbaikmu, taruhan bahwa orang yang kautemui itu hanya mencari pekerjaan gratis.

“Say4 M3man6 B36in1.”

Terjemahan adalah: Saya tidak terlalu profesional.

Ini adalah salah satu trik yang digunakan sebagai ukuran untuk klien. Beberapa iklan yang ditulis dengan baik akan membuat freelancer yang sebenarnya cocok justru menangis meraung-raung (misalnya “Saya ingin 6 artikel 1500-kata sehari dengan bayaran $ 1 / artikel”); iklan lain menunjukkan bahasa perintah yang kurang layak, tetapi jika kamu melirik sekilas bagian “kesaksian para pekerja” mereka, freelancer tampaknya puas dengan klien yang bersangkutan.

Namun, jika pemberi kerja tidak bersusah payah untuk menulis iklan yang mudah dibaca dan ditulis rinci, kamu mungkin akan bertanya-tanya apa lagi yang membuat mereka tidak ribet.

Kesimpulan

Mencari proyek pekerjaan adalah salah satu bagian yang paling sulit dari freelancing, sehingga buatlah usaha terbaik dalam pencarian pekerjaan tersebut. Cobalah untuk melamar pekerjaan yang cocok dengan keterampilan, pengalaman, dan nilai-nilai yang kauanut, sehingga di masa depan dapat lebih mengasah kemampuan yang ada, dan kamu bisa mendapatkan bagian yang layak dimasukkan ke dalam portofolio.

Tentu, tidak apa-apa untuk mengambil pekerjaan yang kurang ideal menurutmu ketika kamu membutuhkan mereka, lagian, mengapa membebani diri dengan stres tambahan karena banyak kekurangan? Jalani saja.

Sudahkah Freelancer Benar-benar Merdeka?

Free = Bebas. Seharusnya, memang seorang freelancer yang bekerja secara lepas / tidak terikat di suatu lembaga / perusahaan sudah sepenuhnya merdeka. Bagaimana dengan kalian, wahai para pekerja kreatif mandiri?

shutterstock_171929309

Freelancer Image via Shutterstock

Definisi bebas itu apa ya? bebas /be·bas/ /bébas/ a 1 lepas sama sekali (tidak terhalang, terganggu, dan sebagainya sehingga dapat bergerak, berbicara, berbuat, dan sebagainya dengan leluasa). Begitulah menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia). Kemudian, definisi merdeka adalah: merdeka /mer·de·ka/ /merdéka/ a 1 bebas (dari perhambaan, penjajahan, dan sebagainya); berdiri sendiri 2 tidak terkena atau lepas dari tuntutan 3 tidak terikat, tidak bergantung kepada orang atau pihak tertentu; leluasa. Masih menurut KBBI.

Bagaimana seorang freelancer terdefinisikan? Menurut Om Wiki seperti ini: freelancerfreelance worker, or freelance is a person who is self-employed and is not committed to a particular employer long-term. These workers are sometimes represented by a company or an agency that resells their labor and that of others to its clients with or without project management and labor contributed by its regular employees. Others are completely independent. Intinya, seseorang yang bekerja tanpa komitmen jangka panjang kepada seorang atasan dan kadang mewakili sebuah perusahaan. Selebihnya benar-benar mandiri.

Definisi Freelance

Dalam bentuk bahasa Inggrisnya, “freelance“, istilah ini pertama kali diperkenalkan oleh Sir Walter Scott (1771-1832) dari Britania Raya dalam novelnya “Ivanhoe” untuk menggambarkan seorang “tentara bayaran abad pertengahan” atau metafora untuk sebuah “tombak yang bebas” (“free-lance“) (menunjukkan bahwa tombak tidak disumpah untuk melayani majikan apapun, bukan bahwa tombak tersedia gratis).

Jadi, karena berdiri sendiri dan tidak tergantung siapa pun, maka seorang pekerja lepas pun memiliki bargaining position yang lebih leluasa dibanding pekerja kantoran.

Kebebasannya Adalah…

  • Waktu bekerja yang bisa disesuaikan dan diatur sendiri. Pagi, siang, sore, malam menjadi pilihan. Weekday atau weekend rasanya sama saja ya? Terkadang, orang lain bekerja, freelancer sedang berlibur. Atau sebaliknya.
  • Memilih klien yang sesuai dari segi proyek, budget, target, dan kemudahan akses untuk menunjang proyek. Apa lagi ya?
  • Bisa memilih asuransi yang sesuai kebutuhan tanpa harus seragam dengan pilihan bos atau perusahaan.
  • Bisa bereksperimen dengan proyek. Jika klien tidak suka, simpan prototipe yang sudah setengah jadi dan bisa dijadikan tambahan portofolio. Terkadang, eksperimen yang tidak disukai klien A malah dibutuhkan oleh klien B. Jadi, jangan membuang begitu saja hal yang sudah dikerjakan.

Ada tambahan lain?

Belum Merdeka Seutuhnya

Eh, gimana? Ya, karena freelancer harus mengatur sendiri keuangannya. Bukan seperti pekerja kantoran yang sudah dengan tenang akan menerima gaji setiap bulan, bagi para pekerja kreatif lepas kan harus terus memutar otaknya (terkadang sampai pusing) bila ingin survive setiap hari.

Tentunya semua sadar, setiap saat argo hidup terus berjalan. Makan, minum, bayar tagihan listrik, cicilan rumah, dan yang sudah berkeluarga tentu memikirkan biaya pendidikan anak.

Harus diingat juga untuk menyisihkan sebagian pendapatan pada pos tabungan dan pos darurat. Ini bukan hal yang mudah. Apalagi bila seorang freelancer tinggal jauh dari sanak keluarga atau teman dekatnya. Jika ada kecelakaan (knock on wood, jangan sampai kejadian!), para freelancer harus sudah siap dengan urusan administrasi rumah sakit dan obat-obatan. Menjadi single fighter di luar kota atau luar negeri membutuhkan keahlian bertahan ekstra ya?

Semua harus dipikir sendiri. Mencari proyek sendiri. Terlebih bagi para freelancer baru yang belum banyak pengalaman atau belum dikenal orang. That’s why yang namanya portofolio harus dipajang dengan baik di blog atau situs pribadi.

Nah, bagaimana denganmu? Sudah terbebas dari penjajahan atasanmu? :lol: Sudah lepas dari belenggu bermacet ria di jalan agar bisa masuk kantor tepat waktu? Atau sedang terjebak karena mendapatkan klien yang super bawel dan riwil?

shutterstock_123550399

Freelancer Image via Shutterstock

Tak ada yang sepenuhnya bebas dan merdeka bagi pekerja lepas. Tetapi setidaknya kamu bisa keluar dari zona nyaman yang secara tidak sadar sudah membuatmu terpenjara dan terlena. Karena bagi pekerja kreatif, asalkan tetap aktif berpikir dan bereksperimen, maka tak ada alasan untuk menyalahkan rutinitas yang menjemukan. Eh, benar, tidak? :)

Selamat menikmati kemerdekaanmu!